SIKAP

6 04 2010

A. Sikap
1. Pengertian dan Ciri-cirinya
a. Pengertian Sikap
Sikap (Attitude) menurut M. Ngaiim Purwanto (1990:141) “yaitu suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi”. Hal mi senada dengan yang diungkapkan oleh Muhibin Syah (1995:120) yang dikutip dan Bruno (1987) bahwa “Sikap atau Attitude adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereak dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu”. Begitu juga dengari Sarlito Wirawan (1983:94) menyatakan : “Sikap adalah kesiapan path seseorang untuk bertinthk secara tertentu terhadap hal-hal tertentu”.
Sikap mi dapat bersifat positif dan dapat pula hersifat negatif Dalam sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu; sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan untuk mcijahi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.
Pengertian Attitude itu dapat kita terjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan,tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang objek

tadi itu. Jadi Aiti/ude itu dapat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal. A/lit tide itu senantiasa terarahkan terhadap suatu hal, suatu objek. Tidak adaAttitude tanpa ada objeknya. (W.A.Gerungan, 1996:149)
Sedangkan menurut Abin Syamsuddin Makmun (2000:57) “Sikap atau An ilude adalah positif atau negatif atau ambivalensi sarnbutannya terhadap objekobjek (orang, benda, peristiwa, norma atau nilai etis, estetis, dan sehagainya)”
Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh L.L Tharstone yang dikutip Abu Ahmadi (1990:163) mengartikan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhuhungan dengan objek psikologi, objek psikologi disini meliputi simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Sikap positip terhadap suatu objek psikologi apabila ia suka (like), sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap yang negatif terhadap objek psikologi apabila ia tidak suka terhadap objek psikologi.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, namun ada beberapa ciri yang dapat disetujui, sebagian ahli dan peneliti sikap setuju bahwa sikap adalah predisposisi yang dipelajari yang mempengaruhi tingkah Iaku,berubah dalam hal intensitasnya, biasanya konsisten sepanjang waktu dalam situasi yang sama dan komposisinya hampir selalu kompleks.
Dalam hal mi Mar’at (1981:17) menjelaskan bahwa “Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan objek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku”, mi berarti bahwa sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif yang menghasilkan motif tertentu.

b. Ciri-ciri Sikap
Untuk membedakan si4cap dan aspek-aspek psikis yang lain (seperti motif, kebiasaan, pengetahuan dan lain-lain), menurut Sarlito Wirawan Sarwouo (1983:95)
perlu dikemukakan ciri-ciri sikap sebagai berikut mi:
1, Dalam sikap selalu terdapat hubungan subjek-objek, tidak ada sikap yang tanpa objek. Objek mi bisa berupa benda, orang, kelompok orang, nilai-nilai sosial, pandangan hidup, hukum, lembaga masyarakat dan sebagainya.
2. Sikap tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman-pengalaman.
3. Karena sikap dipelajari, maka sikap dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan disekitar individu yang bersangkutan pada saat-saat yang beedabeda.
4, Dalam sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan. Inilah yang membedakannya daripada misalnya, pengetahuan.
5. Sikap tidak menghilang walaupun kebutuhan sudah dipenuhi, jadi berbeda dengan reflek atau dorongan.
6. Sikap tidak hanya satu macam saja. melainkan sangat bermacam-macam sesuai dengan banyaknya objek yang dapat menjadi pe hatian orang yang bersangkutan.
Sedangkan menurut W.A Gerungan (1996:151) Ciri-ciri Attitude adalah:
1. Attitude bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan, melainkan dibentuk atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan obj eknya.

2. Attitude itu dapat berubah-ubah, karena Attitude itu dapat dipelajari orang; atau sebaliknya, Attitude itu dapatdipe1ajari, karena itu Attitude-Attitude dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat :ertentu yang mempennudah berubahnya Attitude pada orang itu.
3. Attitude itu tidak berdiri sendin, tetapi senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap suatu objek. Dengan kata lain Attitude-Attitude itu terbentuk, dipelajari, atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
4. Objek Attitude itu dapat merupakan sam hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kuinpulan dan hal-hal tersebut. Jadi Attitude itu dapat berkenaan dengan satu objek saja, tetapi jga berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa.
5. Attitude n1cnpuiyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sikap inilah yang membeda-bedakan Anitude dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuanpengetahuan yang dimiliki orang.
Attitude dapat merupakan suatu sikap pandangan, tetapi dalam hal itu masih berbeda dengan suatu pengetahuan yang dimiliki orang. Pengetahuan mengenai suatu objek tidak sama dengan Attitude terhadap objek itu. Pengetahuan saja belum menjadi penggerak, seperti halnya path Attitude. Pengetahuan rnengenai suatu objek barn menjadi Attitude tehadap objek tersebut apabila pengetahuan itu disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek itu. Ai’titude mempunyai segi motivasi, berarti segi dinamis menuju ke suatu tujuan, berusaha meIicapai suatu tujuan. Attitude dapat merupakan suatu pengetahuan, tetapi pengetahuan yang disertai dengan kesediaan dan kecenderungan bertindak sesuai dengan pengetahuan itu.
Dalarn hal mi Aiuilude juga berbeda dan kebiasaan tingkah laku. Kebiasaan tingkah laku itu hanya merupakan kelangsungan tingkah laku yang otomatis, yang berlangsung dengan sendirinya, dan yane bermaksud untuk melancarkan atau mempennudah hidup saja. Tetapi sebaliknya niungkin sekali bahwa adanya Attitude itu dinyatakan oleh kebiasaan tingkah laku tertentu. Dalarn pada itu Attitude mengandung pula suatu penilaian positif atau negatifterhadap objek tertentu.
2. Proses Terjadinya Sikap
Pembentukan Altitude tidak terjadi dengan sendirinya atau dengan sembarangan saja. Pembentukannya senantiasa berlangsung dalam inteaksi manusia dan berkenaan dengan objek tertentu. !nteraksi sosial terjadi di dalam keloinpok da.. di luar kelompok. Tetapi pengaruh dan luar din inanusia karena interaksi di luar kelornpoknya itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya Attitude atau terbentuknya Attitude baru. Faktor-faktor lain yang turut memegang peranannya ialah faktor-faktor intern di dalam din pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat perhatiannya untuk menerima dan rnengolah pengpg2r± yg datang dan luar dirin ii. Zau faktor-faktor intern itu turut ditentukan pula oleh motif-motif dan Attitude lainnya yang sudah terdapat dalam din pribadi orang itu. Jadi dalam pembentukan dan perubahan Attitude itu terdapat faktorfaktor intern dan faktor-faktor ekstern pribadi individu yang memegang peranannya.
Dalam hal mi menurut Abu Ahmadi (1990:171) Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap adalah:
1. Faktor intern: Yaitu faktor /ang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor mi berupa selektiviti atau daya pilih seseorang untuk menerima dan meiigolah pengaruh-pengaruh yang datang dan luar.
2. Faktor ekstern: Yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Faktor mi berupa interaksi sosial di luar kelompok.
Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono (1983:95-96) Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat macam cara:
Adopsi : Kejadian-kejadiaii dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam din individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
2. Differensiasi : Dengan berkembananya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dan jenisnya, terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.
3. Integrasi : Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dan berbagai pengalaman yan’g oernuuungan dengan satu hal tertentu, sehingga akhirnya terbentuk sikap megelk1i hal teisebut.
4. Trauma : Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan yang meniggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan.

Sikap timbul karena ada stimulus. Sikap seseorang tidak selamanya tetap, Ia dapat berkembang manakala rnenadapat pengaruh, baik dan dalam maupun dan luar yang bersifat positif dan mengesan. Di dalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh iingkungan, norma-norma atau group. Hal mi akan mengakibatkan perbedaan sikap antara individu yan satu dengan yang lain karena perbedaan pengaruh atau Iingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek.
3. Macam-macam Sikap
Sikap dapat bersifat positif,dan dapat pula bersifat negatif. Dalam sikap positif kecendenrngan tindakannya adalab mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu ; sedangkan dalam sikap negatit’ terdapat kecenderungan tindakannya adalah rnenjauhi, inenghiiiari, membenci, tidak menyulcai objek tertentu. (Sarlito Wirawan Sarwono, 1983 : 94)
Sedangkan menurut Abu Ahmadi (1990:166), sikap dapat dibedakan atas:
a. Sikap positif : Sikap yang menunjukan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.
b. Sikap negatif : Ski )ang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma-norma yang beriaku dimana individu itu berada.
Sikap positif atau negatif tentu saja berhubungan dengan norma yang berlaku. OIeh karena itu untuk menentukan apakah sikap itu positif atau negatif perlu disesuaikan dengan norma yang benlaku. Karena masing-masing kelonipok atau

kesatuan sosial memiliki norma sendin-sendiri yang saling berbeda atau bahkan bertentangan.
4. Pengukuran Sikap
lintuk mengukur sikap diperlukan suatu alat ukur, menurut Sarlito Wirawan Sarwono (1983:98) alat tersebut dinamakan skala sikap. Dan menurut Suharsimi Arikunto (1997:182-184) ada beberapa bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, antara lain:
a, Skalalikert
Skala mi disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan dilkuti oleh lima respons
yang menunjukkan tingkatan. Misalnya:
SS = Sangat setuju
S =Setuju
TB = Tidak berpendapat
TS =Tidaksetuju
STS Sangat Tidak Setuju
b. Skala pilihan ganda
Skala mi bentuknya seperti soal bentuk pilihan ganda yaitu suatu pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatifpendapat
c. Skala Thurstone
Skala Thurstone merupakan skala mirip skala buatan Likert karena merupakan suatu instrumen yang jawabannya menurijukkan tingkatan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
A B C D E F G H I J K
Very Neutral Very
Favourable Unfavourable
Pemyataan yang diajukan kepada responden, disarankan oleh Thurstone kirakira 10 butir, tetapi tidak kurang dan 5 butir.
d. Skala Guttinan
Skala mi sama dengan yang disusun oleh Bogardus, yaitu berupa tiga atau empat buah pemyataan yang masing-masing harus dijawab “Ya” atau “Tidak”. Pemyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang berurutan sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju nomor 1. Selanjutnya, jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3, berarti setuju pernyataan iiomor 1 dan
e, Semantic differential
Instrumen yang disusun oleh Osgood dan kawan-kawan mi mengukur konsep konsep untuk tiga dimensi. Dimensi-dimensi yang ada diukur dalam kategori baiktidak baik, kuat lemah dan cepat lambat atau aktifpasifatau dapatjuga berguna-tidak berguna.
Metode pengukuran sikap digunakan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi serta tujuan. Untuk keperluan penelitian skripsi mi, dan beberapa metode di atas, akan menggunakan Skala sikap Likert.

B. Program Kontrol Shalat Wajib
1. Pengertian Program Kontio1 Shalat wajib
Arti dan kata “Program” dalam kamu bahasa Indonesia (Bambang Prakuso, 1992:76) yaitu “rancangan, rencana”. Sedangkan kata “Kontrol” menurut di dalam kamus bahasa Indonesia pula mempunyai arti “Pengawasan”. Adapun kata “Shalat” di dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yaitu do’a, rahmat dan ampunan. Dan menurut istilah fikih, adalah salahsatu macam atau bentuk ibadah yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ucapanucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula (pembinaan perguruan tinggi agama Islam,1982:79). Shalat yang dimaksud disini adalah shalat wajib lima waktu. Adapun pengertian kata wijib menurut H. Sulaiman Rasjid (2000:1) yaitu :“Perintah yang mesti dikcjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan) maka yang mengerjakan mendapat pahala danjika tidak dikerjakan, maka ia berdoM”. Jadi;yang dimaksud dengan “Program Kontrol Shalat Wajib “ adalah suatu rancangan pengawasan shalat wajib lima waktu. Dan yang menjadi objek di sini adalah para siswa SMUN 26 kota Bandung.
2. Tujuan Program Kontrol Shalat
Di dalam ajaran Islam terdapat berbagai kewajiban, diantaranya adalah kewajiban shalat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. A1-Baqarah [21:43 yaitu:

“Dan dirikanlab shalat. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang
ruku”(A. Hassan, 1973:162).
Untuk rnelaksanakan shalat wajib lima waktu terdapat beberapa persyaratan, yaitu: islam, cukup umur, dan berakal serta sadar (A.Hassan,1973:187). Atas dasar ayat dan hadits tersebut, maka sebagai seorang muslim yang telah memenuhi persyaratan di atas, wajib untuk melaksanakan shalat yang lima waktu. Sehubungan dengan itu, usia sekolah menengah umum, pada umumnya telah masuk kepada syarat-syarat wajib shalat. Maka konsekuensinya adalah diberi pahala bagi yang rnengerjakannya dan berdosa bagi yang meninggalkannya.
Betapa pentingnya pendidikan agama di sekolah, mengingat masih banyaknya orang tua yang masih mempunyai kemampuan terbatas, yang tdak rnr.u memberikan pendidikan agama yang baik terhadap anaknya, maka dalam hal mi Zakiyah Daradjat (1995:129) mengemukakan bahwa:”Pendidikan agama tidak mungkin terlepas dan pengajaran agama, jika pengajaran agama tidak mungkin dilakukan oleh orang tua di rumah, maka pengajaran agama harus dilakukan dengan bimbingan seorang guru yang mengetahui agama”.
Oleh karena itu, pihak sekolah dan guru PAl setempat, membuat program kontrol shalat wajib yang diperuntukkan siswa. Menurut keterangan guru PAl, tujuan program tersebut adalah membiasakan para siswa untuk disiplin dalam melaksanakan shalat wajib yang lima waktu, baik di sekolah maupun dirumah atau dimana saja mereka berada.

3. Isi Program Kontrol Shalat Wajib
Pendidikan agama di eko1ah bukan hanya sekedar menanamkan iman dan keyakinan beragama saja. Tetapi selain pemberian materi agama, haru diiringi pula dengan prakteknya, yaitu melakukan amal perbuatan yang diperintahkan agama secara nyata, dalam hal mi adalah shalat. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat (1995:130) bahwa :“Pendidikan agama di sekolah hams juga melatih anak didik untuk melakukan ibadah yang dianjurkan dalam agama, yaitu praktek agama yang menghubungkan manusia dengan tuhan yang dipercayainya itu”.
Perwujudan dan uraian di atas, pihak SMUN 26 Bandung menjalankan program kontrol shalat wajib, yang mana isi dan program tersebut yaitu:
a. Tujuan progmrn kontrol shalat wajib
Tujuan daii p:ogram kontrol shalat wajib tidak akan diuraikan isini, karena di atas telah diuraikan secara jelas.
b. Pelaksanaan program kontrol shalat wajib
Di dalam pelaksanaannya program mi dilakukan sebanyak lima kali dalam sehan, sesuai dengan kewajiban shalat yang jima waktu dalam sehari smalam, yaitu subuli, dzuhur, ashar, maghrib dan isya.
c. Peraturan!Tata tertib program kontrol shalat wajib
Untuk tercapainya tujuan dan program kontrol shalat wajib yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ada peraturanlTata tertib yang harus dipatuhi oleh para siswa yang beragama Islam. Di dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa setiap siswa SMUN 26’Bandung, wajib untuk mengikuti program tersebut. Dalam

pelaksanaannya akan diberlakukan sangsi serta kegiatan yang dilaksanakan akan mempengaruhi nilai pada mata p1ajaran agama Islam.
d. Alat kontrol program kontrol shalat wajib
Supaya program tersebut dapat terkontrol dengan baik, yang dilaksanakan di sekolah maupun di rumah, maka digunakan alat kontrol berupa buku monitoring shalat. Yang mana isi dan buku tersebut berupa kolom-kolom yang berisi nama siswa, tanggal, waktu shalat, dan tanda tangan guru atau orang tua siswa. Dan buku tersebut diperiksa oleh guru PAl.
e. Sangsi –
Untuk mengantisipasi adanya siswa yang tidak ta’at, maka adanya sangsi sangat diperlukan. Sangsi yang berlaku dalam program kontrol shalat wajib berupa teguran atau nasehat kepada siswa yang melakukan pelanggaran kurang dan tiga kaii. Sedangkan bagi siswa yang melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali, maka akan diberikan sangsi yang berat, yaitu tidak boleh mengikuti pelajaran agama Islam selama sam kali pelajaran, kecuali apabila menebusnya dengan menyerahkan tugas khusus yang diberikan oleh guru PAl.
C; uiti i3eL wadah
I. Pengertian Motivasi
MC Donald memberikan sebuah definisi tentang motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diii pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif

dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Perumusan mi mengandung tiga unsur yang saling berkaitan sebhgai berikut:
1. Motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam din seseorang
Perubahan motivasi mengakibatkan beberapa perubahan tenaga dalam sistem neurofisiologis daripada organisme manusia, di dalam motivasi terdapat juga motivasi yang tidak diketahui.
2. Motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif
Banyak istilah yang dipakai untuk menerangkan tentang keadaan “perasaan” mi. Secara subjektifkeadaan im dapat dicinkan sebagai “emosi”. Dorongan afektifini ada juga yang nampak kurang nyata, seperti pada keadaan seseorang yang tenang bekerja di mea, padaa! ia mempunyai dorongan yang kuat berupa manifestasi perubahan psik.iiogi yang terjadi pada dirinya.
3. Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan
Orang yang termotivasi, membuat reaksi-reaksi yang mengarahkan dirinya kepada usaha mencapai tujuan, untuk mengurangi ketegangan yang ditimbukan oleh perubahan tenaga di dalam dirinya. Dengan perkataan lain, motivasi memimpin ke arah reaksi-reaksi mencapai tuj uan (Oemar Hamalik, 1992:173-174).
Mengenai pengertian motivasi mi, James.O. Whitaker membenkan pengertian secara umum, bahwa motivasi adalah “kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makiuk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut” (Wasty Soernanto, 1983:193).’

Sedangkan menurut E.usman Effendi dan Juhaya. S. Praja (1984:71) “Motivasi adalah usaha-usaha &ntuk menyediakan kondisi dan situasi sehingga individu itu melakukan kegiatan apa yang dilakukannya”.
Meskipun para ahli mendefrnisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun essensinya menuju kepada maksud yang sama, yaitu bahwa motivasi itu merupakan kekuatan atau tenaga yang membuat seseorang bertindak atau berbuat ke arah tujuan tertentu, baik disadari atau tidak.
2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi motivasi beribadah
Setelah menganalisa dan berbagai sumber yang membenikan keterangan mengenai motivasi, maka faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi beribadah itu ada dua macam, yaitu:
a. Faktor dan dalam
Faktor yang mempengaruhi siswa dalam motivasi beribadah yang timbul dalam din siswa itu, diantaranya:
1) Faktor Jasmaniah
Kondisi umum jasmaniah yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam melaksanakan ibadah. Kondisi tubuh yang lemah dapat menurunkan semangat untuk beribadah.
2) Faktor Psikologis, yang terdiri dan:
(a) Naluri
Setiap kelakukan manusia lahir dan suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri. Naluri merupakan tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir. Naluri adalah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang dapat menyampaikan pada tujuan dengan berfikir dahulu ke arah tujuan itu tanpa didahului latihan perbuatan itu. Dalarn ha! mi ahli psikologi menguraikan beberapa naluri yang ada pada din manusia yang menjadi pendorong tingkah lakunya, diantaranya adalah naluri ber-Tuhan (Hamzah Ya’kub, 1993: 57).
Naluri ber-Tuhan mi dapat menjadi motivasi beribadah bagi siswa, karena ia sadar akan kewajiban dirinya sebagai hamba terhadap Ti;hannya.
(b) Keadaan perasaan!suasana batin
Keadaan perasaan dapat menjadi salah sam yang turut menentukan dalarn naik turunnya motivasi beribadah seseorang. Keadaan perasaan yang tenang dan tentram dapat menjadi salahsatu penyebab meningkatnya semangat dalam beribadah, sebaliknya keadaan perasaan yang resah dan gelisah dapat menjadi salahsatu penyebab menurunnya semangat dalam beribadah.
b. Faktor dan luar
Secara umum faktor dan luar yang dipandang dapat mempengaruhi siswa dalarn motivasi beribadah mi adalah:
) Faktor keluarga
Keluarga adalah 1ernbag pendidikan yang pertarna dan utarna. Pendidikan dalam keluarga mempunyai pengarub yang besar terhadap motivasi beribadab, karena apabila di dalam suatu keluarga diajarkan dan dididik agama secara baik dan benar maka secara otornatis akan tertanam dengan kuat dalam jiwa setiap anggota keluarga tersebut. Dan begitupun sebaliknya bagi keluarga yang tidak memberikan pendidikan dan pengajaran agama terhadap anggota keluarganya, kemungkinan besar motivasi beribadahnya pun akan rendah.
2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi motivasi beribadah siswa, mencakup:
(a) Waktu seko1’
Waktu sekoiah di SMTJN 26 Bandung, terbagi menjadi dua, yaitu sekolah pagi dan sekolah siang. Waktu sekolah siang dan pukul 12.00 W1B sampai dengan pukul 17.00 WIB. Dimana diantara waktu itu terdapat dua waktu shalat yaitu dzuhur dan Ashar.Dengan adanya kedua waktu shalat tersebut, maka pihak sekolah menyediakan waktu untuk melaksanakannya. Sudah tenth hal tersebut mendukung terhadap pelaksanaan ibadah shalat siswa.
(b) Sarana Ibadah
Dengan banyaknya jumlah siswa yang beragama Islam, maka tentu saja memerlukan sarana ibadah yang memadai mulai dan tempat melaksanakan ibadah sampai dengan tempat wudhu.Apabila semua sarana telah memadai, maka siswapun akan merasa rnudah dn nyarnan dalam melaksanakan ibadah shaat.

(c) Kegiatan belajar mengajar PAl
Dengan adanya kegiatan belajar mengajar PAl di sekolah, maka secara disadari atau tidak oeh siswa, keiatan tersebut akan menanamkan iman dan keyakinan pada din siswa, sehingga dan sinilah akan muncul yang disebut motivasi beribadah.
(d) Kegiatan ekstrakunkuler keagamaan di sekolab
Kegiatan ekstrakurikuer keagamaan yang dilaksanakan di luar kelas, akan merealisasikan iman dan keyakinan yang telah ditanamkan dalam pengajaran agama Islam di kelas. Dengan kegiatan tersebut akan melatih siswa untuk melakukan praktek-praktek ibadah yang dianjurkan oleh agama, yang dalam hal mi adalah ibalah shalat, yang pada akhirnya akan memunculkan motivasi dalam beribadah.
3. Indikator Motivasi Beribadah
Motivasi itu merupakan sesuatu kekuatan, namun tidaklah merupakan suatu substansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikatomya, dan disini akan dibahas mengenai indikator motivasi beribadah, yaitu:
a. Responsif7Tanggap
Orang yang memiliki motivasi ibadah yang tinggi, apabila telah dikumandangkan adzan tidak akan menunda-nunda pelaksanannya, melainkan akan bergegas bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah shalat. Karena Allah SWT memerintahkan shalat tepat pada waktunya. Sebagairnana Firman-Nya dalam Q.S. An-Nissa [41:103 yaitü:

Sesungguhnya shalat itu .adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Sukrnadj aj a Asyarie-Rosy Yusuf, 1984:201).
b. Disiplin
Disiplin dalarn rnelaksanakan ibadah shalat, berarti melaksanakan segala syarat dan rukun shalat dengan baik dan benar.
Syarat dan rukun shalat tersebut sebagaimana yang akan diuraikan disini. Syarat-syarat shalat menurut mob. Rifa’i (1976:35) yaitu:
1. Beragama Islam;
2. Sudah baligh dan berakal
3. Suci dan hadas;
4. Suci seluruh anggota badan, pakaian dan tempat;
5. Menutup aurat, laki-laki auratnya antara pusat sampai lutut’ sedangkan wanita selunth anggota badannya kecuali muka dan dua belah tapak tangan;
6. Masuk waktu yang telah ditentukan untuk masing-masing shalat;
7. Menghadap kiblat;
8. Mengetahui mana yang rukun dan mana yang sunat;
Sedangkan rulcun shalat menurut Moh.Rifa’i (1976, 35-36) terdini dan:
1. Niat;
2. Takbirotul ihiam;

3. Berdiri tegak bagi yang berkuasa ketika shalat fardhu. Boleh sambil duduk atau berbaring bagi yagwsedang sakit;
4. Membaca surat Fatihah pada iap-tiap rakaat;
5. Ruku’ dengan thuma’ninah;
6. Ftidal dengan thurnaninah;
7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah;
8. Duduk antara dua sujud dengan thuma’ninah;
9. Duduk tasyahud akhir dengan thumaninah;
10. Membaca tasyahud akhir;
11. Membaca shalawat nabi pada tasyahud akhir;
12. Membaca salam yang pertama;
13. Tertib : berurutan rnengerjakan rukun-rukun tersebut.
Bagi yang memiliki motivasi beribadah yang tinggi tentu akan melaksanakan shalat dengan disiplin, salah satunya yaitu melaksanakan ibadah shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya.
c. Durasillamanya melaksanakan ibadah shalat
Ibadah shalat yang baik dan benar hams dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya. Bagi yang memilki motivasi ibadah yang tinggl, tentu akan melaksanakannya dengan tertib. Dalam mewujudkan hal tersebut secara otomatis memerlukan waktu yang cukup lama. Akan tetapi bagi yang tidak memiliki motivasi ibadah, kemungkinan besar akan melaksanakannya dengan asal-asalan dan hanya

memerlukan waktu yang sangat singkat, atau bahkan ada yang sampai tidak rnelaksanakannya sama sekali.
d. Minat
Minat adalah suatu rasa Iebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara din sendin dengan sesuatu di luar din. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat (Slameto, 1995: 180). Sedangkan menurut Andi Mapiarre (1982:62:63) “Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dan suatu campuran dan perasaan, harapan, pendinan, prasangka, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu
pilihan tertentu –
Dlarn n-iasa remaja, minat berkembang dan hal itu bersifat pemilihan dan berarah tujuan. Pilihan remaja pada suatu minat tertentu dalam suatu jangka waktu, maka perasaan dan pikiran mereka tertuju atau tercurahkan path objek dimaksud. Sehingga hal-hal lain yang bukan objek minat, diabaikaimya. Dalam pada itu pengaruh sosial juga mengambil peranan dalam memantapkan minat remaja terhadap sesuatu hal. Misalnya, penguatidukungan ataupun celaan dan oranglain terhadap objek minat dapat memperkuat ataupun memperlemah minat itu.
Terdapat perbedaan pada obyek minat, bentuk-bentuk minat pun sangat beragam. Beberapa bentuk minat yang penting dan menonjol dapat dikelompokkan dalam minat pribadi dan sosial, minat terhadap agama dan sebagainya.

Menurut Andi Mapiarre (1982:65) minat terhadap agama mulai dialarni rernaja awal. Mereka mulai mernikirkan secara serius soal-soal agama, yang dimulai sejak periode pertama masa rnaja awal. Soal-soal dan dogma agama yang pada periode akhir masa kanak-kanak diterimanya begitu saja, pada masa remaja awal mulai dipersoalkannya secara kritis. Mulailah mereka mendiskusikan soal-soal agama bersama ternan sebaya. Sayangnya, adanya kemampuan remaja untuk dapat menangkap informasi abstrak itu, kurang termanfaatkan. mi disebabkan karena mereka sendiri (atas pengaruh antara lain perasaan!emosinya) lebih melihat atau memandang sesuatu dan segi praktis dan realitanya. Mereka membandingkanantar aapa yang ideal dengan apa yang nampak nyata Sehinnga apa ynag dahulu dipercayainya sebagai hal yang benar, dalam masa reaa awal mulai diragukan. Para remaja awal seringkali mempertanyakan tentang kebenaran, dosa dan neraka, pahala dan sorga; mereka meragukan do’a, akibatnya, minat terhadap agama.dapat melemah dan praktek keagamaan senng ditinggalkannya.
Sesuai yang dikemukakan di atas, usia SMU masuk kepada masa remaja awal, dimana proses keagamaan yang dikemukakan di atas terjadi path para siswa, sehingga minat terhadap keagamaari mi akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan ibadah mereka,
Adapun menurut Doyles Fryer yang dikutip oleh Wayan Nurkancana (1983:229) bahwa “minat atau intrest adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu”. Walaupun minat didefinisikan secára berbeda, tetapi dalam definisi-definisi tersebut tidak ada

nampak kontradiksi. Kalau kita perhatikan definisi-definisi tersebut, maka minat senantiasa erat hubungannya ddngan perasaan individu, objek, aktivitas dan situasi.
Dalam kaitannya dengan mi yaitu, ibadah shalat akan dilaksanakan dengan disiplin apabila ada minat, atau motif itu akan bangkit apabila ada minat.
D. Pengarub Sikap Terhadap lIotivasi Beribadah
Sebagaimana telah dikemukakan pada uralan di atas, bahwa sikap adalah kecenderungan berperilaku pada suatu objek sebagai reaksi terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya. Sedangkan motivasi adalah daya penggerak atau dorongan yang aktif untuk mengantarkan pada pencapaian tujuan dan kegiatan tertentu. Oleh sebab itu diantara sikap dan motivasi akan senantiasa berkaitan.
Jika kedua faktor in1, (sikap dan motivasi) bersatu padu dalam melaksanakan ibadah shalat maka akan saling menunjang, yaitu motivasi akan tumbuh dan sikap yang terbentuk dalam pelaksanaan program kontrol shalat wajib.
Dan definisi di atas, dapat diidentifikasikan bahwa motivasi disamping berkenaan dengan perasaan, juga muncuinva diawali dengan adanya sil&p terhadap
suatu objek. Dalam hal yang menyangkut kedua aspek mi, adalah sikap siswa terhadap program 1contrn shalat wajib, yang tentunya siswa akan memiliki sikap yang berbeda-beda tergantung dan aspek positif atau aspek negatif terhadap suatu objek tertentu dan akan memiliki motivasi yang berbeda-beda pula sebagai dampak dan sikap yang dimilikinya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: