Pesantren dan Tarekat Martin Van Bruinessen

6 04 2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penulisan Buku

Latar Belakang penulisan buku Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat bertujuan untuk menggambarkan intensitas pencarian kebenaran ilmiah berupa berbagai aspek kehidupan Islam di negeri ini yang dilakukan oleh pakar kajian Islam dari Belanda yaitu Martin Van Bruinessen. Hal ini disajikan dengan pemaparan yang mudah dimengerti. Martin Van Bruinessen memiliki jangkauan sangat luas dan refleksi sangat dalam akan kondisi kehidupan kaum Muslim sendiri.
Dari pengalamannya yang sangat

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penulisan Buku
Latar Belakang penulisan buku Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat bertujuan untuk menggambarkan intensitas pencarian kebenaran ilmiah berupa berbagai aspek kehidupan Islam di negeri ini yang dilakukan oleh pakar kajian Islam dari Belanda yaitu Martin Van Bruinessen. Hal ini disajikan dengan pemaparan yang mudah dimengerti. Martin Van Bruinessen memiliki jangkauan sangat luas dan refleksi sangat dalam akan kondisi kehidupan kaum Muslim sendiri.
Dari pengalamannya yang sangat mendalam akan tradisi keilmuan Islam ulama-ulama Kurdi, Martin Van Bruinessen mampu menelusuri perjalanan tradisi kehidupan Islam ke kawasan Asia Tenggara melalui jalur penularan ilmu-ilmu agama di tanah Arabia
Saya harap, buku ini tetap memperoleh simpati dan perhatian yang besar dari pembaca. Semangat besar buku ini tetap menghendaki dan bertujuan bagaimana berbagai aspek kehidupan Islam dibingkai dalam rumpun kehidupan yang ideal dan dinamik, semoga buku ini tetap tertransformasikan dan tertransmisikan ke khalayak dengan tepat.

Biografi Penulis
Dr Martin van Bruinessen, lahir di Schoonhoven Belanda pada 1946. Belajar fisika teoritis dan matematika di Universitas Utrecht. Pada 1978 ia berhasil mempertahankan disertasi doktornya Agha, Shaikh and State, hasil penelitiannya tentang gerakan sosial keagamaan minoritas Kurdi di Turki, Iran dan Irak. Mulai menapakkan kaki di Indonesia pada 1980 meneliti kemiskinan kota dan gerakan Islam, lalu menjadi konsultan metodologi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk sebuah penelitian besar tentang Pandangan Hidup Ulama Indonesia.Pada 1991 ditunjuk INIS sebagai dosen Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini mengajar pada Faculteit der Letteren Universiteit Utrecht Belanda.

ISI BUKU
Susunan isi buku ini abstraksinya dapat terlihat dalam uraian berikut ini:
Bagian pertama menggambarkan tentang pendidikan tradisional Islam di Indonesia. Unsur-unsur kunci Islam tradisional adalah lembaga pesantren sendiri. Suatu hal yang tidak terlepas dalam wacana pendidikan di Indonesia adalah Pondok Pesantren. Ia adalah model sistem pendidikan pertama dan tertua di Indonesia. Keberadaannya mengilhami model dan sistem-sistem yang ditemukan saat ini. Ia bahkan tidak lapuk dimakan zaman dengan segala perubahannya. Karenanya banyak pakar, baik lokal maupun internasional melirik Pondok Pesantren sebagai bahan kajian. Tidak jarang beberapa tesis dan disertasi menulis tentang lembaga pendidikan Islam tertua ini.
Di antara sisi yang menarik para pakar dalam mengkaji lembaga ini adalah karena “modelnya”. Sifat keislaman dan keindonesiaan yang terintegrasi dalam pesantren menjadi daya tariknya. Belum lagi kesederhanaan, sistem dan manhaj yang terkesan apa adanya, hubungan kyai dan santri serta keadaan fisik yang serba sederhana. Walau di tengah suasana yang demikian, yang menjadi magnet terbesar adalah peran dan kiprahnya bagi masyarakat, negara dan umat manusia yang tidak bisa dianggap sepele atau dilihat sebelah mata. Sejarah membuktikan besarnya konstribusi yang pernah dipersembahkan lembaga yang satu ini, baik di masa pra kolonial, kolonial dan pasca kolonial, bahkan di masa kini pun peran itu masih tetap dirasakan.
Dalam catatan sejarah, Pondok Pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman Walisongo. Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.
Pesantren Ampel merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing. Maka didirikanlah pondok-pondok pesantren dengan mengikuti pada apa yang mereka dapatkan di Pesantren Ampel.
Kesederhanaan pesantren dahulu sangat terlihat, baik segi fisik bangunan, metode, bahan kajian dan perangkat belajar lainnya. Hal itu dilatarbelakangi kondisi masyarakat dan ekonomi yang ada pada waktu itu. Yang menjadi ciri khas dari lembaga ini adalah rasa keikhlasan yang dimiliki para santri dan sang Kyai. Hubungan mereka tidak hanya sekedar sebagai murid dan guru, tapi lebih seperti anak dan orang tua. Tidak heran bila santri merasa kerasan tinggal di pesantren walau dengan segala kesederhanaannya. Bentuk keikhlasan itu terlihat dengan tidak dipungutnya sejumlah bayaran tertentu dari para santri, mereka bersama-sama bertani atau berdagang dan hasilnya dipergunakan untuk kebutuhan hidup mereka dan pembiayaan fisik lembaga, seperti lampu, bangku belajar, tinta, tikar dan lain sebagainya.
Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka mempergunakan rujukan kitab turost atau yang dikenal dengan kitab kuning. Di antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Ha litu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci. Seseorang tidak dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat (sosiologi). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu orientied”.
Masa pendidikan tidak tertentu, yaitu sesuai dengan keinginan santri atau keputusan sang Kyai bila dipandang santri telah cukup menempuh studi padanya. Biasanya sang Kyai menganjurkan santri tersebut untuk nyantri di tempat lain atau mengamalkan ilmunya di daerah masing-masing. Para santri yang tekun biasanya diberi “ijazah” dari sang Kyai.
Lokasi pesantren model dahulu tidaklah seperti yang ada kini. Ia lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (komplek) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar. Bentuk ini masih banyak ditemukan pada pesantren-pesantren kecil di desa-desa Banten, Madura dan sebagian Jawa Tengah dan Timur.
Pesantren dengan metode dan keadaan di atas kini telah mengalami reformasi, meski beberapa materi, metode dan sistem masih dipertahankan. Namun keadaan fisik bangunan dan masa studi telah terjadi pembenahan. Contoh bentuk terakhir ini terdapat pada Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Tegalrejo.
Pada bagian pertama ini pun membahas kitab kuning. Dalam buku ini Martin Van Bruinessen menggambarkan kitab kuning sebagai buku-buku berhuruf arab yang dipakai di lingkungan pesantren.
Tujuan utama dari pengajian kitab-kitab kuning adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Sedangkan bagi para santri yang hanya dalam waktu singkat tinggal di pesantren, mereka tidak bercita-cita menjadi ulama, akan tetapi bertujuan untuk mencari pengalaman dalam hal pendalaman perasaan keagamaan. Dalam kegiatan pembelajaran, pesantren umumnya melakukan pemisahan tempat antara pembelajaran untuk santri putra dan santri putri. Mereka diajar secara terpisah dan kebanyakan guru yang mengajar santri putri adalah guru laki-laki. Keadaan ini tidak berlaku untuk sebaliknya. Pada beberapa pesantren lain ada yang menyelenggarakan kegiatan pendidikannya secara bersama (co education) antara santri putra dan santri putri dalam satu tempat yang sama dengan diberi hijab (pembatas) berupa kain atau dinding kayu. Keseluruhan kitab-kitab kuning yang diajarkan sebagai materi pembelajaran di pesantren secara sederhana dapat dikelompokkan ke dalam sembilan kelompok, yaitu: Tajwid, Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Aqidah, Akhlaq/Tasawuf, Fiqh, Ushul Fiqh, Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), Manthiq dan Balaghah, dan Tarikh Islam.
Kesulitan yang kita hadapi pada masalah kitab kuning dan perempuan menyangkut persoalan diskursus. Diskursus kitab kuning, yaitu kerangka berfikir dan cara pembahasannya, sudut-sudut pandangannya, pokok-pokok yang dibahas, apa yang dianggap suatu masalah dan apa jawaban yang memuaskan, merupakan suatu bangunan intelektual yang cukup canggih tetapi terbatas dan kaku. Banyak hal yang dapat dibahas secara mendalam dalam kosakata kitab kuning, tetapi terdapat persoalan tang tidak dapat dirumuskan, pemikiran yang tidak dapat dipikirkan dalam diskursus itu. Diskursus dimaksud, seperti juga diskursus-diskursus khusus lainnya, ibarat kacamata berwarna: beberapa hal di dunia sekitar dapat dilihat lebih tajam sedangkan hal lain menjadi samar.
Hal-hal yang berkaitan dengan kedudukan perempuan sebagaimana disinggung dalam kitab kuning sebetulnya bukan hal-hal yang paling mendesak. Banyak agenda soal lain yang menuntut perhatian, seperti perlindungan hak pekerja perempuan, kesamaan upah laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama, status sosial janda, partisipasi perempuan dalam pendidikan, ekonomi dan politik dan lainnya tidak disinggung sama sekali dan bahkan sampai sekarang belum dapat dibicarakan dalam diskursus kitab kuning. Seolah-olah kehidupan perempuan terdiri dari haid dan nifas, hijab dan warisan saja.
Demikian diskursus mengenai perempuan dan Islam hampir selalu berkisar tentang hijab , kewajiban kepada suami, dam pembagian warisan. Dalam cakupan semua ini, kitab kuning mewakili sikap konservatif yang meletakkan perempuan jauh di bawah laki-laki; tetapi pendekatan reformis dapat mengembangkaan penafsiran Al-Quran dan hadits yang lebih seimbang dan lebih fair terhadap perempuan. Itu memang sesuatu yang dibutuhkan, namun terdapat persoalan lain dan mungkin tidak kalah pentingnya, yang boleh jadi ditinggalkan kalau diskusi hanya ditekankan kepada pokok-pokok tadi.
Bagian kedua buku ini menggambarkan tarekat-tarekat dan perkembangannya di Indonesia. Beberapa sumber pribumi secara tegas mengemukakan bahwa tarekat-tarekat mendapatkan pengikutnya, pertama-tama, di lingkungan istana dan lama kemudian barulah merembes ke kalangan masyarakat awam.
Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah). Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740- 816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Taerkat, dalam pandangan sufi, merupakan istilah bagi praktek-praktek dzikir berdasarkan model kurikulum pembelajaran. Tarekat juga merupakan himpunan tugas-tugas murid dalam ikhtiar perbaikan diri dan penyucian jiwa sebagai media untuk mencapai tujuan “dekat dengan Allah”. “TAREKAT” berarti metode, cara atau jalan mendekati Tuhan untuk “Marifat”. Bahwa adanya makhluk ini, karena Tuhan sebagai Khalik ingin dikenal siapa Dia. Kesadaran diri sebagai Makhluk, merupakan dorongan untuk berkeinginan mencapai “Marifat” yakni mengenal Tuhan atau “Liqa Allah” sebaik-baiknya untuk siapa dipersembahkan segala amal-ibadat kita itu.
Ciptaan dan hakekat (Makhluk dan Khalik) adalah dua kenyataan yang saling menggenapi: tanpa Khalik tidak mungkin ada Makhluk. Tuhan tanpa Makhluknya tidak ada sesuatu yang akan mengenalnya. Firman Allah dalam Al-Quran :

Artinya :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Surat Az-Zariat: 56)
Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga system, yaitu:
• sistem kerahasiaan
• system kekerabatan (persaudaraan) dan
• sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.
Kedudukan guru tarekat di perkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru. Kepatuhan murid kepada guru dalam tarekat digambarkan murid dihadapan guru laksana mayat di tangan orang yang memandikannya.
Tarekat terbagi dua :
Tarekat wajib yaitu syariat yang berbentuk teori kemudian diamalkan sungguh-sungguh. Contoh: bertarekat dalam shalat maknanya kita belajar ilmu tentang shalat kemudian melaksanakan shalat seperti yang kita pelajari.
Tarikat sunat. Seperti tarekat Alawiyah, Satariah Qadariah, Naqsabandiyah, Muhammadiyah dan lain-lain, yaitu kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung dengan Rasulullah saw.
Tarekat wajib, memang wajib bagi setiap orang untuk mengamalkannya. Tarekat sunat banyak diamalkan oleh orang yang bercita-cita mendidik diri dan oleh ulama-ulama yang haq. Sebaiknya kita juga mengamalkan tarekat sunat untuk memudahkan jalan kita menuju Allah. Orang yang mengamalkan tarekat sunat ini akan dibantu dalam bermujahadah melawan nafsu dan mendidik hati ke arah taqwa. Perlu diingat dalam kita mengamalkan tarekat sunat, kita tidak boleh meninggalkan tarekat wajib, karena amalan sunat tidak akan memiliki nilai apa-apa tanpa mengerjakan amalan wajib.
Kedudukan Tarekat dalam Empat Tingkatan Spiritual
Bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam, syariat, tariqah atau tarekat, hakikat. Tingkatan keempat, ma’rifat, tingkatan yang ‘tak terlihat’, sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari kempat tingkatan spiritual tersebut.
Beberapa tarekat di dunia :
Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dari Gilan di Iran, yang kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-putranya. Syaikh Abdul Qadir meninggal dunia pada tahun 1166 (561 Hijri). Makamnya sejak dulu hingga sekarang tetap di ziarahi khalayak ramai, dari segala pelosok dunia Islam. Di kalangan sufi, Abdul Qadir diakui sebagai ghauts atau quthb al-awliya, yang menduduki tingkat kewalian yang tertinggi. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke banyak tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan di wilayah Kaukasus, Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat- tempat lain.
Aspek Ajaran:
Pada dasarnya ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir tidak ada perbedaan yang mendasar dengan ajaran pokok Islam, terutama golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sebab, Syaikh ‘Abd al-Qadir adalah sangat menghargai para pendiri mazhab fiqih yang empat dan teologi Asy’ariyah. Dia sangat menekankan pada tauhid dan akhlak yang terpuji. Menurut al-Sya’rani, bahwa bentuk dan karakter Tarekat Syaikh ‘Abd al-Qadir jilani adalah tauhid, sedangkan pelaksanaannya tetap menempuh jalur syariat lahir dan batin.
Adapun ajaran spiritual syaikh ‘Abd al-Qadir berakar pada konsep tentang dan pengalamannya akan Tuhan. Baginya, Tuhan dan tauhid bukanlah suatu mitos teologis maupun abstraksi logis, melainkan merupakan sebuah pribadi yang kehadiran-Nya merengkuh seluruh pengalaman etis, intelektual, dan estetis seorang manusia. Ia selalu merasakan bahwa Tuhan senantiasa hadir. Kesadaran akan kehadiran Tuhan di segenap ufuk kehidupannya merupakan tuntunan dan motif bagi kebangunan hidup yang aktif sekaligus memberikan nilai transeden pada kehidupan. Ajaran Syaikh ‘Abd al-Qadir selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu, dia memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun beberapa ajaran tersebut adalah, taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha, dan jujur.
Tarekat Syadziliyah
Tarekat Syadzili terealisasi di sekitar Syekh Abul Hasan asy-Syadzili dari Maroko (m. 1258) dan akhirnya menjadi salah satu tarekat terbesar yang mempunyai pengikut yang luar biasa banyaknya. Sekarang tarekat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya dan Tanzania, Timur Tengah, Sri Langka dan di tempat-tempat lain, termasuk di Amerika Barat dan Utara.
Al-Syadzili tidak menuliskan ajaran-ajarannya dalam sebuah kitab karya tulis, dikarenakan kesibukannya melakukan pengajaran-pengajaran terhadap murid-muridnya yang sangat banyakdan sesungguhnya ilmu tarekat itu ilmu hakikat, oleh karena itulah akal manusia tidak mampu menerimanya. Ajaran-ajarannya dapat diketahui dari para muridnya misalnya tulisan Ibn ‘Atthaillah al-Iskandari.
Adapun pemikiran-pemikiran tarekat al-Syaziliyyah tersebut adalah:
a. Tidak menganjurkan kepada murid-muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka.
b. Tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at Islam.
c. Zuhud
d. Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, adalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimilikinya.
e. Berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan umat
f. Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
g. Marifah adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf

Tarekat Maulawiyah
Tarekat Maulawiyah berpusat di sekitar Maulana Jalaluddin Rumi dari Qonya di Turki (m. 1273). Sekarang kebanyakan terdapat di Anatolia di Turki, dan pada akhir-akhir ini di Amerika Utara. Para pengikut tarekat ini juga dikenal sebagai para darwis yang berputar-putar.
Tentang ajaran-ajaran Rumi ini, tentunya hanya yang pokok-pokok saja yang akan di kemukakan, karena ajaran-ajaran mistiknya yang lebih komprehansif harus dikaji secara tersendiri dan bukan dalam rangka kajian tarekatnya. Ajaran-ajaran pokok sang Mawlana, pada dasarnya dapat dirangkum sebagai triologi metafisik, yaitu, Tuhan, Alam, Manusia.

Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat Naqsyabandiyah mengambil nama dari Syekh Baha’uddin Naqsyaband dari Bukhara (m. 1390). Tarekat ini tersebar luas di wilayah Asia Tengah, Volga dan Kaukasus, Cina bagian baratlaut dan baratdaya, Indonesia, di anak-benua India, Turki, Eropa dan Amerika Utara. Ini adalah satu-satunya tarekat terkenal yang silsilah penyampaian ilmunya kembali melalui penguasa Muslim pertama, Abu Bakar, tidak seperti tarekat-tarekat sufi terkenal lainnya yang asalnya kembali kepada salah satu imam Syi’ah, dan dengan demikian melalui Imam ‘Ali, sampai Nabi Muhammad SAW.
Ajaran-ajaran:
Ajaran dasar Tarekat Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah. Ajaran yang nampak kepermukaan dan memiliki tata aturan adalah suluk atau khalwat. Suluk ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir di bawah bimbingan seorang syekh atau khalifahnya selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari. Tata cara bersuluk ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau mungkin sesedikit mungkin.
Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah. Sebelum suluk ada beberapa tahapan yaitu; Talqin dzikir atau bai’at dzikir, tawajjuh, rabithah, tawassul dan dzikir. Talqin dzikir atau bai’at dzikir dimulai dengan mandi taubat, bertawajjuh dan melakukan rabithah dan tawassul yaitu melakukan kontak (hubungan) dengan guru dengan cara membayangkan wajah guru yang mentalqin (mengajari dzikir) ketika akan memulai dzikir.
Dzikir ada 5 tingkatan, murid belum boleh pindah tingkat tanpa ada izin dari guru. Kelima tingkat itu adalah
(a) dzikir ism al-dzat,
(b) dzikr al-lata’if,
(c) dzikir naïf wa isbat,
(d) dzikir wuquf dan
( e) dzikir muraqabah.

Tarekat Syathariyah
Tarekat Syathariyah pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Tarekat Syaththariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini diteruskan oleh Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili ke nusantara, kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau.
Adapaun ajaran tarekat Syaththariyah yang berkembang di Minangkabau sama seperti yang dikembangkan oleh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili. Masalah pokoknya dapat dikelompokkan pada tiga;
a. Ketuhanan dan hubungannya dengan alam.
b. Insan kamil atau manusia ideal
c. Jalan kepada Tuhan (tarekat)
Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijani didirikan oleh Syekh Abbas Ahmad ibn at-Tijani, orang Berber Aljazair (rn. 1815). Tarekat ini telah menyebar dari Aljazair ke selatan Sahara dan masuk ke Sudan bagian barat dan tengah, Mesir, Senegal, Afrika Barat dan bagian utara Nigeria, dan telah diperkenalkan di Amerika Barat dan Utara.
Semua tarekat, menurut Syaikh al-Sya’rani, harus berlandas kepada al-Qur’an dan al-sunnah serta berasal dari metode suluk yang dipraktikan oleh rasulullah. Karena itu, unsur sanad (silsilah), urutan-urutan guru secara berkesinambungan sampai kepada Rasulullah, sangat penting dalam tarekat. Setiap guru dalam sanad harus bertemu langsung dengan guru diatasnya dan seterusnya sampai sumber utama Rasulullah. Akan tetapi, tidak semua talqin tarekat menggunakan sanad seperti itu. Ada talqin yang disampaikan melalui komunikasi spiritual langsung antara murid dengan guru, antara guru-dengan guru, antara guru sufi dengan Rasulullah. Kasus seperti ini dinamakan sistem barzaki. Tarekat Tijaniyah termasuk tarekat yang dasar pembantukannya menggunakan sistem barzakhi.
Ssitem demikian bukan hanya terjadi pada terekat Tijaniyah saja, tetapi juga terjadi pada terekat-terekat besar lainnya. Menurut K.H. Badruzzaman, semua tarekat menggunakan sistem barzakhi, kecuali tarekat Qadariyah, karena sanad tarekat ini bersambung sampai kepada Rasulullah melalui Sayyidina ‘Ali.
Tarekat Chistiyah
Tarekat yang paling berpengaruh di anak-benua India-Pakistan adalah tarekat Chisti, yang dinamai dengan nama pendirinya Khwaja Abu Ishaq Syami Chisti (m. 966). Penyebarannya terutama di Asia Tenggara.
Ia menuliskan aturan kehidupan spiritual sebagai berikut:
a. Tidak boleh mencari uang
b. Tidak boleh meminjam uang kepada siapapun
c. Tidak boleh mengungkapkan, bahkan meminta pertolongan kepada siapapun,
sekalipun belum makan selama tujuh hari;
d. Jika mendapat kelebihan makanan, uang, padi-padian atau pakaian hanya boleh disimpan sampai hari berikutnya
e. Tidak boleh mencela orang lain; jika teraniaya berdo’a kepada Tuhan agar membimbing musuh kepada jalan yang benar.
f. Jika melakukan perbuatan terpuji haruslah menyadari bahwa sumber kebaikan adalah perantara Nabi Muhammad SAW. Dan rahmat Tuhan.
g. Jika melakukan perbuatan dosa, harus menyadari bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
h. Setelah memenuhi semua tuntutan diatas, haruslah berpuasa secara teratur dan menghabiskan malam dengan shalat.
i. Harus menyedikitkan berbicara dan hanya membuka mulut jika memang keadaan menuntut hal tersebut.
Ajaran sang Khawajah menjelma menjadi fondasi struktur utama kehidupan Chisytiyah sekalipun penyesuaian dan modifikasi dibuat dari waktu ke waktu.

Tarekat Ni’matullah
Tarekat Ni’matullah didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad Ni’matullah (m. 1431) di Mahan dekat Kirman baratdaya Iran. Para pengikutnya terutama terdapat di Iran dan India. Dengan berkah ilahi, tradisi berbuat baik kepada sesama manusia akan berkhidmat kepada masyarakat ini melahirkan keadaan “kelapangan” (basth) yang mengalahkan “kesempitan” (qabdh) dalam hati kaum sufi Nimatullahi. Melalui tindakan-tindakannya sendiri, Syah Ni’mat Allah mewujudkan bahwa menarik diri dari dunia dan bermalas-malasan hanya akan melahirkan sikap apatis, lesu, dan depresi, dan bahwa aktivitas sosial serta pergaulan dengan manusia dengan berkhidmat kepada mereka dengan niat demi (keridhaan) Allah melahirkan kepuasan serta kelapangan jiwa dan pikiran.

ANALISA BUKU
Buku kumpulan tulisan Martin van Bruinessen ini menggambarkan intensitas pencarian kebenaran ilmiah yang sangat menarik yang dilakukan oleh pakar kajian Islam dari negeri Kincir Angin. Selain sebagai sebuah proses berpikir yang benar-benar ilmiah, hasil karya Martin van Bruinessen ini juga mencerminkan sebuah upaya pencarian jati diri yang sangat menarik. Bermula dari upaya mengenal objek kajian berupa berbagai aspek kehidupan Islam di Indonesia, upaya pakaryang satu ini akhirnya berujung pada pemetaan masalah-masalah yang masih dihadap oleh umat Islam di negeri ini. Bermula dari sekedar keingintahuan objektif dari seorang peneliti, buku ini berkesudahan pada munculnya rasa empati akan kehadiran Islam di kepulauan katulistiwa ini.
Wataknya yang terus mempertanyakan apa-apa yang telah dianggap sebagai kemapanan ilmiah membuatnya terus bertanya dan mempertahankan segala sesuatu. Ia mempertanyakan kebenaran anggapan bahwa pondok pesantren dengan kurikulum yang dikenal sekarang, dengan 14 cabang kajian yang disilabuskan oleh Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Itmam Al-Dirayah, memang telah ada sejak zaman Walisongo itu. Telusuran Martin yang membawanya kepada sumber-sumber literatur keraton Jawa (seperti Serat Centhini) dan arsip-arsip Kolonial Belanda tentang tanah Perdikan, akhirnya membawanya kepada kesimpulan bahwa kurikulum universal yang digunakan kalangan pesantren saat ini berasal dari permulaan abad ke-19 M, dan bersumber pada dominasi tradisi keilmuan Islam di tanah Hijaz oleh ulama Kurdi.
Tampak dari apa yang diuraikan dalam buku ini bahwa sejarahwan umat Islam yang berasal dari Belanda ini memiliki jangkauan sangat luas dan refleksi sangat dalam akan kondisi kehidupan kaum Muslim sendiri. Sebagai pewaris tradisi kajian etnilogi Belanda, yang terkenal dengan kedalaman refleksi, menunjukkan banyaknya data yang diolah Martin van Bruinessen untuk sampai pada kesimpulan-kesimpilan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dari sudut ini kita rasa betapa penting peranan kajian yang dilakukan oleh para pakar, semisal Martin van Bruinessen, dalam menggugah daya tahan umat Islam dari gempuran internal dan eksternal.
KESIMPULAN
Sebagai lembaga, pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-niali keislaman dengan titik berat pada pendidikan. Pesantren juga berusaha untuk mendidik para santri yang belajar pada pesantren tersebut yang diharapkan dapat menjadi orang-orang yang mendalam pengetahuan keislamannya. Kemudian, mereka dapat mengajarkannya kepada masyarakat, di mana para santri kembali setelah selesai menamatkan pelajarannya di pesantren.
Hampir dua abad lamanya, para “ulama Jawi” telah menyerap tradisi dari kawasan Timur Tengah itu, untuk dijadikan Standar baju bagi kawasan tanah asal mereka di kepulauan Nusantara. Nama-nama besar seperti Syekh Arsyad Banjar, Syekh Abdul Karim Banten, Syekh Abd Al-Shamad Palembang, Syekh Saleh Darat di Semarang, Syekh Abd Al- Muhyi Pamijahan di Tasikmalaya, Syekh Mahfudz Termas di Pacitan, Syekh Khalil Bangkalan, dan Syekh Hasyim Asy’ari Tebuireng di Jombang merupakan perwakilan utama “tradisi Kurdi” di Kepulauan Nusantara. Namun, tidak hanya berhenti di situ saja proses perkembangan tradisi keilmuan kajian Islam di kawasan ini. Di dalam buku ini juga menunju kepada penalaran kreatif oleh para “ulama Jawi” tersebut, seperti tertuang dalam karya-karya tulis mereka yang telah diterbitkan maupun yang belum. Ratusan judul karya mereka telah berhasil dihimpun dalam sebuah kepustakaan “kitab kuning pesantren” oleh Martin van Bruinessen.
Tarekat yang berwatak perlawanan politik terhadap kekuasaan yang dianggap lalim itu hingga kini pun masih dilarang berkembang di Turki, sehingga sangatlah menarik untuk melihat kemungkinan rekonstruksi masa lampau sejarah Islam di kawasan ini melalui pendekatan hipotesis. Kemampuan melihat proses yang berlangsung secara lintas sektoral dan lintas waktu itu, dengan kejelian- kejelian melihat berbagai fenomena dengan kerumitan konfigurasi yang sangat tinggi tanpa kehilangan kejernihan pemikiran sama sekali, membuat telaah yang dilakukan Martin van Bruinessen sebagai sebuah proses rekonstruksi sejarah masa lampau bangsa kita sebagai sesuatu yang hidup.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: