Kidung Sunyi Seorang Guru

21 01 2010

Kidung Sunyi Seorang Guru
Cerpen: Zulmasri
……………………………………………………………………………………………………
Astri yang baik,
Surat ini kutulis saat mataku tak mampu terpejam dalam lena, meski malam telah merambat jauh. Keadaan yang menggelisahkan. Saat-saat yang tidak kumengerti, walau sering terjadi. Aku tidak tahu apakah ini semacam penyakit atau bukan. Beberapa kali aku berpikir untuk memeriksakan diri ke dokter. Di pihak lain kadang aku juga merasa ingin menemui psikiater. Namun semua itu tidak sempat aku lakukan tatkala pagi datang menjelang, dan aku mesti bersiap memasuki gerbang sekolah tempat aku mengajar.
Barangkali aku memang salah memasuki dunia tempat aku bekerja sekarang ini. Bahtiyar, teman sekerjaku mengatakan bahwa tempatku bekerja mestinya tidak di dunia yang terpencil. Duniaku menurutnya berada di perkotaan, bukan dunia sunyi, jauh nun di pelosok yang hanya bisa bertemankan sapi, kerbau, bau sawah dan ladang, serta masyarakat yang belum mengenal jauh dunia informasi.
Seperti surat-suratku yang dulu, aku tidak tahu, adakah surat ini sampai ke tanganmu. Namun aku tak pernah mampu menolak kekuatan dalam diri ini untuk mendiamkannya begitu saja. Aku mencintaimu dan ingin menceritakan keluh-kesahku.
Ada di manakah engkau sekarang?
Seperti hari-hari sebelumnya, aku menyelesaikan pekerjaan sebagai guru sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah itu aku pulang ke rumah kost, makan siang dan istirahat sambil menonton televisi. Televisi, satu-satunya dunia hiburan dan informasi paling canggih di tengah masyarakat aku berada.
Kehidupan monoton, itulah dunia yang kualami sehari-hari. Betapa inginnya hari-hari kulalui bersamamu. Hidup berumah tangga, membina kasih sayang hingga anak-anak kita lahir. Namun keinginan itu barangkali tinggal keinginan. Ada gamang bermain. Mungkinkah engkau mau kuajak ke tempat kerjaku sekarang? Mendampingiku bekerja sebagai guru di sebuah pelosok yang sulit dijangkau?

***

Astri,
Pertama kali menginjakkan kaki di daerah tempat aku sekarang bekerja sebagai guru, aku langsung dirundung beragam kesangsian. Adakah aku bisa berada di dunia yang jauh dari hingar-bingar tempat aku sebelumnya berada? Adakah dunia yang penuh keriangan dalam irama belajar anak-anak desa bisa membuat aku betah?
Untuk mencapai daerah Kidung – demikian nama daerah tempat aku bekerja – membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Dari kota kabupaten aku naik ojek sejauh 30 kilometer, memasuki daerah pebukitan dengan aspal tipis penuh lubang. Setelah itu aku mesti berjalan kaki melewati kali. Dari kali berjalan kaki sejauh 4 kilometer naik turun daerah bebukitan hingga akhirnya aku tiba di sebuah desa yang dihuni sekitar 95 KK. Di tengah-tengah desa itu berdiri sebuah bangunan SD, yakni tempat aku mengajar sekarang ini.
Aku tidak habis pikir mengapa aku ditempatkan di daerah seperti ini. Selain itu banyak tanya bermunculan di kepala. Bagaimana bisa pemerintah membangun sekolah di daerah seperti ini tanpa fasilitas jalan yang memadai untuk bisa sampai di tujuan? Adakah pemerintah kabupaten atau mereka yang bekerja di dinas pendidikan di ibukota kabupaten sana pernah berkunjung, menyaksikan langsung situasi yang ada?
Aku kemudian berkenalan dengan Pak Joko, Kepala Sekolah dan atasanku yang baru. Dari Pak Joko aku kemudian mengenali lebih jauh suasana tempat aku bekerja. Pak Joko kemudian memperkenalkan aku dengan guru-guru lainnya, yang ternyata rata-rata memiliki kegiatan yang sama: pagi mengajar, siang sampai sore bertani di sawah atau ladang.
“Pak Akmal sudah beristri?” tanya Pak Joko saat berkenalan.
“Belum, Pak,” jawabku sambil mengingatmu sekilas.
“Cepat beristri, biar kerasan tinggal di desa ini. Cari saja perempuan di sekitar sini. Yang cantik banyak,” ujar Pak Joko.
Aku hanya tersenyum dan tidak menanggapi guyonan sang kepala sekolah. Namun setelah berkenalan lebih jauh dengan keluarga guru-guru dan kepala sekolah, aku menjadi kaget. Ucapan Pak Joko ternyata bukan guyonan. Rata-rata guru yang mengajar di sini beristrikan perempuan yang berasal dari desa ini. Hanya beberapa guru perempuan yang tidak bersuamikan orang-orang desa.
Astri tercinta,
Ingin sekali aku mengajakmu ke sini. Membina rumah tangga sambil melakukan kegiatan seperti penduduk desa. Kita beternak sapi di sini, membuat kolam ikan, dan turun ke sawah bersama-sama setelah aku selesai mengajar. Tapi adakah hal itu mungkin kita lakukan? Aku sangsi dengan telapak tanganmu yang halus itu.

***

Astri sayang,
Beberapa hari ini aku dilanda kegelisahan luar biasa. Rasa gelisah yang muncul dari pertentangan hati nurani dan kondisi yang ada. SK pengangkatanku sebagai guru PNS baru saja kuterima. Beberapa bulan lalu, Pak Joko baru saja dimutasi dan digantikan kepala sekolah yang baru. Namanya Pak Sodikin. Baru tiga bulan sebagai kepala sekolah, semua guru dan staf tata usaha menjadi gerah.
Masalahnya sederhana. Pak Sodikin dalam mengelola keuangan sekolah tidak setransparan Pak Joko. Dana BOS yang diterima sekolah, kabarnya sekian persen dipotong dan masuk ke kantong pribadinya. Alasannya untuk proses pencairan yang membutuhkan dana besar. Padahal setahuku, dana BOS dicairkan di BRI kecamatan, yang jaraknya sekitar 7 kilometer dan tidak membutuhkan biaya banyak.
Itu hanya salah satu yang membuat aku tidak lagi merasa enjoi bekerja. Seharusnya semua itu tidak menjadi urusanku. Tapi ternyata nuraniku tidak bisa membiarkannya.
Dua bulan lalu misalnya, sekolahku mendapat bantuan dana rehab 50 juta rupiah. Namun dari informasi yang diberikan Pak Dulawi – bendahara sekolah – dana yang ia pegang hanya 30 juta. Yang 20 juta sudah habis di tengah jalan. Memberikan persenan untuk orang-orang di dinas pendidikan kabupaten, persenan untuk orang-orang di kecamatan, persenan untuk konsultan, dan sisanya masuk ke kantong kepala sekolah. Persenan diberikan guna memperlancar proses bantuan berikutnya. Artinya, kalau ada bantuan lagi maka SD tempat aku mengajar akan mendapat prioritas. Mengapa mendapat prioritas? Karena sang kepala sekolah loyal memberikan persenan kepada atasannya, dan prioritas sekolah yang mendapat bantuan biasanya ditentukan oleh atasan tersebut.
Seperti hukum dagang, tawar-menawar. Tapi begitulah yang terjadi. Dari bendahara sekolah kemudian aku mendapat gambaran lain yang membuat aku tercengang. Betapa kebocoran dana terjadi di sana-sini. Betapa pemberantasan korupsi dan manipulasi hanya menjadi retorika saja.
Pada saat keuangan sekolah diperiksa oleh bawasda misalnya, semua berjalan mulus. Kuitansi dan nota siluman menyelamatkan laporan-laporan yang dibuat. Selain itu pada saat pemeriksaan, orang-orang bawasdanya pun dijamu sedemikian rupa di rumah makan mewah di ibukota kabupaten. Saat perjamuan selesai, lembaran-lembaran rupiah pun diselipkan di kantong mereka. Na’uzubillah. Bagaimana tidak akan lolos kalau pemeriksaan yang dilakukan seperti itu.
Astri yang baik,
Ada lagi hal lain yang membuatku semakin gerah, meski udara pebukitan sering membuatku mengigil.
Belum lama sekolahku mengadakan ulangan semester. Kebetulan di tempatku sudah melaksanakan kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tapi apa yang terjadi? Saat ulangan semester akan berlangsung, soal ulangan harus sama yang dikelola langsung oleh para kepala sekolah, yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa soal ulangan dibuat sama untuk semua sekolah yang ada. Kalau ada 250 SD di kabupaten maka soal yang diujikan sama. Setahuku, ulangan mestinya dibuat dan diserahkan kepada guru di sekolah masing-masing. Dari Pak Kabul, temanku, aku menjadi mengerti, bahwa keuntungan penggandaan soal apabila dikumpulkan semua, bisa membeli 3 mobil pribadi. Luar biasa.
Kadang aku berpikir untuk berhenti saja menjadi guru. Terus terang aku muak menyaksikan semua itu. Namun pada saat aku masuk kelas, keinginan berhenti menjadi guru sirna begitu saja. Berada di depan anak-anak terasa sangat menyenangkan. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka dan dunianya.

***

Astri sayang,
Betapa banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi kadang aku malu menyampaikannya. Rasanya semua hanya keluhan saja. Padahal aku ingin membuat cerita yang manis. Cerita yang katamu dulu sangat kamu sukai. Cerita-cerita tentang sepasang angsa di taman, lengkap dengan kolam ikan dan rumah impian, sebagaimana yang pernah ditulis penyair Eka Budianta. Aku juga ingin bercerita tentang gadis desa, tetangga sebelah, yang sering mencuri-curi pandang padaku. Atau cerita tentang pertengkaran kecil di kelas saat ada anak-anak saling mengolok temannya. Namun semua itu tidak lagi mampu kutulis. Berbagai beban sebagai guru, pendidik masyarakat, penentu nasib bangsa di masa depan, semua menjadi tidak bermakna di saat penyelewengan-penyelewengan begitu kental di hadapan mata. Dan aku tidak kuasa menghadapinya.
Namun jauh di pelosok desa, ingin kukabarkan, betapa aku merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu?

Pekalongan, Juni 2007

Biodata

Zulmasri, lahir di desa Padang Panjang, Kambang, kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat pada 11 Januari 1971. Mulai menulis dan mempublikasikan karya di media massa sejak kelas III SMP. Menyelesaikan S1 tahun 1996 di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, dengan skripsi yang berjudul Citra Kemiskinan dalam Cerpen Joni Ariadinata, Tinjauan Sosiologi Sastra.

Karya-karya berupa puisi, cerpen, kolom, ulasan sastra, film, dan teater, resensi, dan tulisan lainnya dimuat di media massa terbitan Padang (Harian Singgalang dan Haluan), Jakarta (Republika, Swadesi, Annida, Ceria Remaja, Aneka, Anita Cemerlang), Medan (Taruna Baru), Riau (Riau Pos), Semarang (Suara Merdeka), Yogyakarta (majalah Gerbang), dan Kuala Lumpur (Berita Harian).

Beberapa puisi menang dalam lomba dan dibukukan dalam antologi, di antaranya Taraju ’93 (1993), Sahayun (1994), Poeitika (1994), Hawa 29 Penyair (1995), dan Antologi Puisi Indonesia (1997). Menjadi Pembina jurnalistik/sastra di SMP Al-Irsyad (1999-2005), SMA Al-Irsyad (2002-sekarang), SMP Negeri 2 Talun (2005 s.d. sekarang). Saat ini mengajar dan membina jurnalistik di SMP Negeri 2 Talun, SMA Negeri 1 Pekalongan, dan SMA Al-Irsyad Pekalongan.

Alamat
Email: mastermasri@yahoo.co.id
Web: http://masterzulmasri.blog.com
Telp (hp): 085642638639
Surat: SMA Al-Irsyad, Jalan Seruni 66 A Pekalongan, Jawa Tengah 51123

Kidung Sunyi Seorang Guru

Cerita Pendek

Oleh:
Zulmasri
Guru SMA Al-Irsyad Pekalongan
Jalan Seruni 66A Pekalongan

2007


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: