Esai : Eksistensialisme Makna Karya Sastra

21 01 2010

Esai : Eksistensialisme Makna Karya Sastra

Menurut Ricoeur dalam bukunya Interpretation Theory: Discourse and
Surplus Meaning, Tradisi Posivistik-Logis telah menciptakan
pembedaan antara makna eksplist dan makna implisit yang diperlakukan
sebagai perbedaan antara bahasa kognitif dan emotif yang dalam
tradisi strukturalisme disebut juga dengan makna denotasi dan
konotasi. Persoalannya adalah di manakah makna karya sastra
meletakan paradigma filosofisnya?

Makna eksplisit adalah makna absolut yang langsung diacu oleh
bahasa. Konsep makna ini bersifat denotatif (sebenarnya) sebagai
representasi dari bahasa kognitif. Sedangkan makna implisit adalah
makna universal yang disembunyikan oleh bahasa. Konsep makna ini
bersifat konotatif (kias) sebagai representasi dari bahasa emotif.
Makna eksplisit mengacu pada informasi, sedangkan makna implisit
mengacu pada emosi. Mencermati paradigma makna ini, maka karya
sastra jelas condong pada tradisi implist karena substansi dari
sastra adalah subjektivikasi-ekspresi yang diarahkan pada estetika
dengan pemberdayaan bahasa yang emotif. Namun, tradisi positivistik-
logis yang mengasumsikan bahwa tujuan satu-satunya bahasa adalah
kode yang merepresentasikan dan mengkomunikasikan informasi aktual
menyebabkan tradisi positivistik jelas lebih berpihak pada makna
eksplisit-denotatatif daripada makna yang diusung karya sastra
implisit-konotatif.

Di sinilah kemudian tradisi positivistik cenderung memandang miring
karya sastra, karena maknanya yang implisit-konotatif dan tidak
objektif, tidak menciptakan satu sistem yang pasti. Oleh sebab itu,
objektivisasi karya sastra lahir sebagai gerakan kaum positivistik
yang menyuarakan faham strukturalisme-otonom, yang memandang makna
karya sastra sebagai dunia yang independen. Oleh sebab itu, makna
konotasi-implisit dalam bahasa emotif karya sastra dimaknai dalam
paradigma internal teks. Faktor eksternal teks dinihilkan dengan
tujuan untuk menjaga kemurnian makna karya sastra agar tetap, karena
usaha analisis kajian ini adalah untuk mengungkap makna strutur
dalam (deep structure).

Padahal kenyataannya, pengertian makna konotasi-implisit pada bahasa
emotif dalam karya sastra tidaklah sesederhana hanya bergerak pada
wilayah semantik (internal teks) saja, karena persoalan sastra bukan
hanya mengacu pada dunia yang dikonstruksi oleh struktur–seperti
diwacanakan oleh kaum strukturalisme atau persoalan intern bahasa
yang defamiliar–seperti yang diwacanakan kaum formalisme Rusia–.
Dalam hal ini saya menganggap bahwa sastra adalah “realitas
imajiner” yang dikonstruksi sebagai refleksi “realitas masyarakat”.
Jadi, makna konotasi karya sastra tidak hanya terkotak pada tradisi
internal-semantik, tetapi juga keluar dari dirinya, yaitu selalu
menjalin hubungan yang dialektis dengan “realitas masyarakat”
sebagai bahan dasarnya.

Dalam hal ini saya memahami makna konotasi dalam tradisi filsafat
sebagai makna yang universal dan selalu berubah. Oleh sebab itu,
substansi makna konotasi hakikatnya adalah eksistensialis. Perubahan
makna konotasi ini bukan terjadi dalam dinamika internal karya
sastra. Akan tetapi sebaliknya, perubahan makna ini terjadi karena
dinamika eksternal karya sastra, yaitu pembaca sebagai mahluk
sosial, yang dipahami sebagai individu yang telah dikodifikasi oleh
sejarah sosial masyarakatnya. Oleh sebab itu, perubahan makna dalam
karya sastra dibentuk juga oleh dinamika historis yang diakronik.
Hal inilah yang menjadikan karya sastra selalu merepresentasikan
semangat zamannya. Dalam hal ini Deridda mengatakan bahwa konsep
(makna) terus berubah, bergerak, dan berkembang berdasar pada
penyejarahaannya. Sehingga makna sebagai inti dari struktur karya
sastra bergerak dalam poros ruang dan waktu.

Jadi, eksistensialisme makna dalam karya sastra tidak hanya
menyangkut keberadaan makna bahasa yang multiinterpretasi, tetapi
lebih dari itu, makna eksistensialisme karya sastra mengacu pada
perubahan makna yang selalu dimunculkan oleh pembaca dalam konteks
ruang dan waktu. Dengan menempatkan posisi makna karya sastra
seperti ini, maka menurut saya, kita telah menempatkan teks sastra
pada “ruang kebudayaan” yang humanis karena eksistensialisme makna
karya sastra dipandang dari realitas sosial budaya yang
menjadikannya. Sebaliknya, jika makna karya sastra yang implisit-
konotatif ditempatkan pada dinamika internal teks, maka kita berarti
telah mengalienasi karya sastra dari ruang kelahirannya, yaitu
dinamika sosial masyarakat.

Polemik Sastra Kelamin

Dalam studi kasus yang masih hangat tentang polemik sastra antara
kubu Hudan Hidayat, Binhad Nurrohmat dkk. dengan Taufik Ismail dkk.
yang menyangkut tentang fenomena sastra yang pada akhir-akhir ini
diramaikan oleh vulgarisme dalam berbicara tentang seks beserta
pernik-perniknya, bagi saya adalah dinamika yang wajar. Oleh sebab
ruang makna sastra yang terbuka memang menuntut para praktisi dan
kritikus sastra untuk mengisinya dari sisi manapun, termasuk
ideologi dan kepentingannya.

Oleh sebab itu, apa yang dikatakan Ahmadun Yosi Herfanda bahwa
untuk “mengembalikan sastra ke kekuatan teks” yang menganggap bahwa
kemandegan capaian estetika sastra Indonesia salah satunya
disebabkan meningkatnya kegiatan “politik sastra nonteks” atau
politik sastra yang tidak mengandalkan kekuatan teks. Politik sastra
tidak lagi dimaknai sebagai “strategi pemasyarakatan karya (teks)
sastra” tapi lebih sebagai “strategi pemasyarakatan diri atau
kelompok” tanpa mempertimbangkan kekuatan karya, menurut saya adalah
hal yang cenderung degradatif dan tidak mungkin, karena; pertama,
jika “kekuatan teks” dimaknai sebagai “otonomi teks”, maka ini sama
seperti kita berpikir positivistik yang antihumanis dan cenderung
nomothetik. Sastra dilihat hanya pada satu sisi, yaitu “teks” saja
dengan mengabaikan dinamika eksternal yang melahirkan karya sastra.

Kedua, bahwa kekuatan sastra itu terletak pada harmonisasi antara
kekuatan “teks” dan “nonteks”, dan menurut saya “politik sastra
nonteks” saat ini masih tetap berangkat dari “teks sastra” sebagai
fenomena, misalnya fenomena sastra kelamin. Jadi “kekuatan teks”
sastra haruslah dilihat tidak hanya “teks” sebagai karya, tetapi
juga sebagai fenomena.

Sehingga apa pun “kepentingannya” selama apresiasi masih berangkat
dari sastra, baik sebagai teks atau fenomena maka itu adalah hal
yang wajar, karena sastra adalah fenomena yang dikodifikasi lewat
bahasa yang terbuka untuk beragam interpretasinya, karena pertama,
bahasa pada dasarnya bersifat terbatas sehingga tidak bisa
merepresentasikan seluruh pengalaman manusia; kedua, pengalaman atau
mungkin kepentingan dalam setiap penafsir pasti tidak sama. Hal ini
wajar juga bila dilihat bahwa hakikatnya tidak ada yang bebas nilai
dalam setiap argumen dan perilaku manusia.

Persoalaannya kemudian; bagaimana reaksi yang tepat atas polemik
sastra kelamin ini? Kita tanggapi saja secara positif karena ini
adalah dinamika yang memang diciptakan dunia sastra. Dengan semangat
multikulturalisme semua pro-kontra adalah natural. Selanjutnya,
proses naturalisasi akan terjadi dalam seleksi sosial dunia sastra.
Siapa yang akan dimenangkan adalah persoalan apresiasi “siapa yang
benar-benar dianggap mewakili semangat zamannya” dan ini pun akan
selalu bergerak dalam rangkaian diakronis sastra.

Dalam hal ini yang perlu dijaga adalah semangat menghargai
pluralisme bersastra, karena semangat ini pada hakikatnya tertanam
dalam paradigma filosofi karya sastra yang merepresentasikan makna
yang implisit-emotif-konotasi sebagai gerakan antipositivistik yang
ideologik dan humanis.

Heru Kurniawan, pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Purwokerto


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: