Selokan, lampu merah kutukan

21 01 2010

Selokan, lampu merah kutukan
Waktu libur sekolah aku berangkat ke kota Bandung, Hujan gerimis pagi itu, matahari malu muncul dalam kehidupan, langit mendung memayungi kotaku. Tidak ada pelangi. Sumpek dingin bercampur, jalan macet, ceeetttttttt jalan-jalan jadi ga nyaman . Lampu stopan lampu merahnya mati, coret-coret didinding tembok sangat jadi pemandangan yang kumal, bau sampah dan bau pesing menyebar disudut kota, selokan menjerit gak sanggup lagi menampung air hujan yang sudah 2 minggu mengguyur kotaku,
Jalanan becek, lalegok mobilku dansa dengan jalan bolong-bolong, tukang asong, anak jalanan, pengamen, tukang sampah, tukang baso, tukang rongsokan, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, supir angkot, tukang beca, ikut memeriahkan datangnya hujan pagi itu. Liburan jadi gak nyaman, emh bandung kota kembang, paris van java. Ruwet.Dimana silih asah silih asih silih asuhnya??????
Kumaha atuh kang, kamar kecil bau jigong, sampah dimana-dimana, air sungai yang berwarna hitam itu meluap, banjir kang banjir???? Kutukan atau apa ????.
Semua itu aku nikmati inilah kotaku yang sebernanya. Aku hanya menjerit ingin bicara tapi tak bisa, ingin berkata tapi kepada siapa. Pikirku semua ini adalah peringatan bagi kita, bagi semua.Tuhan telah murka. Mereka itu makhluk mati seperti hidup, mereka seakan berdemo karena ulah manusia yang tidak memperhatikan alam, alam semesta, ya tempat kita hidup. Aku tertunduk malu, lesu tak berdarah, aku salah aku berdosa maafkan aku Tuhan. Tak terasa airmataku mengalir, kota yang aku impikan aku banggakan aku harapkan selama ini jauh dari kenyataan dan harapan. Akapah anak cucu kita akan merasakan indahnya paris van java???
Mereka seakan bicara, betapa sakitnya seorang sungai yang dikotori terus menerus, dari sampah, dari limbah dari mana saja. Betapa sakitnya seorang gunung, tanahnya terus digali, pohonnya terus di tebang tanahnya terus dijadikan lahan pemukiman semua jalan ditembok dia aspal, dan kemanakah jalan air?? Air berkumpul jadi satu, jadilah banjir. Ratusan rumah terendam harta kekayaan ludes mengambang, anak-anak main basah-basahan. Tapi mereka tidak sadar, yang mereka pikirkan adalah hak mereka sendiri sedangkan kewajiban???
Silih asah silih asih silih asuh aku pikir hanya selogan atau hanya kata-kata orang Sunda pemberian nenek moyangnya yang dianggap enak didengar. Tapi susah untuk dikatakan betul mang??? Paris van sampah, julukan kota Bandung??? Tidak ada yang peduli, semua hanya slogan. Semua buah tangan aku rapihkan dijok belakang, semua kenangan aku simpan dihati yang paling dalam untuk direnungkan. Yang jelek aku pisahkan, bahkan aku buang. Aku hanya mengelus dada sampai batas kota. Sesampainya dirumah tidak ada yang aku katakan pada semua orang bahwa oleh-olehnya adalah sampah.Hampura Bandungkuring can bisa ngajaga.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: