tarekat Naqsyabandiyah Tinjauan Buku

6 04 2010

Sejarah dan doktrin tarekat Naqsyabandiyah muncul pada tahun-tahun belakangan ini sebagai suatu topik populer, malah hampir-hampir menjadi mode dalam penelitian dan perbincangan di kalangan sarjana Barat di bidang Islam. Lebih penting ketimbang itu, Naqsyabandiyah telah menunjukkan semangat dan keuletan yang luar biasa di banyak wilayah di dunia Islam Turki, Kurdistan, Afghanistan, Syria, Daghis-tan, Asia Tengah, Pakistan, Cina, dan Asia Tenggara. Kenyataan ini sudah cukup untuk menyanggah ramalan yang dibuat dengan penuh keyakinan oleh para orientalis dan Muslim “modernis” bahwa paguyuban sufi ditakdirkan untuk lenyap.
Meskipun begitu, stucu-studiyang cermat dan sistematis terhadap Naqsyabandiyah di pelbagai kawasan yang berbeda di dunia Muslim masih kurang. Pada umumnya, yang ada hanyalah survei-survei pen-dahuluan yang masih perlu disempurnakan; ini pun hanya terbatas pada sejumlah kecil kawasan. (Lihat Hamid Algar, “The Present State of Naqshbandi Studies”, dalam Marc Gaborieau, Alexandre Popovic, dan Thierry Zarcone (ed.), Naqshbandis, Istanbul dan Paris, 1990, him. 44-56).
Oleh karena itu, karya Martin van Bruinessen perlu disambut secara khusus. la tidak hanya merupakan sumbangan amat berharga untuk sejarah Islam di Indonesia, melainkan juga dapat dijadikan suatu model penelitian tentang Naqsyabandiyah di tempat-tempat lain di kawasan dunia Islam. Apa yang telah dicapainya lebih pantas dipuji lagi, mengingat relatif-kurangnya literatur asli tentang Naqsyabandiyah dalam bahasa Melayu-Indonesia bila dibandingkan dengan banyaknya literatur tersebut dalam bahasa Persia, Arab, Turki, dan Urdu.
Konsekuensinya, sang peneliti haruslah menghimpun kepingan-kepingan kecil informasi dari pelbagai sumber di luar tarekat itu sendiri. Mengingat problem tersebut mirip dengan problem yang saya hadapi dalam karya yang sedang saya kerjakan pada saat ini — yaitu sebuah penelitian tentang sejarah Naqsyabandiyah di Semenanjung Malaya — maka saya sepenuhnya dapat memahami kesulitan-kesulitan yang telah dihadapi van Bruinessen dan keberhasilannya dalam mengatasi semua itu

PENDAHULUAN
Wajah Islam di Indonesia beraneka ragam, dan cara kaum Muslim di negeri ini menghayati agama mereka bermacam-macam. Tetapi, ada satu segi yang sangat mencolok sepanjang sejarah kepulauan ini: antaian kaliinfr mistik yang begitu kuat mengebat Islamnya! Tulisan-tulisan paling awal karya Muslim Indonesia bemapaskan semarigat tasawuf, dan seperti acapkali dikemukakan orang, karena tasawuf inilah terutama sekali orang Indonesia memeluk Islam. Islamisasi Indonesia mulai dalam masa ketika tasawuf merupakan corak pemikiran yang dominan di dunia Islam. Pikiran-pikiran para sufi terkemuka Ibn Al-‘Arabi dan Abu Hamid Al-Ghazali sangat berpengaruh terhadap pengarang-pengarang Muslim generasi pertama di Indonesia. Apalagi, hampir semua pengarang tadi juga menjadi pengikut sebuah tarekat atau lebih.
Secara relatif, tarekat merupakan tahap paling akhir dari per-kembangan tasawuf, tetapi menjelang penghujung abad ketiga belas, ketika orang Indonesia mulai berpaling kepada Islam, tarekat justru sedang berada di puncak kejayaannya. Kata tarekat (secara harfiah ber-arti “jalan”) mengacu baik kepada sistem latihan meditasi maupun amalan (muraqabah, dzikir, wirid, dan sebagainya) yang dihubungkan dengan sederet guru sufi, dan organisasi yang tumbuh di seputar metode sufi yang khas ini. Pada masa-masa permulaan, setiap guru sufi di-kelilingi oleh lingkaran murid mereka, dan beberapa dari murid ini kelak akan menjadi guru piila. Boleh dikatakan, tarekat itu mensistema-tiskan ajaran metode-metode tasawuf. Guru-guru tarekat yang sama semuanya kurang lebih mengajarkan metode yang sama: zikir yang sama, dapat pula muraqabah yang sama. Seorang pengikut tarekat akan beroleh kemajuan dengan melalui sederetan ijazah berdasarkan tingkat-nya, yang diakui oleh semua pengikut tarekat yang sama; dari pengikut biasa (mansub) hingga murid, selanjutnya hingga pembantu syaikh atau khaltfah-nya, dan akhirnya — dalam beberapa kasus — hingga men¬jadi guru yang mandiri (mursyid).
Sesungguhnya tarekat tidak hanya mempunyai fungsi keagamaan. Setiap tarekat merupakan semacam keluarga besar, dan semua anggota-nya menganggap diri mereka bersaudara satu sama lain (dalam banyak tarekat mereka memang memanggil ikhwan satu sama lain). Seorang pengikut tarekat Qadiriyah atau Naqsyabandiyah dapat mengadakari perjalanan dari India ke Asia Tengah atau Mesir, dan di setiap kota yang dilaluinya ia dapat menginap dizawiyah (MgggggjO kepunyaan tarekat tersebut atau di rumah seorang ikhwan. Tarekat tertentu pun mem-punyai kekuatan politik yang lumayan. Banyak syaikh tarekat yang kharismatik karena banyak pengikutnya serta besar pula pengaruhnya terhadap mereka, maka para syaikh tersebut memainkan peranan penting dalam politik. Pihak pemerintah melihat para syaikh ini sebagai ancaman atau sebagai sekutu yang bermanfaat, tetapi mustahil meng-abaikan mereka.
Beberapa raja yang pernah memerintah di Indonesia bukan tidak mungkin mempunyai alasan politik ketika beralih memeluk agama Islam; beberapa raja memakai konsep sufi insan kamil sebagai legitimasi bagi kedudukan mereka sendiri. Namun, mayoritas orang Indonesia tampaknya tertarik pada tarekat karena latihan-latihan mistiknya yang diajarkan dan kekuatan spiritual yang dapat mereka peroleh. Minat kepada hal serupa itu masih hidup subur di mana-mana di Indonesia. Suatu analisis yang dilakukan terhadap majalah populer Amanah menunjukkan bahwa tasawuf dan tarekat tetap merupakan pokok yang sangat diminati oleh kelas menengah Muslim di Jakarta dewasa ini (yang merupakan bagian terbesar pembaca majalah tersebut). Begitu pun di sebagian besar daerah: kiai yang mengajarkan tarekat cenderung mem-puflyai_j>engikut lebih ^banyak ketimbang kiai-kiai yang tidak n{£nj£-ajarkan tarekat. Saya memperoleh kesan bahwa pengaruh tarekat memang telah tumbuh pesat selama dasawarsa terakhir ini.
Di Indonesia terdapat macam-macam tarekat dan organisasi yang mirip tarekat. Beberapa di antaranya hanya merupakan tarekat lokal yang berdasarkan pada ajaran-ajaran dan amalan-amalan guru tertentu, umpamanya Wahidiyah dan Shiddiqiyah di Jawa Timur atau tarekat Syahadatain di Jawa Tengah. Dan untuk menarik garis perbedaan yang tegas antara tarekat semacam itu dengan aliran kebatinan hampir-hampir mustahil. (Ternyata banyak aliran kebatinan, bahkan yang tampaknya anti-Islam dan mengaku bersumber pada kepercayaan leluhur, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh tasawuf). Tarekat lain-nya, biasanya yang lebih besar, sebetulnya merupakan cabang-cabang dari gerakan sufi internasional, misalnya tarekat Khalwatiyah (tarekat yang kuat di Sulawesi Selatan), Syattariyah (Sumatra Barat dan Jawa), Syadziliyah (Jawa Tengah), Qadiriyah, Rifa’iyah, Idrisiyah atau Ahmadiyah, Tijaniyah dan, yang paling besar, Naqsyabandiyah. ^/— Yang mengherankan: mengapa sedikit sekali tulisan tentang tarekat dalam Bahasa Indonesia. Hanya ada beberapa buku yang bersifat umum seperti Pengantar Ilmu Tarekat-nya Aboebakar Atjeh dan Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara karya Hawash Abdullah. Yang pertama sebenarnya lebih menyangkut sejarah tarekat di Timur Tengah dan hanya memuat sedikit catatan pendek tentang perkembangan tarekat di Indonesia; yang kedua lebih mengenai penulis-penulis Indonesia yang menonjol di bidang tasawuf. Buku ketiga yang sudah semestinya disebut adalah edisi khusus jurnal hidup sufi itu sesungguhnya dekat benar dengan pandangan hidup saya sendiri. Selanjutnya saya diperkenankan mengikuti beberapa latihan-latihan keruhanian, dan saya mulai dapat menghargai bahwa latihan-latihan semacam itu merupakan cara yang dapat dipertanggungjawab-kan dalam upaya kemajuan spiritual.
Pada tahun 1982, saya mulai bekerja pada KITLV (Lembaga Ke-rajaan untuk Antropologi dan Bahasa) di Leiden dan mulai menyiapkan penelitian lapangan di Indonesia. Melalui_ beberapa buku.dan artikel yang saya baca (khususnya karya Sartono Kartodjrdjp tentang ..pern-berontakan-pemberontakan petani di Jawa pada abad kesembilan belas), saya paham bahwa di Indonesia pun tarekat Naqsyabandiyah telah mengambil peran yang penting. Tahun 1983-1984 saya melakukan penelitian lapangan tentang urbanisasi, kemiskinan, dan perubahan sosial di Bandung. Di luar dugaan saya, ternyata toko buku Islam yang terbesar di Bandung menjual — dan stoknya banyak — buku yang ditulis oleh seorang syaikh Kurdi kenamaan, Muhammad Amin Al-Kurdi. Judul buku tersebut Tanwir Al-Qulub. Ini mendorong keingintahuan saya dan saya mencoba menghubungi para pengikut Naqsyabandiyah di Jawa Barat, dan kemudian juga di Jawa Tengah. Tahun 1986 saya diundang untuk bekerja di LIPI dan membantu sebuah proyek peneliti¬an tentang ulama Indonesia, sebagai konsultan dalam metodologi penelitian. Pekerjaan baru ini memberi saya kesempatan untuk “mengun-jungi banyak daerah lain di Indonesia dan mewawancarai para syaikh Naqsyabandi di seluruh negeri ini. Buku ini merupakan hasil perjumpa-an saya dengan mereka dan hasil bersitekun di beberapa perpustakaan dan arsip dalam tahun-tahun yang menyelangi.
Sumber-sumber
Informasi dalam buku ini diambil dari berbagai sumber. Di tempat pertama adalah naskah-naskah yang ditulis j>leh para .tpkph JMaqsyg-bandi Indonesia. Perpustakaan di Jakarta dan Leiden.adamenyimpan beberapa risalah yang berhasil dikumpulkan pada abad kes.embilan belas, dan ada pula satu-dua naskah lain yang secara tidak langsung me-nyoroti perkembangan tarekat tersebut. Tulisan-tulisan itu bermanfaat terutama dalam menyusun silsilah yang disajikan dalam buku ini; keterangan ini penting untuk memahami perkembangan tarekat tersebut. Sumber-sumber kelompok kedua adalah kitab-kitab yang di-terbitkan oleh kalangan Naqsyabandiyah Indonesia ataupun dari para lawan tarekat Naqsyabandiyah selama abad kedua puluh ini. Dari karya-karya inilah kita peroleh pemahaman yang lebih baik mengenai amalan-amalan yang sebenamya dari tarekat ini, dan dari polemik-polemik yang terjadi dapat kita tangkap selintas sesuatu yang melatarbelakangi per¬kembangan tarekat ini dalam abad ini.
Informasi tambahan semacam ini, meskipun tidak selalu objektif, dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan para pejabat pemerintah colonial Banyak dari para pejabat ini condong memandang tarekat bahaya yang potensial dan^sebab itu perhatiaa^rnereka lebih cfitujukan kepada aspek-aspeKjsosial dan politiknya saj^> Laporan-seperti itu memang merupaRan sumber yang kaya dengan kasus-yang menunjukkan adanya kegiatan politik tertentu oleh anggota-tarekat. Selain itu, satu-dua kasus tampak bahwa tarekat telah perkembangan yang sangat pesat. Pada masa dan tempat ian§ lain, di mana anggota-anggota tarekat tidak menonjol kegiatannya, aaepcka jarang disebut dalam laporan-Iaporan pemerintahan jajahan. Eaorya sedikit laporan para pejabat pemerintahan kolonial itu mengenai arrfcit yang dapat kita jumpai dalam terbitan berupa artikel ataupun kdbt-buku, dan sebagian besar laporan-Iaporan mereka itu haruslah icari di Arsip Nasional (Jakarta) atau di Algemeen Rijks Archief AKA, Den Haag). Saya sendiri belum melakukan studi yang sistematik semua materi arsip yang ada kaitannya — itu akan menyita usia saya — tetapi saya hanya membaca dengan teliti bahan-yang menarik perhatian saya berkat karya tulis tertentu ataupun infonhasi langsung yang saya peroleh dari peneliti-peneliti lain. Saya harus berterjma kasih terutama kepada Karel Steenbrink dan Jrarraan van Goor yang telah memberi petunjuk mengenai bahan-bahan -EUBE tergolong pen ting).
Sdain itu, saya pun telah menggunakan seluas-luasnya sumber-mniber sekunder yang diterbitkan dan juga kajian-kajian sejarah dan aoasiologi yang ada kaitannya dengan-tarekat Naqsyabandiyah. Kajian i«grring dari Sartono Kartodirdjo telah saya sebut di atas; karya lain TFans secara panjang lebar membahas tarekat Naqsyabandiyah (di ^-.i-gkahan) adalah Zwischen Reform und Rebellion-nya. Werner £raai. Daftar lengkap karya-karya yang diacu terdapat pada kepustaka-JH £ akhfr buku ini.
Bahan-bahan sekunder lain yang tergolong sumber adalah skripsi-sfcrjpsi pada perguruan tinggi di Indonesia, terutama yang ditulis oleh jsara rnaha-siswa IAIN. Kebanyakan skripsi-skripsi ini didasarkan pada j/ezizasnatan langsung, dan kurang lebih membicarakan secara luas ooangobang tarekat setempat, sejarahnya, organisasinya, dan ritual-zxsahiya. Judul-judul semua skripsi yang digunakan dimuat kembali ifealsfun kepustakaan.
Akhirnya, saya mewawancarai tidak sedikit guru-guru dan para :<n£ikut Naqsyabandiyah di seantero Nusantara. Wawancara-wawan-sKa. ini merupakan sumber yang paling penting; dalam banyak hal iamya Iewat wawancara seperti itulah saya dapat memahami sumber-jambcr tertulis dengan baik. Sumber tertulis tadi bagaimanapun hanya ncsaberikan gambaran mengenai keadaan secara sepihak dan tidaklah icagkap. Daftar para informan tersebut akan terlalu panjang kalau saya iebat semuanya di sini, tetapi nama seorang informan akan dicantum-joa dalam catatan bilamana informasi atau tafsiran tertentu berasal dari

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: