RESPONS SISWA TERHADAP PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER PENDIDIKAN AKHLAK HUBUNGANNYA DENGAN PERILAKU SISWA SEHARI-HARI

6 04 2010

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang mempunyai tanogung jawab untuk mendidik siswa. tJntuk itu, sekolah mmyelen`garakan kegiatan pembelajaran sebagai realisasi pendidikan yang telah ditetapkan.
Menurut Mohamad Surya pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhari, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (2003: 11)
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Standar Kompetensi adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik (siswa) untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. (Depag, 2005: 21)
Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan proses interaksi antara siswa dengan linngkungannya, sehingga terjadi perubahan kearah yang lebih baik yang menjadiakan siswa manusia berguana bagi nusa, bangsa, Negara dan agama serta berakhlak mulia.
1. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama
a) Fungsi Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar untuk:
1) Penanaman nilai dan ajaran Islam scbagai pedoman mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.
2) Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. serta akhlaq mulia siswa yang sebelumnya telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
3) Penyesuaian mental siswa terhadap lingkungan fisik dan sosial.
4) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan siswa dalam keyakinan, pengamalan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan siswa dan hal-hal negatif dari lingkungannya atau budaya asing yang dihadapinya sehari-hari.
6) Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan keimanan dan akhlaq, serta sistem dan fungsionainya.
7) Pembekalan bagi siswa untuk mendalami Aqidah dan Akhlaq pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi
b) Tujuan
Mata pelajaran Pendidikan Agama bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam akhlaqnya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukkan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman siswa tentang Aqidah dan Akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dan meningkat kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangasa dan bernegara, karena Akhlaq merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bahkan Islam menegaskan bahwa Akhlaq merupakan misi yang utama. Sebagaimana sabda Kasulullah saw:

“Sesungguhnya saya (Rasulullah) diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. (Nur Uhbiyati, 1997: 148)

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pelajaran Pendidikan agama Islam meliputi a) Aspek Aqidah Aspek ini meliputi: kebenaran Aqidah Islam, hubungan Pendidikan Agama Islam, keesaan Allah Swt, kekuasan Allah Swt, Allah Maha Pemberi Rizki, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Penyantun, Maha benar, Maha Adil, dengan argumen dalil aqli dan naqli. Meyakini bahwa Muhammad saw adalah Rasul terakhir, meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan dalil aqli dan naqli. Meyakini qadla dan qadar, hubungan usaha dan doa, hubungan perilaku menusia dengan terjadinya bencana alam disertai argumen dalil aqli dan naqli.

a) Aspek Akhlaq
Aspek akhlaq meliputi: beradab secara Islam dalam bermusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlak terpuji kepada orang tua, guru, ulil amri, dan waliyullah, untuk memperkokoh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama Rasul dalam membawa perdmaian, terbiasa menghindari akhlaq tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan masyrakat, berbangsa dan bernegara seperti membunnh. merampok, menyehar titnah, dan lain-lain.
b. ) Aspek Kisah Teladan
Aspek kisah teladan meliputi: mengapersepsi dan menteladani sifat dan perilaku sahabat utama Rasulullah saw dengan landasan argumen yang kuat.

3. Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Sekolah Dasar
a) Menyebutkan, menghafal, membaca dan mengartikan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, mulai surat Al-Fatihah sampai surat Al-‘Alaq
b) Mengenal dan meyakini aspek-aspek rukun iman dari iman kepada Allah sampai iman kepada Qadha dan Qadar
c) Berperilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari perilaku tercela
d) Mengenal dan melaksanakan rukun Islam mulai dari bersuci (thaharah) sampai zakat serta mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah haji
e) Menceritakan kisah nabi-nabi serta mengambil teladan dari kisah tersebut dan menceritakan kisah tokoh orang-orang tercela dalam kehidupan nabi

4 Pendekatan Pembelajaran
Suasana pembelajaran yang terpadau dengan melalui pendekatan:
a) Keimanan, yang mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah Swt. sebagai sumber kehidupan.
b) Pengamalan, mengkondisikan peserta didik untuk memperaktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan akhlaq mulia dalam kehidupan sehari-hari.
c) Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al¬Qur’an dan Hadits serta dicontohkan oleh para ulama.
d) Rasional, usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pendekatan yang memfungsikan rasio siswa, niali-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran.
e) Emosional, upaya rnPnggugah perasaan (emosi) siswa dalam menghayati aqidah dan akhlaq mulia sehingga lebih terkesan dalam jiwa siswa.
f) Funsional, menyajikan materi Aqidah dan Akhlaq yang memberikan manfaat nyata bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
g) Keteladanan, yaitu pembelajaran yang menempatkan dan memerankan guru serta komponen Sekolah Dasar lainnya sebagai teladan, sebagai cermin dari individu yang memiliki keimanan teguh dan berakhlak mulia.

B. Kepemimpian Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu kemampuan mempengaruhi orang-orang dalam organisasi termasuk lingkungannya agar dapat bekerja dengan tulus dan senang hati, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan tertib dan berhasil, sesuai dengan yang telah ditetapkan. (Ermaya Suradinata, 1996: 51)
Adapun yang di katakan Ngalim Purwanto bahwa kepemimpinan adalah: Sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. (2003: 26)
Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang dalam organisasi agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, per.uh semangat, ada kegembiraan dan tidak terpaksa.

Dengan demikian, yang menjadi pemimpin dalam lingkungan belajar adalah guru. Guru harus mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya, serta memWantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa.
2. Kepemimpinan Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung _jawab untuk
membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupu_n klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah. (Djamarah, 2000: 32; Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya bahwa yang memimpin dalam pembelajaran adalah guru. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Moh. Rifki bahwa:
Dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinan yang dilakukannya itu, ia tidak melakukan intruksi- intruksi dan tidak berdiri di bawah intruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas. (2002: 4)

Dengan demikian, guru sebagai seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik dan harus mampu mencip?akan situasi pembelajaran yang efektif. Adapun kepemimpinan yang harus guru lakukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah:
a) Memberi teladan
Prilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, prilaku guru hendaknya dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pengaruh yang berkesan dan baik.
Mohamad Surya mengatakan: …guru adalah model tingkah laku yang harus dicontoh oleh siswa-siswinya…. (2003: 134)
Menurut Achmady keteladanan adalah alat utama dalam pendidikan. Hal itu dipraktekan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya. (1995: 21) Sehingga pantaslah, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi panutan yang baik bagi umat Islam sepanjang sejarah, menjadi teladan bagi semua umat manusia, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 21:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (Al-Ahzab: 21)
Keteladanan merupakan faktor penentu baik-buruknya siswa, jika seorang guru (pendidik) jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, pemberani, dan tidak berbuat maksiat, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh dengan sifat-sifat mulia. Sebalika:ya, iika guru (pendidik) seorang pendusta, penghianat, berbuat sewenang-wenang, bakhil dan pengecut, maka kemungkinan besar anak (siswa) pun akan tumbuh dengan sifat-sifat tercela. Dengan demikian, jika guru telah memiliki sifat-sifat teladan, maka dalam segala kegiatan pembelajaran akan bertujuan menjadikan para siswa orang-orang yang berakhlak mulia.
b) Memotivasi
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamali, 2003: 1158)
Untuk menciptakan pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang efektif, guru diharapkan bisa membangkitkan motivasi siswa agar siswa mau mempelajari maieri-materi yang diharapkan untuk dipelajarinya. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu agar dapat mPmbangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Dececco & Growford (1995: 175) mengemukakan cara-cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam memelihara dan meningkatkan motivasi siswa.
1) Menggairahkan siswa
Dalam pembelajaran guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Guru harus memberikan pada siswa cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat dan perhatian siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk be~sndah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam pembelajaran. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa, guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup.
2) Memberikan harapan realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realists, dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis siswa pada masa lalu, dengan demikian guru dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimis, atau terlalu optimis. Bila siswa telah mengalami banyak kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan pada siswa.

3) Memberikan Insentif
Bila siswa mengalami kesulitan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan lain sebaginya) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Sehubungan dengan hal ini umpan balik merupakan hal yang sangat berguna untuk meningkatkan usaha siswa.
4) Mengarahkan
Guru harus mengarahkan tingkal: laku siswa, dengan cara menunjukan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta siswa melakukan sebaik¬baiknya.
c) Kemampuan Berkomunikasi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang efektif yaitu guru memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswa dalam menyampaikan pembelajarannya. Komunikasi yang dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi adalah penyampaian energi dari alat-alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam diri organisasi dan di antara organisasi. (2003: 4)

Untuk kemampuan berkomunikasi, guru sebagai pemimpin harus mampu menunjukan kemahirannya memilih dan menggunakan kata atau kalimat sehingga informasi, ide, atau yang dikomunikasikannya dapat diterima secara mudah oleh siswa. Maka daripada itu, keterampilan berkomunikasi dengan siswa baik melalul bahasa lisan atau bahasa tulisan, akan sangat diperlukan oleh guru. Penggunaan bahasa lisan atau tulisan yang baik dan benar diperlukan agar siswa memahami pembelajaran yang disampaikan dan memahami masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Grafik, bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik, dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan kata-kata yang di tulis atau dibicarakaa
semuanya merupakan cara-cara komunikasi dalam pembelajaran. (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143)
Dengan demikian, komunikasi merupakan penyampaian dan memperoleh fakta, konsen dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, suara visual yang merupakan dasar untuk memecahkan masalah serta mengefektifkan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

d) Birokrat (Demokratis)
Birokrat dalam kepemimpianan yaitu pemimpin berprilaku sebagai pelatih yang teliti dan tidak berat sebelah dalam melaksanakan perintah-perintahnya. (Ngalim Purwanto, 2003: 42)
Demikian juga guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islamharus bersifat adil terhadap siswa, tidak cenderung kepada salah satu golongan di antara siswa, tidak melebihkan seseorang atas orang lain, segala kebijaksanaan dan tindakannya ditempuh dengan jalan yang benar serta dengan memperhatikan setiap siswa sesuai dengan perbuatan dan kemampuannya. Rasulullah SAW sendiri telah diperintahkan supaya bersikap adil, meskipun beliau adalah cotoh teladan bagi para guru.
Firman Allah S WT dalam Surat An-Nahl ayat 125:

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhannmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (An-Nahl: 125)

Dengan demikian, suasana pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang bersifat demokratis akan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mewujudkan serta mengembangkan hak dan kewajibannya. Suasana ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran melalui hubungan guru dengan siswa. Dalam suasana demokratis semua siswa memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensinya sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, dan pada gilirannya dapat berinovasi dan bekreasi sesuai .a.engan kemampuan masing-masing dan pembelajaranpun akan menjadi efektif serta menyenangkan.
e) Sumber Belajar
Belajar mengajar merupakan proses kemaknaan, di dalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik (siswa). Niiai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terampil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses belajar mengajar.
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. (Udin Saripudin Winataputra dan Rustana Ardiwinata, 2002: 55)
Mulyasa menyebutkan secara sederhana, sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar. (2003: 48)
Dengan demikian, sumber belajar itu merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal bam bagi siswa. Sebab pada hakikatnya pembelajaran adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan). Beberapa pendapat tentang sumber-sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran:
1) Roestiyah. N.K mengatakan bahwa sumber-sumber belajar adalah: (a) Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat);
(b) Buku/ perpustakaan;
(c) Mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain-lain);
(d) Dalam lingkungan;
(e) Alat pelajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol, dan lain-lain);
(f) Museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno).

2) Sudirman N, dkk mengemukakan sumber-sumber belajar sebagai berikut:
(a) Manusia (people);
(b) Bahan (materials);
(c) Lingkungan (setting);
(d) Alat dan perlengkapan (tool and equipment);
(e) Aktivitas (activites);

(1) Pengajaran berprogram
(2) Simulasi
(3) Karyawisata
(4) Sistem pengajaran modul

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi:
“I’ujuan khusus yang harus dicapai siswa Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari Aktiviatas yang harus dilakukan siswa unuk mencapai tujuan pengajaran 3
) Udin Sudirman WI nataputra dan Rustana Ardiwinata berpendapat bahwa terdapat sekurang-kurangnya lima macam sumber helajar, yaitu:
(a) Manusia;
(b) Buku/Pepustakaan
(c) Media masa
(d) Alam Lingkungan:
(1) Alam lingkungan terbuka
(2) Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah
(3) Alam lingkungan manusia
(e) Media pendidikan

4) Mulyasa mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima, yaitu:
(a) Manusia
(b) Bahan
(c) Lingkungan
(d)Alat dan peralatan
(e) Aktivitas

Dalam hal ini nampak adanya beraneka ragam sumber belajar yang masing¬ in sama atau bahkan mungkin berbeda dengan sumber belajar lainnya.
Pendayagunaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting, selain melengkapi, memelihara, dan memperkaya khazanah belajar, sumber belajar juga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar, yang sangat menguntungkan bagi guru maupun bagi siswa.
masing memiliki kegunaan tertentu yang kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pemanfaatan sumber belajar seoptimal mungkin sangatlah penting, karena kefektipan pembelajaran Pendidikan Agama Islam ditentukan pula oleh kemampuan guru dalam memilih sumber-sumber belajai-.
Mulyasa menyebutkan dua cara memanfaatkan sumber belajar dalam pembelajaran, yaitu:
1. Membawa sumber belajar ke dalam kelas. Dari aneka ragam macam bentuknya sumber-sumber belajar dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas.
2. Membawa kelas kelapangan di mana sumber belajar berada. Adakalanya terdapat sumber belajar yang penting dan menunjang tujuan belajar tetapi tidak dapat dibawa ke dalam kelas karena mengandung resiko yang cukup tinggi, atau memiliki karakteristik yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam kelas. (2003: 50)

Tidak ada satu sumber belajarpun yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan, maka guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran harus memiliki kesiapan mental dan kemauan untuk menjelajahi aneka ragam sumber belajar yang ada dan mungkin ada guna mencapai tujuan pembelajaran dan mengefektifkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga siswa senang untuk belajar.

C. Efektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Efektivitas Pembelajaran
Menurat kamus besar Bahasa Indonesia bawa efektivitas adalah keadaan berpengaruh yang dapat membawa hasil yang baik (keberhasilan) Dengan demikian, efektivitas pembelajaran adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang sangat berpengaruh dalam merubah prilaku kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran.
Mulyasa mengemukakan: pembelajaran yang efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik secara aktif. Pembelajaran bukan sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diaiarkan. tetapi lebih menekankan pada internalisasi ter.tang apa yang diajaral:an sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. (2003: 149)

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa. Melalui kreativitas guru, pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa menjadi sebuah pembelajaran efektif yang akan memberikan kecakapan hidup (Life Skill) kepada siswa.
2. Kondisi Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islamyang Efektif
Dalam menciptakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif sedikitnya Uzer Usman menyebutkan lima jenis yang dapat menetukan keberhasilan belajar siswa, yaitu:
a) Melibatkan siswa secara aktif,
b) Menarik minat dan perhatian siswa,
c)Meningkatkan motivasi belajar siswa,
d) Prinsip Individualis, dan e) Peragaan dalam pembelajaran. (2001: 21)

a) Melibatkan Siswa Secara Aktif
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan
kreativitas peserta didik (siswa), melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar, demikian yang dikatakan Mulyasa (2003: 105), namun dalam pelaksanaannya masih ada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas siswa. Karena, seringkali proses pembelajaran hanya guru yang aktif sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif.
Berdasarlcan uraian di atas, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar, karena siswalah yang seharusnya aktif, sebab siswa sebagai pelaku yang melaksanakan belajar.

Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal:
1) Aktivitas visual (visual activistis) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan demontrasi.
2) Aktivitaas lisan (oral aktivitis) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi.
3) Aktivitas mendengarkan (listening aktivitis) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan
4) Aktivitas gerak (moto activites) seperti senam, atletik, menari, melukis
5) Aktivitas menulis (Writing activites) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat. (Uzer Usman, 2002: 22)

Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memiliki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Yang jelas, aktivitas kegiatan murid hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi.
Perkembangan pembelajaran dewasa ini lebih banyak diarahkan dan dititik beratkan bagaimana upaya mengaktitkan siswa dalam belajar. Salah satu yang dipakai untuk pendekatan ini adalah mengenalkan dan menerapkan konsep Cara Belajar Siswa Akff (CBSA). CBSA pada hakekatnya adalah suatu konsep dalam mengembangkan proses belajar-mengajar baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Dalam CBSA tampak jelas adanya guru aktif mengajar di satu pihak dan siswa aktif dipihak lain…. (Basyiruddin Usman, 2002: 26) Basyaruddin Usaman (2002: 27) juga mengidentifikasi kadar CBSA dalam pengajaran, yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Adanya keaktifan siswa dalam menyusun dan membuat perencanaan, proses belajar-mengajar dan evaluasi.
Adanya keterlibatan intelektual- emosional siswa, baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat atau pembentukan sikap.
(a) Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk kelangsungan proses belajar-mengajar.
(b) Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar siswa, bukan sebagai pengajar atau instruktur yang mendominasi kegiatan kelas.
2) Biasanya menggunakan bermacam-macam metode atau tekhnik secara bervariasi di samping menggunakan alat dan media secara terencana dan terintegrasi dalam pengajaran.

Dengan demikian, bahwa keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan agar pembelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.
b) Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya. (A. Tabrani Rusyan, dkk, 2000: 3)
Minat juga merupakan suatu sifat yang relatif menetan pada diri seseorar.b. (Uzer Usman, 2002: 27) Maka, minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa ada minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Apabila bahan pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karer.u tidak ada daya tarik baginya. Akan tetapi, apabila bahan pelajaran menarik minat siswa, maka akan lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan siswa.
William James melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, efektif merupakan faktor yang menentukan keterkaitan siswa secara aktif dalam belajar. (2002: 22)
Dalam bukunya Succes.sful Teaching, Mursell (2002: 27) memberikan suatu klasifikasi yang berguna bagi guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa. la menggunakan 22 macam minat yang diantaranya ialah bahwa anak memiliki minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakikatnya setiap siswa berminat terhadap belajar dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat siswa terhadap belajar, yaitu dengan memanfaatkan minat yang telah ada dan membentuk minat¬minat baru pada diri siswa, dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara satu bahan pelajaran yang akan diberikan dengar. Bahan pelajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang.
Perhatian dapat diartikan sebagai peningkatan aktivitas mental terhadap suatu rangsangan tertentu. Perhatian dapat lebih memusatkan pengamatan individu kepada suatu rangsangan sehingga pengamatannya menjadi lebih efektif…. (Mohamad Surya, 2003: 107)
Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa perhatian lebih bersifat sementara dan ada hubungannya dengan minat. Perbedaannya ialah minat sifatnya menetap sedangkan perhatian sifatnya sementara adakalanya menghilang. (2002)
Dalam kegitan belajar-mengajar ada dua macam perhatian, yaitu:
1) Perhatian terpusat (terkonsentrasi), individu (siswa) yang memiliki kemampuan memberikan perhatian secara khusus kepada hal atau rangsangan tertentu.
2) Perhatian terbagi (tidak terkonsentrasi), yaitu kemampuan memberikan perhatian kepada berbagai hal atau rangsangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. (Uzer Usman, 2002: 28)
Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, guru memegang peranan yang amat penting dalam usaha menimbulkan atau meningkatkan minat dan perhatian siswa. Dengan perhatian yang besar, siswa akan melakukan pengamatan yang lebih baik, sehingga proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islamakan lebih berhasil.
Oleh karena itu, hendaknya guru selalu mengusahakan agar siswa senantiasa membcrikan perhatian yang besar.
Rangsangan-rangsangan yang dapat diberikan oleh guru unuk menarik perhatian antara lain dengan cara menggunakan berbagai metode mengajar, menggunakan alat bantu mengajar, menggunakan suara dan gaya mengajar yang baik, serta menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
c) Membangkitkan Motivasi Siswa
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran.
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabakan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Dan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesepian dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.(Uzer usman, 2001: 28)
Siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Dengan kata lain seorang siswa akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (motivasi). Dalam kegiatan ini guru dituntut memiliki kemanmpuan membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Motivasi dapat timbul dalam din individu dar. dapat pula timbul akibat pengarahan dari luar dirinya. “I’abrani Rusyan, dkk membedakan dua macam motif yaitu ekstrinsik dan intrisik
1) Motivasi Intrisik
Motivasi ini timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena telah ada dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan, dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauannya sediri.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ini timbul karena adanya rangsangan dari luar individu, apakah karena ada ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain, sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu untuk belajar.
Untuk membangkitkan motivasi siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intinsik (Uzer Usman, 2001: 29), yaitu:
1)Kompetensi (rangsangan), guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
2) Pace making (membuat tujuan sementara/ dekat), pada awal kegiatan belajar¬mengajar hendaknya guru terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK (Tujuan Intruksional Khusus) yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
3) Tujuan yang jelas.
4) Kesempurnaan untuk sulaes, guru hendaknya banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5) Minat yang besar.
6) Mengadakan penilaian atau tes, pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataannya bahwa banyak siswa yang tidak belajar kalau tidak ada ulangan. Akan tetapi jika ada ulangan barulah dengan giat siswa belajar dan menghafal agar la mendapat nilai yang baik. Maka, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat untuk siswa.

d) Prinsip Individualis
Salah satu masalah utama dalam proses belajar-mengajar ialah masalah perbedaan individual. Kesulitan ini dikarenakan siswa bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Oemar Hamalik menyebutkan bahwa Individu merupakan suatu kesatuan yang masing-masing memiliki ciri khasnya dan karena itu tidak ada dua individu sama, satu dengan yang lainnya. (2003: 180) Djamarah dan Aswan zain (2001: 1) menyatakan bahwa paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, aspek psikologis dan aspek biologis. Setiap guru memahami bahwa tidak semua murid dapat mempelajari apa-apa yang ingin dicapai oleh guru.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pengefektifan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jangan menyamaratakan semua siswa ketika sedang mengajar secara klasikal.. Pada hakekatnya hal itu kurang sesuai dengan prinsip individualis. Setidaknya guru harus menyadari bahwa setiap individu siswa memiliki perbedaan.
Oleh karena itu, guru her.daknya menyadari dan memakluminya apabila ada siswa yang cepat menerima dan memahami pelajaran yang diberikannya, atau bahkan sebaliknya ada yang lemah atau lambat dalam menerima pelajaran dan tidak cukup dengan sekali dijelaskan.
Pebedaan individual dapat dilihat dari dua segi yaitu segi horizontal dan segi vertikal.perbedaan dari segi horizontal dalam aspek mental seperti: tingUat kecerdasan, abilitas, minat, ingatan, emosional, kemauan, dan sebagainya. Perbedaan dari segi vertikal, tidak ada bentuk yang sama dalam aspek jasmaniah, seperti bentuk, ukuran, kekuatan dan daya tahan tubuh. Perbedaan-perbedaan itu memiliki keuntungan dan kelamahan. Demikian yang dikatakan Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar. (2003: 180)
Masih yang diungkapkan oleh Oemar Hamalik (2003: 181) bahwa perbedaan individual menunjukan banyak variasi dan variabilitas. Beberapa perbedaan serta ciri-cirinya:
1) Kecerdasan (Intelegence)
Siswa yang kurang tingkat kecerdasannya umumnya belajar lebih lemah. Mereka memerlukan banyak latihan yang bermakna, dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk maju dari bentuk belajar yang satu kebentuk balajar
berikutnya. Berbeda dengan siswa yang memiliki IQ in-pi, umumnya mempunyai tingkat perhatian yang lebih baik, belajar cepat, kuran(‘ memerlukan latihan, dan mampu menyelesaikan tugas dalam waktu singkat.
2) Bakat (Aptitude)
Untuk mengetahui bakat siswa diperlukan penggunaan tes bakat. Berdasarkan hasil tes dapat diperkirakan hasil belajarnya. Selain dari itu, bakat seseoarang turut menentukan perbedaan dalam hal: hasil belajar, sikap, minat dan lain-lain.

3) Keadaan jasmaniah (Physical Fitness)
Para siswa berbeda dalam tinggi, berat badan, dan koordinasi organ-organ badan lainnya. Di samping itu siswa kadang-kadang ada yang memiliki handikap, misal: penglihatan kurang jelas, punya penyakit asma, mudah sakit kepala atau gangguan penyakit tertentu lainnya. Hal tersebut akan mempengaruhi efesiensi dan kegairahan belajar, karena badannya mudah lelah sehingga kurang berminat melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian, guru harus bisa membedakan mana siswa yang bermasalah dengan kesehatannya dengan yang tidak demi efektifnya pembelajaran.

4) Penyesuaian sosial dan emosional (social and Emotional Adjastment) Karakteristik dan emosional adalah dua sifat yang erat kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya yang dapat terjadi dikalangan siswa, seperti pendiam, pemalu, pemberang, pemberani, mudah atau sulit beraksi, dan lain-lain. Hal ini berpengaruh terhadap minat, percaya diri dan keyakinan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran.
5) Latar belakang keluarga (Home Background)
Sanyak faktor yang bersumber dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu, seperti ku1_tur dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, hubungan antara kedua orang tua bek;,rja, sikap keluarga terhadap masalah-masalah sosial, realita kehidupan, dan lain-lain. Faktor-faktor ini akan memberikan pengalaman kepada anak-anak dan menimbulkan perbadaan dalam minat, apresiasi, sikap, pemahaman ekonomi, perbendaharaan bahasa, abilitas berkomunikasi dengan orang lain, modus berfikir, kebiasaan berbicara, dan pola hubungan kerjasarna dengan orang lain yang akan sangat berpengaruh dalam tingkah laku dan pembelajaran.
Beberapa teknik untuk menyesuaikan pembelajaran kesanggupan individual, dengan melakukan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Pengajaran individual; siswa diberi tugas yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
2) Tugas tambahan; siswa yang pandai mendapat tugas tambahan selain tugas yang bersifai umum, dengan demikian kondisi pembelajaran akan tetap terpelihara dengan baik.
3) Pengajaran proyek; para siswa dapat mengerjakan sesuatu dengan minat dan bakat mereka.
4) Pengelompokan menurut kesanggupan; pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing. (Basyirudin Usman, 2002:16)
Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya ditujukan kepada seoraug saja, melainkan dapat saja ditujukan kepada sekelompok siswa atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan siswa, sehingga pembelajarun Pendidikan Agama Islammemungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.
e) Peragaan dalam Pengajaran
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehinggga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. (Basyiruddin Usman, 2002: 7)
Dengan peragaan, diharapkan pembelajaran Pendidikan Agama Islamterhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya.
Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran dari pada bila siswa belajar tanpa dibantu dengan alat pengajaran.
Fungsi menggunakan alat peraga dalam belajar-mengajar.
1) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar-mengajar mempunyai fungsi sebagai alat untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif.
2) Penggunaan alat peraga tnerupttkan bagian integral dari keseluruhan situasi belajar.
3) Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integrasi dengan tujuan dan is’ pelajaran.
4) Penggunaan alat peraga lebih diutamakan untuk mempererat proses belajar¬mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru. (Nana Sujana, 2002: 31)

Dalam menggunakan alat peraga pengajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Nilai atau manfaat media pendidikan Media pendidikan yang disebut audiovisual aids menurut Encyclopedia Educasional Research memiliki nilai sebagai berikut:
(a) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
(b) Memperbesar perhatian siswa.
(c) Membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan.
(d) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa.
(e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
(f) Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
Manfaat selain yang tersebut diatas adalah: (a) Sangat menarik minat siswa dalam belajar (b) Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena tidak ingin dengan banyak perkataan, tetapi dengan memp°rlihatkan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat lain.
2) Pemilihan Alat Peraga
Willian Burton memberikan petunjuk bahwa dalam memilih alat peraga yang akan digunakan hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut:
(a) Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan-perbedan individual dalam kelompok.
(b) Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan. (c) Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu. (d) Penggunaan alat peraga disertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis dan evaluasi.
(e) Sesuai dengan batas kemampuan biaya. 3) Petunjuk penggunaan alat peraga
Kenneth H. Hoover memberikan beberapa prinsip tentang penggunaan alat audiovisual sebagai berikut:
(a) Tidak ada alat yang dianggap lebih baik.
(b) Alat-alat tertentu lebih tepat dari pada yang lain berdasarkan jenis pengertian atau dalam hubungannya dengan tuj
(c) Audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari pengajaran.
(d) Perlu diadakan persiapan yang seksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisu~,l.
(e) Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespon data yang diberikan. (f) Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
(g) Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampuan komunikasi memungkinkan balajar lebih karena adanya hubungan-hubungan.

Demikianlah beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat peraga pengajaran sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islamakan lebih efektif dibandingkan hanya dengan penjelasan lisan.

D. Karateristik Guru Pendidikan Agama
Pada prinsipnya proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara Guru dengan siswa dalam situasi pendidikan. Keberhasilan proses belajar mengajar tergantung pada guru dan siswa sebagai peran utama dalam proses itu. Guru dituntut kesabaran, keuletan, keterbukaan, dan kemampuan menciptakan situasi belajar mengajar yang mendorong siswa untuk belajar. Demikian juga siswa dituntut adanya semangat untuk belajar. Guru harus yakin bahwa siswa merupakan individu yang dapat dididik dan mempunyai potensi untuk berkembang. Guru harus memberi motivasi bagi siswa agar mempunyai minat untuk belajar. Peran guru dalam proses interaksi menentukan keberhasilan proses tersebut. Maka peran dan fungsi Guru sebagai pendamping dalam proses belajar mengajar harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan, yaitu :
1. Membuat perencanaan belajar mengajar
2. Melaksanakan segala kegiatan yang telah direncanakan
3. Mengorganisir siswa belajar
4. Menilai keberhasilan proses belajar mengajar
Selain peran guru yang akan menentukan keberhasilan proses belajar mengajar, juga peran siswa itu sendiri. Proses belajar mengajar akan lebih efektif apabila siswa lebih aktif. Siswa tidak selalu disuapi dan dijejali oleh berbagai materi pelajaran. Tetapi mereka mencari dan menemukan sendiri. Guru hanya sebagai perencana belajar, pengelola, pengarah, pasilitator, nara sumber, dan membimbing belajar. Itulah sebabnya, istilah belajar mengajar sekarang dikenal dengan pembelajaran.
Dalam buku The Learning Revolution karangan Gordon Dryden dan Dr. Jeannete Vos diuraikan beberapa prinsip pokok revolusi pembelajaran, antara lain :
a. Efektivitas belajar erat terkait dengan suasana belajar yang menyenangkan. Prinsip ini ditekankan, karena otak tak bisa memperhatikan semua hal. Pelajaran yang tidak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak diingat.
b. Pembelajaran mandiri adalah kunci utama. Prinsip pokok disini, pembelajaran mandiri sebagai kunci utama dalam belajar. Dengan memberi contoh keberhasilan pendidikan Montesori, penulis buku ini menyatakan, jika kita menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecilpun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.
c. Pentingnya pendidikan pra sekolah dan orang tua sebagai guru pertama. Buku ini menunjukkan 50 persen kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya, 30 persen lainnya dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. ( HU. Republika 2003 )
1. Syarat-syarat Menjadi Guru
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untukmelakukan kekgiatan atau pekerjaan sebagai guru (M. Uzer Usman: 2001:5). Orang yang pandai berbicara pada bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Oleh sebab itu, untuk melakukan tugas sebagai guru, tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Sebagai guru harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam UU No. 12 tahun 1954 Pasal 15 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran yang berbunyi :
“ Syarat utama menjadi guru, selain ijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3, pasal 4, pasal 5 undang-undang ini.”

Dalam pasal 42 ayat (1) UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan : “Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.
Dari pasal-pasal tersebut, dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat menjadi guru adalah :
a. Berijazah
b. Sehat jasmani dan rohani
c. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
d. Bertanggung Jawab
e. Berjiwa nasional

Secara singkat, syarat-syarat tersebut diuraikan di bawah ini.
a. Berijazah
Yang dimaksud dengan ijazah disini ialah ijazah yang memberi wewenang untuk menjalankan tugas sebagai guru di suatu sekolah tertentu. Ijazah adalah surat bukti yang menunjukkan bahwa seseorang telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan-kesanggupan yang diperlukannya untuk suatu jabatan atau pekerjaan.

b. Sehat Jasmani dan Rohani
Sehat jasmani dan rohani adalah salah satu syarat yang penting bagi tiap-tiap pekerjaan. Orang tidak dapat melakukan tugasnya jika badannya selalu sakit.
Seorang guru yang berpenyakit menular misalnya, akan membahayakan kesehatan anak-anak didik. Seorang guru yang cacat akan menjadi bahan tertawaan, ejekan dan cercaan anak-anak. Hal ini akan berakibat buruk bagi kegiatan belajar mengajar.
c. Taqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pembinaan ketakwaan tidak mungkin dapat diberikan oleh orang yang tidak berketuhanan Yang Maha Esa dan taat menjalankan agamanya. Pembentukan manusia susila yang takwa hanya mungkin diberikan oleh orang-orang yang memiliki dan hidup sesuai dengan norma-norma agama dan masyarakat serta peraturan-peraturan yang berlaku.

d. Bertanggung jawab
Pembentukan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab merupakan tugas yang tidak mudah dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang berjiwa demokratis dan bertanggung jawab pula. Oleh karena itu seorang guru haruslah orang yang bertanggung jawab. Tanggung jawab terhadap tugas sebagai pendidik/pengajar, tanggung jawab terhadap tugas lain dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.
e. Berjiwa Nasional
Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan adat istiadat memerlukan jiwa nasionalisme demi persatuan dan keutuhan bangsa. Untuk menanamkan perasaan kebangsaan itu merupakan tugas guru Pendidikan Agama dan para pendidik umumnya.
Pendidikan nasional tidak dapat diberikan oleh orang yang a-nasional Maka guru harus berjiwa nasional merupakan syarat penting untuk mendidik anak-anak.

2. Sikap dan Sifat Guru Pendidikan Agama
Di atas telah diuraikan syarat-syarat guru secara umum. Di samping itu tentu saja masih banyak syarat-syarat yang harus dimiliki supaya tugas dan pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik, khususnya bagi guru Pendidikan Agama. Syarat-syarat itu antara lain :
a. Bersikap adil
Dalam memperlakukan anak didiknya guru harus bersikap adil. Guru tidak boleh membedakan perlakuan terhadap anak cantik, anak pejabat, saudara sendiri, atau anak kesayangannya. Termasuk dalam memberi nilai atau hukuman.
b. Percaya dan Suka kepada Anak
Setiap anak didik mempunyai kemauan dan kata hati seperti halnya pada orang dewasa. Namun kemauan dan kata hati pada anak masih lemah dibandingkan dengan kata hati orang dewasa. Maka tugas gurulah yang harus membentuk kemauan dan kata hati anak ke arah yang lebih baik. Syaratnya ialah guru harus percaya kepada anak didiknya. Jangan terlalu menaruh curiga terhadap mereka.
Guru harus menyukai anak didik. Mereka masih dalam keadaan bodoh, dangkal dan kurang pengalaman. Oleh karenanya guru harus menghilangkan sifat-sifat tersebut.

c. Penyabar
Hasil pekerjaan guru tidak dapat dilihat seketika. Pekerjaan mendidik tidak dapat disamakan dengan pekerjaan lain seperti membangun gedung, membuat jembatan, mencetak kue dan lain-lain yang hasilnya dapat dilihat pada waktu itu juga. Hasil pendidikan dapat dilihat setelah beberapa tahun bahkan puluhan tahun yang akan datang, atau setelah anak mencapai dewasa dan hidup di masyarakat. Semua itu memerlukan kesabaran dan kerelaan dari seorang guru.
d. Berwibawa
Seorang guru harus mempunyai wibawa terhadap anak didik. Pendidikan tidak mungkin masuk kedalam hati anak tanpa wibawa. Tanpa kewibawaan murid-murid hanya akan menuruti kehendak gurunya karena takut atau karena paksaan, bukan karena berdasarkan dari dalam dirinya.
e. Menguasai bahan pelajaran
Bagaimana mungkin seorang guru akan memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya dengan benar dan berhasil apabila guru itu sendiri kurang atau tidak menguasai pelajaran yang dipegangnya.
Ilmu pengetahuan selalu berkembang sesuai dengan jaman. Oleh karena itu guru tidak cukup hanya menguasai ilmu yang hanya didapatnya waktu dulu. Maka supaya seorang guru menguasai ilmu dan wawasan yang luas harus selalu menuntut dan mencari ilmu dan belajar agar tidak ketinggalan jaman.
f. Menyukai mata pelajaran yang diberikan
Seorang guru yang tidak menyukai mata pelajaran yang diajarkan-nya akan berpengaruh buruk bagi sikap anak terhadap pelajaran itu. Bila motivasi guru tidak ada, maka dapat dipastikan bahwa motivasi anak terhadap pelajaran itu akan lebih jelek dari pada gurunya. Oleh karena itu guru harus menyukai pelajaran yang diberikan kepada anak didiknya. Mengajarkan pelajaran yang disukai akan lebih baik hasilnya dan akan mendatangkan kegembiraan baginya.
g. Luas pengetahuan
Selain mempunyai pengetahuan yang luas dalam mata pelajaran yang menjadi tugasnya, akan lebih baik jika guru mempunyai pengetahuan yang luas tentang segala sesuatu yang penting-penting yang ada hubungannya dengan masyarakat dan perkembangan zaman.

E. Kedisiplinan
1. Pengertian Disiplin
Disiplin siswa dalam suatu sekolah merupakan bagian dari pengelolaan kelas, dan masalah kedisiplinan adalah sesuatu yang memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak sekolah khususnya dari guru Pendidikan Agama untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Tanpa kedisiplinan sukar bagi sekolah memperoleh prestasi yang optimal.
Menurut Lembaga Ketahanan Nasional dalam bukunya Disiplin Nasional pengertian disiplin dijelaskan sebagai berikut :
Koreksi dan sanksi. Arti disiplin dalam kaitannya dengan koreksi atau sanksi terutama diperlukan dalam suatu lembaga yang telah mempunyai tata tertib yang baik. Bagi yang melanggar tata tertib dapat dilakukan dua macam tindakah, yaitu berupa koreksi untuk memperbaiki kesalahan dan berupa sanksi. Keduanya harus dilaksanakan secara konsisten untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan pelanggaran terhadap norma dan kaidah yang telah disepakawti bersama. Hal ini dilakukan mengingat orang cenderung berprilaku sesuka hatinya. ( Lemhanas, 1977 : 11 ).

Sedangkan menurut Webster’s new world dictionary ( Oteng Sutisna, 1993 : 110 ) pengeritan disiplin adalah :
1. Latihan yang mengembangkan pengendalian diri, karakter atau keadaan serba teratur dan efisien.
2. Hasil latihan serupa itu pengendalian diri, prilaku yang tertib.
3. Penerimaan atau ketundukan kepada kekuasaan dan kontrol
4. Prilaku yang menghukum atau memperbaiki.

Dari kedua pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa disiplin terbagai menjadi dua yaitu : disiplin positif dan disiplin negatif. Disiplin positif yaitu keadaan yang teratur yang merupakan hasil pengembangan, karakter, pengenalan diri, keadaan teratur dan efisien dalam disiplin individu atau kelompok patuh pada peraturan atau tata tertib kesadaran atau kemauan sendiri. Prilaku seperti itu bukan takut karena ancaman atau hukuman tetapi karena mereka menghendakinya.
Disiplin negatif adalah orang-orang secara individu atau secara kelompok dalam keadaan disiplin patuh pada peraturan dan tata tertib karena takut pada ancaman atau hukuman. Hukuman diberikan pada pelanggar peraturan untuk menakut-nakuti agar tidak mengulangi perbuatan yang serupa.
Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani memberi pengertian mengenai disiplin sebagai berikut :
Disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditujukan untuk membantu murid agar ia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan dan juga penting tentang dara menyelesaikannya. ( Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, 1999 ).

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pengaruh-pengaruh yang positif bagi siswa baik dari guru maupun lingkungannya maka secara spontan murid akan menyesuaikan diri dengan lingkungan itu. Sebagai contoh : bila seorang guru setiap kali mengajar masuk tepat waktu, maka muridnyapun akan masuk tepat waktu. Mereka akan mencontoh pribadi dan prilaku gurunya. Begitu pula di lingkungan anak. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang kurang disiplin, maka pribadi anak itu tidak akan jauh berbeda dengan lingkungannya. Kedisiplinan dalam lingkungan akan membawa dampak dan pengaruh dalam kedisiplinan pada kegiatan belajar di sekolah.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan
Dalam dunia siswa sebagai remaja perkembangan kesadaran moral dipengaruhi oleh banyak faktor. Perkembangan dapat berjalan lancar apabila ada rangsangan sosial agar ia memiliki kemampuan menentukan suatu perannya dalam pergaulan dan mampu dalam menjalankan peran tersebut. Makin banyak peran yang dimainkan, makin banyak pengalaman yang merangsang perkembangan moral.
Kesadaran moral siswa sebagai remaja terhadap kedisiplinan di sekolah menuntut kebebasan dalam pelaksanaan kewajiban dan kepatuhan siswa serta adanya peraturan.
Dalam dunia pendidikan formal, aparat sekolah terutama guru mempunyai tugas dalam menanamkan kesadaran moral siswa terhadap penegakan disiplin sekolah dengan cara mengajarkan dan menanamkan nilai moral melalui proses pembelajaran yang dilaksanakannya.
Disiplin dalam proses pembelajaran yang kurang mantap dapat merupakan suatu kelemahan dalam menyelenggarakan pembangunan nasional khususnya pembangunan dalam bidang pendidikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin anak antara lain :
a. Nilai budaya bangsa
b. Kebiasaan dalam keluarga
c. Tinggi rendahnya tingkat disiplin pihak sekolah ( lingkungan pendidikan ).
d. Penerapan sanksi bagi pelanggar peraturan / tata tertib.
Pada era reformasi saat ini kita sering mendengar bahkan menyaksikan sendiri bagaimana rendahnya disiplin bangsa mulai dari elit politik sampai kepada rakyat jelata. Para elit politik saling mencaci dan saling menjatuhkan tanpa mengindahkan norma-norma dan kesusilaan. Para penguasa sering bertindak arogan tanpa menghiraukan kritik dan saran dari para politisi, bahkan tidak mau mendengar jerit dan tangis rakyat dan bangsa yang sedang menderita karena krisis multi dimensi. Begitu pula disiplin warga masyarakat kian lama kian merosot. Sering bertindak tanpa didasari oleh suatu pemikiran yang rasional. Penjarahan, penebangan hutan, tawuran antar kampung, main hakim sendiri, bahkan perang dan saling membunuh antarsuku sudah merebak di berbagai daerah di Indonesia. Tak ketinggalan dikalangan pelajar. Tawuran sering terjadi antarsekolah. Para pelajar dan mahasiswa sudah menjadi pelanggan obat-obatan terlarang.
Sejumlah asumsi yang menjadi penyebab lemahnya disiplin nasional menurut Lemhanas ( 1997 : 31 ) adalah :
1. Apakah pelbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia kurang sesuai sehingga kurang efektif, atau penerapan dan sanksinya tidak dilaksanakan secara konsisten.
2. Atau mungkin karena masyarakat sekarang lebih permisi, dimana batas antara baik an buruk, salah dan benar sudah tidak begitu jelas dan kabur.
3. Atau mungkin otoritas para pejabat dan para pemimpin diberbagai lapisan masyarakat bobot pengaruhnya sudah pudar sehingga orang cenderung berbuat semaunya, dan tidak berusah menahan dorongan-dorongan yang impulsif serta tidak mampu mengarahkan prilaku dan keinginannya pada tujuan yang berguna dan dapat diterima oleh masyarakat luas.
4. Masalah disiplin nasional dapat pula dilihat dari sudut sistem pendidikan yang kurang merangsang para anak didik untuk mandiri, kreatif dan bertanggung jawab.

Untuk membentuk sikap hidup bangsa yang mencerminkan kepatuhan dan ketaatan pada konstitusi dan perundang-undangan negara demi tercapainya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tertib, teratur dan dinamis, perlu dicarikan langkah-langkah pembinaan yang tepat. Strategi dan pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia khususnya para penguasa dan penegak hukum.
Dalam tulisan ini tidak akan menguraikan langkah pembinaan secara nasional, tetapi hanya dalam lingkup sekolah.
3. Pembinaan Disiplin Sekolah
Disiplin memegang peranan penting dalam kehidupan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, yaitu manusia yang bertanggung jawab, analitis dan kritis. Tanpa disiplin, siswa tidak mempunyai patokan apa yang dianggap baik dan buruk dalam tindakan hidup bermasyarakat.
Lemhanas mengemukakan mengenai pembinaan disiplin sebagai berikut :
Pembinaan disiplin bukanlah sesuatu yang mudah, karena mendisiplinkan seseorang dan kelompok masyarakat dalam arti luas, berarti menanamkan kesadaran, pemahaman dan penghayatan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tertib dan teratur. Mengajarkan agar menghargai hak dan kewajiban, kekuasaan, kewenangan dan pengaturan berdasarkan tatanan kehidupan yang disepakati bersama, dengan kata lain berarti suatu pembudayaan. Disiplin tidak dapat ditanamkan dalam waktu yang singkat, karena itu pembinaannya harus dimulai sejak masa kanak-kanak. ( 1997 : 35 ).

Mengingat peliknya pembinaan disiplin dalam arti luas, maka perlu kita carikan strategi pembinaan dan peneguhan disiplin khususnya di lingkungan siswa. Untuk itu Depdikbud ( 1998 : 5 ) merumuskan melalui ruang lingkup Gerakan Disiplin Nasional dikalangan siswa di sekolah meliputi peningkatan :
a. Budaya tertib :
1) Tertib antri / baris sebelum memasuki kelas
2) Tertib meninggalkan ruangan kelas
3) Tertib dalam berdoa bersama sebelum / sesudah belajar
4) Tertib meninggalkan gerbang sekolah
5) Tertib antri dalam pelayanan sekolah
6) Tertib dalam mengikuti upacara bendera
b. Budaya bersih :
1) Bersih lingkungan sekolah :
a) Tidak membuang sampah di sembarang tempat
b) Tidak mencoret-coret di tempat yang tidak selayaknya
2) Bersih badan dan pakaian
3) Bersih ruangan kelas
c. Budaya belajar :
1) Belajar secara tertib di kelas, masuk / keluar kelas tepat waktu
2) Memanfaatkan waktu luang untuk belajar menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan.
3) Melaksanakan tugas sekolah secara sungguh-sungguh
4) Memanfaatkan perpustakaan sekolah secara baik dan optimal.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan di sekolah dalam rangka penegakan disiplin di kalangan siswa antara lain :
1. Pemberitahuan
Pemberitahuan disampaikan kepada siswa yang melanggar tetapi ia tidak tahu bahwa perbuatan itu melanggar.
2. Teguran
Teguran diberikan kepada siswa yang melanggar aturan satu atau dua kali.
3. Peringatan
Bila seorang siswa telah beberapa kali melakukan pelanggaran dan mendapat pemberitahuan dan teguran, maka perlu diberi peringatan yang disertai dengan ancaman dan sanksi bila melakukan pelanggaran kembali.

4. Hukuman
Tindakan terakhir yang dilakukan oleh guru terhadap siswa yang melakukan pelanggaran adalah hukuman apabila siswa sudah tidak menghiraukan akan pemberitahuan, teguran dan peringatan.

1. Metode, Media, Sumber dan Evaluasi dalam Pendidikan Agama
a. Metode Mengajar
Dengan metode disini dimaksudkan adalah cara atau teknik melalui bahan pelajaran tertentu yang disajikan kepada siswa. Berhubung teknik penyajian ini sangat berpengaruh terhadap tingkat hasil yang hendak dicapai, perlu sekali dipikirkan secara seksama metode mana yang paling tepat untuk mengajarkan bahan tertentu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Mengingat tidak adanya satu metode yang efektif untuk segala situasi, maka disarankan agar didalam mengajarkan suatu bidang studi dipergunakan kombinasi dari beberapa metode sesuai dengan tujuan-tujuan khusus yang akan dicapai.
Metode mengajar disini dimaksudkan ialah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh guru pada waktu mengajar. Langkah-langkah tersebut banyak sekali ragamnya karena hampir setiap akhli mengemukakan pendapatnya sesuai dengan pandangannya masing-masing. Oleh karena itu dalam tulisan ini penulis akan menyampaikan beberapa pola mengajar untuk dijadikan bahan perbandingan :
1. Pola umum yang biasa dilakukan, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
– Fase pengenalan murid
– Fase pelaksanaan
– Evaluasi / penilaian
2. Teori formal step yang dikemukakan oleh Herbart :
– Preparation / persiapan
– Presentation / penyajian
– Asosiasi / fase comparation
– Generalisasi
– Aplication
3. Metode proyek yang dikemukakan oleh Morrison :
– Langkah explorasi, biasa dengan bentuk tugas, tes, atau diskusi tentang suatu masalah
– Prestasi / langkah penyajian
– Asimilasi, siswa mengadakan penyelidikan terhadap masalah
– Organisasi, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan secara lisan / tulisan tentang materi yang telah dimilikinya.
– Resitasi, dimana siswa telah memahami masalah sedalam-dalamnya.
4. Pola Decroly, melalui tiga langkah :
– Fase observase aktif
– Fase assosiasi
– Fase expresi / pencurahan
5. Problem solving, dengan melalui lima langkah :
– Ada masalah yang akan dipecahkan
– Mengumpulkan data / keterangan
– Menetapkan praduga-praduga / jawaban sementara
– Menguji praduga
– Menarik kesimpulan

Persoalan pola mana yang akan dipergunakan guru pada waktu pembelajran, hal ini tergantung kepada guru itu sendiri. Satu hal yang perlu diperhatikan pada waktu memproses murid dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar ialah penggunaan metode mengajar.

b. Jenis-jenis metode mengajar :
Jenis metode mengajar ini sebenarnya banyak. Namun dalam hal ini penulis hanya akan menguraikan beberapa macam saja, yang sering digunakan dalam pelajaran-pelajaran lain dan dapat juga digunakan dalam memberikan pelajaran Pendidikan Agama.
Metode-metode berikut ini dapat dipertimbangkan atas dasar sejauh mana dapat memberi kelancaran jalan mencapai tujuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan melalui minat siswa :
1. Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah penerapan dan penuturan secara lisan oleh guru.
Dalam pelaksanaan mengajar dengan metode ini, guru berbicara dan murid mendengarkan atau mencatat masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh guru. Alat utama yang dipergunakan guru untuk menyampaikan bahan-bahan pelajaran ialah dengan berbicara. Akan tetapi walaupun demikian guru dapat pula menggunakan alat-alat bantu seperti : gambar-gambar, skema, peta, data statistik dan lain sebagainya.
Apabila hendak mempergunakan metode ceramah, sebagaimana pula dengan metode-metode lain, guru harus mempersiapkan bahan yang akan disampaikan itu betul-betul menarik. Artinya bahwa bahan yang disampaikan itu telah diolah guru sehingga dapat membangkitkan minat siswa. Untuk mengetahui baik tidaknya ceramah yang kita sampaikan itu dapat dilihat sejauh mana bahan yang kita sampaikan dapat mengikat perhatian siswa.
Selanjutnya guru harus dapat menyesuaikan bahan dengan waktu yang tersedia. Tidak boleh terlalu menyimpang sehingga pembicaraan akan bergeser dari materi yang dipersiapkan, dan tidak kaku sehingga pembicaraan menjadi hambar. Humor dan cerita jenaka dalam batas-batas tertentu sangat diperlukan untuk variasi pembicaraan.
Jadi guru harus dapat menyesuaikan bahan dengan waktu yang tersedia tetapi dengan cara yang menarik, disamping bahan itu sendiri sesuai dengan perkembangan anak.
Kebaikan-kebaikan metode ini sebagai berikut:
a. Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walaupun jumlah siswa cukup banyak.
b. Organisasi kelas lebih sederhana, artinya tidak perlu mengadakan pengelompokan siswa seperti pada metode lain.
c. Materi yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan oleh guru dalam waktu yang singkat.
Kelemahannya adalah :
a. Ada kemungkinan siswa-siswa salah dalam mengambil kesimpulan, berhubung guru yang menyampaikan bahan itu terutama dengan lisan.
b. Guru sulit untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap bahan yang ia berikan.
c. Sulit pula untuk mengetahui siswa-siswa yang kurang berpartisipasi terhadap kegiatan kelas.

2. Metode Tanya Jawab
Dalam pelaksanaan metode ini guru bertanya dan murid menjawab atau sebaliknya. Adapun jenis-jenis pertanyaan yang dikemukakan sebaiknya :
a. Sebagai ulangan pelajaran yang telah diberikan
b. Untuk merangsang siswa agar perhatiannya tercurah kepada masalah yang sedang dibicarakan.
c. Sebagai selingan dalam pembicaraan
d. Untuk mengarahkan proses berfikir siswa.
Metode ini tidak efektif untuk menilai hasil belajar, sebab guru mengajukan pertanyaan yang berbeda-beda kepada setipa anak, yang bobot pertanyaan tersebut mungkin berbeda-beda pula. Sedangkan untuk mengevaluasi hasil belajar anak, pertanyaan-pertanyaan yang sama ditujukan kepada kelas pada waktu yang sama pula.
Dalam metode ini, pertanyaan hendaknya ditujukan kepada seluruh kelas. Maksudnya agar semua siswa turut memikirkan jawabannya. Jawaban harus jelas terdengar oleh semua siswa di kelas itu, agar siswa lain dapat menilainya. Bila ternyata siswa yang telah ditunjuk oleh guru itu salah, guru menunjuka siswa yang lain untuk menjawabnya. Demikian seterusnya.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam metode ini, yaitu guru harus menunjuk siswa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara merata, dan tidak terbatas kepada siswa yang mengangkat tangan saja. Siswa-siswa yang tidakpun harus ditanya.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Kelas akan hidup karena siswa aktif berfikir dan menyampaikan fikirannya dengan melalui berbicara.
b. Baik sekali untuk melatih siswa agar berani mengemukakan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
c. Timbulnya perbedaan pendapat diantara siswa, atau diantara siswa dengan guru, akan membawa kelas kepada situasi diskusi.
Kelemahan-kelemahannya adalah :
a. Apabila terjadi perbedaan pendapat akan memakan banyak waktu untuk menyelesaikannya.
b. Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian anak, terutama apabila terdapat jawaban-jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, tetapi bukan sasaran yang dituju.
Dalam menyusun pertanyaan hendaknya dihindari semacam pertanyaan yang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak” saja.

3. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Dalam menggunakan metode ini lebih banyak memperagakan sesuatu dan penjelasan lisan hanya bila dianggap perlu. Jadi yang menjadi dasar dari metode ini yaitu memperlihatkan suatu proses. Adapun yang memperlihatkan proses itu boleh guru, siswa, atau orang lain. Selanjutnya dengan eksperimen dimaksudkan bahwa guru atau siswa mencoba untuk mengerjakan sesuatu, serta mengamati proses dan hasil percobaan itu.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Perhatian anak akan terpusat kepada semua yang didemontrasikan.
b. Karena pengamatan anak langsung kepada suatu proses, maka akan mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan.
c. Dengan metode ini sekaligus akan dapat menjawab masalah-masalah yang
Kelemahan-kelemahannya diantaranya adalah :
a. Metode ini kurang efektif bila kurang alat, atau alat-alatnya kurang sesuai dengan kebutuhan.
b. Dalam demontrasi dan eksperimen biasanya memerlukan banyak waktu.
c. Metode ini sukar dilaksanakan bila siswa belum matang untuk melaksanakan eksperimen.
d. Banyak alat-alat yang tidak dapat didemontrasikan dalam kelas, karena besarnya atau karena harus dibantu oleh alat-alat yang lain.

4. Metode Karyawisata
Dalam metode ini guru membawa siswa-siswanya untuk belajar di luar kelas. Karyawisata disebut pula darmawisata atau field trip, tetapi berbeda dengan piknik atau tamasya. Sebab piknik atau tamasya itu lebih menitik beratkan pada hiburan.
Metode karyawisata biasanya bertujuan untuk mempelajari satu masalah tertentu. Tetapi walaupun demikian, hasil karyawisata berguna pula untuk segi-segi pendidikan lain.
Apabila kita hendak mengadakan karyawisata harus mengadakan persiapan yang matang, terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan keamanan, kesehatan, fasilitas, alat-alat belajar, rencana evaluasi dan sebagainya.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Siswa-siswa dapat mengambil langsung terjadinya suatu proses atau keadaan suatu benda. Dengan demikian pemahaman siswa atau suatu masalah akan lebih objektif.
b. Daslam karyawisata banyak hal yang sekaligus dapat diamati
c. Seluruh pribadi siswa terlibat dalam suatu kegiatan
d. Para siswa berkesempatan mengadakan eksperimen
Kelemahan-kelemahannya :
a. Karyawisata memerlukan persiapan yang matang, mengingat proses belajar terjadi di luar kelas.
b. Karyawisata memerlukan waktu yang banyak, apabila tempat yang akan dikunjungi itu jauh.
c. Organisasi karyawisata lebih rumit, karena siswa di luar kelas merasa lebih bebas.
d. Perhatian siswa mungkin akan beralih dari objek yang sedang dihadapi, terutama apabila ada perangsang yang menarik perhatian mereka.
e. Biasanya memerlukan fasilitas yang banyak.
5. Metode Dramatisasi
Para siswa disuruh berperan dalam suatu rangkaian cerita, sedangkan guru mengarahkan dan membimbing agar siswa dapat melaksanakan peran sesuai dengan tema cerita, dan siswa yang lain mengikuti dengan seksama.

c. Pemilihan suatu metode
Bilamana guru telah melakukan tugas mengajar di dalam kelas, maka ia telah berkomunikasi dengan siswa dalam kelas itu. Dalam rangka pemilihan metode yang sesuai, pertama kali yang perlu ditinjau adalah apa yang ingin dicapai dalam program itu serta isi pendidikan apa yang paling relevan untuk tujuan tersebut. Kedua hal itu akan mempengaruhi jenis metode yang akan dipilih dalam proses pembelajaran.
Kombinasi berbagai metode dalam memberikan pelajaran adalah yang sering digunakan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Metode merupakan jembatan yang dapat menghubungkan komunikator ( guru ) dan komunikan ( siswa ). Dengan kata lain metode adalah alat untuk mencapai tujuan.
Agar metode tersebut dapat bekerja dengan efektif, maka guru sebagai penanggung jawab penggunaan metode perlu memperhatikan beberapa faktor, antara lain :
a. Kondisi anak didik
b. Materi pelajaran yang hendak disajikan
c. Situasi kegiatan belajar
d. Alat-alat yang tersedia
e. Kemampuan guru dalam menggunakan metode
f. Tujuan penggunaan metode

D. Media Pengajaran
Salah satu bagian dari sumber belajar ialah media pengajaran. Jenis media ini dapat dibagi menjadi :
1. Media dengar ( media auditif ) yaitu media yang hanya dapat didengar seperti : radio, tape recordere, piringan audio
2. Media pandang ( Media visual ) yaitu media yang hanya dapat dilihat, seperti : gambar, film, slide, peta.
3. Media pandang dengar, yaitu media yang dapat dipandang dan didengar, seperti : televisi dan video.
Semua media itu ada yang sederhana, ada yang komplek. Artinya : ada media yang bahan dasar dan pembuatannya serta penggunaannya tidak sulit. Ada media yang bahan dasarnya sulit diperoleh, harganya mahal, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang cukup. Tetapi baik yang sederhana maupun yang komplek, semua media itu mempunyai nilai praktis dalam pengajaran. Mahfud Surawinata mengemukakan nilai praktis media pengajaran sebagai berikut :
1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit dari konsep yang abstrak ( menghilangkan vebalisme )
2. Dapat menampilkan obyek-obyek yang besar dan tidak mungkin dapat dibawa ke dalam kelas ( melalui tiruan, foto, film, dll )
3. Membangkitkan motivasi siswa
4. Memungkinkan siswa untuk berinteraksi sebanyak-banyaknya, sehingga kadar aktivitas lebih tinggi.
5. Bahan pengajaran dapat diulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.
6. Dapat menampilkan obyek-obyek yang langka ( gerhana matahari, gerhana bulan, gerhana total, bintang kutub, dsb ).
7. Dapat menampilkan obyek yang suliat diamati oleh mata telanjang ( dapat menggunakan alat mikroskop ).

Melihat besarnya nilai media dalam pengajaran, maka menjadi suatu keharusan bagi setiap guru berupaya menyediakan dan menggunakan media pengajaran.
F. Sumber Belajar
Sumber belajar yang pokok pada kegiatan belajar mengajar ialah bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang telah baku yang biasanya ditampilkan dalam buku paket, video, tape recoredere, bola dunia, peta, film dan lain-lain. Namun di luar itu masih ada sumber-sumber belajar yang lain seperti : manusia, bahan / materi, lingkungan / alam sekitar, alat dan perlengkapan.
Sumber belajar berupa manusia ada yang dipersiapkan secara khusus seperti guru dan tutor, dan ada pula yang tidak dipersiapkan secara khusus tetapi ada kaitannya dengan bahan pengajaran. Begitu pula dalam hal lingkungan. Ada yang dipersiapkan secara khusus seperti gedung sekolah, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, dsb. Ada pula lingkungan / ruangan yang tidak didesign untuk pendidikan seperti kebun binatang, musium, pabrik, dll.
Penggunaan dan pemanfaatan sumber-sumber belajar itu sangat tergantung kepada kreatifitas guru, biaya, dan waktu yang tersedia.

G. Evaluasi
Evaluasi pengajaran adalah salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar yang berfungsi untuk mengetahui hasil aktifitas pembelajaran.
Pada umumnya proses evaluasi berpusat pada siswa. Mengukur hasil belajar siswa dan menentukan peringkat siswa. Padahal evaluasi dalam pengajaran tidaklah hanya berfokus pada siswa tetapi juga “dimaksudkan untuk mengamati peranan guru, strategi pengajaran khusus, materi kurikulum, dan prinsip-prinsip belajar untuk diterapkan pada pengajaran” ( Oemar Hamalik, 2003 : 145 ).
Dalam evaluasi pengajaran dikenal istilah-istilah : evaluasi, pengukuran ( measurement ) dan assessment.
Oemar Hamalik dalam buku Proses Belajar Mengajar ( 2003 : 146 ) memberi pengertian istilah di atas sebagai berikut :
Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem mengajar / belajar sebagai suatu keseluruhan.
Measurment, pengukuran berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif siswa dan / atau tingkah laku siswa, dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma.
Assessment adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar ( achimvement ) siswa sebagai hasil dari suatu program instruksional.

Ketiga istilah itu mempunyai keterkaitan. Dan pada intinya baik evaluasi, assessment maupun measurment tidak hanya berfokus pada siswa, tetapi penilaian terhadap keseluruhan komponen yang terlibat di dalamnya. Guru, siswa, kurikulum, bahan ajar, metode, alat bantu, dll termasuk yang harus dievaluasi.
Dilihat dari fungsinya, Oemar Hamalik menjelaskan enam fungsi pokok dari evaluasi sebagai berikut :
1. Fungsi edukatif : Evaluasi adalah suatu subsistem dalam pendidikan yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan sistem dan / atau salah satu subsistem pendidikan. Bahkan dengan evaluasi dapat diungkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam proses pendidikan.
2. Fungsi institusional : Evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat tentang input dan output pembelajran disamping proses pembelajaran itu sendiri.
3. Fungsi diagnostik : Dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
4. Fungsi administratif : Evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang pada gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi ( tanda kelulusan ) dan untuk melanjutkan studi lebih lanjut dan / atau untuk kenaikan kelas.
5. Fungsi kurikulum : Evaluasi berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan berdaya guna bagi pengembangan kurikulum ( perencanaan, uji coba di lapangan, implementasi, dan revisi ).
6. Fungsi manajemen : Komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam sistem manajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pimpinan untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjang manajemen.
( Oemar Hamalik, 2003 : 147 ).

Untuk mencapai sasaran evaluasi, seperti yang tersebut di atas, maka harus disusun alat evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi itu sendiri. Apakah berupa tes atau non tes. Alat evaluasi berupa tes bisa secara lisan, tulisan, atau tes tindakan / perbuatan. Sedangkan untuk non tes dapat kita gunakan angket, wawancara, studi kasus, observasi, dll.
Dalam merancang alat evaluasi hendaknya mengandung aspek-aspek :
a. Penetapan tujuan
b. Ruang lingkup bahan pelajaran
c. Menetapkan bobot kesukaran
d. Menetapkan ranah tes. Pengetahuan, pemahaman atau aplikasi
e. Banyak dan jenis soal serta waktu yang digunakan.
Seorang guru hendaknya memahami benar seluk beluk masalah evaluasi. Mengetahui fungsi, tujuan, ranah, alat dan lain-lain tentang evaluasi, maka apa yang dikerjakan guru tidaklah akan sia-sia. Banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: