PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

6 04 2010

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Menginsafi bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Hal itu merupakan jembatan meniti bagi generasi yang akan datang. Keluarga merupakan sistem yang paling khusus dan tersendiri. Karena, di dalam keluarga itulah tempat tinggal pertama bagi anak untuk melakukan interaksi, mengambil asas-asas bahasa, nilai, perilaku, kebiasaan, kecenderungan jiwa dan sosial. Sehingga pantaslah Hasan Langgulung mengemukakan mengenai kedudukan keluarga bahwa :
Keluarga itu adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat, dimana hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besar bersifat hubungan-hubungan langsung. Di situlah berkembang individu dan di situlah terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan (socialization), dan melalui interaksi dengannya, ia memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi dan sikapnya dalam hidup, dan dengan itu ia memperoleh ketentraman dan ketenangan. (1986 : 346).

Dengan demikian keluarga adalah suatu sistem pendidikan yang pertama dan utama. Sebab di dalam keluarga inilah tempat meletakan dasar-dasar kepribadian anak didik. Dalam ajaran Islam dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana sabdanya yang berbunyi :
ﻪﻧﺍﺮﺼﻧﻳﻮﺍ ﻪﻧ ﺍﺪﻭﻬﻳ ﻩﺍﻮﺒﺎﻔ ﺓﺭﻃﻔﻠﺍﻰﻠﻋﺪﻟﻭﻳﻻﺍﺪﻭﻟﻮﻣﻦﻤﺎﻤ
ﻪﻧﺎﺴﺤﻤﻳﻭﺍ
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia lancar lisannya (berbahasa) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia kafir Yahudi atau Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa pendidikan keluarga memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak didik. Moh. Abdai Rathomy menegaskan : kedua orang tua itu mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengajar putra-putrinya. (1973 : 283), karena : pendidikan keluarga sebagai sumber dan dasar lingkungan yang lainnya. (Ag. Soejono, 1980 : 93).
Mengingat sangat pentingnya pendidikan keluarga, maka Islam memandang keluarga itu sebagai lembaga hidup manusia yang menentukan baik buruknya dan celaka ataupun bahagianya di dunia dan di akhirat kelak. Nabi Muhammad sendiri di utus oleh Allah SWT., pertama-tama diperintahkan untuk mengajarkan Islam, lebih dahulu kepada keluarga sebelum masyarakat luas.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Tahrim, ayat 6 berbunyi :
…ﺍﺮﺎﻧ ﻢﻜﻳﻟﻫﺃﻮ ﻡﻛﺴﻔﻧﺃﺃﻭﻗ ﺍﻭﻧﻣﺍﻥﻳﺬﻠﺍﺎﻬﻳﺄﻳ
“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Depag. RI, 1983 : 951)

Jelaslah, bahwa keluarga dalam ajaran Islam memiliki implikasi pendidikan dan pengajaran. Sebagaimana Zakiah Daradjat (1978 : 53), mengatakan bahwa :
Diantara cara pendidikan yang diajarkan Allah dalam Al Qur’an seperti terdapat dalam Surat Al Luqman ayat 13 sampai dengan 19. Keringkasan isi ayat tersebut antara lain yang terpokok adalah : 1. Menanamkan jiwa tauhid, 2. Menghargai dan menghormati orang tua, 3. Memelihara dan memerlakukan orang tua dengan baik, bagaimanapun sifat dan tindakan mereka, 4. Kejujuran bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat disembunyikan kepada Tuhan, walau dalam batu kebun, 5. Supaya mendirikan sembahyang (beribadah), 6. Mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah yang munkar, 6. Supaya bersabar, 8. Melarang keangkuhan dan kesombongan, sederhana dan sikap, berjalan dan berbicara. Demikian pula menurut Aisyah Dachlan, mengupas tentang pendidikan anak dalam keluarga ditinjau dari ajaran Islam bahwa :
1. Supaya mengenal Tuhan dan beriman kepada-Nya serta beramal shaleh, untuk ini harus diajarkan ilmu pengetahuan yang menyangkut dengan iman dan ibadah umpamanya; iman kepada Allah, iman kepada Rasul, sembahyang; puasa dan lain-lain, serta diajarkan juga yang wajib dikerjakan dan tak boleh dikerjakan umpama; berbuat baik kepada sesama manusia, tidak boleh menyakiti, merugikan orang lain apalagi merugikan masyarakat dan lain-lain.
2. Akhlak. Tugas pertama orang tua ialah mendidik anak supaya berakhlak mulia dan berbudi pekerti halus. Pandai hidup bemasyarakat, tolong menolong berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara sesama, dapat memelihara diri dari segala perbuatan tercela, mencintai tanah air, bangsa dan beragama.
3. Menjaga kesehatan dan membersihkan dan lain-lain yang menyangkut dengan keindahan dan kerapihan diri pribadi, lingkungan dan tempat tinggal.
4. Dapat berdiri sendiri. Hidup menghendaki banyak membutuhkan, maka orang tua harus mendidik anak supaya kelak dapat berdiri sendiri, memenuhi kebutuhannya dan keluarganya, tidak memberati dan mengganggu orang lain. (1974 : 128).

Berdasarkan pendapat di atas, maka suasana kehidupan dalam keluarga sangat berpengaruh dalam pembinaan jiwa agama anak. Bahwa kalangan ahli ilmu jiwa agama, telah banyak disinggung tentang pembinaan jiwa keagamaan yang antara lain bahwa pendidikan agama dalam keluarga berfungsi menumbuhkan sikap dan keterampilan keagamaan serta menanamkan pengetahuan agama. Karena itu, orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang baik; teguh imannya, berakhlak mulia, terampil, cerdas dan sebagainya. Maka segala keinginan itu tidaklah akan tercapai bila tanpa bimbingan serta pendidikan secara sengaja, karena anak manusia berbeda dengan makhluk lain yang mampu tumbuh dan berkembangan diritanpa dibantu. Khusus berkenaan dengan jiwa keagamaan, mutlak memerlukan bimbingan karena agama selain menyangkut hal-hal yang nyata juga masalah-masalah yang tidak nyata.
Untuk itulah, Islam telah memberikan ajaran tentang pendidikan dalam keluarga, kedudukan orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya, sehingga keluarga sebagai suatu sistem pendidikan, memberikan arah serta metode kepada kedua orang tua muslim agar mampu mendidik dan mengajar anak-anaknya sejak dalam kandungan sampai dewasa.
Sehubungan dengan itu, peranan orang tua dalam pendidikan agama setidak-tidaknya terdapat 4 hal penting yang harus diperhatikan, yakni:
1. Pendidikan Tauhid
Sebagai manusia yang mempunyai fitrah, percaya adanya Tuhan (makhluk religius). Maka orang tua harus memberikan pendidikan Tauhid untuk meluruskan aqidah dan keyakinan anak terhadap Allah SWT., serta membersihkannya dari sifat-sifat musyrik yang akan membawa kesesatan.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Luqman, ayat 13 yang berbunyi:
ﻚﺭﺸﻠﺍﻥﺇ ﷲﺎﺒﻙﺭﺷﺘﻻﻲﻧﺒﻳ ﻪﻅﻌﻳﻭﻫﻭ ﻪﻧﺑﻷﻥﻣﻗﻠ ﻞﺎﻘ ﺬﺇﻭ
ﻢﻴﻅﻋﻢﻟﻆﻠ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Depag RI, 1983 : 654).
Pendidikan keimanan atau aqidah adalah hal yang fundamental dalam ajaran Islam. Aqidah menjadi titik tolak permulaan untuk menjadi muslim. Sedangkan muslim itu sendiri adalah orang yang merealisasikan keimanannya dalam bentuk aktivitas, sebagai perwujudan dari rukun Islam. Maka di dalam keluargalah, mulai dikenalkan rukun iman dan Islam kepada anak-anak.
Oleh sebab itu menurut Aya Sofia, pengajaran atau penjelasan-penejelasan dari orang tua atau orang-orang yang mengerti akan hal itu, dimana pengenalan anak akan Tuhan dimulai dengan melalui bahasa. (1985 : 116).
Pendididikan Tauhid ini akan menjadi landasan hidup fundamental bagi anak, sehingga diharapkan nanti dia menjadi manusia yang tunduk dan taat kepada Allah SWT serta ikhlas mengabdi kepada-Nya.
2. Pendidikan Akhlaq
Akhlaq sangat penting dalam kehidupan manusia, lebih-lebih karena manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini. Salah satu tanda kemuliaan manusia ialah berakhlaq. Menurut H. Zaini Ahmad Syis (1983 : 6) : Dalam agama Islam terdapat sumber pendidikan yang paling luhur bagi manusia, sebagai dasar bagi kehidupan manusia itu akhlaq.
Orang tualah yang berkewajiban untuk mendidik serta membimbing terhadap kehidupan mental atau jiwa anak dengan akhlak yang mulia, sebab dalam bidang inilah terletak hakekat manusia. Hal ini dapat difahami, sabda Rasulullah yang berbunyi :
ﻖﻠﺧﻷﺍﻢﺭﺎﻜﻤﺎﻤﻤﺗﻻﺕﺜﻌﺒﺎﻣﻧﺇ
“Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. (H. Zaini Ahmad Syis, 1983 : 6).

Oleh karena itu anak-anak sejak dini harus mendapat tuntunan, bimbingan dari suri tauladan yang baik dari orang tuanya. Menurut H. Acmad Djazuli : Orang tua adalah pribadi yang pertama dalam kehidupan anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. (1990 : 127).
Dengan demikian orang tua sebagai pendidik akhlaq, merupakan contoh tauladan yang baik bagi anak-anaknya, dalam kehidupan sehari-hari. Hal inipun dicontohkan dalam Al Qur’an, Allah berfirman :
…ﺔﻧﺳﺣ ﺓﻮﺴﺃ ﷲﺍﻞﻭﺳﺭﻰﻓ ﻢﻜﻠﻥﺎﻜ ﺩﻗﻠ…
“Sungguh telah ada teladan yang paling baik bagimu pada diri Rasulullah SAW”. (H. Zaini Ahmad Syis, 1983 : 6).

3. Pendidikan Untuk Selalu Berbuat Kebajikan
Orang tua berkewajiban membimbing untuk selalu berbuat kebajikan terhadap orang lain, dengan menanamkan keyakinan terhadap anak, bahwa setiap amal perbuatan manusia itu bagaimanapun juga kecilnya akan diperlihatkan dan dibalas oleh Allah SWT.
Disini diajarkan kepada anak, tentang kebiasaan berbuat baik dengan cara-cara Islam. Baik terhadap orang tua, saudara, teman-temannya dalam pergaulan. Atau dalam bentuk tatakrama, berbicara, bersikap, serta beramal shaleh.
4. Pendidikan Shalat
Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan shalat sejak kaifiat sampai dengan hikmah-hikmahnya, agar si anak menjadi biasa untuk mengerjakan shalat dari kecil. Karena hanya generasi-generasi penegak shalatlah yang mampu untuk merealisir “Tanha Anil Fahsyaa’iwal Munkar” dalam kehidupan masyarakat.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Thaha, ayat 132 yang berbunyi:
ﻚﻘﺯﺭﻧﻥﺣﻧﺎﻘﺯﺮ ﻚﻠﺋﺴﻧ ﻻﺎﻬﻳﻠﻋﺭﺑﻃﺻﺍﻮ ﺓﻭﻠﺻﻠﺎﺑﻚﻠﻫﺃﺭﻣﺃﻭ
ﻯﻮﻗﺘﻟﻟ ﺔﺒﻘﻌﻟﺍﻮ
“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”. (Depag RI, 1983 : 492).

Ayat di atas memberi pengertian bagi orang tua muslim agar mendidik dan menanamkan sikap kepada anak-anak supaya gairah dalam menunaikan ibadah shalat. Sehingga orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bahkan dalam Islam diperintahkan untuk mendidik anak beribadah shalat dikala mereka telah berumur tujuh tahun, dan memukulnya jika mereka tidak mau mengerjakan shalat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad Abu Daud Al Hakim dari Amir bin Syu’aib:
ﻭﻘﺭﻔﻭﺭﺴﻌﻟﺎﻬﻳﻠﻋﻡﻫﻭﺑﺮﺿﺍﻮ ﻊﺑﺴﻠ ﺓﻼﺻﻟﺎﺑ ﻢﻛﺪﻻﻭﺍﻮﺮﻮﻣ
ﻊﺟﺎﺿﻤﻟﺍﻰﻔ ﻢﻬﻧﻳﺑ

“Serulah anak-anakmu mengerjakan shalat apabila mereka sudah berumur tujuh tahun dan pukulah mereka karena mereka meninggalkannya, apabila umur mereka sudah sampai sepuluh tahun dan pisahkanlah diantara mereka pada tempat tidur”. (T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, 1985 : 69).
B. Perhatian Orang Tua dalam Pendidikan Anaknya
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah hanyalah pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, demikian menurut Zahara Idris, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga. (1982 : 120).
Sikap anak terhadap sekolah terutama akan dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka. Demikian pula sikap anak terhadap belajar, tidak bisa ditentukan oleh guru akan tetapi banyak dipengaruhi oleh perhatian orang tua terhadap belajar anaknya di rumah. Oleh karena itu perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat berpengaruh terhadap sikap dan mentalitas anak dalam menentukan berhasil tidaknya belajar. Mengingat, orang tua disatu pihak berfungsi sebagai pemelihara, pelindung keluarga, dan di lain pihak sebagai pendidik putra-putrinya.
Ditegaskan oleh Zahara Idris (1982 : 120) : Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai usaha-usahanya. Juga orang tua harus menunjukan kerjasamanya dalam cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumahnya, janganlah disita waktunya.
Disinilah fungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan dimana antara orang tua dan anak terjalin komunikasi edukatif, dalam mencapai keberhasilan proses pendidikannya. Sebab peranan orang tua sangat bersifat menentukan. Dan cara praktis lebih mengenal anak, lebih leluasa, lebih dekat yang tanpa formalitas-formalitas, hal itu lebih berperan dalam menentukan kegiatan belajar anaknya.
Sehubungan dengan itu, banyak para ahli pendidikan mengemukakan tentang perhatian orang tua terhadap kegiatan pendidikan anaknya yang diantaranya menyoroti; orang tua sebagai pengawas kegiatan belajar anak, pendorong semangat belajar, membangkitkan minat, memberi fasilitas, menentukan waktu dan disiplin belajar, memberi bantuan belajar, memperhatikan kesehatan dan menciptakan iklim belajar di rumah. Untuk jelasnya penulis uraikan pendapat para ahli sebagai berikut.
Orang tua berperan sebagai pengawas (supervisor) dari pada kegiatan di sekolah yang harus dikerjakan oleh anak di rumah, sebagai pendidik dengan contoh teladan dari perbuatan, sebagai pemberi fasilitas belajar bagi anak. (Anonimous, 1979 : 43).
Orang tua yang berperan sebagai pengawas, hendaknya secara tidak langsung memperhatikan seluruh kegiatan yang dilakukan anak. Harus memperhatikan apakah anak memiliki Pekerjaan Rumah (PR), apakah sudah belajar untuk pelajaran besok, apakah ada kesulitan dalam mata pelajaran tertentu. Kesemua itu merupakan tanggung jawab orang yang secara rutin memperhatikan, mengawasi kegiatan belajar anak di rumah.
Disamping harus mengawasi kegiatan pendidikan anak, juga orang tua harus memperhatikan serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani anak. Omar Hamalik (1983 : 3) mengemukakan : Salah satu syarat agar anak dapat belajar dengan baik yaitu harus memperhatikan kesehatan jasmani serta kesehatan rohani. Apabila anak sakit (tidak sehat) tidak akan dapat belajar dengan baik. Dengan demikian, orang tua harus menjaga kesehatan anaknya secara teratur.
Kemudian orang tua berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar anak di rumah, yaitu menyangkut seluruh kebutuhan anak dalam perlengkapan belajar, juga tempat belajar di rumah, serta iklim belajar yang menunjang.
Salah satu cara untuk mengundang agar senang dan mau belajar di rumah, orang tua harus memperhatikan tempat belajar, dorongan belajar (motivasi) dan membangkitkan minat belajar.
Tempat belajar yang memadai; baik ventilasi udara yang cukup, penerangan dan temperatur ruangan yang sesuai, meja belajar dan kursi yang cukup, peralatan lain seperti; buku-buku yang diperlukan dan alat peraga belajar, serta suasana yang tenang.
Berikan semangat belajar, dengan menumbuhkan minat dan motivasi anak, misalnya dengan bantuan belajar, pengarahan, hadiah, dan tidak mengganggu waktu belajar. Dalam hal ini Singgih D. Gunarsa (1976 : 20) mengemukakan : Campur tangan orang tua sangat dibutuhkan dalam membagi waktu, serta pengawasan terhadap terlaksananya pembagian waktu dan jadwal belajar di rumah.
Anak belum dapat membagi waktu antara tugas-tugas sekolah dengan bermain-main, oleh karena itu orang tua harus membantu dalam perencanaan waktu belajar dan disiplin belajar di rumah. Ditambahkan oleh pendapat R.I. Suhartin bahwa :
Dalam menolong anak supaya menjadi anak-anak yang cerdas, orang tua harus menentukan jam dan tempat belajar. Jam dan tempat belajar ini perlu dipastikan. Anak-anak perlu dibiasakan belajar pelajaran di sekolah pada jam-jam yang ditentukan. Anak-anak perlu mendisiplin diri untuk belajar di tempat yang dipastikan. Dengan jalan demikian anak-anak menjadi terbiasa dengan aturan-aturan yang sudah disepakati. (1981 : 103).
Berdasarkan uraian di atas, sudah dapat dipastikan bahwa perhatian orang tua dalam pendidikan anaknya sangat menentukan sekali terhadap keberhasilan belajar anak di sekolahnya. Untuk itulah orang tua perlu memperhatikan dalam hal :
1. Menyediakan fasilitas belajar anak di rumah, atau sarana kebutuhan belajar.
2. Merencanakan waktu belajar di rumah, dan membiasakan untuk disiplin belajar.
3. Memberi bantuan belajar bila anak belum mengerti terhadap suatu materi, atau bimbingan belajar di rumah.
4. Beri motivasi, bangkitkan semangat, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

C. Prestasi Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
1. Pengertian Prestasi Belajar
Setiap akhir dari proses belajar mengajar, selalu ada hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa yang disebut dengan prestasi belajar. Melalui hasil belajar ini dapat diketahui taraf penguasaan anak terhadap materi yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Demikian pula diketahui kemampuan-kemampuan, sikap maupun keterampilan dalam mengikuti proses belajarnya.
Oemar Hamalik (1981 : 5), mengemukakan bahwa : Prestasi belajar itu adalah hal-hal yang telah dicapai setelah ia belajar. Sedangkan Rocman Natawidjaya, menjelaskan bahwa : Prestasi belajar yang dicapai seseorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (internal) maupun luar diri (eksternal) individu. (1978 : 61).
Pendapat lain memberi batasan tentang pengertian prestasi belajar; Engkoswara mengemukakan : penguasaan, penggunaan dan penilaian tentang sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan dasar dalam berbagai bidang ilmu. (1981 : 2). Kemudian Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan :
Hasil belajar merupakan segala prilaku dimiliki siswa sebagai akibat dari proses belajar yang telah ditempuhnya. Batasan tersebut cukup luas meliputi semua akibat dari proses belajar yang berlangsung di sekolah, atau di luar sekolah, belajar bersifat kognitif, afektif, ataupun psikomotor disengaja ataupun tidak. (1985 : 124).

Selanjutnya Mohamad Surya mengemukakan prestasi belajar adalah : Seluruh kecakapan hasil yang dicapai (achievment) yang diperoleh melalui proses belajar berdasarkan test belajar. (1979 : 57).
Dari batasan-batasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar atau hasil belajar adalah suatu keadaan hasil yang dicapai baik berupa kemampuan, keterampilan maupun sikap serta nilai-nilai, setelah adanya usaha belajar dan mengajar.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, sebagaimana dikemukakan para ahli.
Sumadi Suryabrata (2984 : 253), mengklasifikasikan faktor-faktor tersebut menjadi dua bagian besar, yaitu kelompok faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri si pelajar.
Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar bisa berupa kemampuan siswa, kematangan, intelegasi, bakat, minat, ketekunan dan aktivitas siswa. Sedangkan faktor dari luar diri siswa bisa berupa lingkungan; baik lingkungan keluarga, maupun lingkungan sekolah dan masyarakatnya. Hal tersebut menyangkut sarana dan prasarana belajar siswa, misalnya : tempat belajar, alat-alat yang digunakan seperti; alat-alat tulis, buku-buku pelajaran, serta alat peraga pelajaran yang digunakan, dan kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya belajar bagi siswa.
Selanjutnya S. Nasution (1982 : 37), menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu adalah sebagai berikut :
a. Bakat untuk mempelajari sesuatu.
b. Mutu pelajaran.
c. Ketekunan.
d. Waktu yang tersedia untuk belajar.
Mohamad Surya mengemukakan, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar meliputi : karakteristik siswa, karakteristik guru, karakteristik fisik, karakteristik subyek matter, dan lingkungan luar. (1979 : 71).
Sedangkan Oemar Hamalik (1983 : 66) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut adalah :
a. Faktor yang berumber dari diri sendiri.
b. Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah.
c. Faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga.
d. Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat.
Dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, pada kenyataannya faktor-faktor tersebut akan saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak langsung dalam mempengaruhi hasil yang dicapai individu dalam belajar. Oleh karena itu faktor yang dapat mempengaruhi peristiwa belajar mengajar merupakan manifestasi hasil yang dicapai dari program pengajaran. Dan hal tersebut menuntut individu dalam menerima pengaruh, sehingga ada kecenderungan terjadinya perbedaan individual siswa dalam prestasi yang dicapai oleh para pelajar.
Demikian juga, dengan faktor-faktor tersebut dapat dijadikan sebagai faktor penujang keberhasilan belajar siswa apabila mendapat perhatian dari berbagai pihak. Sebaliknya, akan menjadi faktor penghambat jika kurang mendapat perhatian. Disinilah fungsi orang tua sebagai pendidik di lingkungan keluarga, harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anaknya.
Sejalan dengan pendapat di atas, maka Abin Syamsudin Mamun (1983 : 18) juga berpendapat ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu faktor siswa (raw input) dan pelaksanaan proses belajar (PBM).
Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa faktor siswa antara lain; kapasitas dasar, bakat khusus, motivasi, minat, kematangan sikap, dan kebiasaan belajar. Sedangkan proses belajar mengajar sendiri dapat dipengaruhi oleh faktor sarana (instrumen input) dan faktor lingkungan (inveromental input).
Sehubungan dengan masalah di atas, maka dijelaskan kedudukan orang tua dalam keluarga menempati posisi penting dalam kegiatan belajar anak baik di sekolah maupun di luar sekolah, serta keberhasilan yang dicapai belajar.

D. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah
Menurut M.A. Gozali (1985 : 123) mengemukakan bahwa perhatian adalah : Keaktifan jiwa yang dipertinggi. Jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek-objek. Sedangkan Wasty Sumanto mengemukakan tentang perhatian adalah : (1) Pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertentu kepada suatu objek, (2) Pendayagunaan kesadaran untuk menyertai aktivitas. (1989 : 32).
Ditinjau dari segi kepentingan pendidikan, maka perhatian mempunyai andil besar dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar, dam hasil belajar siswa. Baik perhatian dari orang tua terhadap anaknya ataupun perhatian guru terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Sebagaimana diutarakan sebelumnya, bahwa salah satu peran orang tua dalam upaya meningkatkan prestasi anaknya, adalah terjalinnya komunikasi atau interaksi edukatif yang secara disengaja mencurahkan perhatian kepada anaknya untuk mau belajar, bergairah, antusias, dan sungguh-sungguh. Karena perhatian orang tua merupakan tenaga psiskis yang dapat mendorong kegiatan belajar anaknya. Sehingga reaksi senang belajar, minat belajar, rajin dan sungguh-sungguh akan tumbuh pada diri anak yang pada gilirannya berkaitan erat dengan prestasi belajarnya. Sumadi Suryabrata mengemukakan bahwa : Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. (1984 : 18).
Oleh karena itu, perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan intelektual anak dalam belajar di sekolah. Sehingga menurut Slameto bahwa : Ia membantu mempengaruhi kemampuan intelektual anak agar dapat berfungsi secara optimal dan mencoba melengkapi program pengajaran. (1987 : 133).
Menurut hasil penelitian demikian menurut Zahara Idris, pekerjaan guru (pendidik) di sekolah akan lebih efektif apabila dia mengetahui latar belakang dan pengalaman anak didik di rumah tangganya. (1982 : 120). Lanjutnya; anak didik yang kurang maju dalam pelajaran, berkat kerjasama orang tua anak didik dengan pendidik, banyak kekurangan-kekurangan anak didik yang dapat diatasi. Disadari bahwa pendidikan atau keadaan lingkungan keluarga dapat membantu atau mempengaruhi keberhasilan belajar anak di sekolahnya.
Itulah sebabnya, pengaruh orang tua memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan belajar anaknya, bahkan sebagaimana diungkapkan oleh Oemar Hamalik sebelumnya salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah bersumber dari lingkungan keluarga. Atau pendapat Madjid Noor (1979 : 43) : Peranan orang tua agar anaknya sukses dalam belajar di sekolah sebenarnya sangat besar bahkan bersifat menentukan.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: