TANGGAPAN SISWA TERHADAP HUKUMAN ALTERNATIF BAGI PELANGGAR TATA TERTIB DAN TATA KRAMA SERTA DISIPLIN BELAJAR

6 04 2010

TANGGAPAN SISWA TERHADAP HUKUMAN ALTERNATIF BAGI PELANGGAR TATA TERTIB DAN TATA KRAMA SERTA DISIPLIN BELAJAR

A. Tanggapan
1. Pengertian Tanggapan
Manusia diciptakan Allah SWT dengan dibekali dengan berbagai potensi, baik potensi jasmani maupun potensi rohani. Kedua potensi tersebut dapat dipisahkan dan dibedakan. Potensi rohani dapat terlihat pantulannya pada potensi jasmani yaitu dalam bentuk tingkah laku.
Dengan alat indera sebagai potensi jasmani, seseorang dapat menyadari dan mengenal hal-hal atau keadaan yang ada disekitarnya, dalam arti ia dapat melakukan pengamatan. Gambaran-gambaran yang terjadi waktu pengamatan tidak akan hilang begitu saja, tetapi disimpan di bawah alam sadar kita, sehingga dapat dimunculkan kembali kapan dan di mana saja. Proses memunculkan dan membayangkan kembali gambaran hasil pengamatan ini dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah tanggapan.
Menurut Agus Sujanto (1993:31) secara tepat dapat diidentifikasi, hanya dapat didefinisikan secara garis besar dan bersifat umum yaitu gambaran pengamatan yang tinggal di dalam kesadaran kita sesudah kita mengamati. Sedangkan menurut Kartini Kartono (1996: 58) mengatakan bahwa tanggapan bisa diidentifikasi sebagai gambaran ingatan dari pengamatan. Dengan demikian Sumadi Suryabrata (1990: 36) mengidentifikasi tanggapan sebagai bayangan yang tinggal setelah kita melakukan pengamatan. Lebih jelasnya mengenai tanggapan ini Abu Ahmadi (1992: 64) menyatakan : “tanggapan adalah gambaran ingatan dan pengamatan yang mana objek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan”.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa terjadinya tanggapan itu harus melalui pengamatan terlebih dahulu. Berbicara mengenai tanggapan, Muhibbin Syah (1995:118) mengemukakan bahwa pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera, seperti mata dan telinga.
Jadi tanggapan adalah bayangan yang tinggal dalam ingatan kita setelah melalui proses pengamatan terlebih dahulu. Dalam proses pengamatan, tanggapan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Selain itu yang lmenjadi objek dari tanggapan itu masih kabur dan tidak mendetail dan juga tidak memerlukan adanya perangsang dan bersifat imajiner.
Dari beberapa pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tanggapan itu bermula dari adanya suatu tindakan pengamatan yang menghasilkan suatu kesan sehingga menjadi kesadaran yang dapat dikembangkan pada masa sekarang atau pun menjadi antisipasi pada masa yang akan datang. Jadi jelaslah bahwa pengamatan merupakan modal dasar dari tanggapan, sedangkan modal dari pengamatan adalah alat indera yang meliputi penglihatan dan penginderaan.
Selanjutnya yang dimaksud dengan siswa menurut Muhibbin Syah (1995:14) adalah orang-orang yang sedang belajar termasuk pendekatan strategi, factor yang mempengaruhi dan potensi yang dicapai.
Jadi yang dimaksud dengan tanggapan siswa adalah kesan orang – orang sedang belajar dan kesan tersebut dihasilkan dari pengamatan dimana objek yang sedang dan telah diamati sudah tidak lagi berada di dalam ruang dan waktu pengamatan.
2. Proses Tarjadinya Tanggapan
Dalam hal ini ada beberapa deretan gejala terjadinya tanggapan, mulai dari yang paling berperaga dengan berpangkal pada pengamatan, sampai ke yang paling berperaga yaitu berfikir. Deretan gejala tersebut menurut Sumadi Suryabrata (1993:38) adalah sebagai berikut:
a. Pengamatan, yakni kesan-kesan yang diterima sewaktu perangsang mengenai indera dan perangsangnya masih ada. Pengamatan ini adalah produk dari kesadaran dan pikiran yang merupakan abstraksi yang dikeluarkan dari arus kesadaran.
b. Bayangan pengiring, yaitu bayangan yang timbul setelah kita melihat sesuatu warna. Bayangan pengiring itu terbagi menjadi dua (2) macam, yaitu bayangan pengiring positif yakni bayangan pengiring yang sama dengan warna objeknya dan bayangan pengiring negatif adalah bayangan pengiring yang tidak sama dengan warna objeknya, melainkan seperti warna komplemen dari warna objek.
c. Bayangan eiditik, yaitu bayangan yang sangat jelas dan hidup sehingga menyerupai pengamatan.
d. Tanggapan, yakni bayangan yang menjadi kesan yang dihasikan dari pengamatan. Tanggapan diperoleh dari penginderaan dan pengamatan.
e. Pengertian, menurut Abu Ahmadi (1992:169) adalah hasil proses berfikir yang merupakan rangkuman sifat-sifat pokok dari suatu barang atau kenyataan yang dinyatakan dalam suatu perkataan.
Jadi proses terjadinya tanggapan adalah pertama-tama indera mengamati objek tertentu, setelah itu muncul bayangan pengiring yang berlangsung sangat singkat sesaat sesudah perangsang berlalu. Setelah bayangan perangsang muncul kemudian muncul bayangan eiditis, bayangan ini sifatnya lebih tahan lama, lebih jelas dari bayangan perangsang. Setelah itu muncul tanggapan dan kemudian pengertian.
3. Macam-macam Tanggapan
Kenangan atau kesan-kesan pengamatan dapat meninggalkan bekas yang dalam, hal-hal tertentu dapat digambarkan kembali sebagai gambaran ingatan atau tanggapan. Untuk mempermudah dalam memahami tanggapan perlu dikemukakan jenis atau macam-macam tanggapan. Tanggapan disebut “Laten” (tersembunyi, belum terungkap), apabila tanggapan itu berada di bawah sadar atau tidak kita sadari. Sedangkan tanggapan disebut “Aktual” (actual = sungguh), apabila tanggapan tersebut kita sadari (Abu Ahmadi, 1993:64).

Menurut Wasty Soemanto (1990: 23) terdapat tiga macam tanggapan yaitu:
a. Tanggapan masa lampau disebut juga tanggapan ingatan
b. Tanggapan masa sekarang yang sering disebut tanggapan imajinatif
c. Tanggapan masa mendatang yang disebut sebagai tanggapan antidipatif
Sementara itu Sumadi Suryabrata (1993:36-37) menyebutkan macam-macam tanggapan yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Wasty. Sumadi menyebutkan ada tiga macam tanggapan di antaranya adalah:
a. Tanggapan masa lampau atau tanggapan ingatan
b. Tanggapan masa datang atau tanggapan mengantisipasikan
c. Tanggapan masa kini atau tanggapan representatif (tanggapan mengimajinasikan).
Sedangkan Agus Sujanto (1993:32) mengemukakan macam-macam tanggapan secara lebih lengkap lagi yaitu sebagai berikut:
a. Tanggapan menurut indera yang mengamati, yaitu:
1). Tanggapan auditif, yaitu tanggapan terhadap apa-apa yang telah di dengarnya baik berupa suara, ketukan dan lain-lain.
2). Tanggapan visual, yaitu tanggapan terhadap segala sesuatu yang dilihatnya.
3) Tanggapan perasaan adalah tanggapan terhadap sesuatu yang dialami oleh dirinya.
b. Tanggapan menurut terjadinya, yaitu:
1). Tanggapan ingatan atau tanggapan masa lampau, yakni tanggapan terhadap kejadian yang telah lalu.
2). Tanggapan fantasi, yaitu tanggapan masa kini yakni tanggapan terhadap sesuatu yang sedang terjadi.
3) Tanggapan pikiran atau tanggapan masa datang yakni tanggapan terhadap sesuatu yang akan datang.
c. Tanggapan menurut lingkungannya, yaitu:
1). Tanggapan benda, yakni tanggapan terhadap benda-benda yang ada disekitarnya.
2). Tanggapan kata-kata yaitu tanggapan terhadap ucapan atau kata-kata yang dilontarkan oleh lawan bicara.
Dari pembagian macam-macam tanggapan di atas dapat menunjukan bahwa panca indera sebagai modal dasar pengamatan sangatlah penting, karena secara tidak langsung merupakan modal dasar bagi adanya tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang dipandang sebagai kekuatan psikologis yang dapat menimbulkan keseimbangan atau merintangi keseimbangan.
Selain dari panca indera, tanggapan juga akan didasari oleh adanya perasaan yang mendalam atau sesuatu pengetahuan dan ingatan serta cara tanggapan tersebut diungkapkan dalam kata-kata. Oleh karena itulah tanggapan menjadi sesuatu yang perlu dilihat dan diukur guna mengetahui gambaran atau pengamatan seseorang terhadap sesuatu objek.

4. Urgensi Tanggapan
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa individu dapat menanggapi objek yang ada disekitarnya. Hasil dari persepsi tersimpan dalam jiwanya kemudian disengaja atau tidak, individu akan melahirkan kembali gambaran dari tanggapannya.
Bimo Walgito (1994:100) mengatakan bahwa pada umumnya bayangan yang saling berhubungan satu deongan yang lain saling menimbulkan kembali atau saling memproduksi. Begitu pula Agus Sujanto (1990:35) mengemukakan bahwa dengan tanggapan kita dapat mengasosiasikan dan memproduksi sehingga asosiasi diartikan sebagai kekuatan untuk menghubungkan tanggapan-tanggapan.
Lain halnya dengan Sumadi Suryabrata (1990:65) beliau menyatakan bahwa tanggapan hanya mempunyai peranan yang terbatas yaitu:
a. Sebagai bahan ilustrasi, untuk memudahkan pemecahan problem, dan
b. Sebagai bahan verifikasi, untuk menguji kebenaran suatu pemecahan
Walaupun Sumadi Suryabrata di atas menyatakan bahwa tanggapan hanya memiliki peranan yang sedikit namun tanggapan sangat penting untuk proses berfikir. Terlebih lagi dalam pemecahan masalah, maka tanggapan berfungsi sebagai bahan ilustrasi dan verifikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui asosiasi dan reproduksi tanggapan seseorang dapat digunakan untuk proses berfikir dan memecahkan suatu masalah.
5. Indikator Tanggapan
tanggapan yang muncul ke dalam kesadaran, dapat memperoleh dukungan atau rintangan dari tanggapan lain. Dukungan terhadap tanggapan akan menimbulkan rasa senang. Sebaliknya tanggapan yang mendapat rintangan akan menimbulkan rasa tidak senang (Soemanto, 1998:28).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa indicator tanggapan terdiri dari tanggapan yang positif kecenderungan tindakannya adalah mendekati, menyukai, menyenangi, dan mengharapkan suatu objek. Sedangkan tanggapan siswa yang negatif kecenderungan tindakannya menjauhi, menghindari dan memeberi objek tertentu (Sarwono, 1991:94).
Sedangkan menurut Sardiman, (1992:215) mengemukakan bahwa indicator tanggapan itu adalah 1) keinginan untuk bertindak/berpartisifasi aktif, 2) membacakan/mendengarkan, 3) melihat, 4) menimbulkan/membangkitkan perasaan dan 5) mengamati.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa indicator dari tanggapan itu adalah senang atau positif dan tidak senang atau negatif. Mengenai rasa tidak senang ini pada setiap orang berbeda-beda. Sebagian ada yang menghargai dan menyenangi karena kedermawanannya, yang lainnya lagi karena intelegensinya dan sebagainya.
Kecenderungan untuk mempertahankan rasa tidak senang atau menghilangkan rasa tdiak senang, akan memancing bekerjanya kekuatan kehendak dan kemauan. Adapun kehendak atau kemauan ini merupakan penggerak tingkah laku manusia. Oleh kareena pentingnya peranan tanggapan bagi tingkah laku, maka pendidikan hendaknya nmampu mengembangkan dan mengontrol tanggapan-tanggapan yang ada pada siswa.

B. Hukuman Alternatif Menulis Al-Quran Bagi Pelanggar Tata Tertib Siswa
1. Pengertian Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Hukuman merupakan sanksi yang dikenakan kepada seseorang yang melanggar ketentuan-ketentuan tertentu. Biasanya ketentuan-ketentuan tersebut adalah seperangkat peraturan yang harus dipatuhi guna mencapai tujuan yang diharapkan. Bentuk hukuman sendiri ada 2 macam, yaitu berbentuk fisik dan non fisik(mental). Tetapi bentuk hukuman tersebut diarahkan semata – mata untuk mendidik, dalam hal ini bersifat edukatif. Misalnya dapat dilihat dari hadits Rasulullah yang menerangkan bila seorang anak telah berusia 10 tahun, maka ajari mereka untuk shalat. Jika melanggar, pukulah mereka. Kata “pukul” ini diartikan sebagai jenis hukuman yang mengarah pada hal-hal yang bersifat edukatif atau mendidik.
Sedangkan alternatif mengandung pengertian pilihan diantara dua atau beberapa kemungkinan (KBBI, 1996:25). Bila digabungkan maka makna dari hukuman alternatif adalah jenis hukuman yang dipilih dan diterapkan kepada seseorang (siswa) yang melanggar peraturan atau tata tertib yang berlaku. Dalam hal ini jenis hukuman yang dipilih adalah menulis Al Quran.
Menulis menurut Hernowo (2001:215) diartikan sebagai aktivitas intelektual – praktis dan dapat dilakukan oleh siapa saja dan amat berguna untuk mengukur sudah seberapa tinggi pertumbuhan ruhani seseorang.
Menurut Quraish Shihab (2000:3) Al Quran merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW dan secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh-sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak menusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al Quran Al Karim.
2. Latar Belakang diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Pihak sekolah baik kepala sekolah, para guru, bahkan guru BP yang menangani pelanggaran tata tertib telah menerapkan beberapa hukuman agar para siswa disiplin dan mematuhi setiap peraturan di sekolah. Diantaranya lari mengelilingi lapangan bagi siswa yang bolos dan terlambat datang, merangkum satu buku bidang studi, mengerjakan tugas dan sebagainya. Tapi itu semua dinilai kurang efektif dan kurang edukatif.
Dari latar belakang tersebut, lahir gagasan untuk menerapkan jenis hukuman alternatif dengan menulis Al Quran. Jenis hukuman ini dipilih selain untuk menumbuhkan kedisiplinan juga agar potensi akademik dalam mata pelajaran khususnya PAI meningkat, karena disadari atau tidak guru agama (PAI) merupakan pilar awal pertumbuhan akhlak pyang baik di sekolah.
3. Tujuan diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Tujuan diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran sebenarnya untuk menumbuhkan kedisiplinan dan agar potensi akademik dalam mata pelajaran khususnya PAI meningkat.
Indikator keberhasilannya dapat dilihat antara lain: datang ke sekolah dengan tepat waktu, berperilaku baik selama mengikuti pelajaran, menyimak dan memperhatikan pelajaran, mengerjakan tugas yang diberikan guru, menghargai pendapat orang lain, mengajukan pertanyaan kepada guru dengan tertib, memeriksa kembali pelajaran yang sudah diberikan dan meninggalkan kelas dengan seizin guru.
C. Disiplin Belajar Siswa
1. Pengertian Disiplin Belajar Siswa
Disiplin belajar siswa harus dimiliki oleh siswa, karena merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Slameto (1995:67) mengatakan bahwa “agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin dalam belajar baik di rumah, di sekolah, dan di perpustakaan”. Dari pendapat tersebut, tampak bahwa disiplin diperlukan untuk kemajuan siswa dalam belajar.
Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminta (1993:203) mengatakan bahwa disiplin adalah (1) Latihan batin dan watak dengan maksud supaya mentaati tata tertib, (2) Ketaatan kepada aturan/tata tertib walau dalam bagaimanapun.
Dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan disiplin adalah sikap mental yang dapat dimiliki melalui latihan batin untuk selalu mentaati tatatertib walau dalam keadaan bagaimanapun.
Menurut Arikunto (1990:14) disiplin merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena di dorong oleh adanya kesadaran yang ada di hatinya. Di sini tampak bahwa disiplin tidak dapat dipaksakan oleh suatu keadaan yang mengharuskan perilaku itu timbul, melainkan lahir dari hati nurani.
Selanjutnya Sudijarto mengemukakan disiplin pada hakekatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dengan bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan pbahwa disiplin mengandung motif adanya kesadaran (kesediaan) untuk mematuhi peraturan yang disebabkan karena sikap tersebut mempunyai makna penting dalam kehidupan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara latihan dan selalu membiasakan diri untuk bersikap disiplin dalam segala hal.
Kata “disiplin” bila dihubungan dengan belajar, maka akan menjadi kata “disiplin belajar” yang mengandung arti karakteristik dalam keadaan serba teratur pada saat belajar yang menuju kepada ptujuan belajar yang efektif dan efesien.
Pengertian belajar menurut ahli pendidikan sangat beragam. Masing-masing berpendapat berdasarkan sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Ada yang memberikan definisi bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkahlaku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari belajar dapat ditunjukkan dalamberbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkahlakunya, keterampilannya dan aspek lainnya (Sudjana, 1995:28).
Sejalan dengan itu, menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono (1991:121) mengungkapkan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”.
Sedangkan Hilgard dan Brower (Oemar Hamalik, 1992:45) mendefinisikan belajar sebagai perubahan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman”.
Dengan demikian yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, perubahan tersebut terwujud dalam bentuk perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.
Selanjutnya yang dimaksud dengan siswa menurut Muhibbin Syah (1995:14) adalah orang-orang yang sedang belajar, termasuk strategi, factor yang mempengaruhi dan prestasi yang dicapai.
Berdasarkan uraian tentang disiplin yang dihubungkan dengan belajar dan siswa, maka dapat dirumuskan bahwa disiplin belajar siswa merupakan kemampuan seorang siswa untuk secara teratur dalam belajar dan tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan tujuan akhir dari proses belajarnya.
2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Pelanggaran Disiplin
Menurut Crow and Crow (1990:114), factor-faktor yang mempengaruhi disiplin belajar siswa di kelas diantaranya adalah:
a. Faktor Psikologi
Gangguan kesehatan, gangguan kelenjar dan gangguan psikis dapat mempengaruhi sikap anak, persepsi anak, ketenangan anak yangdapat mengganggu terciptanya suasana berdisiplin sekolah.

b. Faktor Perseorangan
Tidak jarang sikap perseorangan anak tidak sesuai dengan standar yang berlaku di kelas. Beberapa sifat perseorangan seperti acuh tak acuh, mementingkan diri sendiri, meniru kelakuan tak baik ataupun terlalu mengecilkan diri sendiri. Sikap tersebut kesemuanya bila dibiarkan akan mengganggu disiplin kelas dan produktivitas belajar.
c. Faktor Sosial
Dalam kehidupan berkelompok akan timbul pengaruh social pada sikap seseorang. Walaupun upaya memahami sikap itu kadang-kadang, pendidik tetap perlu berusaha untuk mengikuti perkembangan sikap anak. Dalam kehidupan kelompok setidak-tidaknya dikenal tiga kebutuhan, yaitu pengakuan akan pengakuan orang lain, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan akan kebebasan bertindak.
d. Faktor Lingkungan
Lingkungan seperti: cukup udara segar, ruangan yang menarik, suasana tenang tidak bising oleh suara kendaraan atau pabrik akan mempengaruhi suasana belajar di kelas.
3. Indikator Disiplin Belajar
Agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan, maka terdapat beberapa indicator yang harus diperhatikan menurut bebrapa pendapat:
Cece Wijaya (1991:18) menyatakan bahwa kedisiplinan seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
1. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru maupun bagi murid, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaran proses pendidikan itu. Dan seorang gurupun harus menjadi teladan bagi muridnya.
2. Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku, meliputi:
a. Menerima, menganalisis dan mengkaji berbagai pembaruan pendidikan
b. Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada
c. Tidak membuat keributan di dalam kelas
d. Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang ditetapkan
3. Menguasai diri dan Introspeksi
Pelanggaran-pelanggaran terhadap tatatertib tidak akan terjadi apabila siswa bisa menguasai diri dan introspeksi. Dan seorang siswa yang memiliki sikap disiplin dalam lbelajarnya akan bertanggungjawab dalam segala tingkah laku selama belajar kelas, dan tidak akan terjadi pelanggaran.
Sejalan dengan itu pula Suharsimi (1993:140) menyatakan bahwa secara operasional siswa dinilai dalam belajar, apabila mereka melaksanakan secara sadar dan terus menerus hal-hal sebagai berikut:
1. Mematuhi peraturan sekolah tentang keterlambatan datang ke sekolah
2. Menempatkan peralatan sekolah sesuai ketentuan
3. Berperilaku baik selama mengikuti pelajaran
4. Tidak mengganggu teman selama mengikuti pelajaran
5. Memperhatikan pelajaran yang diberikan guru
6. Mempergunakan waktu belajar dengan sebaik-baiknya
7. Mengikuti pelajaran dengan tertib
8. Meminjam barang orang lain dengan meminta izin
9. Lekas mengembalikan jika meminjam milik teman
10. Menyambut tugas yang diberikan guru dengan semangat
11. Bekerja dengan jujur
12. Memperhatikan atau menghargai pendapat orang lain
13. Mengajukan pertanyaan kepada guru dengan tertib
14. Meninggalkan kelas dengan seizin guru
D. Hubungan antara Tanggapan Siswa terhadap Hukuman alternatif menulis al-Quran bagi pelanggar Tata tertib sekolah dengan Disiplin Belajar Mereka pada mata Pelajaran PAI
Sebagaimana telah diuraikan di atas dalam pembahasan sebelumnya, bahwa tanggapan menurut Agus Sujanto (1993:31) adalah gambaran pengamatan yang tinggal dalam kesadaran setelah kita mengamati.
Tanggapan merupakan kesan-kesan yang dihasilkan setelah proses pengamatan sudah berakhir. Sedangkan menurut Arikunto (1990:14) disiplin merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena di dorong oleh adanya kesadaran yang ada dihatinya. Apabila kedua factor ini bersatu dalam satuan kelgiatan belajar mengajar di kelas, maka keduanya akan saling menunjang. Disiplin belajar akan tumbuh dari tanggapan yang dialami sebelumnya dan tanggapan itu sendiri berawal dari proses belajar mengajar.
Seorang siswa dengan berbagai pengalamannya akan mengamati jenis hukuman alternatif (menulis al-Quran). Ketika ia melihat, mengamati dan merasakan hukuman tersebut, maka pengalamannya ini memberi bentuk terhadap objek yang diamati. Sedang factor wawasannya memberikan penilaian terhadap jenis hukuman tersebut dalam hal ini menulis al-Quran.
Kemudian siswa secara sadar mengadakan penilaian terhadap hukuman alternatif menulis al-Quran. Tanggapan siswa yang negatif akan menimbulkan suatu perbuatan yang selalu melanggar tata tertib di sekolah. Sedangkan tanggapan siswa yang positif akan menimbulkan suatu perbuatan yang selalu mentaati tata tertib terutama dalam kedisiplinan belajar pada mata pelajaran PAI.
Dengan demikian jelaslah bahwa tanggapan siswa terhadap hukuman alternatif menulis al-Quran bagi pelanggar tata tertib akan melahirkan suatu aktivitas yaitu disiplin belajar, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tanggapan siswa akan mempengaruhi terhadap aktivitas mereka terutama disiplin dalam belajar mereka pada mata pelajaran PAI.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: