MENGENAI INTENSITAS MASYARAKAT MENGIKUTI DZIKIR JUM’AT KLIWON HUBUNGANNYA DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDHU MEREKA

6 04 2010

MENGENAI INTENSITAS MASYARAKAT MENGIKUTI DZIKIR JUM’AT KLIWON HUBUNGANNYA DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDHU MEREKA
A. Intensitas Masyarakat Mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon
1. Pengertian Intensitas
Kata intensitas berasal dari bahasa inggris “intens” yang artinya hebat, kuat, semangat (Jhon Echols, 1995: 326). Kehebatan disini adalah kehebatan dalam melaksanakan suatu pekerjaan sampai batas terjauh yang ditempuh oleh seseorang.
Sedangkan dalam KBBI (1996:383) intens mengandung pengertian hebat/sangat kuat, penuh semangat. Intensitas juga merupakan dorongan (kekuatan-kekuatan) yang bersifat mengaktifkan. Pengertian tingkah laku oleh dorongan itu bervariasi, dari taraf yang rendah sampai pada taraf yang tinggi. Menurut Woodwort, tanpa adanya dorongan tidak akan ada kekuatan yang menggerakan dan mengarahkan mekanisme – mekanisme yang bertindak sebagai pemuncul tingkah laku. Dorongan itu ada yang bersifat fisiologis yang bersumber pada kebutuhan-kebutuhan organis dan dorongan umum serta motif darurat, termasuk di dalamnya dorongan rasa takut, kasih sayang, kegiatan, kekaguman dan ingin tahu dalam hubungannya dengan rangsangan dari luar (Abin Syamsuddin, 2004:38). Ini berarti bahwa intensitas adalah dorongan (kekuatan – kekuatan) yang timbul dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang melibatkan dirinya secara aktif.
Intensitas juga mengandung arti pengerahan tenaga atau pemusatan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Jadi kata intensitas terhadap kegiatan disini adalah intens atau seringnya dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon atau semangat atau kesungguhan masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon.
Masyarakat ialah kumpulan sekian banyak individu – kecil atau besar – yang terkait oleh satuan, adat, ritus, atau hukum khas, dan hidup bersama (Quraish Shihab, 2000:319). Manusia secara fitri adalah makhluk social dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. Setiap masyarakat mempunyai cirri khas dan pandangan hidupnya. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut. Suasana kemasyarakatan dengan system nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat itu. Jika system nilai atau pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”, maka upaya dan ambisinya terbatas pada “kini dan di sini pula”(Quraish Shihab, 2000:320).
Penulis membatasi bahwa masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu masyarakat yang mengikuti dzikir pada malam jum’at kliwon, yakni warga RW. 05 dusun Cikoang desa Sakurjaya RT. 10 sampai RT. 11.
Dengan demikian intensitas masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon ialah kehebatan (kesadaran, kesungguhan atau kekuatan) masyarakat dusun Cikoang yang ditandai dengan motivasi, minat dan aktivitas mereka yang sungguh-sungguh mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon.
2. Indikator Intensitas
Maslow yang dikutip oleh Slameto (1995: 171) mengemukakan bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan atau diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu. Secara teoritis motivasi tingkah laku yang intens adalah merupakan hasil dari taraf motivasi yang tinggi dan sebaliknya motivasi digunakan untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang menjadi penggerak dan pengarah tingkah laku.
Dari pendapat tersebut, dapat digambarkan bahwa tingkah laku yang intens dapat terjadi dengan adanya motivasi yang tinggi dan perilaku dimotivasi oleh keinginan (minat) yang akhirnya menjadi aktivitas. Dengan demikian intensitas masyarakat yang mengikuti dzikir jum’at kliwon dapat terlihat dari motivasi, minat dan aktivitas mereka.
Ketiga indikator tersebut akan dijelaskan sebagai-berikut:
a. Motivasi
Motivasi berasal dari motif yang artinya daya (dorongan) yang timbul dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan (KBBI, 1996: 666). Sedangkan motivasi adalah sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep yang lain seperti minat, konsep diri, dan sikap dsb.(Slameto, 1995:170), ini berarti bahwa motivasi adalah rangkaian motif yang berada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Mc. Donald (Sardiman,2003 :73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald tersebut mengandung tiga unsur penting, yaitu :
1. Motivasi dimulai dengan perubahan energi pada diri seseorang
2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa “feeling”/afeksi seseorang
3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan
Motivasi merupakan suatu kekuatan pendorong yang dapat dilihat namun dapat dirasakan. Seseorang yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan suatu kegiatan, begitu pula sebaliknya seseorang yang kurang memiliki motivasi yang kuat akan terlihat kurang bersemangat dalam melakukan suatu kegiatan yang akan berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapainya.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang timbul pada diri seseorang yang mendorongnya untuk menggerakan dan mengarahkan tingkah laku dalam mencapai tujuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Abin Syamsuddin (2004:37) membagi motivasi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Motivasi Intrinsik, jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauannya sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik, jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehinggga dengan kondisi demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu kegiatan.
Motivasi itu merupakan suatu kekuatan namun tidaklah merupakan suatu substansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikatornya dalam term-term tertentu, antara lain 1) Durasi kegiatan, 2) Frekuensi kegiatan, 3) Persistensinya, 4) Ketabahan, keuletan dan kemampuannya, 5) Devosi/pengabdian dan pengorbanan, 6) Tingkat aspirasinya, 7) Tingkat kualifikasi prestasi atau product/out put, 8) Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (Abin syamsudin, 1999: 30).
Dari beberapa indikator diatas, maka motivasi masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon dapat dilihat dari indikator yang dibatasi sebagai berikut :
1) Durasi Kegiatan
Durasi kegiatan yaitu berapa lama kemampuan menggunakan untuk melakukan Dzikir Jum’at Kliwon. Dari indikator ini, dapat dipahami bahwa motivasi dapat dilihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan dzikirnya.
2) Frekuensi Kegiatan
Frekuensi dapat diartikan dengan kekerapan/ jarang kerapnya. Frekuensi yang dimaksud yaitu berupa seringnya kegiatan yang dilakukan dalam periode waktu tertentu. Kegiatan dzikir Jum’at Kliwon dilaksanakan paling sedikit sekali dalam sebulan. Masyarakat yang memiliki motivasi tinggi berusaha menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya mengikuti dzikir jum’at kliwon pada tiap pertemuan.
3) Persistensi
Persistensi yaitu kelekatan dan ketetapan pada tujuan kegiatan. Dari indikator ini dapat terlihat bahwa motivasi akan mengetahui seberapa tinggi persistensi masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon. Ini terlihat dari kesungguhan mereka selama dzikir dilakukan.
4) Ketabahan dan Keuletan
Ketabahan dan keuletan disini mengandung arti bahwa dalam menjalankan dan mengikuti dzikir para jamaah diharapkan mampu menjalani segala sesuatu resiko dengan ketabahan dan keuletan sehingga tercapai apa yang diharapkan.

5) Pengabdian dan Pengorbanan
Dalam menjalankan dzikir tentulah banyak hambatan serta gangguannya. Oleh karena itu pengorbanan dan pengabdian sangatlah diperlukan.
6) Tingkatan Aspirasi
Aspirasi yang dimaksud adalah cita-cita, sasaran, atau target yang hendak dicapai dalam kegiatan yang dilakukan. Kegiatan Dzikir Jum’at Kliwon bermaksud mengembangkan pengetahuan afektif dan psikomotor melalui penyampaian isi dzikir berupa tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan do’a dengan tujuan mendorong masyarakat agar mereka bergairah beribadah serta memiliki akhlakul karimah.
7) Arah Sikap
Arah sikap maksudnya yaitu senang/tidak senang, positif/ negatif sikap warga yang mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon yang merupakan reaksi terhadap sasaran/ tujuan kegiatan dzikir yang hendak dicapai oleh mereka secara sadar dan akan tergantung kepada rangsangan dari luar.
b. Minat
Menurut Slameto (1995: 180) minat adalah suatu masa lebih suka dan rasa keterikatan paada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minatnya. Ini berarti bahwa minat adalah suatu perasaan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan sesuatu tanpa ada yang menyuruh, sedangkan dalam KBBI (1996:656) dijelaskan bahwa secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan hati/ghairah yang tinggi terhadap sesuatu.

Suatu minat dapat diekspresikan melalui sesuatu pernyataan yang menunjukan bahwa seseorang lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Seseorang yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut (Slameto, 1995:180)
Berdasarkan pengertian minat yang dikemukakan oleh para ahli di atas ada suatu unsur kesamaan yang terkandung dalam setiap pengertian yaitu kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan minat adalah kecenderungan hati seseorang terhadap sesuatu yang ditimbulkan akibat adanya tuntutan kebutuhan baik dari dalam maupun dari luar, yang mempunyai pengaruh dalam memperkuat perhatian dan kemampuan individu guna mencapai sasaran/objek yang diharapkan.
Untuk mengetahui indikator minat, penulis menginterpretasikan sebagai berikut:
1. Kecenderungan yang kuat
Kecenderungan yang dimaksud adalah kecenderungan hati, kesudian, keinginan atau kesukaan. Kecenderungan yang kuat akan terlihat pada diri warga atau masyarakat yang mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon. Kalau sudah ada kecenderungan, resiko apapun akan ia penuhi.
2. kehadiran
Kehadiran yang dimaksud yaitu kehadiran masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon tepat waktu, dan dipastikan bahwa masyarakat yang mengikuti dzikir tersebut mempunyai minat yang tinggi terhadap dzikir jum’at kliwon, sehingga terlihat pula dalam aktivitasnya.
3. Giat dalam Berdzikir
Kesungguhan seorang jama’ah dzikir dalam mengikuti rutinitas berupa dzikir jum’at kliwon, ini dapat terlihat dari persiapan segala sesuatunya sebelum dzikir dimulai dan tidak pernah alpanya dalam mengikuti dzikir tersebut.
c. Aktivitas
Aktivitas berasal dari bahasa inggris “activity” yang artinya kegiatan atau kesibukan (Jhon Echol dan Hasan Sadely, 1995:10), ini berarti aktivitas adalah bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seseorang.
Aktivitas tidak hanya bersifat fisik saja, melainkan juga aktivitas mental. Dalam melakukan sesuatu, kedua aktivitas tersebut harus selalu berkaitan, karena jika yang berfungsi hanya salah satu saja maka hasil dari suatu kegiatan tersebut tidak akan optimal. Begitu juga sebaliknya kalau yang aktif itu hanya mentalnya saja maka kurang bermanfaat. Seseorang yang melakukan suatu kegiatan, tetapi fisik dan mentalnya tidak aktif menunjukan bahwa tidak adanya keserasian antara aktivitas fisik dengan aktivitas mentalnya.
Mengenai aktivitas ini, Peaget menerangkan bahwa seseorang itu berfikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan maka seseorang itu tidak berfikir. Oleh karena itu agar seseorang berfikir sendiri maka harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Berfikir pada taraf verbal baru akan timbul setelah seseorang itu berfikir pada taraf perbuatan (Sardiman A.M., 2003:100).
Dengan demikian jelas bahwa aktivitas adalah suatu perbuatan baik fisik maupun mental yang akan membuahkan suatu aktivitas yang optimal.
Adapun aktivitas masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon sewaktu kegiatan berlangsung adalah sebagai berikut :

1) Memperhatikan
Perhatian atau memperhatikan adalah pemusatan tenaga /kekuatan jiwa tertuju pada suatu objek atau mendayagunakan kesadaran untuk menyertai suatu aktivitas (Slameto, 1998:34). Jadi, ketika dzikir warga akan memperhatikan gerak dan bacaan dzikir tersebut.
2) Mengamalkan
Aktivitas emosional berhubungan erat dengan suasana mental yang senantiasa menanggapi/menyikapi situasi kondisi di sekelilingnya, seperti menaruh minat, merasa senang, kagum, puas dan sebagainya merupakan aktivitas emosional yang negatif misalnya: merasa bosan, gelisah, gugup, kesal dan sebagainya.
B. Dzikir Jum’at Kliwon
1. Pengertian Dzikir Jum’at Kliwon
Dzikir secara sederhana diartikan “ingat”. Ingat itu ada kalanya dengan hati atau dengan lidah, ingat dari kelupaan dan ketidaklupaan, serta sikap senantiasa menjaga sesuatu dalam ingatan (Arifin Ilham, 2004: 64). Dengan demikian istilah dzikir atau dzikrullah dalam islam secara umum diartikan “mengingat Allah” atau “menyebut asma Allah”. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Qs.Al-Kahfi ayat 24 :
وَاذْكُرْرَبَّكَ اِذَانَسِيْتَ ( )
Artinya:
“Dan ingatlah kepadaTuhanmu jika kamu lupa” (Depag RI, 1990: 447)

Dan surat al-Baqarah ayat 152 :
فَاذْكُرُوْنِى اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِى وَلاَ تَكْفُرُوْنَ ( )
Artinya:
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”( Depag RI, 1990: 38).
Ketika seseorang ingat kepada Allah berarti ia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya, dan sebaliknya menjauhkan diri dari lupa kepada-Nya. Al-Ghazali (2000:118) menyatakan bahwa dzikir- dzikir yang bermanfaat adalah yang dibaca dengan kehadiran hati. Adapun selain itu, sedikit manfaatnya karena yang dimaksud adalah berdialog dengan Allah dan itu dapat dicapai dengan mengekalkan dzikir dengan kehadiran hati. Hal ini dapat menghindarkan kesudahan yang buruk.
Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat dijalan menuju Allah. Tak seorang pun bisa mencapai Tuhan kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya. Jadi, zikir adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang (KBBI, 1996: 1136).
Pada batas tertentu zikir dapat berarti semacam proses pikiran formal yang menyebut-nyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya. Karena manusia merupakan makhluk yang berfikir dan merasa bertasawuf, artinya manusia senantiasa menghidupkan hubungan rasa antara manusia dan Tuhan. Dalam kaitan ini Said Hawwa (1997: 128) menegaskan bahwa :
“Seandainya saja seorang muslim menentukan untuk melaksanakan latihan-latihan ruhani (dzikir) selama 40 hari, kurang atau lebih dari itu, tidak dapat diragukan lagi, imannya kan menanjak tinggi, makna dan hakekat tauhid akan semakin menghujam di dalam kalbunya, dan semua itu dapat melahirkan kecemerlangan pikiran dan renungan. Ini masih tanpa nilai-nilai lain yang beragam, yang semuanya sangat penting pada zaman kita yang penuh dengan materialisme dan nafsu syahwat yang merajalela.”

Sedangkan jum’at merupakan nama salah satu hari dan merupakan urutan hari yang keenam dalam seminggu. Jum’at berasal dari bahasa arab “jamaa” yang artinya “berkumpul”, dinamakan demikian karena hari Jum’at merupakan hari dimana umat Islam berkumpul untuk menunaikan kewajiban sholat Jum’at.
Kliwon adalah salah satu nama hari pasaran jawa yang sangat disakralkan. Nama-nama hari pasaran jawa secara urutan adalah kliwon, manis, pahing, pond an wage. Dalam hal ini kliwon ditempatkan pada jejer pertama.
Kebiasaan jum’at kliwon merupakan budaya daerah cirebon. Di Cirebon dan di Jawa pada umumnya ada dua cara penghitungan pekan. Yang satu adalah pekan dengan 7 hari, yang lainnya adalah pekan dengan 5 hari pasaran. Menurut kedua cara penghitungan pekan ini, masing-masing hari memiliki jejer atau kedudukan urutan dan naktu. Dan naktu merupakan nilai khusus yang melekat pada nama orang, dan unit satuan kalender (yaitu hari, pasaran, bulan dan tahun). Naktu adalah unsur penting yang dijadikan dasar penghitungan (Muhaimin,2001:102).
TABEL I
NAKTU DAN JEJER PADA HARI DALAM MINGGU BIASA
DAN MINGGU PASARAN
Hari dalam seminggu Naktu Jejer Pasaran Naktu Jejer
Jum’ah/jum’at 6 1 Kliwon 8 1
Septu/sabtu 9 2 Manis 5 2
Ahad/minggu 5 3 Pahing 9 3
Senen/senin 4 4 Pon 7 4
Selasa/selasa 3 5 Wage 4 5
Rebo/rabu 7 6
Kemis/kamis 8 7

Orang Cirebon menganggap jum’at sebagai hari terpenting dalam sepekan dan dalam hitungan diletakan pada jejer pertama. Maka satu pekan dimulai dengan hari Jum’at dan berakhir Kamis. Dalam hal pasaran, kliwon dianggap paling penting dan ditempatkan dalam jejer pertama, sehingga susunan hari pasaran adalah: Kliwon, Manis, Pahing, Pon, Wage. Peristiwa yang paling terjadi setiap 35 hari sekali, yaitu pada Jum’at Kliwon, dimana jejer pertama pekan (Jum’at) bertemu dengan jejer pertama hari pasaran.
Pentingnya hari Jum’at tampaknya berasal dari tradisi Islam yang menganggap jum’at sebagai hari paling utama (sayyidul ayyam) untuk mengerjakan perintah agama, tidak jelas mengapa kliwon dianggap penting meskipun kliwon berasal dari tradisi jawa. Tradisi sastra setempat menyebutkan bahwa Jum’at Kliwon secara tradisional dipakai oleh Sunan Gunung Djati sebagai hari pertemuan istana, karena Jum’at Kliwon adalah hari yang baik untuk mengetahui baik buruknya maksud seseorang dan dikabarkan juga bahwa Sunan Gunung Djati Cirebon sendiri wafat pada Jum’at Kliwon (Muhaimin, 2001:102).
Berdasarkan pada pemaparan dan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dzikir Jum‘at Kliwon adalah dzikir yang dilakukan pada waktu tertentu yaitu pada malam Jum’at Kliwon dengan bacaan-bacaan tertentu pula.
2. Kronologis Dzikir Jum’at Kliwon di Dusun Cikoang
Berdasarkan pada hasil wawancara dan observasi di Dusun Cikoang mengenai dzikir Jum’at Kliwon secara kronologis didapatkan informasi bahwa yang pertama kali melakukan dzikir di Dusun tersebut adalah almarhum Pak Cep Mail (Kiayi Ismail), beliau masih turunan cirebon dan putra dari pendiri Pondok Pesantren Cipicung Conggeang, tapi tidak diketahui dengan jelas tahun berapa beliau memulai melakukan rutinitas jum’at kliwon. Setelah wafat kebiasaan dzikir itu diteruskan oleh anggota jamaahnya, yakni Ust. Ahmad hingga saat ini.
Menurut pimpinan dzikir tersebut, bila dirumuskan ada beberapa alasan mengapa dzikir tersebut dilaksanakan pada malam Jum’at Kliwon, diantaranya yaitu:
“Jum’at adalah hari yang diagungkan oleh Islam, pada malam Jum’at Kliwon Sunan Gunung Djati Cirebon lahir, dan wafatnya pun pada malam Jum’at Kliwon. Sunan Gunung Djati bila membahas permasalahan umat setiap malam Jum’at Kliwon.Malam Jum’at Kliwon merupakan malam yang sangat disakralkan oleh masyarakat jawa.”

Uniknya dzikir Jum’at Kliwon di Dusun Cikoang ada unsur perpaduan antara Sumedang dan Cirebon, ini terlihat dengan hadiwan yang begitu mengagungkan Pangeran Kornel dan Mbah Jaya Perkosa sebagai simbol penguasa tatar sunda.”
3. Etika Dzikir Jum’at Kliwon
Menurut M. Arifin Ilham, 2004:83), tatacara pelaksanaan dzikir itu dibagi dua, yaitu: pertama, dzikir sirriyyah fardhiyyah atau dzikir sendiri dalam hati tanpa mengeraskan suara. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Qs.Al-A’raf(7): 205:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ اْلجَهْرِ مِنَ اْلقَوْلِ بِاْلغُدُوِّ وَاْلاَصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِّنْ اْلغفِلِيْنَ ( )

Artinya :
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimudengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Depag RI,1990:256)
Kedua, dzikir jam’iyyah jahriyyah atau berzikir jamaah dengan lafaz syahdu.
Dzikir Jum’at Kliwon yang dilaksanakan di Dusun Cikoang , tatacara pelaksanaannya termasuk dzikir jam’iyyah jahriyyah (berdzikir berjama’ah dengan lafaz syahdu).
Berdasarkan pembagian dzikir tersebut bahwasanya dzikir yang dikehendaki oleh Allah adalah dzikir yang membekas di hati, sehingga dapat berpengaruh pada perilaku. Berkenaan dengan dzikir jum’at kliwon, agar dzikir membekas di hati dan perilaku, maka terdapat beberapa tatacara berdzikir (etika), sebagaimana Sayyid Sabiq (1988: 218-220), mengemukakan tatacara berdzikir sebagai berikut:
1. Khusyu, dzikir dilakukan dengan sopan berusaha menghayati maknanya sehingga dapat mempengaruhi hati dan memperlihatkan maksud dan tujuan dzikir.
2. Menjaga (merendahkan suara)
3. Hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas.
4. Bersih pakaian, tempat dan suci badan serta harum baunya, karena demikian itu akan menambah kegairahan.
5. Menghadap kiblat, karena sebaik-baiknya majelis adalah yang menghadap kiblat.

Apabila cara atau aturan berdzikir ini dilaksanakan dan dijaga dengan baik, berarti orang yang berdzikir itu telah mengambil manfaat dari apa yang telah dibacanya. Maka hasil dari dzikir itu akan berbekas di hati menjadi cahaya bagi jiwa dan melapangkan dada bagi pembacanya.
Etika atau tata cara berdzikir sebenarnya yang amat ditekankan adalah kesucian lahir dan batinnya, Karena kita akan berkomunikasi dengan Dzat yang Maha Suci (Allah SWT).
4. Bentuk Amaliah Dzikir Jum’at Kliwon
Bentuk dzikir ini agak sedikit berbeda dengan dzikir yang biasa dilakukan, dan juga dilaksanakan di waktu tertentu, yakni pada malam Jum’at Kliwon mulai jam 21.00 sampai jam 01.0 pagi, bahkan pada malam Jum’at Kliwon tertentu dimulai pada jam 24.00 (jam 12 malam) sampai jam 03.00 pagi dan materinya hampir sama dengan tahlilan.
Bentuk ritual dari dzikir ini adalah Hadiwan. Hadiwan pada dasarnya adalah pemanjatan do’a kepada Tuhan (Allah) melalui perantara atau meminta pertolongan wali (Muhaimin, 2001:229). Dzikir pada dasarnya mempunyai bentuk dan amaliah yang spesifik, dan akan menimbulkan pengalaman-pengalamn pada derajat yang berbeda-beda dalam eksistensi masing-masing orang yang mengamalkannya.
Sebelum acara dzikir dimulai, pimpinan dzikir membakar dupa/ kemenyan terlebih dahulu. Sedangkan bentuk amaliahnya adalah sebagai berikut :
1. Memohon ampun kepada Allah SWT, dengan membaca Istighfar 3X
اَسْتَغْفِرُ االلهَ الْعَظِيْمَ.( )
Artinya: “aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”
2. Membaca Tawasul 9x diikuti oleh Al-Fatihah 9x pula.
a. Fatihah pertama ditujukan kepada arwah Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya.

الى حضرة النبى المصطفى صلى الله عليه وسلم واله وصحبه اجمعين شيئ لله لهم الفتحة…
b. Fatihah kedua ditujukan kepada arwah seluruh Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Muhammad SAW, dan para malaikat.

ثم الى اروح ابا ئه واخوانه من النبيين والمرسلين والى ملا ئكة الله المقربين والكرو بيين شيئ لله لهم الفتحة…

c. Fatihah ketiga ditujukan kepada sahabat dekat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, dan seluruh sahabat, tabiin dan para tabiut tabiin serta mereka yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman.

والى اروح ساداتنا ابى بكر وعمر وعثمان وعلى والى بقية العشرة المبشرة بالجنة وسائر الصحابة والقرابة والتبعين شيئ لله لهم الفتحة…
d. Fatihah keempat ditujukan kepada arwah cucu Rasulullah yaitu Hasan Husen, Fatimah Az-Zahra, Siti Khadijah, Hamzah, Abbas, Syuha Badar dan Uhud.

والى اروح الحسن والحسين وامهما سيدتنا فاطمة الزهراء وسيدتنا خديجة الكبرى وسيدنا حمزة والعباس والشهداء البدريينا والا حديينا شيئ لله لهم الفتحة…

e. Fatihah kelima ditujukan kepada arwah para Mujtahid yang empat dan orang-orang yang mengikuti di dalam agam Allah.

والى ارواح الاربعة الائمة المجتهدين ومقلديهم فى الدين شيئ لله لهم الفتحة…

f. Fatihah keenam ditujukan kepada arwah Penghulu para wali yaitu Syeikh Abdul Qadir Jailani.

والى ارواح القطب الربانى والعارف الصمدانى سيدى عبد القادر الجيلانى شيئ لله له الفتحة…

g. Fatihah ketujuh ditujukan kepada arwah wali-wali Allah dari timur ke barat dan di darat dan di laut.

والى ارواح كل ولى ووليى لله من مشارق الارض ومغا ربها برها وبحرها شيئ لله لهم الفتحة…

h. Fatihah kedelapan ditujukan kepada arwah para wali songo dan khususnya kepada Sunan Gunung Djati Cirebon.

والى ارواح ولى سعوا خصوصا سونان كونوغ جاتى جيربون شيئ لله لهم الفتحة…

i. Fatihah kesembilan ditujukan kepada arwah leluhur Sumedang, khususnya Pangeran Kornel dan Mbah Jaya Perkosa.

والى ارواح لولوحور سومداغ خصوصافغران قورنيل وامباح جاي فارقوس شيئ لله لهم الفتحة…

Qs. Al-Fatihah :

اَعُوْ ذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ( ) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعلَمِيْنَ ( ) اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ( ) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ( ) اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ( ) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمِ ( ) صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّا لِّيَْن ( )
Artinya: (1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ;(2) Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam;(3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;(4) Yang Menguasai Hari Pembalasan;(5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan;(6) Tunjukilah kami jalan yang bagus;(7) yaitu jalan orang-orang tang telah Engkau Anugerahkan Nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Depag RI, 1990:5-6 )

Berkenaan dengan tawasul ini Nashiruddin Al-Albani (1993:20) menjelaskan bahwa kata tawasul sebenarnya bermakna mendekat (taqarrub) kepada Allah yang dituju dan mencapainya dengan keimanan yang keras. Ibnu Katsir pun seperti yang dikutip Al-Albani dalam kitabnya An-Nihayah Al-Wasil(tawasul) artinya pendekatan, perantara, dan sesuatu yang dijadikan untuk menyampaikan serta mendekatkan diri kepada sesuatu. Dalam hal ini yaitu Allah SWT. Dan perantaranya adalah orang-orang suci.

3. Membaca Qs. Al-Ikhlas 100 kali
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ ( ) اَللهُ الصَّمَدُ ( ) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ( ) وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا اَحَدٌ ( )

Artinya:(1) Katakanlah,”Dialah Allah, Yang Maha Esa”;(2) Allah tempat meminta segala sesuatu;(3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan;(4) dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia”. (Depag RI, 1990:1118 )
4. Membaca Qs. Al-falaq
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقِ ( ) مِنْ شَرِّ مَاخَلَقَ ( ) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ( ) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّثتِ فِى اْلعُقَدِ ( ) وَمِنْ شَرِّ حَا سِدٍ اِذَا حَسَدَ ( )
Artinya: (1) Katakanlah,”Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh;(2) dari kejahatan Makhluk-Nya;(3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita;(4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul;(5) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (Depag RI, 1990:1120 )

5. Membaca Qs. An-nas
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ( ) مَالِكِ النَّاسِ ( ) اِلهِ النَّاسِ ( ) مِنْ شَرِّ اْلوَسْوَاسِ اْلخَنَّاسِ ( ) اَلَّذِىْ يُوَسْوِسُ فِى صُدُوْرِ النَّاسِ ( ) مِنَ اْلجِنَّةِ وَالنَّاسِ ( )
Artinya: (1) Katakanlah,”Aku berlindung kepada Tuhan yang Memelihara dan Menguasai manusia;(2) Raja manusia;(3) Sembahan manusia;(4) Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi;(5) yangmembisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia;(6) dari (golongan) jin dan manusia”.
(Depag RI, 1990:1122 ).

6. Membaca Qs.Al-baqarah:1-5
المّ ( ) ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ( ) اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَمِمَّا رَزَقْنهُمْ يُنْفِقُوْنَ ( ) وَالَّذِيْنَ يُؤْ مِنُوْنَ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَا اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ( ) اُولئِكَ عَلى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَاُولئِك هُمُ اْلمُفْلِحُوْن( )
Artinya: (1) Alif lam Mim (Allah-lah Yang lebih mengetahuinya;(2) Kitab al-Quran itu, tiada keraguan di dalammya, menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa;(3) yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, melakukan shalat dan mendermakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka;(4) Dan orang-orang yang beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepadamu, dan kitab yang diwahyukan sebelum kamu, serta menyakinkan adanya akherat;(5) Mereka itulah yang selalu dalam petunjuk Tuhannya, dan memperolah kemenangan(beruntung)”. (Depag RI, 1990:8-9 )

7. Membaca Qs.Al-baqarah ayat 255 (ayat Kursi)
اَللهُ لآَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَىُّ اْلقَيُّوْمُ لاَ تَأْ خُذُه سِنَةٌ وَّلاَنَوْمٌ لَهُ مَا فى السَّموَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ مَنْ ذَاالَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه اِلاَّ بِاِذْنِه يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِّنْ عِلْمِه اِلاَّ بِمَا شَاَءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضِ وَلاَ يَؤُدُه حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِىِّ اْلعَظِيْمُ ( )
Artinya:”Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menrus mengurus(makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan dibumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah menghetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakinya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
(Depag RI, 1990:63 )
8. Membaca Qs.Al-baqarah ayat 284-286
ِللهِ مَا فِى السَّموَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ وَاِنْ تُبْدُوْا مَافِى اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ عَلى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ ( ) امَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلُ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّه وَاْلمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ امَنَ بِاللهِ وَمَلاَ ئِكَتِه وَكُتُبِه وَرَسُوْلِه لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِه وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ ( ) لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا اِنْ نِّسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَا قَةَ لَنَا بِه وَاعْفُ عَنَا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ ( )
Artinya:” (284)Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendakinya, dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu;(285) Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabnya dan rasul-rasulNya.(mereka mengatakan); “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun ( dengan yang lain) dri rasul-rasulNya”, dan mereka mengatakan”kami dengan dan kami taat”. (mereka berdoa),”Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada engkaulah tempat kembali;(286) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejhatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), “ya Tuhan kami, janganlah Engkau hokum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yag tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami;ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Depag RI, 1990:71-72 )

9. Membaca Istighfar kembali sebanyak 100 kali
اَسْتَغْفِرُ االلهَ الْعَظِيْمَ.
Artinya: “aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”
10.Membaca Lafal dzikir di bawah ini:
اَلَّذِى لآَ إِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Artinya:”Yang tidak ada Tuhan yang lain, kecuali Dia Maha Hidup tegak kokoh, kepadaNyalah aku bertobat”.
اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ (لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ )

Artinya: “sebutan yang paling utama adalah “Tidak ada Tuhan yang lain kecuali Allah”.

11. Membaca Lafal Tahlil 100 kali

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang lain selain Allah”.
Lalu dilanjutkan dengan membaca:
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدُ رَّسُوْ لُ اللهِ ص.م. عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ اِنْ شَأ اَللهُ تَعَا لَى مِنَ اْلاَمِنِيْنَ

Artinya:”Tidak adaTuhan yang lain, kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah saw kepadaNya kami hidup dan mati serta dibangkitkan dari kubur, Insya Allah termasuk dalam jamaah yang selamat sejahtera”.

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:”Tidak ada tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, tak ada sekutu baginya. Bagi-Nyalah segala kerajaan, bagi-Nyalah pula segala pujian dan Allah Maha Besar kekuasaan-Nya atas segala sesuatu”.
12. Mengucapkan Lafal Tasbih sebanyak 100 kali:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Artinya: Maha Suci Allah dan dengan memujiNya, Maha Suci Allah yang Maha Agung”
13. Mengucapkan lafal salawat atas nabi:
اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِيْكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ
Artinya: “ya Allah berilah tempat dan keselamatan atas kekasihMu, yaitu Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya, seluruhnya.”
14. Membaca Qs. Al-Fatihah 1 x
15. Diakhiri dengan Do’a
Al-Ghazali seperti yang dikutip Ahmad Tafsir (2006:246-250) menjelaskan ada beberapa adab dalam berdo’a yaitu: Hendaklah memilih waktu-waktu yang mulia, hendaklah memilih waktu berlangsungnya peristiwa mulia, hendaklah menghadap kiblat, angkatlah tangan ketika berdoa, mengusap wajah setelah berdo’a, tatkala berdo’a tidak memandang ke atas atau ke langit, tidak terlalu memaksakan menysusun do’a bersajak, berdo’a dengan tadharu’ (berendah diri dan beriba) khuysu dan harap cemas, yakin do’a akan dikabulkan, jika penting sekali maka ulangi do’a tiga kali, hendaklah memulai do’a dengan menyebut nama Allah, serta adab batiniah.
Dzikir Jum’at Kliwon ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh imam (pimpinan dzikir) dan diamini oleh jamaah. Isi do’a biasanya permohonan agar Tuhan (Allah) mengabulkan permintaan mereka yang berdo’a sambil menyeru keagungan-Nya dan bahwasanya ia telah menganugerahkan kemulyaan kepada hamba yang paling takwa terutama para wali, dan meminta dukungan wali agar Tuhan (Allah) mengabulkan apa yang mereka pinta untuk bekal di dunia dan akherat. Setelah pembacaan do’a usai hidangan disajikan dan hadirin bersantap seraya berbincang-bincang seperti layaknya pada acara slametan (Muhaimin, 2001: 230-231).
Melalui proses pelaksanaan dzikir ini, ketika seseorang mengucapkan lafal dzikir, dzikir dipindahkan dari lidah ke pikiran, dari pikiran ke perasaan, dan realitasnya akan mengakar di hati manusia.
Dzikir yang dimulai dengan lidah ini dapat membimbing menuju pada dzikir hati, dan realitasnya dapat dilihat dalam perbuatan perilaku sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah (Hablumminallah) atau sesama manusia (Hablumminannas).
4. Fadilah dan Manfaat Dzikir Jum’at Kliwon
Berkenaan dengan fadilah dan manfaat dzikir jum’at kliwon, Ibn al-Qayyim dalam bukunya al-Wabil al-Shaibi, seperti dikutip Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam Fadhail al-A’mal (dalam Arifin Ilham:2000: 66), menulis bahwa dzikir mempunyai lebih dari seratus manfaat, berikut ini diantaranya adalah:
1. Dzikir menjauhkan diri dari setan dan menghancurkan kekuatannya.
2. Dzikir menjauhkan kegelisahan dan kesedihan hati.
3. Dzikir menjadikan hati lapang, gembira, dan berseri-seri.
4. Dzikir menguatkan tubuh dan hati.
5. Dzikir menjadikan bercahayanya rumah dan hati.
6. Dzikir dapat menarik rezeki.
7. Orang yang selalu berdzikir akan dipakaikan kepadanya pakaian kehebatan dan kegagahan yaitu orang melihat akan gentar dan merasakan kesejukan.
8. Dzikir menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah ini merupakan ruh Islam dan jiwa agama, juga sebagai sumber kebahagiaan dan keberhasilan.

Dalam kaitannya dengan fadilah dzikir M. Nawawi Bin Umar Al-Jawi (1992:144) menjelaskan bahwa dzikir sebagai bendera iman atau panji-panjinya, dan pembebasan dari sifat-sifat munafik, karena menunjukan bahwa orang yang berdzikir itu mempercayai adanya Allah dan membenarkan dengan seteguh hati. Juga menjadi benteng dari syetan dan tameng dari neraka. Apabila dzikir itu telah menempati hati, maka jika syetan mendekati orang yang berdzikir itu ia terpelanting, sebagaimana terpelantingnya manusia ketika syetan mendekatinya. Lalu mereka berkata: Kenapa ini ?”dikatakan : “Manusia telah menimpanya”. Demikian faidah yang dikemukakan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ra.
Terbukanya pintu hati untuk berhubungan dengan alam malakut dan membaca dari catatan al-lauh al-mahfuzh, maka dapat anda ketahui secara menyakinkan, dengan mengamati keajaiban-keajaiban mimpi serta serta kemampuan hati – ketika seseorang dalam keadaan tidur – untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, atau yang telah terjadi di masa lalu, tanpa harus mengutipnya dari pengalaman indera. Namun pintu tersebut hanya akan terbuka bagi yang siapa-siapa berkonsentrasi dalam dzikir kepada Allah SWT (Al-Ghazali, 2003:89). Orang yang berdzikir adalah orang yang ingin meraih keutamaan di sisi Allah SWT, sedangkan keutamaan-keutamaan itu sendiri tidak bisa tercapai, kecuali setelah jiwa kita suci dari perbuatan-perbuatan keji (Ibnu Miskawaih, 1994:39).
C. Pelaksanaan Shalat Fardhu
1. Pengertian Shalat Fardhu
Pengertian shalat fardhu terdiri dari dua kata, yaitu shalat dan fardhu. Menurut Mahmud Yunus dalam bahasa arabnya adalah Shalata berasal dari kata Shalla yang artinya doa. Kemudian para ahli fikih memberikan definisi shalat secara syariat yaitu perbuatan (gerak) yang dimulai dengan takbiruotul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu (M.Rifai:1978: 79). Sementara Hasby Assideiqiy (1996: 64) mengemukakan bahwa ta’rif para fuqaha dalam mengartikan shalat tidak mengenai hakikat dan rukunnya, maka Beliau mengartikan shalat dengan berhadap hati atau jiwa kepada Allah SWT berhadap yang mendatangkan hati, menumbuhkan rasa kebesaran-Nya dengan penuh khusyu dan ikhlas dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat adalah berdo’a atau memohon dengan beberapa ucapan dan perbuatan yang tersusun, dengan berharap kepada Allah SWT dengan penuh khusyu serta ikhlas, dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam.
Kata fardhu dalam KBBI (1996:274) adalah suatu pengertian yang wajib dilakukan (menurut ajaran Islam), kewajiban. Fardhu menurut Nasrudin (1993 :178) diartikan suatu yang mesti atas tiap-tiap muslim dan bila ditunaikan mendapat pahala. Lebih lanjut lagi beliau mengemukakan bahwa fardhu itu ada dua macam, yaitu : fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ain adalah wajib atas tiap-tiap muslim yang telah dewasa dari laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang kedua yaitu fardhu kifayah apabila telah dilakukan seseorang atau lebih maka anggota masyarakat Islam lainnya bebas dari kewajiban itu. Dan mengenai penelitian ini yaitu shalat fardhu ain.
Berkenaan dengan Ibadah shalat Syaikh Musthafa Masyhur (2004:27-28) menjelaskan bahwa shalat itu wahana paling baik untuk memperbaiki jiwa, mereformasi hati, dan meluruskan akhlak. Bagi mushalli shalat tak ubahnya seperti tali kokoh, tempat ia berpegangan. Baginya, shalat itu ibarat obat luka, atau tempat aman bagi orang yang ketakutan, atau sumber kekuatan bagi orang lemah, atau senjata bagi orang yang tak bersenjata. Ia bisa meminta pertolongan dengan shalat dalam menghadapi musibah zaman, tekanan orang, dan kedzaliman orang-orang yang dzalim.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan rumusan fardhu adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan oleh tiap-tiap muslim dan apabila ditunaikan akan mendapat pahala. Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat fardhu adalah berdo’a dengan beberapa ucapan dan perbuatan yang tersusun dengan berharap kepada Allah SWT dengan penuh khusyu dan ikhlas, dimulai dengan takbir dan dikhiri dengan salam dan merupakan kewajiban atas tiap-tiap muslim yang telah balig (dewasa).
2. Landasan Perintah Shalat Fardhu
Shalat adalah kewajiban dan merupakan perintah dari Allah dan sunah serta ijma yang telah popular, sehingga masalah ini tidak perlu diperbincangkan lagi serta panjang lebar . Oleh karena itu, penulis akan mencoba mengemukakan beberapa dalil yang melandasi perintah shalat yaitu :
a. QS. Al-Baqarah : 43
وَاَقِيْمُوْا الصَّلو ةَ وَاَتُو االزَّكَوةَ وَارْ كَعُوْا مَعَ الرَّا كِعِيْنَ ( )
artinya : “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang berruku’ (Depag RI, 1990 : 16).
b. QS. Al-Ankabut : 45
اُتْلُ مَا اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ اْلكِتَبِ وَاَقِمِ الصَّلاَةَ اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرِ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ( )

Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan-perbuatan yangkeji dan yang mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Depag RI, 1990 : 635)

c. QS. An-Nisaa : 103
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلوةَ فَاذْكُرُوْا اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ فَاِذَا اطْمَا نَنْتُمْ فَاَقِيْمُوْا الصَّلوةَ اِنَّ الصَّلوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْ مِنِيْنَ كِتَبًا مَّوْقُوْتَا
Artinya :”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring kemudian apabila telah merasa aman, maka dirikanlah shalat, itu adalah fardu yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (Depag RI, 1990 :138).

d. Hadis Nabi Muhammad Saw.
قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَاَلْتُ رَسُوْ ل للهِ صلعم يارسول الله اَي العمل اَفْضَلُ؟ قَال:َ الصَّلوةُ عَلىَ مِيقاْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ اَيُّ؟ قَال:َ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ اَيٌّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ
Artinya : Ibnu Mas’ud RA. Berkata, “Saya bertanya kepada Nabi Saw, apakah amal perbuatan yang utama?” Jawab Nabi : “Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya, “Kemudian apalagi?”jawab Nabi, “Berbakti kepada kedua orang tua” Saya bertanya kembali, ” kemudian apalagi?” Jawab Nabi, “Berjuang untuk menegakan agama Allah”. (HR. Bukhari)
(M.Faith Al-Math, 1991:87)

e. Hadits Nabi yang berbunyi:
بني الاسلا م على خمس : شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصو م رمضان
Artinya: “Islam dibangun di atas lima dasar (rukun) ; syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji ke Bait Allah, dan puasa Ramadhan.”
(Supiana dkk., 2001:24)

3. Hikmah dan Tujuan Shalat
Apabila shalat itu diperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang terkandung di dalamnya, maka ia mengandung hikmah dan tujuan yang sangat besar sekali, baik dari segi jasmaniah maupun rohaniah serta kemasyarakatan, sebagaimana berikut ini :
a. Kesucian lahir dan bathin
Asal mula manusia dari Dzat yang Maha Suci, maka apabila mengadakan komunikasi kepada Allah (Shalat) harus dengan suci pula, yakni bersih dari segala kotoran maupun najis guna meningkatkan derajat iman dan takwa di sisi Allah SWT.
Dalam hal ini Moh. Rifa’I (1978:46) kesucian lahir dan batin merupakan masalah yang sangat penting dalam agama dan merupakan pangkal pokok dari segala ibadah yang menjadi penyongsong bagi manusia dalam menghubungkan diri dengan Tuhan (Allah).
Shalat jika dilakukan secara kontinyu dan tepat pada waktunya serta diresapi dan dihayati, maka ia akan menumbuhkan karakteristik yang terpuji. Sama halnya bila seseorang mengadakan hubungan dengan sesama manusia yang terdiri dari berbagai macam ragamnya.
b. Membentuk disiplin
Waktu-waktu shalat telah ditentukan oleh Allah SWT, baik di dalam Al-Qur’an maupun melalui sunnah rasul-Nya. Sebagaimana yang dikemukakan Quraish Shihab (2000: 547) bahwa kata waqt digunakan dalam konteks berbeda-beda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tercermin dari waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari,bulan, tahun dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan bukannya membiarkannya berlalu hampa. Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi shalat ialah mendidik orang untuk menjaga waktu setiap hari yang ditimbulkan oleh perputaran bumi dengan kecepatan tertentu setiap saatnya, hingga mendidik orang itu agar berdisiplin dalam hidupnya.
Allah SWT sendiri jauh sebelumnya sudah memberi peringatan tentang waktu, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Ashr: 1- 4 :
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan mewasiati supaya menetapi kesabaran”. (Depag, 1992: 1099)

c. Persatuan Umat Islam
Islam telah mempunyai metode tersendiri untuk pencapaian jiwa persatuan umat manusia, yaitu dengan mendirikan shalat. Dan lebih-lebih jika setiap waktu bisa melakukannya dengan shalat berjamaah, karena shalat berjama’ah itu mempunyai manfaat dan faedah yang sangat besar. Sebagaimana dikatakan oleh Hasbi Ash Shiddieqiy (2000:303) bahwa faedah yang diperoleh dari shalat berjamaah adalah terdidik diri dengan rasa persatuan bila mana terbiasa berdiri di dalam shaf, bersatu dengan teman-teman yang lain menegakkan shalat. Maka hiduplah dalam jiwa persatuan bathin, timbullah hasrat tolong-menolong, sokong-menyokong dan gotong royong.

4. Indikator Pelaksanaan Shalat Fardhu
Dalam pelaksanaan shalat fardu indikator yang berhubungan dengan penelitian ini diantaranya adalah :
a. Ketepatan Waktu
b. Berdo’a setelah Shalat
c. Tertib dalam berwudlu
d. Fasikh dalam bacaan shalat
e. Bersihnya Pakaian dan tempat shalat
f. Benar dalam gerakan shalat
g. Berjamaah
Indikator-indikator shalat tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
a. Ketepatan Waktu
Bagi seseorang yang benar-benar dirnya seorang mu’min, hendaknya memiliki disiplin waktu dalam melaksanakan kewajiban yaitu perintah shalat. Menurut Imam Taqiyudin Abu Bakar al-Husaini (1997 : 167) bahwa perkara yang paling penting dalam urusan shalat adalah mengetahui waktunya, sebab dengan mengetahui masuknya waktu shalat itu menjadi wajib dan dengan keluarnya waktu shalat akan menjadi ketinggalan.
Dasar untuk menentukan shalat ialah Qur’an surat an-Nisaa ayat 103, Allah berfirman :
اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى اْلمُؤْ مِنِيْنَ كِتَابًا مَّوْقُوْتَا ( )
Artinya : “sesungguhnya shalat itu bagi orang mu’min adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya”.(Depag RI, 1990:138)
Seseorang yang mempunyai kesadaran terhadap ketepatan waktu pada waktu shalat berarti ia sudah memnuhi kewajibannya terhadap Allah SWT. Waktu-waktu shalat fardu menurut Supiana dkk., (2001 : 26) adalah sebagai berikut :
1) Shalat Dzuhur, awal waktunya setelah tergelincirnya matahari dari pertengahan langit. Akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya selain dari bayang-bayang ketika matahari menongak (tepat di atas ubun-ubun)
2) Shalat Ashar. Waktunya mulai habisnya waktu dzuhur yaitu baying-bayang sesuatu lebih dari panjangnya selain dari baying-bayang ketika matahari sedang menongak, sampai terbenam matahari.
3) Shalat Magrib. Waktunya dari terbenamnya matahari sampai terbenam syafaq (teja) merah.
4) Shalat Isya. Waktunya mulai dari terbenam syafaq merah (sehabis waktu magrib) sampai terbit fajar ke dua.
5) Shalat subuh. Waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.

b. Berdo’a setelah Shalat
Secara esensial ma’na shalat adalah do’a memohon kebajikan dan pujian (Hasbi Ash Shiddieqy, 2000:62). Do’a merupakan alat komunikasi antara makhluq dan Khaliq, dengan do’a kita bisa meminta apa yang kita butuhkan sebagai proses pengabdian kita kepada Allah SWT. Hal ini menunjukan adanya kedekatan Allah SWT dengan manusia sebagai hambanya. Sebagai mana dalam firmannya QS. Al-Baqarah 186 :
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دُعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَالْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ( )
Artinya : “Dan apabila hamba-hambaku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ia itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenara.”(Depag RI, 1990:45).

c. Tertib dalam berwudlu
Menurut syara wudlu adalah perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat. Wudlu dapat diartikan menyengaja membasuh anggota badan tertentu yang telah disyariatkan untuk melaksanakan suatu perbuatan yang membutuhkannya, seperti shalat dan tawaf (Supiana, dkk, 2001 : 4).
Berkenaan dengan wajibnya wudhu, Allah berfirman dalam Qs. Al-Maidah ayat 6 :
يَاَيُّهَاالَّذِيَْنَ امَنُوْا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْا هَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وامْسَحُوْا بِرُءُوْ سِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ….( )
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai kedua mata kaki….”(Depag RI, 1990:158).
Dalam pelaksanaan wudlu tersebut menurut Deddy Rahman dkk.,(1999:6-13) ada cara-cara tertentu yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Membaca Basmallah sambil niat dalam hati.
2) Cuci tangan sampai pergelangan 1, 2 atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu, celah-celah dan jari digosok-gosok.
3) Berkumur dan menyerap air ke dalam hidung 1, 2, atau 3 kali dan disemburkan kembali.
4) Membasuh wajah dengan rata 1, 2, atau 3 kali .
5) Membasuh tangan sampai ke siku 1, 2, atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu.
6) Mengusap kepala dimulai dari depan ke belakang kemudian ditarik kembali ke depan langsung mengusap luar dan dalam telinga satu kali.
7) Membasuh kaki sampai mata kaki 1, 2, atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu, menggosok celah-celah dan jari kaki.
8) Tertib

d. Bersih Pakaian dan Tempat Shalat
Kebersihan merupakan bagian dari keimanan. Islam adalah agamma yang memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Dan Allah sangat mencintai orang yang bersih dan mensucikan diri. Sepeti dalam firmannya QS. Al-Baqarah ayat 222 :
…اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَابِيْنَ وَيُحِبُ الْمُتَطَهّرِيْنَ ( )
Artinya : “Sesugguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menucikan diri (bersih jasmani maupun rohani)”(Depag RI, 1990:54).
Mendirikan shalat tidak bisa dilepaskan dari kesucian lahir dan bathin. Kesucian bathin diperoleh dengan tidak musrik, ikhlas, dan khusyu’ dalam shalat. Sedangkan kesucian lahir dilaksanakan dengan berwudhu, tayamum atau mandi (Deddy Rahman, 1999:5).
Shalat merupakan interpretasi dari keimanan seseorang. Sebelum melaksanakan shalat Islam menganjurkan untuk membersihkan baik itu tempat atau pakaian kita. Shalat dianggap sah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu (Supiana, dkk, 2001 : 29). Syarat-syarat tersebut adalah :
1) Suci badan dari hadast dan najis
2) Menutup aurat dengan pakaian bersih
3) Mengetahui waktu masuk shalat
4) Menghadap kiblat
Berdasarkan persyaratan tersebut jika seseorang melakukan shalat sementara di badan, pakaian dan tempat shalat terdapat najis yang tidak dimaafkan, maka shalatnya tidak sah. Begitu juga jika badan, pakaian atau tempat shalat terkena najis ketika seseorang melakukan shalat maka shalatnya batal (Supiana, dkk, 2001 : 29).
e. Benar dalam gerakan shalat
Supiana, dkk (2001 : 32) mengatakan shalat meliputi beberapa perkataan dan perbuatan. Perbuatan shalat berarti mengerti serta paham tentang cara melakukan shalat baik itu kaifiyat bacaan shalat, ataupun gerakan dalam shalat. Gerakan-gerakan shalat tersebut harus sesuai dengan kaifiyat atau kaidah Nabi Saw. Apabila gerakannya benar sesuai sunah Nabi maka akan membentuk seseorang dalam kekhusuan dalam shalat. Rasa tuma’ninah dalam diri seseorang ketika melaksanakan shalat berarti seluruh penghahyatan dan keikhlasan hati hanya tertuju kepada Allah SWT.
Imam Al-Ghazali (2000 : 66) mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan fardlu dalam shalat ada dua belas yaitu: bacaan niat, bacaan takbiratul ihram, bacaan do’a iftitah, bacaan surat al-Fatihah, bacaan sesudah surat al-Fatihah, bacaan ruku’, bacaan I’tidal, bacaan sujud, bacaan duduk diantara dua sujud, bacaan tasyahud awal, bacaan tasyahud akhir, bacaan do’a setelah tasyahud akhir dan bacaan salam.
Sedangkan gerakan dalam shalatnya yaitu mengangkat kedua tangan, gerakan ruku’, gerakan sujud, gerakan duduk diantara dua sujud, gerakan duduk iftirasy, gerakan duduk tawaruk dan gerakan salam.
f. Berjamaah
Kata berjamaah berasal jari kata dasar “Jama’a” (Bahasa Arab) yang artinya berkumpul dan mengikat. Adapun arti shalat berjamaah, yaitu shalat bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam dan yang lainnya sebagai makmum. Jadi, shalat berjamaah dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dan salah seorang diantaranya menjadi pemimpin jamaah atau disebut imam, sedangkan yang mengikuti imam disebut makmum (Hasan Baihaqi AF.,dkk, 2003:75).
Rasulullah SAW menganjurkan kepada ummatnya untuk senantiasa memelihara shalat berjamaah. Karena dalam shalat berjamaah itu terkandung pahala yang berlipat ganda, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat”.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) (M. Faiz Al-Math, 2000:93).
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan shalat fardhu
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan shalat digolongkan kepada dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap ketaatan seseorang untuk melaksanakan ibadah shalat. Di bawah ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai kedua faktor tersebut.
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu atau seseorang yang terdiri dari kondisi psikis dan kondisi fisik. Kedua aspek ini sangat sulit dipisahkan, sebab kondisi psikis mempengaruhi kondisi fisik dan sebaliknya kondisi fisik akan mempengaruhi kondisi psikis. Perubahan-perubahan yang ada pada diri seseorang dalam segi fisik atau psikis akan mempengaruhi juga terhadap kelakuan religiusnya secara khusus dan realita kehidupannya secara umum (Hafi Anshari, 1991:61). Perubahan dalam kelakuan religius akan terjadi kalau keseimbangan diantara tenaga-tenaga psikis kurang berfungsi atau mengalami gangguan sehingga terjadi pertentangan batin dan ketegangan perasaan, mempengaruhi emosi dan motivasi sekaligus. Begitu pula fisik yang lemah, tidak bergairah akan berpengaruh terhadap perubahan kelakuan – kelakuan religius. Dalam pelaksanaan shalat pun kondisi seseorang sangat berpengaruh baik kondisi psikis maupun kondisi fisiknya.
Keimanan juga merupakn faktor intern yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap ketaatan seseorang dalam pelaksanaan shalat fardhu. Keimanan merupakan kekuatan yang sangat penting bagi seseorang untuk melakukan kelakuan – kelakuan religiusnya, dan seyogyanya semua kelakuan religius berangkat dari iman (Hafi Anshari, 1991: 60). Dalam petunjuk agama dap;at kita temukan bahwa iman itu bisa berubah, kadang – kadang bertambah dan kadang-kadang berkurang. Pada saat iman bertambah, maka dapat terlihat gejala kelakuan religiusnya juga bertambah atau meningkat dan sebaliknya apabila iman seseorang sedang berkurang baik secara berkualitas maupun secara kuantitas. Hal tersebut dapat terjadi pada pelaksanaan shalat fardhu, seperti keimanan seseorang sedang bertambah, maka orang tersebut akan rajin dan tekun dalam melaksanakan ibadah shalat,baik shalat lima waktu maupun shalat-shalat sunnah. Tetapi sebaliknya apabila iman seseorang sedang berkurang, maka kegiatan shalat pun berkurang atau menurun, apalagi pada pelaksanaan ibadah shalat sunnah. Dalam hal ini, jelaslah bahwa dalam pelaksanaan shalat fardhu, iman merupakan aspek yang mempengaruhinya. Sebagai ilustrasinya penulis mengambil contoh dalam melaksanakan shalat, ada yang melaksanakan shalat tepat waktu, ada yang melaksanakan shalat santai, bahkan ada yang melalaikannya, hal ini bisa menjadi tolak ukur keimanan. Logikanya orang yang beriman akan mengejewantahkan keimanannya dalam tindakan yang nyata, diantaranya shalat dengan baik sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
b. Faktor Ekstern
Manusia hidup di dunia tidak bisa terlepas dari kehidupan di sekelilingnya (lingkungan). Secara filosofis kita dapat memahami bahwa di dunia ini tidak ada satu eksistensi pun yang bisa lepas ketergantungannya dari eksistensi yang lain.
Pelaksanaan shalat pun manusia akan dipengaruhi oleh keadaan yang ada di luar dirinya, baik berupa situasi, benda, iklim, manusia lain dan sebagainya. Begitu juga dengan Dzikir Jum’at Kliwon, karena pengaruh dzikir akan sangat mempengaruhi pelaksanaan Shalat Fardhu.
D. Pengaruh Intensitas Masyarakat Mengikuti Dzkir Jum’at Kliwon Hubungan Dengan Shalat Fardhu
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan tentang intensitas masyarakat mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon bahwa Dzikir Jum’at Kliwon merupakan salah satu rutinitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar hati menjadi tenang dan tentram demi mewujudkan cita-cita yang diharapkan sejahtera di dunia dan di akhirat.
Mengenai pengertian shalat fardhu yaitu sejauh mana masyarakat dalam melaksanakan ibadah wajib tersebut yang sesuai dengan aturan yang ada dalam ibadah shalat. Pelaksanaan ibadah shalat fardlu tidak akan muncul dengan sendirinya dengan tiba-tiba tetapi dalam pelaksanaannya dapat dipengaruhi oleh factor lain dalam hal ini adalah dzikir jum’at kliwon. Keberhasilan masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon ini dapat dilihat dan tercermin dalam pelaksanaan shalat fardlunya.
Sehubungan dengan hal tersebut intensitas masyarakat dalam mengikuti dzikir haruslah berdampak pada bagus atau tidaknya (kualitas) pelaksanaan shalat fardlu mereka dengan kata lain intensitas atau kesungguhan masyarakat dalam berdzikir akan turut mempengaruhi tinggi rendahnya pelaksanaan shalat fardlu. Dengan demikian ritual Dzikir Jum’at Kliwon dapat memberi motivasi yang positif dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam pelaksanaan shalat fardhu. Rumusan ini memungkinkan semakin masyarakat intens dan bergairah dalam menjalankan ibadah shalat fardlu.
Dengan demikian berdasarkan paparan di atas maka terlihat adanya pengaruh intensitas Dzikir Jum’at Kliwon dengan shalat fardhu. Apabila masyarakat bersungguh-sungguh dan intens dalam mengikuti dzikir maka bagus pula pelaksanaan shalat fardlu mereka tetapi sebaliknya apabila masyarakat kurang intes dan tidak sungguh-sungguh dalam bedzikir maka berakibat pada kurangnya pelaksanaan ghirah dalam melaksanakan shalat fardhu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: