TANGGAPAN SISWA TERHADAP HUKUMAN ALTERNATIF BAGI PELANGGAR TATA TERTIB DAN TATA KRAMA SERTA DISIPLIN BELAJAR

6 04 2010

TANGGAPAN SISWA TERHADAP HUKUMAN ALTERNATIF BAGI PELANGGAR TATA TERTIB DAN TATA KRAMA SERTA DISIPLIN BELAJAR

A. Tanggapan
1. Pengertian Tanggapan
Manusia diciptakan Allah SWT dengan dibekali dengan berbagai potensi, baik potensi jasmani maupun potensi rohani. Kedua potensi tersebut dapat dipisahkan dan dibedakan. Potensi rohani dapat terlihat pantulannya pada potensi jasmani yaitu dalam bentuk tingkah laku.
Dengan alat indera sebagai potensi jasmani, seseorang dapat menyadari dan mengenal hal-hal atau keadaan yang ada disekitarnya, dalam arti ia dapat melakukan pengamatan. Gambaran-gambaran yang terjadi waktu pengamatan tidak akan hilang begitu saja, tetapi disimpan di bawah alam sadar kita, sehingga dapat dimunculkan kembali kapan dan di mana saja. Proses memunculkan dan membayangkan kembali gambaran hasil pengamatan ini dalam istilah psikologi dikenal dengan istilah tanggapan.
Menurut Agus Sujanto (1993:31) secara tepat dapat diidentifikasi, hanya dapat didefinisikan secara garis besar dan bersifat umum yaitu gambaran pengamatan yang tinggal di dalam kesadaran kita sesudah kita mengamati. Sedangkan menurut Kartini Kartono (1996: 58) mengatakan bahwa tanggapan bisa diidentifikasi sebagai gambaran ingatan dari pengamatan. Dengan demikian Sumadi Suryabrata (1990: 36) mengidentifikasi tanggapan sebagai bayangan yang tinggal setelah kita melakukan pengamatan. Lebih jelasnya mengenai tanggapan ini Abu Ahmadi (1992: 64) menyatakan : “tanggapan adalah gambaran ingatan dan pengamatan yang mana objek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan”.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa terjadinya tanggapan itu harus melalui pengamatan terlebih dahulu. Berbicara mengenai tanggapan, Muhibbin Syah (1995:118) mengemukakan bahwa pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera, seperti mata dan telinga.
Jadi tanggapan adalah bayangan yang tinggal dalam ingatan kita setelah melalui proses pengamatan terlebih dahulu. Dalam proses pengamatan, tanggapan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Selain itu yang lmenjadi objek dari tanggapan itu masih kabur dan tidak mendetail dan juga tidak memerlukan adanya perangsang dan bersifat imajiner.
Dari beberapa pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tanggapan itu bermula dari adanya suatu tindakan pengamatan yang menghasilkan suatu kesan sehingga menjadi kesadaran yang dapat dikembangkan pada masa sekarang atau pun menjadi antisipasi pada masa yang akan datang. Jadi jelaslah bahwa pengamatan merupakan modal dasar dari tanggapan, sedangkan modal dari pengamatan adalah alat indera yang meliputi penglihatan dan penginderaan.
Selanjutnya yang dimaksud dengan siswa menurut Muhibbin Syah (1995:14) adalah orang-orang yang sedang belajar termasuk pendekatan strategi, factor yang mempengaruhi dan potensi yang dicapai.
Jadi yang dimaksud dengan tanggapan siswa adalah kesan orang – orang sedang belajar dan kesan tersebut dihasilkan dari pengamatan dimana objek yang sedang dan telah diamati sudah tidak lagi berada di dalam ruang dan waktu pengamatan.
2. Proses Tarjadinya Tanggapan
Dalam hal ini ada beberapa deretan gejala terjadinya tanggapan, mulai dari yang paling berperaga dengan berpangkal pada pengamatan, sampai ke yang paling berperaga yaitu berfikir. Deretan gejala tersebut menurut Sumadi Suryabrata (1993:38) adalah sebagai berikut:
a. Pengamatan, yakni kesan-kesan yang diterima sewaktu perangsang mengenai indera dan perangsangnya masih ada. Pengamatan ini adalah produk dari kesadaran dan pikiran yang merupakan abstraksi yang dikeluarkan dari arus kesadaran.
b. Bayangan pengiring, yaitu bayangan yang timbul setelah kita melihat sesuatu warna. Bayangan pengiring itu terbagi menjadi dua (2) macam, yaitu bayangan pengiring positif yakni bayangan pengiring yang sama dengan warna objeknya dan bayangan pengiring negatif adalah bayangan pengiring yang tidak sama dengan warna objeknya, melainkan seperti warna komplemen dari warna objek.
c. Bayangan eiditik, yaitu bayangan yang sangat jelas dan hidup sehingga menyerupai pengamatan.
d. Tanggapan, yakni bayangan yang menjadi kesan yang dihasikan dari pengamatan. Tanggapan diperoleh dari penginderaan dan pengamatan.
e. Pengertian, menurut Abu Ahmadi (1992:169) adalah hasil proses berfikir yang merupakan rangkuman sifat-sifat pokok dari suatu barang atau kenyataan yang dinyatakan dalam suatu perkataan.
Jadi proses terjadinya tanggapan adalah pertama-tama indera mengamati objek tertentu, setelah itu muncul bayangan pengiring yang berlangsung sangat singkat sesaat sesudah perangsang berlalu. Setelah bayangan perangsang muncul kemudian muncul bayangan eiditis, bayangan ini sifatnya lebih tahan lama, lebih jelas dari bayangan perangsang. Setelah itu muncul tanggapan dan kemudian pengertian.
3. Macam-macam Tanggapan
Kenangan atau kesan-kesan pengamatan dapat meninggalkan bekas yang dalam, hal-hal tertentu dapat digambarkan kembali sebagai gambaran ingatan atau tanggapan. Untuk mempermudah dalam memahami tanggapan perlu dikemukakan jenis atau macam-macam tanggapan. Tanggapan disebut “Laten” (tersembunyi, belum terungkap), apabila tanggapan itu berada di bawah sadar atau tidak kita sadari. Sedangkan tanggapan disebut “Aktual” (actual = sungguh), apabila tanggapan tersebut kita sadari (Abu Ahmadi, 1993:64).

Menurut Wasty Soemanto (1990: 23) terdapat tiga macam tanggapan yaitu:
a. Tanggapan masa lampau disebut juga tanggapan ingatan
b. Tanggapan masa sekarang yang sering disebut tanggapan imajinatif
c. Tanggapan masa mendatang yang disebut sebagai tanggapan antidipatif
Sementara itu Sumadi Suryabrata (1993:36-37) menyebutkan macam-macam tanggapan yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Wasty. Sumadi menyebutkan ada tiga macam tanggapan di antaranya adalah:
a. Tanggapan masa lampau atau tanggapan ingatan
b. Tanggapan masa datang atau tanggapan mengantisipasikan
c. Tanggapan masa kini atau tanggapan representatif (tanggapan mengimajinasikan).
Sedangkan Agus Sujanto (1993:32) mengemukakan macam-macam tanggapan secara lebih lengkap lagi yaitu sebagai berikut:
a. Tanggapan menurut indera yang mengamati, yaitu:
1). Tanggapan auditif, yaitu tanggapan terhadap apa-apa yang telah di dengarnya baik berupa suara, ketukan dan lain-lain.
2). Tanggapan visual, yaitu tanggapan terhadap segala sesuatu yang dilihatnya.
3) Tanggapan perasaan adalah tanggapan terhadap sesuatu yang dialami oleh dirinya.
b. Tanggapan menurut terjadinya, yaitu:
1). Tanggapan ingatan atau tanggapan masa lampau, yakni tanggapan terhadap kejadian yang telah lalu.
2). Tanggapan fantasi, yaitu tanggapan masa kini yakni tanggapan terhadap sesuatu yang sedang terjadi.
3) Tanggapan pikiran atau tanggapan masa datang yakni tanggapan terhadap sesuatu yang akan datang.
c. Tanggapan menurut lingkungannya, yaitu:
1). Tanggapan benda, yakni tanggapan terhadap benda-benda yang ada disekitarnya.
2). Tanggapan kata-kata yaitu tanggapan terhadap ucapan atau kata-kata yang dilontarkan oleh lawan bicara.
Dari pembagian macam-macam tanggapan di atas dapat menunjukan bahwa panca indera sebagai modal dasar pengamatan sangatlah penting, karena secara tidak langsung merupakan modal dasar bagi adanya tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang dipandang sebagai kekuatan psikologis yang dapat menimbulkan keseimbangan atau merintangi keseimbangan.
Selain dari panca indera, tanggapan juga akan didasari oleh adanya perasaan yang mendalam atau sesuatu pengetahuan dan ingatan serta cara tanggapan tersebut diungkapkan dalam kata-kata. Oleh karena itulah tanggapan menjadi sesuatu yang perlu dilihat dan diukur guna mengetahui gambaran atau pengamatan seseorang terhadap sesuatu objek.

4. Urgensi Tanggapan
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa individu dapat menanggapi objek yang ada disekitarnya. Hasil dari persepsi tersimpan dalam jiwanya kemudian disengaja atau tidak, individu akan melahirkan kembali gambaran dari tanggapannya.
Bimo Walgito (1994:100) mengatakan bahwa pada umumnya bayangan yang saling berhubungan satu deongan yang lain saling menimbulkan kembali atau saling memproduksi. Begitu pula Agus Sujanto (1990:35) mengemukakan bahwa dengan tanggapan kita dapat mengasosiasikan dan memproduksi sehingga asosiasi diartikan sebagai kekuatan untuk menghubungkan tanggapan-tanggapan.
Lain halnya dengan Sumadi Suryabrata (1990:65) beliau menyatakan bahwa tanggapan hanya mempunyai peranan yang terbatas yaitu:
a. Sebagai bahan ilustrasi, untuk memudahkan pemecahan problem, dan
b. Sebagai bahan verifikasi, untuk menguji kebenaran suatu pemecahan
Walaupun Sumadi Suryabrata di atas menyatakan bahwa tanggapan hanya memiliki peranan yang sedikit namun tanggapan sangat penting untuk proses berfikir. Terlebih lagi dalam pemecahan masalah, maka tanggapan berfungsi sebagai bahan ilustrasi dan verifikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui asosiasi dan reproduksi tanggapan seseorang dapat digunakan untuk proses berfikir dan memecahkan suatu masalah.
5. Indikator Tanggapan
tanggapan yang muncul ke dalam kesadaran, dapat memperoleh dukungan atau rintangan dari tanggapan lain. Dukungan terhadap tanggapan akan menimbulkan rasa senang. Sebaliknya tanggapan yang mendapat rintangan akan menimbulkan rasa tidak senang (Soemanto, 1998:28).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa indicator tanggapan terdiri dari tanggapan yang positif kecenderungan tindakannya adalah mendekati, menyukai, menyenangi, dan mengharapkan suatu objek. Sedangkan tanggapan siswa yang negatif kecenderungan tindakannya menjauhi, menghindari dan memeberi objek tertentu (Sarwono, 1991:94).
Sedangkan menurut Sardiman, (1992:215) mengemukakan bahwa indicator tanggapan itu adalah 1) keinginan untuk bertindak/berpartisifasi aktif, 2) membacakan/mendengarkan, 3) melihat, 4) menimbulkan/membangkitkan perasaan dan 5) mengamati.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa indicator dari tanggapan itu adalah senang atau positif dan tidak senang atau negatif. Mengenai rasa tidak senang ini pada setiap orang berbeda-beda. Sebagian ada yang menghargai dan menyenangi karena kedermawanannya, yang lainnya lagi karena intelegensinya dan sebagainya.
Kecenderungan untuk mempertahankan rasa tidak senang atau menghilangkan rasa tdiak senang, akan memancing bekerjanya kekuatan kehendak dan kemauan. Adapun kehendak atau kemauan ini merupakan penggerak tingkah laku manusia. Oleh kareena pentingnya peranan tanggapan bagi tingkah laku, maka pendidikan hendaknya nmampu mengembangkan dan mengontrol tanggapan-tanggapan yang ada pada siswa.

B. Hukuman Alternatif Menulis Al-Quran Bagi Pelanggar Tata Tertib Siswa
1. Pengertian Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Hukuman merupakan sanksi yang dikenakan kepada seseorang yang melanggar ketentuan-ketentuan tertentu. Biasanya ketentuan-ketentuan tersebut adalah seperangkat peraturan yang harus dipatuhi guna mencapai tujuan yang diharapkan. Bentuk hukuman sendiri ada 2 macam, yaitu berbentuk fisik dan non fisik(mental). Tetapi bentuk hukuman tersebut diarahkan semata – mata untuk mendidik, dalam hal ini bersifat edukatif. Misalnya dapat dilihat dari hadits Rasulullah yang menerangkan bila seorang anak telah berusia 10 tahun, maka ajari mereka untuk shalat. Jika melanggar, pukulah mereka. Kata “pukul” ini diartikan sebagai jenis hukuman yang mengarah pada hal-hal yang bersifat edukatif atau mendidik.
Sedangkan alternatif mengandung pengertian pilihan diantara dua atau beberapa kemungkinan (KBBI, 1996:25). Bila digabungkan maka makna dari hukuman alternatif adalah jenis hukuman yang dipilih dan diterapkan kepada seseorang (siswa) yang melanggar peraturan atau tata tertib yang berlaku. Dalam hal ini jenis hukuman yang dipilih adalah menulis Al Quran.
Menulis menurut Hernowo (2001:215) diartikan sebagai aktivitas intelektual – praktis dan dapat dilakukan oleh siapa saja dan amat berguna untuk mengukur sudah seberapa tinggi pertumbuhan ruhani seseorang.
Menurut Quraish Shihab (2000:3) Al Quran merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW dan secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh-sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak menusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al Quran Al Karim.
2. Latar Belakang diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Pihak sekolah baik kepala sekolah, para guru, bahkan guru BP yang menangani pelanggaran tata tertib telah menerapkan beberapa hukuman agar para siswa disiplin dan mematuhi setiap peraturan di sekolah. Diantaranya lari mengelilingi lapangan bagi siswa yang bolos dan terlambat datang, merangkum satu buku bidang studi, mengerjakan tugas dan sebagainya. Tapi itu semua dinilai kurang efektif dan kurang edukatif.
Dari latar belakang tersebut, lahir gagasan untuk menerapkan jenis hukuman alternatif dengan menulis Al Quran. Jenis hukuman ini dipilih selain untuk menumbuhkan kedisiplinan juga agar potensi akademik dalam mata pelajaran khususnya PAI meningkat, karena disadari atau tidak guru agama (PAI) merupakan pilar awal pertumbuhan akhlak pyang baik di sekolah.
3. Tujuan diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran
Tujuan diterapkannya Hukuman Alternatif Menulis Al Quran sebenarnya untuk menumbuhkan kedisiplinan dan agar potensi akademik dalam mata pelajaran khususnya PAI meningkat.
Indikator keberhasilannya dapat dilihat antara lain: datang ke sekolah dengan tepat waktu, berperilaku baik selama mengikuti pelajaran, menyimak dan memperhatikan pelajaran, mengerjakan tugas yang diberikan guru, menghargai pendapat orang lain, mengajukan pertanyaan kepada guru dengan tertib, memeriksa kembali pelajaran yang sudah diberikan dan meninggalkan kelas dengan seizin guru.
C. Disiplin Belajar Siswa
1. Pengertian Disiplin Belajar Siswa
Disiplin belajar siswa harus dimiliki oleh siswa, karena merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Slameto (1995:67) mengatakan bahwa “agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin dalam belajar baik di rumah, di sekolah, dan di perpustakaan”. Dari pendapat tersebut, tampak bahwa disiplin diperlukan untuk kemajuan siswa dalam belajar.
Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminta (1993:203) mengatakan bahwa disiplin adalah (1) Latihan batin dan watak dengan maksud supaya mentaati tata tertib, (2) Ketaatan kepada aturan/tata tertib walau dalam bagaimanapun.
Dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan disiplin adalah sikap mental yang dapat dimiliki melalui latihan batin untuk selalu mentaati tatatertib walau dalam keadaan bagaimanapun.
Menurut Arikunto (1990:14) disiplin merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena di dorong oleh adanya kesadaran yang ada di hatinya. Di sini tampak bahwa disiplin tidak dapat dipaksakan oleh suatu keadaan yang mengharuskan perilaku itu timbul, melainkan lahir dari hati nurani.
Selanjutnya Sudijarto mengemukakan disiplin pada hakekatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dengan bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan pbahwa disiplin mengandung motif adanya kesadaran (kesediaan) untuk mematuhi peraturan yang disebabkan karena sikap tersebut mempunyai makna penting dalam kehidupan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara latihan dan selalu membiasakan diri untuk bersikap disiplin dalam segala hal.
Kata “disiplin” bila dihubungan dengan belajar, maka akan menjadi kata “disiplin belajar” yang mengandung arti karakteristik dalam keadaan serba teratur pada saat belajar yang menuju kepada ptujuan belajar yang efektif dan efesien.
Pengertian belajar menurut ahli pendidikan sangat beragam. Masing-masing berpendapat berdasarkan sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Ada yang memberikan definisi bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkahlaku pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari belajar dapat ditunjukkan dalamberbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkahlakunya, keterampilannya dan aspek lainnya (Sudjana, 1995:28).
Sejalan dengan itu, menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriono (1991:121) mengungkapkan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”.
Sedangkan Hilgard dan Brower (Oemar Hamalik, 1992:45) mendefinisikan belajar sebagai perubahan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman”.
Dengan demikian yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, perubahan tersebut terwujud dalam bentuk perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.
Selanjutnya yang dimaksud dengan siswa menurut Muhibbin Syah (1995:14) adalah orang-orang yang sedang belajar, termasuk strategi, factor yang mempengaruhi dan prestasi yang dicapai.
Berdasarkan uraian tentang disiplin yang dihubungkan dengan belajar dan siswa, maka dapat dirumuskan bahwa disiplin belajar siswa merupakan kemampuan seorang siswa untuk secara teratur dalam belajar dan tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan tujuan akhir dari proses belajarnya.
2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Pelanggaran Disiplin
Menurut Crow and Crow (1990:114), factor-faktor yang mempengaruhi disiplin belajar siswa di kelas diantaranya adalah:
a. Faktor Psikologi
Gangguan kesehatan, gangguan kelenjar dan gangguan psikis dapat mempengaruhi sikap anak, persepsi anak, ketenangan anak yangdapat mengganggu terciptanya suasana berdisiplin sekolah.

b. Faktor Perseorangan
Tidak jarang sikap perseorangan anak tidak sesuai dengan standar yang berlaku di kelas. Beberapa sifat perseorangan seperti acuh tak acuh, mementingkan diri sendiri, meniru kelakuan tak baik ataupun terlalu mengecilkan diri sendiri. Sikap tersebut kesemuanya bila dibiarkan akan mengganggu disiplin kelas dan produktivitas belajar.
c. Faktor Sosial
Dalam kehidupan berkelompok akan timbul pengaruh social pada sikap seseorang. Walaupun upaya memahami sikap itu kadang-kadang, pendidik tetap perlu berusaha untuk mengikuti perkembangan sikap anak. Dalam kehidupan kelompok setidak-tidaknya dikenal tiga kebutuhan, yaitu pengakuan akan pengakuan orang lain, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan akan kebebasan bertindak.
d. Faktor Lingkungan
Lingkungan seperti: cukup udara segar, ruangan yang menarik, suasana tenang tidak bising oleh suara kendaraan atau pabrik akan mempengaruhi suasana belajar di kelas.
3. Indikator Disiplin Belajar
Agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan, maka terdapat beberapa indicator yang harus diperhatikan menurut bebrapa pendapat:
Cece Wijaya (1991:18) menyatakan bahwa kedisiplinan seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
1. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru maupun bagi murid, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaran proses pendidikan itu. Dan seorang gurupun harus menjadi teladan bagi muridnya.
2. Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku, meliputi:
a. Menerima, menganalisis dan mengkaji berbagai pembaruan pendidikan
b. Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada
c. Tidak membuat keributan di dalam kelas
d. Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang ditetapkan
3. Menguasai diri dan Introspeksi
Pelanggaran-pelanggaran terhadap tatatertib tidak akan terjadi apabila siswa bisa menguasai diri dan introspeksi. Dan seorang siswa yang memiliki sikap disiplin dalam lbelajarnya akan bertanggungjawab dalam segala tingkah laku selama belajar kelas, dan tidak akan terjadi pelanggaran.
Sejalan dengan itu pula Suharsimi (1993:140) menyatakan bahwa secara operasional siswa dinilai dalam belajar, apabila mereka melaksanakan secara sadar dan terus menerus hal-hal sebagai berikut:
1. Mematuhi peraturan sekolah tentang keterlambatan datang ke sekolah
2. Menempatkan peralatan sekolah sesuai ketentuan
3. Berperilaku baik selama mengikuti pelajaran
4. Tidak mengganggu teman selama mengikuti pelajaran
5. Memperhatikan pelajaran yang diberikan guru
6. Mempergunakan waktu belajar dengan sebaik-baiknya
7. Mengikuti pelajaran dengan tertib
8. Meminjam barang orang lain dengan meminta izin
9. Lekas mengembalikan jika meminjam milik teman
10. Menyambut tugas yang diberikan guru dengan semangat
11. Bekerja dengan jujur
12. Memperhatikan atau menghargai pendapat orang lain
13. Mengajukan pertanyaan kepada guru dengan tertib
14. Meninggalkan kelas dengan seizin guru
D. Hubungan antara Tanggapan Siswa terhadap Hukuman alternatif menulis al-Quran bagi pelanggar Tata tertib sekolah dengan Disiplin Belajar Mereka pada mata Pelajaran PAI
Sebagaimana telah diuraikan di atas dalam pembahasan sebelumnya, bahwa tanggapan menurut Agus Sujanto (1993:31) adalah gambaran pengamatan yang tinggal dalam kesadaran setelah kita mengamati.
Tanggapan merupakan kesan-kesan yang dihasilkan setelah proses pengamatan sudah berakhir. Sedangkan menurut Arikunto (1990:14) disiplin merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena di dorong oleh adanya kesadaran yang ada dihatinya. Apabila kedua factor ini bersatu dalam satuan kelgiatan belajar mengajar di kelas, maka keduanya akan saling menunjang. Disiplin belajar akan tumbuh dari tanggapan yang dialami sebelumnya dan tanggapan itu sendiri berawal dari proses belajar mengajar.
Seorang siswa dengan berbagai pengalamannya akan mengamati jenis hukuman alternatif (menulis al-Quran). Ketika ia melihat, mengamati dan merasakan hukuman tersebut, maka pengalamannya ini memberi bentuk terhadap objek yang diamati. Sedang factor wawasannya memberikan penilaian terhadap jenis hukuman tersebut dalam hal ini menulis al-Quran.
Kemudian siswa secara sadar mengadakan penilaian terhadap hukuman alternatif menulis al-Quran. Tanggapan siswa yang negatif akan menimbulkan suatu perbuatan yang selalu melanggar tata tertib di sekolah. Sedangkan tanggapan siswa yang positif akan menimbulkan suatu perbuatan yang selalu mentaati tata tertib terutama dalam kedisiplinan belajar pada mata pelajaran PAI.
Dengan demikian jelaslah bahwa tanggapan siswa terhadap hukuman alternatif menulis al-Quran bagi pelanggar tata tertib akan melahirkan suatu aktivitas yaitu disiplin belajar, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tanggapan siswa akan mempengaruhi terhadap aktivitas mereka terutama disiplin dalam belajar mereka pada mata pelajaran PAI.





SIKAP

6 04 2010

A. Sikap
1. Pengertian dan Ciri-cirinya
a. Pengertian Sikap
Sikap (Attitude) menurut M. Ngaiim Purwanto (1990:141) “yaitu suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi”. Hal mi senada dengan yang diungkapkan oleh Muhibin Syah (1995:120) yang dikutip dan Bruno (1987) bahwa “Sikap atau Attitude adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereak dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu”. Begitu juga dengari Sarlito Wirawan (1983:94) menyatakan : “Sikap adalah kesiapan path seseorang untuk bertinthk secara tertentu terhadap hal-hal tertentu”.
Sikap mi dapat bersifat positif dan dapat pula hersifat negatif Dalam sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu; sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan untuk mcijahi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.
Pengertian Attitude itu dapat kita terjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan,tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang objek

tadi itu. Jadi Aiti/ude itu dapat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal. A/lit tide itu senantiasa terarahkan terhadap suatu hal, suatu objek. Tidak adaAttitude tanpa ada objeknya. (W.A.Gerungan, 1996:149)
Sedangkan menurut Abin Syamsuddin Makmun (2000:57) “Sikap atau An ilude adalah positif atau negatif atau ambivalensi sarnbutannya terhadap objekobjek (orang, benda, peristiwa, norma atau nilai etis, estetis, dan sehagainya)”
Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh L.L Tharstone yang dikutip Abu Ahmadi (1990:163) mengartikan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhuhungan dengan objek psikologi, objek psikologi disini meliputi simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Sikap positip terhadap suatu objek psikologi apabila ia suka (like), sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap yang negatif terhadap objek psikologi apabila ia tidak suka terhadap objek psikologi.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, namun ada beberapa ciri yang dapat disetujui, sebagian ahli dan peneliti sikap setuju bahwa sikap adalah predisposisi yang dipelajari yang mempengaruhi tingkah Iaku,berubah dalam hal intensitasnya, biasanya konsisten sepanjang waktu dalam situasi yang sama dan komposisinya hampir selalu kompleks.
Dalam hal mi Mar’at (1981:17) menjelaskan bahwa “Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan objek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku”, mi berarti bahwa sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif yang menghasilkan motif tertentu.

b. Ciri-ciri Sikap
Untuk membedakan si4cap dan aspek-aspek psikis yang lain (seperti motif, kebiasaan, pengetahuan dan lain-lain), menurut Sarlito Wirawan Sarwouo (1983:95)
perlu dikemukakan ciri-ciri sikap sebagai berikut mi:
1, Dalam sikap selalu terdapat hubungan subjek-objek, tidak ada sikap yang tanpa objek. Objek mi bisa berupa benda, orang, kelompok orang, nilai-nilai sosial, pandangan hidup, hukum, lembaga masyarakat dan sebagainya.
2. Sikap tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman-pengalaman.
3. Karena sikap dipelajari, maka sikap dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan disekitar individu yang bersangkutan pada saat-saat yang beedabeda.
4, Dalam sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan. Inilah yang membedakannya daripada misalnya, pengetahuan.
5. Sikap tidak menghilang walaupun kebutuhan sudah dipenuhi, jadi berbeda dengan reflek atau dorongan.
6. Sikap tidak hanya satu macam saja. melainkan sangat bermacam-macam sesuai dengan banyaknya objek yang dapat menjadi pe hatian orang yang bersangkutan.
Sedangkan menurut W.A Gerungan (1996:151) Ciri-ciri Attitude adalah:
1. Attitude bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan, melainkan dibentuk atau dipelajarinya sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan obj eknya.

2. Attitude itu dapat berubah-ubah, karena Attitude itu dapat dipelajari orang; atau sebaliknya, Attitude itu dapatdipe1ajari, karena itu Attitude-Attitude dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat :ertentu yang mempennudah berubahnya Attitude pada orang itu.
3. Attitude itu tidak berdiri sendin, tetapi senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap suatu objek. Dengan kata lain Attitude-Attitude itu terbentuk, dipelajari, atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
4. Objek Attitude itu dapat merupakan sam hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kuinpulan dan hal-hal tersebut. Jadi Attitude itu dapat berkenaan dengan satu objek saja, tetapi jga berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa.
5. Attitude n1cnpuiyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sikap inilah yang membeda-bedakan Anitude dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuanpengetahuan yang dimiliki orang.
Attitude dapat merupakan suatu sikap pandangan, tetapi dalam hal itu masih berbeda dengan suatu pengetahuan yang dimiliki orang. Pengetahuan mengenai suatu objek tidak sama dengan Attitude terhadap objek itu. Pengetahuan saja belum menjadi penggerak, seperti halnya path Attitude. Pengetahuan rnengenai suatu objek barn menjadi Attitude tehadap objek tersebut apabila pengetahuan itu disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek itu. Ai’titude mempunyai segi motivasi, berarti segi dinamis menuju ke suatu tujuan, berusaha meIicapai suatu tujuan. Attitude dapat merupakan suatu pengetahuan, tetapi pengetahuan yang disertai dengan kesediaan dan kecenderungan bertindak sesuai dengan pengetahuan itu.
Dalarn hal mi Aiuilude juga berbeda dan kebiasaan tingkah laku. Kebiasaan tingkah laku itu hanya merupakan kelangsungan tingkah laku yang otomatis, yang berlangsung dengan sendirinya, dan yane bermaksud untuk melancarkan atau mempennudah hidup saja. Tetapi sebaliknya niungkin sekali bahwa adanya Attitude itu dinyatakan oleh kebiasaan tingkah laku tertentu. Dalarn pada itu Attitude mengandung pula suatu penilaian positif atau negatifterhadap objek tertentu.
2. Proses Terjadinya Sikap
Pembentukan Altitude tidak terjadi dengan sendirinya atau dengan sembarangan saja. Pembentukannya senantiasa berlangsung dalam inteaksi manusia dan berkenaan dengan objek tertentu. !nteraksi sosial terjadi di dalam keloinpok da.. di luar kelompok. Tetapi pengaruh dan luar din inanusia karena interaksi di luar kelornpoknya itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya Attitude atau terbentuknya Attitude baru. Faktor-faktor lain yang turut memegang peranannya ialah faktor-faktor intern di dalam din pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat perhatiannya untuk menerima dan rnengolah pengpg2r± yg datang dan luar dirin ii. Zau faktor-faktor intern itu turut ditentukan pula oleh motif-motif dan Attitude lainnya yang sudah terdapat dalam din pribadi orang itu. Jadi dalam pembentukan dan perubahan Attitude itu terdapat faktorfaktor intern dan faktor-faktor ekstern pribadi individu yang memegang peranannya.
Dalam hal mi menurut Abu Ahmadi (1990:171) Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap adalah:
1. Faktor intern: Yaitu faktor /ang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor mi berupa selektiviti atau daya pilih seseorang untuk menerima dan meiigolah pengaruh-pengaruh yang datang dan luar.
2. Faktor ekstern: Yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Faktor mi berupa interaksi sosial di luar kelompok.
Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono (1983:95-96) Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat macam cara:
Adopsi : Kejadian-kejadiaii dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam din individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
2. Differensiasi : Dengan berkembananya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dan jenisnya, terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.
3. Integrasi : Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dan berbagai pengalaman yan’g oernuuungan dengan satu hal tertentu, sehingga akhirnya terbentuk sikap megelk1i hal teisebut.
4. Trauma : Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan yang meniggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan.

Sikap timbul karena ada stimulus. Sikap seseorang tidak selamanya tetap, Ia dapat berkembang manakala rnenadapat pengaruh, baik dan dalam maupun dan luar yang bersifat positif dan mengesan. Di dalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh iingkungan, norma-norma atau group. Hal mi akan mengakibatkan perbedaan sikap antara individu yan satu dengan yang lain karena perbedaan pengaruh atau Iingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek.
3. Macam-macam Sikap
Sikap dapat bersifat positif,dan dapat pula bersifat negatif. Dalam sikap positif kecendenrngan tindakannya adalab mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu ; sedangkan dalam sikap negatit’ terdapat kecenderungan tindakannya adalah rnenjauhi, inenghiiiari, membenci, tidak menyulcai objek tertentu. (Sarlito Wirawan Sarwono, 1983 : 94)
Sedangkan menurut Abu Ahmadi (1990:166), sikap dapat dibedakan atas:
a. Sikap positif : Sikap yang menunjukan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.
b. Sikap negatif : Ski )ang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma-norma yang beriaku dimana individu itu berada.
Sikap positif atau negatif tentu saja berhubungan dengan norma yang berlaku. OIeh karena itu untuk menentukan apakah sikap itu positif atau negatif perlu disesuaikan dengan norma yang benlaku. Karena masing-masing kelonipok atau

kesatuan sosial memiliki norma sendin-sendiri yang saling berbeda atau bahkan bertentangan.
4. Pengukuran Sikap
lintuk mengukur sikap diperlukan suatu alat ukur, menurut Sarlito Wirawan Sarwono (1983:98) alat tersebut dinamakan skala sikap. Dan menurut Suharsimi Arikunto (1997:182-184) ada beberapa bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, antara lain:
a, Skalalikert
Skala mi disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan dilkuti oleh lima respons
yang menunjukkan tingkatan. Misalnya:
SS = Sangat setuju
S =Setuju
TB = Tidak berpendapat
TS =Tidaksetuju
STS Sangat Tidak Setuju
b. Skala pilihan ganda
Skala mi bentuknya seperti soal bentuk pilihan ganda yaitu suatu pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatifpendapat
c. Skala Thurstone
Skala Thurstone merupakan skala mirip skala buatan Likert karena merupakan suatu instrumen yang jawabannya menurijukkan tingkatan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
A B C D E F G H I J K
Very Neutral Very
Favourable Unfavourable
Pemyataan yang diajukan kepada responden, disarankan oleh Thurstone kirakira 10 butir, tetapi tidak kurang dan 5 butir.
d. Skala Guttinan
Skala mi sama dengan yang disusun oleh Bogardus, yaitu berupa tiga atau empat buah pemyataan yang masing-masing harus dijawab “Ya” atau “Tidak”. Pemyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang berurutan sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju nomor 1. Selanjutnya, jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3, berarti setuju pernyataan iiomor 1 dan
e, Semantic differential
Instrumen yang disusun oleh Osgood dan kawan-kawan mi mengukur konsep konsep untuk tiga dimensi. Dimensi-dimensi yang ada diukur dalam kategori baiktidak baik, kuat lemah dan cepat lambat atau aktifpasifatau dapatjuga berguna-tidak berguna.
Metode pengukuran sikap digunakan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi serta tujuan. Untuk keperluan penelitian skripsi mi, dan beberapa metode di atas, akan menggunakan Skala sikap Likert.

B. Program Kontrol Shalat Wajib
1. Pengertian Program Kontio1 Shalat wajib
Arti dan kata “Program” dalam kamu bahasa Indonesia (Bambang Prakuso, 1992:76) yaitu “rancangan, rencana”. Sedangkan kata “Kontrol” menurut di dalam kamus bahasa Indonesia pula mempunyai arti “Pengawasan”. Adapun kata “Shalat” di dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yaitu do’a, rahmat dan ampunan. Dan menurut istilah fikih, adalah salahsatu macam atau bentuk ibadah yang diwujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu disertai dengan ucapanucapan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula (pembinaan perguruan tinggi agama Islam,1982:79). Shalat yang dimaksud disini adalah shalat wajib lima waktu. Adapun pengertian kata wijib menurut H. Sulaiman Rasjid (2000:1) yaitu :“Perintah yang mesti dikcjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan) maka yang mengerjakan mendapat pahala danjika tidak dikerjakan, maka ia berdoM”. Jadi;yang dimaksud dengan “Program Kontrol Shalat Wajib “ adalah suatu rancangan pengawasan shalat wajib lima waktu. Dan yang menjadi objek di sini adalah para siswa SMUN 26 kota Bandung.
2. Tujuan Program Kontrol Shalat
Di dalam ajaran Islam terdapat berbagai kewajiban, diantaranya adalah kewajiban shalat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. A1-Baqarah [21:43 yaitu:

“Dan dirikanlab shalat. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang
ruku”(A. Hassan, 1973:162).
Untuk rnelaksanakan shalat wajib lima waktu terdapat beberapa persyaratan, yaitu: islam, cukup umur, dan berakal serta sadar (A.Hassan,1973:187). Atas dasar ayat dan hadits tersebut, maka sebagai seorang muslim yang telah memenuhi persyaratan di atas, wajib untuk melaksanakan shalat yang lima waktu. Sehubungan dengan itu, usia sekolah menengah umum, pada umumnya telah masuk kepada syarat-syarat wajib shalat. Maka konsekuensinya adalah diberi pahala bagi yang rnengerjakannya dan berdosa bagi yang meninggalkannya.
Betapa pentingnya pendidikan agama di sekolah, mengingat masih banyaknya orang tua yang masih mempunyai kemampuan terbatas, yang tdak rnr.u memberikan pendidikan agama yang baik terhadap anaknya, maka dalam hal mi Zakiyah Daradjat (1995:129) mengemukakan bahwa:”Pendidikan agama tidak mungkin terlepas dan pengajaran agama, jika pengajaran agama tidak mungkin dilakukan oleh orang tua di rumah, maka pengajaran agama harus dilakukan dengan bimbingan seorang guru yang mengetahui agama”.
Oleh karena itu, pihak sekolah dan guru PAl setempat, membuat program kontrol shalat wajib yang diperuntukkan siswa. Menurut keterangan guru PAl, tujuan program tersebut adalah membiasakan para siswa untuk disiplin dalam melaksanakan shalat wajib yang lima waktu, baik di sekolah maupun dirumah atau dimana saja mereka berada.

3. Isi Program Kontrol Shalat Wajib
Pendidikan agama di eko1ah bukan hanya sekedar menanamkan iman dan keyakinan beragama saja. Tetapi selain pemberian materi agama, haru diiringi pula dengan prakteknya, yaitu melakukan amal perbuatan yang diperintahkan agama secara nyata, dalam hal mi adalah shalat. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat (1995:130) bahwa :“Pendidikan agama di sekolah hams juga melatih anak didik untuk melakukan ibadah yang dianjurkan dalam agama, yaitu praktek agama yang menghubungkan manusia dengan tuhan yang dipercayainya itu”.
Perwujudan dan uraian di atas, pihak SMUN 26 Bandung menjalankan program kontrol shalat wajib, yang mana isi dan program tersebut yaitu:
a. Tujuan progmrn kontrol shalat wajib
Tujuan daii p:ogram kontrol shalat wajib tidak akan diuraikan isini, karena di atas telah diuraikan secara jelas.
b. Pelaksanaan program kontrol shalat wajib
Di dalam pelaksanaannya program mi dilakukan sebanyak lima kali dalam sehan, sesuai dengan kewajiban shalat yang jima waktu dalam sehari smalam, yaitu subuli, dzuhur, ashar, maghrib dan isya.
c. Peraturan!Tata tertib program kontrol shalat wajib
Untuk tercapainya tujuan dan program kontrol shalat wajib yang telah dijelaskan sebelumnya, maka ada peraturanlTata tertib yang harus dipatuhi oleh para siswa yang beragama Islam. Di dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa setiap siswa SMUN 26’Bandung, wajib untuk mengikuti program tersebut. Dalam

pelaksanaannya akan diberlakukan sangsi serta kegiatan yang dilaksanakan akan mempengaruhi nilai pada mata p1ajaran agama Islam.
d. Alat kontrol program kontrol shalat wajib
Supaya program tersebut dapat terkontrol dengan baik, yang dilaksanakan di sekolah maupun di rumah, maka digunakan alat kontrol berupa buku monitoring shalat. Yang mana isi dan buku tersebut berupa kolom-kolom yang berisi nama siswa, tanggal, waktu shalat, dan tanda tangan guru atau orang tua siswa. Dan buku tersebut diperiksa oleh guru PAl.
e. Sangsi -
Untuk mengantisipasi adanya siswa yang tidak ta’at, maka adanya sangsi sangat diperlukan. Sangsi yang berlaku dalam program kontrol shalat wajib berupa teguran atau nasehat kepada siswa yang melakukan pelanggaran kurang dan tiga kaii. Sedangkan bagi siswa yang melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali, maka akan diberikan sangsi yang berat, yaitu tidak boleh mengikuti pelajaran agama Islam selama sam kali pelajaran, kecuali apabila menebusnya dengan menyerahkan tugas khusus yang diberikan oleh guru PAl.
C; uiti i3eL wadah
I. Pengertian Motivasi
MC Donald memberikan sebuah definisi tentang motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diii pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif

dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Perumusan mi mengandung tiga unsur yang saling berkaitan sebhgai berikut:
1. Motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam din seseorang
Perubahan motivasi mengakibatkan beberapa perubahan tenaga dalam sistem neurofisiologis daripada organisme manusia, di dalam motivasi terdapat juga motivasi yang tidak diketahui.
2. Motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif
Banyak istilah yang dipakai untuk menerangkan tentang keadaan “perasaan” mi. Secara subjektifkeadaan im dapat dicinkan sebagai “emosi”. Dorongan afektifini ada juga yang nampak kurang nyata, seperti pada keadaan seseorang yang tenang bekerja di mea, padaa! ia mempunyai dorongan yang kuat berupa manifestasi perubahan psik.iiogi yang terjadi pada dirinya.
3. Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan
Orang yang termotivasi, membuat reaksi-reaksi yang mengarahkan dirinya kepada usaha mencapai tujuan, untuk mengurangi ketegangan yang ditimbukan oleh perubahan tenaga di dalam dirinya. Dengan perkataan lain, motivasi memimpin ke arah reaksi-reaksi mencapai tuj uan (Oemar Hamalik, 1992:173-174).
Mengenai pengertian motivasi mi, James.O. Whitaker membenkan pengertian secara umum, bahwa motivasi adalah “kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makiuk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut” (Wasty Soernanto, 1983:193).’

Sedangkan menurut E.usman Effendi dan Juhaya. S. Praja (1984:71) “Motivasi adalah usaha-usaha &ntuk menyediakan kondisi dan situasi sehingga individu itu melakukan kegiatan apa yang dilakukannya”.
Meskipun para ahli mendefrnisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun essensinya menuju kepada maksud yang sama, yaitu bahwa motivasi itu merupakan kekuatan atau tenaga yang membuat seseorang bertindak atau berbuat ke arah tujuan tertentu, baik disadari atau tidak.
2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi motivasi beribadah
Setelah menganalisa dan berbagai sumber yang membenikan keterangan mengenai motivasi, maka faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi beribadah itu ada dua macam, yaitu:
a. Faktor dan dalam
Faktor yang mempengaruhi siswa dalam motivasi beribadah yang timbul dalam din siswa itu, diantaranya:
1) Faktor Jasmaniah
Kondisi umum jasmaniah yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam melaksanakan ibadah. Kondisi tubuh yang lemah dapat menurunkan semangat untuk beribadah.
2) Faktor Psikologis, yang terdiri dan:
(a) Naluri
Setiap kelakukan manusia lahir dan suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri. Naluri merupakan tabi’at yang dibawa manusia sejak lahir. Naluri adalah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang dapat menyampaikan pada tujuan dengan berfikir dahulu ke arah tujuan itu tanpa didahului latihan perbuatan itu. Dalarn ha! mi ahli psikologi menguraikan beberapa naluri yang ada pada din manusia yang menjadi pendorong tingkah lakunya, diantaranya adalah naluri ber-Tuhan (Hamzah Ya’kub, 1993: 57).
Naluri ber-Tuhan mi dapat menjadi motivasi beribadah bagi siswa, karena ia sadar akan kewajiban dirinya sebagai hamba terhadap Ti;hannya.
(b) Keadaan perasaan!suasana batin
Keadaan perasaan dapat menjadi salah sam yang turut menentukan dalarn naik turunnya motivasi beribadah seseorang. Keadaan perasaan yang tenang dan tentram dapat menjadi salahsatu penyebab meningkatnya semangat dalam beribadah, sebaliknya keadaan perasaan yang resah dan gelisah dapat menjadi salahsatu penyebab menurunnya semangat dalam beribadah.
b. Faktor dan luar
Secara umum faktor dan luar yang dipandang dapat mempengaruhi siswa dalarn motivasi beribadah mi adalah:
) Faktor keluarga
Keluarga adalah 1ernbag pendidikan yang pertarna dan utarna. Pendidikan dalam keluarga mempunyai pengarub yang besar terhadap motivasi beribadab, karena apabila di dalam suatu keluarga diajarkan dan dididik agama secara baik dan benar maka secara otornatis akan tertanam dengan kuat dalam jiwa setiap anggota keluarga tersebut. Dan begitupun sebaliknya bagi keluarga yang tidak memberikan pendidikan dan pengajaran agama terhadap anggota keluarganya, kemungkinan besar motivasi beribadahnya pun akan rendah.
2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi motivasi beribadah siswa, mencakup:
(a) Waktu seko1’
Waktu sekoiah di SMTJN 26 Bandung, terbagi menjadi dua, yaitu sekolah pagi dan sekolah siang. Waktu sekolah siang dan pukul 12.00 W1B sampai dengan pukul 17.00 WIB. Dimana diantara waktu itu terdapat dua waktu shalat yaitu dzuhur dan Ashar.Dengan adanya kedua waktu shalat tersebut, maka pihak sekolah menyediakan waktu untuk melaksanakannya. Sudah tenth hal tersebut mendukung terhadap pelaksanaan ibadah shalat siswa.
(b) Sarana Ibadah
Dengan banyaknya jumlah siswa yang beragama Islam, maka tentu saja memerlukan sarana ibadah yang memadai mulai dan tempat melaksanakan ibadah sampai dengan tempat wudhu.Apabila semua sarana telah memadai, maka siswapun akan merasa rnudah dn nyarnan dalam melaksanakan ibadah shaat.

(c) Kegiatan belajar mengajar PAl
Dengan adanya kegiatan belajar mengajar PAl di sekolah, maka secara disadari atau tidak oeh siswa, keiatan tersebut akan menanamkan iman dan keyakinan pada din siswa, sehingga dan sinilah akan muncul yang disebut motivasi beribadah.
(d) Kegiatan ekstrakunkuler keagamaan di sekolab
Kegiatan ekstrakurikuer keagamaan yang dilaksanakan di luar kelas, akan merealisasikan iman dan keyakinan yang telah ditanamkan dalam pengajaran agama Islam di kelas. Dengan kegiatan tersebut akan melatih siswa untuk melakukan praktek-praktek ibadah yang dianjurkan oleh agama, yang dalam hal mi adalah ibalah shalat, yang pada akhirnya akan memunculkan motivasi dalam beribadah.
3. Indikator Motivasi Beribadah
Motivasi itu merupakan sesuatu kekuatan, namun tidaklah merupakan suatu substansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikatomya, dan disini akan dibahas mengenai indikator motivasi beribadah, yaitu:
a. Responsif7Tanggap
Orang yang memiliki motivasi ibadah yang tinggi, apabila telah dikumandangkan adzan tidak akan menunda-nunda pelaksanannya, melainkan akan bergegas bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah shalat. Karena Allah SWT memerintahkan shalat tepat pada waktunya. Sebagairnana Firman-Nya dalam Q.S. An-Nissa [41:103 yaitü:

Sesungguhnya shalat itu .adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Sukrnadj aj a Asyarie-Rosy Yusuf, 1984:201).
b. Disiplin
Disiplin dalarn rnelaksanakan ibadah shalat, berarti melaksanakan segala syarat dan rukun shalat dengan baik dan benar.
Syarat dan rukun shalat tersebut sebagaimana yang akan diuraikan disini. Syarat-syarat shalat menurut mob. Rifa’i (1976:35) yaitu:
1. Beragama Islam;
2. Sudah baligh dan berakal
3. Suci dan hadas;
4. Suci seluruh anggota badan, pakaian dan tempat;
5. Menutup aurat, laki-laki auratnya antara pusat sampai lutut’ sedangkan wanita selunth anggota badannya kecuali muka dan dua belah tapak tangan;
6. Masuk waktu yang telah ditentukan untuk masing-masing shalat;
7. Menghadap kiblat;
8. Mengetahui mana yang rukun dan mana yang sunat;
Sedangkan rulcun shalat menurut Moh.Rifa’i (1976, 35-36) terdini dan:
1. Niat;
2. Takbirotul ihiam;

3. Berdiri tegak bagi yang berkuasa ketika shalat fardhu. Boleh sambil duduk atau berbaring bagi yagwsedang sakit;
4. Membaca surat Fatihah pada iap-tiap rakaat;
5. Ruku’ dengan thuma’ninah;
6. Ftidal dengan thurnaninah;
7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah;
8. Duduk antara dua sujud dengan thuma’ninah;
9. Duduk tasyahud akhir dengan thumaninah;
10. Membaca tasyahud akhir;
11. Membaca shalawat nabi pada tasyahud akhir;
12. Membaca salam yang pertama;
13. Tertib : berurutan rnengerjakan rukun-rukun tersebut.
Bagi yang memiliki motivasi beribadah yang tinggi tentu akan melaksanakan shalat dengan disiplin, salah satunya yaitu melaksanakan ibadah shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya.
c. Durasillamanya melaksanakan ibadah shalat
Ibadah shalat yang baik dan benar hams dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya. Bagi yang memilki motivasi ibadah yang tinggl, tentu akan melaksanakannya dengan tertib. Dalam mewujudkan hal tersebut secara otomatis memerlukan waktu yang cukup lama. Akan tetapi bagi yang tidak memiliki motivasi ibadah, kemungkinan besar akan melaksanakannya dengan asal-asalan dan hanya

memerlukan waktu yang sangat singkat, atau bahkan ada yang sampai tidak rnelaksanakannya sama sekali.
d. Minat
Minat adalah suatu rasa Iebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara din sendin dengan sesuatu di luar din. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat (Slameto, 1995: 180). Sedangkan menurut Andi Mapiarre (1982:62:63) “Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dan suatu campuran dan perasaan, harapan, pendinan, prasangka, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu
pilihan tertentu -
Dlarn n-iasa remaja, minat berkembang dan hal itu bersifat pemilihan dan berarah tujuan. Pilihan remaja pada suatu minat tertentu dalam suatu jangka waktu, maka perasaan dan pikiran mereka tertuju atau tercurahkan path objek dimaksud. Sehingga hal-hal lain yang bukan objek minat, diabaikaimya. Dalam pada itu pengaruh sosial juga mengambil peranan dalam memantapkan minat remaja terhadap sesuatu hal. Misalnya, penguatidukungan ataupun celaan dan oranglain terhadap objek minat dapat memperkuat ataupun memperlemah minat itu.
Terdapat perbedaan pada obyek minat, bentuk-bentuk minat pun sangat beragam. Beberapa bentuk minat yang penting dan menonjol dapat dikelompokkan dalam minat pribadi dan sosial, minat terhadap agama dan sebagainya.

Menurut Andi Mapiarre (1982:65) minat terhadap agama mulai dialarni rernaja awal. Mereka mulai mernikirkan secara serius soal-soal agama, yang dimulai sejak periode pertama masa rnaja awal. Soal-soal dan dogma agama yang pada periode akhir masa kanak-kanak diterimanya begitu saja, pada masa remaja awal mulai dipersoalkannya secara kritis. Mulailah mereka mendiskusikan soal-soal agama bersama ternan sebaya. Sayangnya, adanya kemampuan remaja untuk dapat menangkap informasi abstrak itu, kurang termanfaatkan. mi disebabkan karena mereka sendiri (atas pengaruh antara lain perasaan!emosinya) lebih melihat atau memandang sesuatu dan segi praktis dan realitanya. Mereka membandingkanantar aapa yang ideal dengan apa yang nampak nyata Sehinnga apa ynag dahulu dipercayainya sebagai hal yang benar, dalam masa reaa awal mulai diragukan. Para remaja awal seringkali mempertanyakan tentang kebenaran, dosa dan neraka, pahala dan sorga; mereka meragukan do’a, akibatnya, minat terhadap agama.dapat melemah dan praktek keagamaan senng ditinggalkannya.
Sesuai yang dikemukakan di atas, usia SMU masuk kepada masa remaja awal, dimana proses keagamaan yang dikemukakan di atas terjadi path para siswa, sehingga minat terhadap keagamaari mi akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan ibadah mereka,
Adapun menurut Doyles Fryer yang dikutip oleh Wayan Nurkancana (1983:229) bahwa “minat atau intrest adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu”. Walaupun minat didefinisikan secára berbeda, tetapi dalam definisi-definisi tersebut tidak ada

nampak kontradiksi. Kalau kita perhatikan definisi-definisi tersebut, maka minat senantiasa erat hubungannya ddngan perasaan individu, objek, aktivitas dan situasi.
Dalam kaitannya dengan mi yaitu, ibadah shalat akan dilaksanakan dengan disiplin apabila ada minat, atau motif itu akan bangkit apabila ada minat.
D. Pengarub Sikap Terhadap lIotivasi Beribadah
Sebagaimana telah dikemukakan pada uralan di atas, bahwa sikap adalah kecenderungan berperilaku pada suatu objek sebagai reaksi terhadap suatu stimulus yang datang kepada dirinya. Sedangkan motivasi adalah daya penggerak atau dorongan yang aktif untuk mengantarkan pada pencapaian tujuan dan kegiatan tertentu. Oleh sebab itu diantara sikap dan motivasi akan senantiasa berkaitan.
Jika kedua faktor in1, (sikap dan motivasi) bersatu padu dalam melaksanakan ibadah shalat maka akan saling menunjang, yaitu motivasi akan tumbuh dan sikap yang terbentuk dalam pelaksanaan program kontrol shalat wajib.
Dan definisi di atas, dapat diidentifikasikan bahwa motivasi disamping berkenaan dengan perasaan, juga muncuinva diawali dengan adanya sil&p terhadap
suatu objek. Dalam hal yang menyangkut kedua aspek mi, adalah sikap siswa terhadap program 1contrn shalat wajib, yang tentunya siswa akan memiliki sikap yang berbeda-beda tergantung dan aspek positif atau aspek negatif terhadap suatu objek tertentu dan akan memiliki motivasi yang berbeda-beda pula sebagai dampak dan sikap yang dimilikinya.





MENGENAI INTENSITAS MASYARAKAT MENGIKUTI DZIKIR JUM’AT KLIWON HUBUNGANNYA DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDHU MEREKA

6 04 2010

MENGENAI INTENSITAS MASYARAKAT MENGIKUTI DZIKIR JUM’AT KLIWON HUBUNGANNYA DENGAN PELAKSANAAN SHALAT FARDHU MEREKA
A. Intensitas Masyarakat Mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon
1. Pengertian Intensitas
Kata intensitas berasal dari bahasa inggris “intens” yang artinya hebat, kuat, semangat (Jhon Echols, 1995: 326). Kehebatan disini adalah kehebatan dalam melaksanakan suatu pekerjaan sampai batas terjauh yang ditempuh oleh seseorang.
Sedangkan dalam KBBI (1996:383) intens mengandung pengertian hebat/sangat kuat, penuh semangat. Intensitas juga merupakan dorongan (kekuatan-kekuatan) yang bersifat mengaktifkan. Pengertian tingkah laku oleh dorongan itu bervariasi, dari taraf yang rendah sampai pada taraf yang tinggi. Menurut Woodwort, tanpa adanya dorongan tidak akan ada kekuatan yang menggerakan dan mengarahkan mekanisme – mekanisme yang bertindak sebagai pemuncul tingkah laku. Dorongan itu ada yang bersifat fisiologis yang bersumber pada kebutuhan-kebutuhan organis dan dorongan umum serta motif darurat, termasuk di dalamnya dorongan rasa takut, kasih sayang, kegiatan, kekaguman dan ingin tahu dalam hubungannya dengan rangsangan dari luar (Abin Syamsuddin, 2004:38). Ini berarti bahwa intensitas adalah dorongan (kekuatan – kekuatan) yang timbul dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang melibatkan dirinya secara aktif.
Intensitas juga mengandung arti pengerahan tenaga atau pemusatan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Jadi kata intensitas terhadap kegiatan disini adalah intens atau seringnya dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon atau semangat atau kesungguhan masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon.
Masyarakat ialah kumpulan sekian banyak individu – kecil atau besar – yang terkait oleh satuan, adat, ritus, atau hukum khas, dan hidup bersama (Quraish Shihab, 2000:319). Manusia secara fitri adalah makhluk social dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. Setiap masyarakat mempunyai cirri khas dan pandangan hidupnya. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut. Suasana kemasyarakatan dengan system nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat itu. Jika system nilai atau pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”, maka upaya dan ambisinya terbatas pada “kini dan di sini pula”(Quraish Shihab, 2000:320).
Penulis membatasi bahwa masyarakat yang menjadi objek penelitian yaitu masyarakat yang mengikuti dzikir pada malam jum’at kliwon, yakni warga RW. 05 dusun Cikoang desa Sakurjaya RT. 10 sampai RT. 11.
Dengan demikian intensitas masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon ialah kehebatan (kesadaran, kesungguhan atau kekuatan) masyarakat dusun Cikoang yang ditandai dengan motivasi, minat dan aktivitas mereka yang sungguh-sungguh mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon.
2. Indikator Intensitas
Maslow yang dikutip oleh Slameto (1995: 171) mengemukakan bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan atau diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu. Secara teoritis motivasi tingkah laku yang intens adalah merupakan hasil dari taraf motivasi yang tinggi dan sebaliknya motivasi digunakan untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang menjadi penggerak dan pengarah tingkah laku.
Dari pendapat tersebut, dapat digambarkan bahwa tingkah laku yang intens dapat terjadi dengan adanya motivasi yang tinggi dan perilaku dimotivasi oleh keinginan (minat) yang akhirnya menjadi aktivitas. Dengan demikian intensitas masyarakat yang mengikuti dzikir jum’at kliwon dapat terlihat dari motivasi, minat dan aktivitas mereka.
Ketiga indikator tersebut akan dijelaskan sebagai-berikut:
a. Motivasi
Motivasi berasal dari motif yang artinya daya (dorongan) yang timbul dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan (KBBI, 1996: 666). Sedangkan motivasi adalah sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep yang lain seperti minat, konsep diri, dan sikap dsb.(Slameto, 1995:170), ini berarti bahwa motivasi adalah rangkaian motif yang berada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Mc. Donald (Sardiman,2003 :73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald tersebut mengandung tiga unsur penting, yaitu :
1. Motivasi dimulai dengan perubahan energi pada diri seseorang
2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa “feeling”/afeksi seseorang
3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan
Motivasi merupakan suatu kekuatan pendorong yang dapat dilihat namun dapat dirasakan. Seseorang yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan suatu kegiatan, begitu pula sebaliknya seseorang yang kurang memiliki motivasi yang kuat akan terlihat kurang bersemangat dalam melakukan suatu kegiatan yang akan berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapainya.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang timbul pada diri seseorang yang mendorongnya untuk menggerakan dan mengarahkan tingkah laku dalam mencapai tujuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Abin Syamsuddin (2004:37) membagi motivasi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Motivasi Intrinsik, jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauannya sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik, jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehinggga dengan kondisi demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu kegiatan.
Motivasi itu merupakan suatu kekuatan namun tidaklah merupakan suatu substansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikatornya dalam term-term tertentu, antara lain 1) Durasi kegiatan, 2) Frekuensi kegiatan, 3) Persistensinya, 4) Ketabahan, keuletan dan kemampuannya, 5) Devosi/pengabdian dan pengorbanan, 6) Tingkat aspirasinya, 7) Tingkat kualifikasi prestasi atau product/out put, 8) Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (Abin syamsudin, 1999: 30).
Dari beberapa indikator diatas, maka motivasi masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon dapat dilihat dari indikator yang dibatasi sebagai berikut :
1) Durasi Kegiatan
Durasi kegiatan yaitu berapa lama kemampuan menggunakan untuk melakukan Dzikir Jum’at Kliwon. Dari indikator ini, dapat dipahami bahwa motivasi dapat dilihat dari kemampuan seseorang menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan dzikirnya.
2) Frekuensi Kegiatan
Frekuensi dapat diartikan dengan kekerapan/ jarang kerapnya. Frekuensi yang dimaksud yaitu berupa seringnya kegiatan yang dilakukan dalam periode waktu tertentu. Kegiatan dzikir Jum’at Kliwon dilaksanakan paling sedikit sekali dalam sebulan. Masyarakat yang memiliki motivasi tinggi berusaha menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya mengikuti dzikir jum’at kliwon pada tiap pertemuan.
3) Persistensi
Persistensi yaitu kelekatan dan ketetapan pada tujuan kegiatan. Dari indikator ini dapat terlihat bahwa motivasi akan mengetahui seberapa tinggi persistensi masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon. Ini terlihat dari kesungguhan mereka selama dzikir dilakukan.
4) Ketabahan dan Keuletan
Ketabahan dan keuletan disini mengandung arti bahwa dalam menjalankan dan mengikuti dzikir para jamaah diharapkan mampu menjalani segala sesuatu resiko dengan ketabahan dan keuletan sehingga tercapai apa yang diharapkan.

5) Pengabdian dan Pengorbanan
Dalam menjalankan dzikir tentulah banyak hambatan serta gangguannya. Oleh karena itu pengorbanan dan pengabdian sangatlah diperlukan.
6) Tingkatan Aspirasi
Aspirasi yang dimaksud adalah cita-cita, sasaran, atau target yang hendak dicapai dalam kegiatan yang dilakukan. Kegiatan Dzikir Jum’at Kliwon bermaksud mengembangkan pengetahuan afektif dan psikomotor melalui penyampaian isi dzikir berupa tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan do’a dengan tujuan mendorong masyarakat agar mereka bergairah beribadah serta memiliki akhlakul karimah.
7) Arah Sikap
Arah sikap maksudnya yaitu senang/tidak senang, positif/ negatif sikap warga yang mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon yang merupakan reaksi terhadap sasaran/ tujuan kegiatan dzikir yang hendak dicapai oleh mereka secara sadar dan akan tergantung kepada rangsangan dari luar.
b. Minat
Menurut Slameto (1995: 180) minat adalah suatu masa lebih suka dan rasa keterikatan paada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minatnya. Ini berarti bahwa minat adalah suatu perasaan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan sesuatu tanpa ada yang menyuruh, sedangkan dalam KBBI (1996:656) dijelaskan bahwa secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan hati/ghairah yang tinggi terhadap sesuatu.

Suatu minat dapat diekspresikan melalui sesuatu pernyataan yang menunjukan bahwa seseorang lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Seseorang yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut (Slameto, 1995:180)
Berdasarkan pengertian minat yang dikemukakan oleh para ahli di atas ada suatu unsur kesamaan yang terkandung dalam setiap pengertian yaitu kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan minat adalah kecenderungan hati seseorang terhadap sesuatu yang ditimbulkan akibat adanya tuntutan kebutuhan baik dari dalam maupun dari luar, yang mempunyai pengaruh dalam memperkuat perhatian dan kemampuan individu guna mencapai sasaran/objek yang diharapkan.
Untuk mengetahui indikator minat, penulis menginterpretasikan sebagai berikut:
1. Kecenderungan yang kuat
Kecenderungan yang dimaksud adalah kecenderungan hati, kesudian, keinginan atau kesukaan. Kecenderungan yang kuat akan terlihat pada diri warga atau masyarakat yang mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon. Kalau sudah ada kecenderungan, resiko apapun akan ia penuhi.
2. kehadiran
Kehadiran yang dimaksud yaitu kehadiran masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon tepat waktu, dan dipastikan bahwa masyarakat yang mengikuti dzikir tersebut mempunyai minat yang tinggi terhadap dzikir jum’at kliwon, sehingga terlihat pula dalam aktivitasnya.
3. Giat dalam Berdzikir
Kesungguhan seorang jama’ah dzikir dalam mengikuti rutinitas berupa dzikir jum’at kliwon, ini dapat terlihat dari persiapan segala sesuatunya sebelum dzikir dimulai dan tidak pernah alpanya dalam mengikuti dzikir tersebut.
c. Aktivitas
Aktivitas berasal dari bahasa inggris “activity” yang artinya kegiatan atau kesibukan (Jhon Echol dan Hasan Sadely, 1995:10), ini berarti aktivitas adalah bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seseorang.
Aktivitas tidak hanya bersifat fisik saja, melainkan juga aktivitas mental. Dalam melakukan sesuatu, kedua aktivitas tersebut harus selalu berkaitan, karena jika yang berfungsi hanya salah satu saja maka hasil dari suatu kegiatan tersebut tidak akan optimal. Begitu juga sebaliknya kalau yang aktif itu hanya mentalnya saja maka kurang bermanfaat. Seseorang yang melakukan suatu kegiatan, tetapi fisik dan mentalnya tidak aktif menunjukan bahwa tidak adanya keserasian antara aktivitas fisik dengan aktivitas mentalnya.
Mengenai aktivitas ini, Peaget menerangkan bahwa seseorang itu berfikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan maka seseorang itu tidak berfikir. Oleh karena itu agar seseorang berfikir sendiri maka harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Berfikir pada taraf verbal baru akan timbul setelah seseorang itu berfikir pada taraf perbuatan (Sardiman A.M., 2003:100).
Dengan demikian jelas bahwa aktivitas adalah suatu perbuatan baik fisik maupun mental yang akan membuahkan suatu aktivitas yang optimal.
Adapun aktivitas masyarakat mengikuti dzikir jum’at kliwon sewaktu kegiatan berlangsung adalah sebagai berikut :

1) Memperhatikan
Perhatian atau memperhatikan adalah pemusatan tenaga /kekuatan jiwa tertuju pada suatu objek atau mendayagunakan kesadaran untuk menyertai suatu aktivitas (Slameto, 1998:34). Jadi, ketika dzikir warga akan memperhatikan gerak dan bacaan dzikir tersebut.
2) Mengamalkan
Aktivitas emosional berhubungan erat dengan suasana mental yang senantiasa menanggapi/menyikapi situasi kondisi di sekelilingnya, seperti menaruh minat, merasa senang, kagum, puas dan sebagainya merupakan aktivitas emosional yang negatif misalnya: merasa bosan, gelisah, gugup, kesal dan sebagainya.
B. Dzikir Jum’at Kliwon
1. Pengertian Dzikir Jum’at Kliwon
Dzikir secara sederhana diartikan “ingat”. Ingat itu ada kalanya dengan hati atau dengan lidah, ingat dari kelupaan dan ketidaklupaan, serta sikap senantiasa menjaga sesuatu dalam ingatan (Arifin Ilham, 2004: 64). Dengan demikian istilah dzikir atau dzikrullah dalam islam secara umum diartikan “mengingat Allah” atau “menyebut asma Allah”. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Qs.Al-Kahfi ayat 24 :
وَاذْكُرْرَبَّكَ اِذَانَسِيْتَ ( )
Artinya:
“Dan ingatlah kepadaTuhanmu jika kamu lupa” (Depag RI, 1990: 447)

Dan surat al-Baqarah ayat 152 :
فَاذْكُرُوْنِى اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِى وَلاَ تَكْفُرُوْنَ ( )
Artinya:
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”( Depag RI, 1990: 38).
Ketika seseorang ingat kepada Allah berarti ia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya, dan sebaliknya menjauhkan diri dari lupa kepada-Nya. Al-Ghazali (2000:118) menyatakan bahwa dzikir- dzikir yang bermanfaat adalah yang dibaca dengan kehadiran hati. Adapun selain itu, sedikit manfaatnya karena yang dimaksud adalah berdialog dengan Allah dan itu dapat dicapai dengan mengekalkan dzikir dengan kehadiran hati. Hal ini dapat menghindarkan kesudahan yang buruk.
Dzikir adalah tiang penopang yang sangat kuat dijalan menuju Allah. Tak seorang pun bisa mencapai Tuhan kecuali dengan terus-menerus dzikir kepada-Nya. Jadi, zikir adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang (KBBI, 1996: 1136).
Pada batas tertentu zikir dapat berarti semacam proses pikiran formal yang menyebut-nyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya. Karena manusia merupakan makhluk yang berfikir dan merasa bertasawuf, artinya manusia senantiasa menghidupkan hubungan rasa antara manusia dan Tuhan. Dalam kaitan ini Said Hawwa (1997: 128) menegaskan bahwa :
“Seandainya saja seorang muslim menentukan untuk melaksanakan latihan-latihan ruhani (dzikir) selama 40 hari, kurang atau lebih dari itu, tidak dapat diragukan lagi, imannya kan menanjak tinggi, makna dan hakekat tauhid akan semakin menghujam di dalam kalbunya, dan semua itu dapat melahirkan kecemerlangan pikiran dan renungan. Ini masih tanpa nilai-nilai lain yang beragam, yang semuanya sangat penting pada zaman kita yang penuh dengan materialisme dan nafsu syahwat yang merajalela.”

Sedangkan jum’at merupakan nama salah satu hari dan merupakan urutan hari yang keenam dalam seminggu. Jum’at berasal dari bahasa arab “jamaa” yang artinya “berkumpul”, dinamakan demikian karena hari Jum’at merupakan hari dimana umat Islam berkumpul untuk menunaikan kewajiban sholat Jum’at.
Kliwon adalah salah satu nama hari pasaran jawa yang sangat disakralkan. Nama-nama hari pasaran jawa secara urutan adalah kliwon, manis, pahing, pond an wage. Dalam hal ini kliwon ditempatkan pada jejer pertama.
Kebiasaan jum’at kliwon merupakan budaya daerah cirebon. Di Cirebon dan di Jawa pada umumnya ada dua cara penghitungan pekan. Yang satu adalah pekan dengan 7 hari, yang lainnya adalah pekan dengan 5 hari pasaran. Menurut kedua cara penghitungan pekan ini, masing-masing hari memiliki jejer atau kedudukan urutan dan naktu. Dan naktu merupakan nilai khusus yang melekat pada nama orang, dan unit satuan kalender (yaitu hari, pasaran, bulan dan tahun). Naktu adalah unsur penting yang dijadikan dasar penghitungan (Muhaimin,2001:102).
TABEL I
NAKTU DAN JEJER PADA HARI DALAM MINGGU BIASA
DAN MINGGU PASARAN
Hari dalam seminggu Naktu Jejer Pasaran Naktu Jejer
Jum’ah/jum’at 6 1 Kliwon 8 1
Septu/sabtu 9 2 Manis 5 2
Ahad/minggu 5 3 Pahing 9 3
Senen/senin 4 4 Pon 7 4
Selasa/selasa 3 5 Wage 4 5
Rebo/rabu 7 6
Kemis/kamis 8 7

Orang Cirebon menganggap jum’at sebagai hari terpenting dalam sepekan dan dalam hitungan diletakan pada jejer pertama. Maka satu pekan dimulai dengan hari Jum’at dan berakhir Kamis. Dalam hal pasaran, kliwon dianggap paling penting dan ditempatkan dalam jejer pertama, sehingga susunan hari pasaran adalah: Kliwon, Manis, Pahing, Pon, Wage. Peristiwa yang paling terjadi setiap 35 hari sekali, yaitu pada Jum’at Kliwon, dimana jejer pertama pekan (Jum’at) bertemu dengan jejer pertama hari pasaran.
Pentingnya hari Jum’at tampaknya berasal dari tradisi Islam yang menganggap jum’at sebagai hari paling utama (sayyidul ayyam) untuk mengerjakan perintah agama, tidak jelas mengapa kliwon dianggap penting meskipun kliwon berasal dari tradisi jawa. Tradisi sastra setempat menyebutkan bahwa Jum’at Kliwon secara tradisional dipakai oleh Sunan Gunung Djati sebagai hari pertemuan istana, karena Jum’at Kliwon adalah hari yang baik untuk mengetahui baik buruknya maksud seseorang dan dikabarkan juga bahwa Sunan Gunung Djati Cirebon sendiri wafat pada Jum’at Kliwon (Muhaimin, 2001:102).
Berdasarkan pada pemaparan dan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dzikir Jum‘at Kliwon adalah dzikir yang dilakukan pada waktu tertentu yaitu pada malam Jum’at Kliwon dengan bacaan-bacaan tertentu pula.
2. Kronologis Dzikir Jum’at Kliwon di Dusun Cikoang
Berdasarkan pada hasil wawancara dan observasi di Dusun Cikoang mengenai dzikir Jum’at Kliwon secara kronologis didapatkan informasi bahwa yang pertama kali melakukan dzikir di Dusun tersebut adalah almarhum Pak Cep Mail (Kiayi Ismail), beliau masih turunan cirebon dan putra dari pendiri Pondok Pesantren Cipicung Conggeang, tapi tidak diketahui dengan jelas tahun berapa beliau memulai melakukan rutinitas jum’at kliwon. Setelah wafat kebiasaan dzikir itu diteruskan oleh anggota jamaahnya, yakni Ust. Ahmad hingga saat ini.
Menurut pimpinan dzikir tersebut, bila dirumuskan ada beberapa alasan mengapa dzikir tersebut dilaksanakan pada malam Jum’at Kliwon, diantaranya yaitu:
“Jum’at adalah hari yang diagungkan oleh Islam, pada malam Jum’at Kliwon Sunan Gunung Djati Cirebon lahir, dan wafatnya pun pada malam Jum’at Kliwon. Sunan Gunung Djati bila membahas permasalahan umat setiap malam Jum’at Kliwon.Malam Jum’at Kliwon merupakan malam yang sangat disakralkan oleh masyarakat jawa.”

Uniknya dzikir Jum’at Kliwon di Dusun Cikoang ada unsur perpaduan antara Sumedang dan Cirebon, ini terlihat dengan hadiwan yang begitu mengagungkan Pangeran Kornel dan Mbah Jaya Perkosa sebagai simbol penguasa tatar sunda.”
3. Etika Dzikir Jum’at Kliwon
Menurut M. Arifin Ilham, 2004:83), tatacara pelaksanaan dzikir itu dibagi dua, yaitu: pertama, dzikir sirriyyah fardhiyyah atau dzikir sendiri dalam hati tanpa mengeraskan suara. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Qs.Al-A’raf(7): 205:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ اْلجَهْرِ مِنَ اْلقَوْلِ بِاْلغُدُوِّ وَاْلاَصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِّنْ اْلغفِلِيْنَ ( )

Artinya :
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimudengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Depag RI,1990:256)
Kedua, dzikir jam’iyyah jahriyyah atau berzikir jamaah dengan lafaz syahdu.
Dzikir Jum’at Kliwon yang dilaksanakan di Dusun Cikoang , tatacara pelaksanaannya termasuk dzikir jam’iyyah jahriyyah (berdzikir berjama’ah dengan lafaz syahdu).
Berdasarkan pembagian dzikir tersebut bahwasanya dzikir yang dikehendaki oleh Allah adalah dzikir yang membekas di hati, sehingga dapat berpengaruh pada perilaku. Berkenaan dengan dzikir jum’at kliwon, agar dzikir membekas di hati dan perilaku, maka terdapat beberapa tatacara berdzikir (etika), sebagaimana Sayyid Sabiq (1988: 218-220), mengemukakan tatacara berdzikir sebagai berikut:
1. Khusyu, dzikir dilakukan dengan sopan berusaha menghayati maknanya sehingga dapat mempengaruhi hati dan memperlihatkan maksud dan tujuan dzikir.
2. Menjaga (merendahkan suara)
3. Hendaklah bersikap dalam keadaan harap-harap cemas.
4. Bersih pakaian, tempat dan suci badan serta harum baunya, karena demikian itu akan menambah kegairahan.
5. Menghadap kiblat, karena sebaik-baiknya majelis adalah yang menghadap kiblat.

Apabila cara atau aturan berdzikir ini dilaksanakan dan dijaga dengan baik, berarti orang yang berdzikir itu telah mengambil manfaat dari apa yang telah dibacanya. Maka hasil dari dzikir itu akan berbekas di hati menjadi cahaya bagi jiwa dan melapangkan dada bagi pembacanya.
Etika atau tata cara berdzikir sebenarnya yang amat ditekankan adalah kesucian lahir dan batinnya, Karena kita akan berkomunikasi dengan Dzat yang Maha Suci (Allah SWT).
4. Bentuk Amaliah Dzikir Jum’at Kliwon
Bentuk dzikir ini agak sedikit berbeda dengan dzikir yang biasa dilakukan, dan juga dilaksanakan di waktu tertentu, yakni pada malam Jum’at Kliwon mulai jam 21.00 sampai jam 01.0 pagi, bahkan pada malam Jum’at Kliwon tertentu dimulai pada jam 24.00 (jam 12 malam) sampai jam 03.00 pagi dan materinya hampir sama dengan tahlilan.
Bentuk ritual dari dzikir ini adalah Hadiwan. Hadiwan pada dasarnya adalah pemanjatan do’a kepada Tuhan (Allah) melalui perantara atau meminta pertolongan wali (Muhaimin, 2001:229). Dzikir pada dasarnya mempunyai bentuk dan amaliah yang spesifik, dan akan menimbulkan pengalaman-pengalamn pada derajat yang berbeda-beda dalam eksistensi masing-masing orang yang mengamalkannya.
Sebelum acara dzikir dimulai, pimpinan dzikir membakar dupa/ kemenyan terlebih dahulu. Sedangkan bentuk amaliahnya adalah sebagai berikut :
1. Memohon ampun kepada Allah SWT, dengan membaca Istighfar 3X
اَسْتَغْفِرُ االلهَ الْعَظِيْمَ.( )
Artinya: “aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”
2. Membaca Tawasul 9x diikuti oleh Al-Fatihah 9x pula.
a. Fatihah pertama ditujukan kepada arwah Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya.

الى حضرة النبى المصطفى صلى الله عليه وسلم واله وصحبه اجمعين شيئ لله لهم الفتحة…
b. Fatihah kedua ditujukan kepada arwah seluruh Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah Muhammad SAW, dan para malaikat.

ثم الى اروح ابا ئه واخوانه من النبيين والمرسلين والى ملا ئكة الله المقربين والكرو بيين شيئ لله لهم الفتحة…

c. Fatihah ketiga ditujukan kepada sahabat dekat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, dan seluruh sahabat, tabiin dan para tabiut tabiin serta mereka yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman.

والى اروح ساداتنا ابى بكر وعمر وعثمان وعلى والى بقية العشرة المبشرة بالجنة وسائر الصحابة والقرابة والتبعين شيئ لله لهم الفتحة…
d. Fatihah keempat ditujukan kepada arwah cucu Rasulullah yaitu Hasan Husen, Fatimah Az-Zahra, Siti Khadijah, Hamzah, Abbas, Syuha Badar dan Uhud.

والى اروح الحسن والحسين وامهما سيدتنا فاطمة الزهراء وسيدتنا خديجة الكبرى وسيدنا حمزة والعباس والشهداء البدريينا والا حديينا شيئ لله لهم الفتحة…

e. Fatihah kelima ditujukan kepada arwah para Mujtahid yang empat dan orang-orang yang mengikuti di dalam agam Allah.

والى ارواح الاربعة الائمة المجتهدين ومقلديهم فى الدين شيئ لله لهم الفتحة…

f. Fatihah keenam ditujukan kepada arwah Penghulu para wali yaitu Syeikh Abdul Qadir Jailani.

والى ارواح القطب الربانى والعارف الصمدانى سيدى عبد القادر الجيلانى شيئ لله له الفتحة…

g. Fatihah ketujuh ditujukan kepada arwah wali-wali Allah dari timur ke barat dan di darat dan di laut.

والى ارواح كل ولى ووليى لله من مشارق الارض ومغا ربها برها وبحرها شيئ لله لهم الفتحة…

h. Fatihah kedelapan ditujukan kepada arwah para wali songo dan khususnya kepada Sunan Gunung Djati Cirebon.

والى ارواح ولى سعوا خصوصا سونان كونوغ جاتى جيربون شيئ لله لهم الفتحة…

i. Fatihah kesembilan ditujukan kepada arwah leluhur Sumedang, khususnya Pangeran Kornel dan Mbah Jaya Perkosa.

والى ارواح لولوحور سومداغ خصوصافغران قورنيل وامباح جاي فارقوس شيئ لله لهم الفتحة…

Qs. Al-Fatihah :

اَعُوْ ذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ( ) اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعلَمِيْنَ ( ) اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ( ) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ( ) اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ( ) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمِ ( ) صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّا لِّيَْن ( )
Artinya: (1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ;(2) Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam;(3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;(4) Yang Menguasai Hari Pembalasan;(5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan;(6) Tunjukilah kami jalan yang bagus;(7) yaitu jalan orang-orang tang telah Engkau Anugerahkan Nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Depag RI, 1990:5-6 )

Berkenaan dengan tawasul ini Nashiruddin Al-Albani (1993:20) menjelaskan bahwa kata tawasul sebenarnya bermakna mendekat (taqarrub) kepada Allah yang dituju dan mencapainya dengan keimanan yang keras. Ibnu Katsir pun seperti yang dikutip Al-Albani dalam kitabnya An-Nihayah Al-Wasil(tawasul) artinya pendekatan, perantara, dan sesuatu yang dijadikan untuk menyampaikan serta mendekatkan diri kepada sesuatu. Dalam hal ini yaitu Allah SWT. Dan perantaranya adalah orang-orang suci.

3. Membaca Qs. Al-Ikhlas 100 kali
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ ( ) اَللهُ الصَّمَدُ ( ) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ( ) وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا اَحَدٌ ( )

Artinya:(1) Katakanlah,”Dialah Allah, Yang Maha Esa”;(2) Allah tempat meminta segala sesuatu;(3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan;(4) dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia”. (Depag RI, 1990:1118 )
4. Membaca Qs. Al-falaq
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقِ ( ) مِنْ شَرِّ مَاخَلَقَ ( ) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ( ) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّثتِ فِى اْلعُقَدِ ( ) وَمِنْ شَرِّ حَا سِدٍ اِذَا حَسَدَ ( )
Artinya: (1) Katakanlah,”Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh;(2) dari kejahatan Makhluk-Nya;(3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita;(4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul;(5) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (Depag RI, 1990:1120 )

5. Membaca Qs. An-nas
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ( ) مَالِكِ النَّاسِ ( ) اِلهِ النَّاسِ ( ) مِنْ شَرِّ اْلوَسْوَاسِ اْلخَنَّاسِ ( ) اَلَّذِىْ يُوَسْوِسُ فِى صُدُوْرِ النَّاسِ ( ) مِنَ اْلجِنَّةِ وَالنَّاسِ ( )
Artinya: (1) Katakanlah,”Aku berlindung kepada Tuhan yang Memelihara dan Menguasai manusia;(2) Raja manusia;(3) Sembahan manusia;(4) Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi;(5) yangmembisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia;(6) dari (golongan) jin dan manusia”.
(Depag RI, 1990:1122 ).

6. Membaca Qs.Al-baqarah:1-5
المّ ( ) ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ( ) اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَمِمَّا رَزَقْنهُمْ يُنْفِقُوْنَ ( ) وَالَّذِيْنَ يُؤْ مِنُوْنَ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَا اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ( ) اُولئِكَ عَلى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَاُولئِك هُمُ اْلمُفْلِحُوْن( )
Artinya: (1) Alif lam Mim (Allah-lah Yang lebih mengetahuinya;(2) Kitab al-Quran itu, tiada keraguan di dalammya, menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa;(3) yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, melakukan shalat dan mendermakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka;(4) Dan orang-orang yang beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepadamu, dan kitab yang diwahyukan sebelum kamu, serta menyakinkan adanya akherat;(5) Mereka itulah yang selalu dalam petunjuk Tuhannya, dan memperolah kemenangan(beruntung)”. (Depag RI, 1990:8-9 )

7. Membaca Qs.Al-baqarah ayat 255 (ayat Kursi)
اَللهُ لآَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَىُّ اْلقَيُّوْمُ لاَ تَأْ خُذُه سِنَةٌ وَّلاَنَوْمٌ لَهُ مَا فى السَّموَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ مَنْ ذَاالَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه اِلاَّ بِاِذْنِه يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِّنْ عِلْمِه اِلاَّ بِمَا شَاَءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضِ وَلاَ يَؤُدُه حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِىِّ اْلعَظِيْمُ ( )
Artinya:”Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menrus mengurus(makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan dibumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah menghetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakinya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
(Depag RI, 1990:63 )
8. Membaca Qs.Al-baqarah ayat 284-286
ِللهِ مَا فِى السَّموَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ وَاِنْ تُبْدُوْا مَافِى اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ عَلى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ ( ) امَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلُ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّه وَاْلمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ امَنَ بِاللهِ وَمَلاَ ئِكَتِه وَكُتُبِه وَرَسُوْلِه لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِه وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ ( ) لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا اِنْ نِّسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَا قَةَ لَنَا بِه وَاعْفُ عَنَا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ ( )
Artinya:” (284)Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakinya dan menyiksa siapa yang dikehendakinya, dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu;(285) Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabnya dan rasul-rasulNya.(mereka mengatakan); “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun ( dengan yang lain) dri rasul-rasulNya”, dan mereka mengatakan”kami dengan dan kami taat”. (mereka berdoa),”Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada engkaulah tempat kembali;(286) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejhatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), “ya Tuhan kami, janganlah Engkau hokum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yag tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami;ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Depag RI, 1990:71-72 )

9. Membaca Istighfar kembali sebanyak 100 kali
اَسْتَغْفِرُ االلهَ الْعَظِيْمَ.
Artinya: “aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”
10.Membaca Lafal dzikir di bawah ini:
اَلَّذِى لآَ إِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Artinya:”Yang tidak ada Tuhan yang lain, kecuali Dia Maha Hidup tegak kokoh, kepadaNyalah aku bertobat”.
اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ (لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ )

Artinya: “sebutan yang paling utama adalah “Tidak ada Tuhan yang lain kecuali Allah”.

11. Membaca Lafal Tahlil 100 kali

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang lain selain Allah”.
Lalu dilanjutkan dengan membaca:
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدُ رَّسُوْ لُ اللهِ ص.م. عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ اِنْ شَأ اَللهُ تَعَا لَى مِنَ اْلاَمِنِيْنَ

Artinya:”Tidak adaTuhan yang lain, kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah saw kepadaNya kami hidup dan mati serta dibangkitkan dari kubur, Insya Allah termasuk dalam jamaah yang selamat sejahtera”.

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:”Tidak ada tuhan melainkan Allah sendiri-Nya, tak ada sekutu baginya. Bagi-Nyalah segala kerajaan, bagi-Nyalah pula segala pujian dan Allah Maha Besar kekuasaan-Nya atas segala sesuatu”.
12. Mengucapkan Lafal Tasbih sebanyak 100 kali:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Artinya: Maha Suci Allah dan dengan memujiNya, Maha Suci Allah yang Maha Agung”
13. Mengucapkan lafal salawat atas nabi:
اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِيْكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ
Artinya: “ya Allah berilah tempat dan keselamatan atas kekasihMu, yaitu Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya, seluruhnya.”
14. Membaca Qs. Al-Fatihah 1 x
15. Diakhiri dengan Do’a
Al-Ghazali seperti yang dikutip Ahmad Tafsir (2006:246-250) menjelaskan ada beberapa adab dalam berdo’a yaitu: Hendaklah memilih waktu-waktu yang mulia, hendaklah memilih waktu berlangsungnya peristiwa mulia, hendaklah menghadap kiblat, angkatlah tangan ketika berdoa, mengusap wajah setelah berdo’a, tatkala berdo’a tidak memandang ke atas atau ke langit, tidak terlalu memaksakan menysusun do’a bersajak, berdo’a dengan tadharu’ (berendah diri dan beriba) khuysu dan harap cemas, yakin do’a akan dikabulkan, jika penting sekali maka ulangi do’a tiga kali, hendaklah memulai do’a dengan menyebut nama Allah, serta adab batiniah.
Dzikir Jum’at Kliwon ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh imam (pimpinan dzikir) dan diamini oleh jamaah. Isi do’a biasanya permohonan agar Tuhan (Allah) mengabulkan permintaan mereka yang berdo’a sambil menyeru keagungan-Nya dan bahwasanya ia telah menganugerahkan kemulyaan kepada hamba yang paling takwa terutama para wali, dan meminta dukungan wali agar Tuhan (Allah) mengabulkan apa yang mereka pinta untuk bekal di dunia dan akherat. Setelah pembacaan do’a usai hidangan disajikan dan hadirin bersantap seraya berbincang-bincang seperti layaknya pada acara slametan (Muhaimin, 2001: 230-231).
Melalui proses pelaksanaan dzikir ini, ketika seseorang mengucapkan lafal dzikir, dzikir dipindahkan dari lidah ke pikiran, dari pikiran ke perasaan, dan realitasnya akan mengakar di hati manusia.
Dzikir yang dimulai dengan lidah ini dapat membimbing menuju pada dzikir hati, dan realitasnya dapat dilihat dalam perbuatan perilaku sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah (Hablumminallah) atau sesama manusia (Hablumminannas).
4. Fadilah dan Manfaat Dzikir Jum’at Kliwon
Berkenaan dengan fadilah dan manfaat dzikir jum’at kliwon, Ibn al-Qayyim dalam bukunya al-Wabil al-Shaibi, seperti dikutip Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam Fadhail al-A’mal (dalam Arifin Ilham:2000: 66), menulis bahwa dzikir mempunyai lebih dari seratus manfaat, berikut ini diantaranya adalah:
1. Dzikir menjauhkan diri dari setan dan menghancurkan kekuatannya.
2. Dzikir menjauhkan kegelisahan dan kesedihan hati.
3. Dzikir menjadikan hati lapang, gembira, dan berseri-seri.
4. Dzikir menguatkan tubuh dan hati.
5. Dzikir menjadikan bercahayanya rumah dan hati.
6. Dzikir dapat menarik rezeki.
7. Orang yang selalu berdzikir akan dipakaikan kepadanya pakaian kehebatan dan kegagahan yaitu orang melihat akan gentar dan merasakan kesejukan.
8. Dzikir menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah ini merupakan ruh Islam dan jiwa agama, juga sebagai sumber kebahagiaan dan keberhasilan.

Dalam kaitannya dengan fadilah dzikir M. Nawawi Bin Umar Al-Jawi (1992:144) menjelaskan bahwa dzikir sebagai bendera iman atau panji-panjinya, dan pembebasan dari sifat-sifat munafik, karena menunjukan bahwa orang yang berdzikir itu mempercayai adanya Allah dan membenarkan dengan seteguh hati. Juga menjadi benteng dari syetan dan tameng dari neraka. Apabila dzikir itu telah menempati hati, maka jika syetan mendekati orang yang berdzikir itu ia terpelanting, sebagaimana terpelantingnya manusia ketika syetan mendekatinya. Lalu mereka berkata: Kenapa ini ?”dikatakan : “Manusia telah menimpanya”. Demikian faidah yang dikemukakan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ra.
Terbukanya pintu hati untuk berhubungan dengan alam malakut dan membaca dari catatan al-lauh al-mahfuzh, maka dapat anda ketahui secara menyakinkan, dengan mengamati keajaiban-keajaiban mimpi serta serta kemampuan hati – ketika seseorang dalam keadaan tidur – untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, atau yang telah terjadi di masa lalu, tanpa harus mengutipnya dari pengalaman indera. Namun pintu tersebut hanya akan terbuka bagi yang siapa-siapa berkonsentrasi dalam dzikir kepada Allah SWT (Al-Ghazali, 2003:89). Orang yang berdzikir adalah orang yang ingin meraih keutamaan di sisi Allah SWT, sedangkan keutamaan-keutamaan itu sendiri tidak bisa tercapai, kecuali setelah jiwa kita suci dari perbuatan-perbuatan keji (Ibnu Miskawaih, 1994:39).
C. Pelaksanaan Shalat Fardhu
1. Pengertian Shalat Fardhu
Pengertian shalat fardhu terdiri dari dua kata, yaitu shalat dan fardhu. Menurut Mahmud Yunus dalam bahasa arabnya adalah Shalata berasal dari kata Shalla yang artinya doa. Kemudian para ahli fikih memberikan definisi shalat secara syariat yaitu perbuatan (gerak) yang dimulai dengan takbiruotul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu (M.Rifai:1978: 79). Sementara Hasby Assideiqiy (1996: 64) mengemukakan bahwa ta’rif para fuqaha dalam mengartikan shalat tidak mengenai hakikat dan rukunnya, maka Beliau mengartikan shalat dengan berhadap hati atau jiwa kepada Allah SWT berhadap yang mendatangkan hati, menumbuhkan rasa kebesaran-Nya dengan penuh khusyu dan ikhlas dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat adalah berdo’a atau memohon dengan beberapa ucapan dan perbuatan yang tersusun, dengan berharap kepada Allah SWT dengan penuh khusyu serta ikhlas, dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam.
Kata fardhu dalam KBBI (1996:274) adalah suatu pengertian yang wajib dilakukan (menurut ajaran Islam), kewajiban. Fardhu menurut Nasrudin (1993 :178) diartikan suatu yang mesti atas tiap-tiap muslim dan bila ditunaikan mendapat pahala. Lebih lanjut lagi beliau mengemukakan bahwa fardhu itu ada dua macam, yaitu : fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ain adalah wajib atas tiap-tiap muslim yang telah dewasa dari laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang kedua yaitu fardhu kifayah apabila telah dilakukan seseorang atau lebih maka anggota masyarakat Islam lainnya bebas dari kewajiban itu. Dan mengenai penelitian ini yaitu shalat fardhu ain.
Berkenaan dengan Ibadah shalat Syaikh Musthafa Masyhur (2004:27-28) menjelaskan bahwa shalat itu wahana paling baik untuk memperbaiki jiwa, mereformasi hati, dan meluruskan akhlak. Bagi mushalli shalat tak ubahnya seperti tali kokoh, tempat ia berpegangan. Baginya, shalat itu ibarat obat luka, atau tempat aman bagi orang yang ketakutan, atau sumber kekuatan bagi orang lemah, atau senjata bagi orang yang tak bersenjata. Ia bisa meminta pertolongan dengan shalat dalam menghadapi musibah zaman, tekanan orang, dan kedzaliman orang-orang yang dzalim.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan rumusan fardhu adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan oleh tiap-tiap muslim dan apabila ditunaikan akan mendapat pahala. Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat fardhu adalah berdo’a dengan beberapa ucapan dan perbuatan yang tersusun dengan berharap kepada Allah SWT dengan penuh khusyu dan ikhlas, dimulai dengan takbir dan dikhiri dengan salam dan merupakan kewajiban atas tiap-tiap muslim yang telah balig (dewasa).
2. Landasan Perintah Shalat Fardhu
Shalat adalah kewajiban dan merupakan perintah dari Allah dan sunah serta ijma yang telah popular, sehingga masalah ini tidak perlu diperbincangkan lagi serta panjang lebar . Oleh karena itu, penulis akan mencoba mengemukakan beberapa dalil yang melandasi perintah shalat yaitu :
a. QS. Al-Baqarah : 43
وَاَقِيْمُوْا الصَّلو ةَ وَاَتُو االزَّكَوةَ وَارْ كَعُوْا مَعَ الرَّا كِعِيْنَ ( )
artinya : “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang berruku’ (Depag RI, 1990 : 16).
b. QS. Al-Ankabut : 45
اُتْلُ مَا اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ اْلكِتَبِ وَاَقِمِ الصَّلاَةَ اِنَّ الصَّلوةَ تَنْهى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرِ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ( )

Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan-perbuatan yangkeji dan yang mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Depag RI, 1990 : 635)

c. QS. An-Nisaa : 103
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلوةَ فَاذْكُرُوْا اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ فَاِذَا اطْمَا نَنْتُمْ فَاَقِيْمُوْا الصَّلوةَ اِنَّ الصَّلوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْ مِنِيْنَ كِتَبًا مَّوْقُوْتَا
Artinya :”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring kemudian apabila telah merasa aman, maka dirikanlah shalat, itu adalah fardu yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (Depag RI, 1990 :138).

d. Hadis Nabi Muhammad Saw.
قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَاَلْتُ رَسُوْ ل للهِ صلعم يارسول الله اَي العمل اَفْضَلُ؟ قَال:َ الصَّلوةُ عَلىَ مِيقاْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ اَيُّ؟ قَال:َ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ اَيٌّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ
Artinya : Ibnu Mas’ud RA. Berkata, “Saya bertanya kepada Nabi Saw, apakah amal perbuatan yang utama?” Jawab Nabi : “Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya, “Kemudian apalagi?”jawab Nabi, “Berbakti kepada kedua orang tua” Saya bertanya kembali, ” kemudian apalagi?” Jawab Nabi, “Berjuang untuk menegakan agama Allah”. (HR. Bukhari)
(M.Faith Al-Math, 1991:87)

e. Hadits Nabi yang berbunyi:
بني الاسلا م على خمس : شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصو م رمضان
Artinya: “Islam dibangun di atas lima dasar (rukun) ; syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji ke Bait Allah, dan puasa Ramadhan.”
(Supiana dkk., 2001:24)

3. Hikmah dan Tujuan Shalat
Apabila shalat itu diperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang terkandung di dalamnya, maka ia mengandung hikmah dan tujuan yang sangat besar sekali, baik dari segi jasmaniah maupun rohaniah serta kemasyarakatan, sebagaimana berikut ini :
a. Kesucian lahir dan bathin
Asal mula manusia dari Dzat yang Maha Suci, maka apabila mengadakan komunikasi kepada Allah (Shalat) harus dengan suci pula, yakni bersih dari segala kotoran maupun najis guna meningkatkan derajat iman dan takwa di sisi Allah SWT.
Dalam hal ini Moh. Rifa’I (1978:46) kesucian lahir dan batin merupakan masalah yang sangat penting dalam agama dan merupakan pangkal pokok dari segala ibadah yang menjadi penyongsong bagi manusia dalam menghubungkan diri dengan Tuhan (Allah).
Shalat jika dilakukan secara kontinyu dan tepat pada waktunya serta diresapi dan dihayati, maka ia akan menumbuhkan karakteristik yang terpuji. Sama halnya bila seseorang mengadakan hubungan dengan sesama manusia yang terdiri dari berbagai macam ragamnya.
b. Membentuk disiplin
Waktu-waktu shalat telah ditentukan oleh Allah SWT, baik di dalam Al-Qur’an maupun melalui sunnah rasul-Nya. Sebagaimana yang dikemukakan Quraish Shihab (2000: 547) bahwa kata waqt digunakan dalam konteks berbeda-beda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tercermin dari waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari,bulan, tahun dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan bukannya membiarkannya berlalu hampa. Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi shalat ialah mendidik orang untuk menjaga waktu setiap hari yang ditimbulkan oleh perputaran bumi dengan kecepatan tertentu setiap saatnya, hingga mendidik orang itu agar berdisiplin dalam hidupnya.
Allah SWT sendiri jauh sebelumnya sudah memberi peringatan tentang waktu, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Ashr: 1- 4 :
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh, saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan mewasiati supaya menetapi kesabaran”. (Depag, 1992: 1099)

c. Persatuan Umat Islam
Islam telah mempunyai metode tersendiri untuk pencapaian jiwa persatuan umat manusia, yaitu dengan mendirikan shalat. Dan lebih-lebih jika setiap waktu bisa melakukannya dengan shalat berjamaah, karena shalat berjama’ah itu mempunyai manfaat dan faedah yang sangat besar. Sebagaimana dikatakan oleh Hasbi Ash Shiddieqiy (2000:303) bahwa faedah yang diperoleh dari shalat berjamaah adalah terdidik diri dengan rasa persatuan bila mana terbiasa berdiri di dalam shaf, bersatu dengan teman-teman yang lain menegakkan shalat. Maka hiduplah dalam jiwa persatuan bathin, timbullah hasrat tolong-menolong, sokong-menyokong dan gotong royong.

4. Indikator Pelaksanaan Shalat Fardhu
Dalam pelaksanaan shalat fardu indikator yang berhubungan dengan penelitian ini diantaranya adalah :
a. Ketepatan Waktu
b. Berdo’a setelah Shalat
c. Tertib dalam berwudlu
d. Fasikh dalam bacaan shalat
e. Bersihnya Pakaian dan tempat shalat
f. Benar dalam gerakan shalat
g. Berjamaah
Indikator-indikator shalat tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
a. Ketepatan Waktu
Bagi seseorang yang benar-benar dirnya seorang mu’min, hendaknya memiliki disiplin waktu dalam melaksanakan kewajiban yaitu perintah shalat. Menurut Imam Taqiyudin Abu Bakar al-Husaini (1997 : 167) bahwa perkara yang paling penting dalam urusan shalat adalah mengetahui waktunya, sebab dengan mengetahui masuknya waktu shalat itu menjadi wajib dan dengan keluarnya waktu shalat akan menjadi ketinggalan.
Dasar untuk menentukan shalat ialah Qur’an surat an-Nisaa ayat 103, Allah berfirman :
اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى اْلمُؤْ مِنِيْنَ كِتَابًا مَّوْقُوْتَا ( )
Artinya : “sesungguhnya shalat itu bagi orang mu’min adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya”.(Depag RI, 1990:138)
Seseorang yang mempunyai kesadaran terhadap ketepatan waktu pada waktu shalat berarti ia sudah memnuhi kewajibannya terhadap Allah SWT. Waktu-waktu shalat fardu menurut Supiana dkk., (2001 : 26) adalah sebagai berikut :
1) Shalat Dzuhur, awal waktunya setelah tergelincirnya matahari dari pertengahan langit. Akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya selain dari bayang-bayang ketika matahari menongak (tepat di atas ubun-ubun)
2) Shalat Ashar. Waktunya mulai habisnya waktu dzuhur yaitu baying-bayang sesuatu lebih dari panjangnya selain dari baying-bayang ketika matahari sedang menongak, sampai terbenam matahari.
3) Shalat Magrib. Waktunya dari terbenamnya matahari sampai terbenam syafaq (teja) merah.
4) Shalat Isya. Waktunya mulai dari terbenam syafaq merah (sehabis waktu magrib) sampai terbit fajar ke dua.
5) Shalat subuh. Waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.

b. Berdo’a setelah Shalat
Secara esensial ma’na shalat adalah do’a memohon kebajikan dan pujian (Hasbi Ash Shiddieqy, 2000:62). Do’a merupakan alat komunikasi antara makhluq dan Khaliq, dengan do’a kita bisa meminta apa yang kita butuhkan sebagai proses pengabdian kita kepada Allah SWT. Hal ini menunjukan adanya kedekatan Allah SWT dengan manusia sebagai hambanya. Sebagai mana dalam firmannya QS. Al-Baqarah 186 :
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دُعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَالْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْابِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ( )
Artinya : “Dan apabila hamba-hambaku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ia itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenara.”(Depag RI, 1990:45).

c. Tertib dalam berwudlu
Menurut syara wudlu adalah perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat. Wudlu dapat diartikan menyengaja membasuh anggota badan tertentu yang telah disyariatkan untuk melaksanakan suatu perbuatan yang membutuhkannya, seperti shalat dan tawaf (Supiana, dkk, 2001 : 4).
Berkenaan dengan wajibnya wudhu, Allah berfirman dalam Qs. Al-Maidah ayat 6 :
يَاَيُّهَاالَّذِيَْنَ امَنُوْا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْا هَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وامْسَحُوْا بِرُءُوْ سِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ….( )
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai kedua mata kaki….”(Depag RI, 1990:158).
Dalam pelaksanaan wudlu tersebut menurut Deddy Rahman dkk.,(1999:6-13) ada cara-cara tertentu yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Membaca Basmallah sambil niat dalam hati.
2) Cuci tangan sampai pergelangan 1, 2 atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu, celah-celah dan jari digosok-gosok.
3) Berkumur dan menyerap air ke dalam hidung 1, 2, atau 3 kali dan disemburkan kembali.
4) Membasuh wajah dengan rata 1, 2, atau 3 kali .
5) Membasuh tangan sampai ke siku 1, 2, atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu.
6) Mengusap kepala dimulai dari depan ke belakang kemudian ditarik kembali ke depan langsung mengusap luar dan dalam telinga satu kali.
7) Membasuh kaki sampai mata kaki 1, 2, atau 3 kali dimulai yang kanan dahulu, menggosok celah-celah dan jari kaki.
8) Tertib

d. Bersih Pakaian dan Tempat Shalat
Kebersihan merupakan bagian dari keimanan. Islam adalah agamma yang memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Dan Allah sangat mencintai orang yang bersih dan mensucikan diri. Sepeti dalam firmannya QS. Al-Baqarah ayat 222 :
…اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَابِيْنَ وَيُحِبُ الْمُتَطَهّرِيْنَ ( )
Artinya : “Sesugguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menucikan diri (bersih jasmani maupun rohani)”(Depag RI, 1990:54).
Mendirikan shalat tidak bisa dilepaskan dari kesucian lahir dan bathin. Kesucian bathin diperoleh dengan tidak musrik, ikhlas, dan khusyu’ dalam shalat. Sedangkan kesucian lahir dilaksanakan dengan berwudhu, tayamum atau mandi (Deddy Rahman, 1999:5).
Shalat merupakan interpretasi dari keimanan seseorang. Sebelum melaksanakan shalat Islam menganjurkan untuk membersihkan baik itu tempat atau pakaian kita. Shalat dianggap sah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu (Supiana, dkk, 2001 : 29). Syarat-syarat tersebut adalah :
1) Suci badan dari hadast dan najis
2) Menutup aurat dengan pakaian bersih
3) Mengetahui waktu masuk shalat
4) Menghadap kiblat
Berdasarkan persyaratan tersebut jika seseorang melakukan shalat sementara di badan, pakaian dan tempat shalat terdapat najis yang tidak dimaafkan, maka shalatnya tidak sah. Begitu juga jika badan, pakaian atau tempat shalat terkena najis ketika seseorang melakukan shalat maka shalatnya batal (Supiana, dkk, 2001 : 29).
e. Benar dalam gerakan shalat
Supiana, dkk (2001 : 32) mengatakan shalat meliputi beberapa perkataan dan perbuatan. Perbuatan shalat berarti mengerti serta paham tentang cara melakukan shalat baik itu kaifiyat bacaan shalat, ataupun gerakan dalam shalat. Gerakan-gerakan shalat tersebut harus sesuai dengan kaifiyat atau kaidah Nabi Saw. Apabila gerakannya benar sesuai sunah Nabi maka akan membentuk seseorang dalam kekhusuan dalam shalat. Rasa tuma’ninah dalam diri seseorang ketika melaksanakan shalat berarti seluruh penghahyatan dan keikhlasan hati hanya tertuju kepada Allah SWT.
Imam Al-Ghazali (2000 : 66) mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan fardlu dalam shalat ada dua belas yaitu: bacaan niat, bacaan takbiratul ihram, bacaan do’a iftitah, bacaan surat al-Fatihah, bacaan sesudah surat al-Fatihah, bacaan ruku’, bacaan I’tidal, bacaan sujud, bacaan duduk diantara dua sujud, bacaan tasyahud awal, bacaan tasyahud akhir, bacaan do’a setelah tasyahud akhir dan bacaan salam.
Sedangkan gerakan dalam shalatnya yaitu mengangkat kedua tangan, gerakan ruku’, gerakan sujud, gerakan duduk diantara dua sujud, gerakan duduk iftirasy, gerakan duduk tawaruk dan gerakan salam.
f. Berjamaah
Kata berjamaah berasal jari kata dasar “Jama’a” (Bahasa Arab) yang artinya berkumpul dan mengikat. Adapun arti shalat berjamaah, yaitu shalat bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam dan yang lainnya sebagai makmum. Jadi, shalat berjamaah dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dan salah seorang diantaranya menjadi pemimpin jamaah atau disebut imam, sedangkan yang mengikuti imam disebut makmum (Hasan Baihaqi AF.,dkk, 2003:75).
Rasulullah SAW menganjurkan kepada ummatnya untuk senantiasa memelihara shalat berjamaah. Karena dalam shalat berjamaah itu terkandung pahala yang berlipat ganda, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat”.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) (M. Faiz Al-Math, 2000:93).
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan shalat fardhu
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan shalat digolongkan kepada dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap ketaatan seseorang untuk melaksanakan ibadah shalat. Di bawah ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai kedua faktor tersebut.
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu atau seseorang yang terdiri dari kondisi psikis dan kondisi fisik. Kedua aspek ini sangat sulit dipisahkan, sebab kondisi psikis mempengaruhi kondisi fisik dan sebaliknya kondisi fisik akan mempengaruhi kondisi psikis. Perubahan-perubahan yang ada pada diri seseorang dalam segi fisik atau psikis akan mempengaruhi juga terhadap kelakuan religiusnya secara khusus dan realita kehidupannya secara umum (Hafi Anshari, 1991:61). Perubahan dalam kelakuan religius akan terjadi kalau keseimbangan diantara tenaga-tenaga psikis kurang berfungsi atau mengalami gangguan sehingga terjadi pertentangan batin dan ketegangan perasaan, mempengaruhi emosi dan motivasi sekaligus. Begitu pula fisik yang lemah, tidak bergairah akan berpengaruh terhadap perubahan kelakuan – kelakuan religius. Dalam pelaksanaan shalat pun kondisi seseorang sangat berpengaruh baik kondisi psikis maupun kondisi fisiknya.
Keimanan juga merupakn faktor intern yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap ketaatan seseorang dalam pelaksanaan shalat fardhu. Keimanan merupakan kekuatan yang sangat penting bagi seseorang untuk melakukan kelakuan – kelakuan religiusnya, dan seyogyanya semua kelakuan religius berangkat dari iman (Hafi Anshari, 1991: 60). Dalam petunjuk agama dap;at kita temukan bahwa iman itu bisa berubah, kadang – kadang bertambah dan kadang-kadang berkurang. Pada saat iman bertambah, maka dapat terlihat gejala kelakuan religiusnya juga bertambah atau meningkat dan sebaliknya apabila iman seseorang sedang berkurang baik secara berkualitas maupun secara kuantitas. Hal tersebut dapat terjadi pada pelaksanaan shalat fardhu, seperti keimanan seseorang sedang bertambah, maka orang tersebut akan rajin dan tekun dalam melaksanakan ibadah shalat,baik shalat lima waktu maupun shalat-shalat sunnah. Tetapi sebaliknya apabila iman seseorang sedang berkurang, maka kegiatan shalat pun berkurang atau menurun, apalagi pada pelaksanaan ibadah shalat sunnah. Dalam hal ini, jelaslah bahwa dalam pelaksanaan shalat fardhu, iman merupakan aspek yang mempengaruhinya. Sebagai ilustrasinya penulis mengambil contoh dalam melaksanakan shalat, ada yang melaksanakan shalat tepat waktu, ada yang melaksanakan shalat santai, bahkan ada yang melalaikannya, hal ini bisa menjadi tolak ukur keimanan. Logikanya orang yang beriman akan mengejewantahkan keimanannya dalam tindakan yang nyata, diantaranya shalat dengan baik sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
b. Faktor Ekstern
Manusia hidup di dunia tidak bisa terlepas dari kehidupan di sekelilingnya (lingkungan). Secara filosofis kita dapat memahami bahwa di dunia ini tidak ada satu eksistensi pun yang bisa lepas ketergantungannya dari eksistensi yang lain.
Pelaksanaan shalat pun manusia akan dipengaruhi oleh keadaan yang ada di luar dirinya, baik berupa situasi, benda, iklim, manusia lain dan sebagainya. Begitu juga dengan Dzikir Jum’at Kliwon, karena pengaruh dzikir akan sangat mempengaruhi pelaksanaan Shalat Fardhu.
D. Pengaruh Intensitas Masyarakat Mengikuti Dzkir Jum’at Kliwon Hubungan Dengan Shalat Fardhu
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan tentang intensitas masyarakat mengikuti Dzikir Jum’at Kliwon bahwa Dzikir Jum’at Kliwon merupakan salah satu rutinitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar hati menjadi tenang dan tentram demi mewujudkan cita-cita yang diharapkan sejahtera di dunia dan di akhirat.
Mengenai pengertian shalat fardhu yaitu sejauh mana masyarakat dalam melaksanakan ibadah wajib tersebut yang sesuai dengan aturan yang ada dalam ibadah shalat. Pelaksanaan ibadah shalat fardlu tidak akan muncul dengan sendirinya dengan tiba-tiba tetapi dalam pelaksanaannya dapat dipengaruhi oleh factor lain dalam hal ini adalah dzikir jum’at kliwon. Keberhasilan masyarakat dalam mengikuti dzikir jum’at kliwon ini dapat dilihat dan tercermin dalam pelaksanaan shalat fardlunya.
Sehubungan dengan hal tersebut intensitas masyarakat dalam mengikuti dzikir haruslah berdampak pada bagus atau tidaknya (kualitas) pelaksanaan shalat fardlu mereka dengan kata lain intensitas atau kesungguhan masyarakat dalam berdzikir akan turut mempengaruhi tinggi rendahnya pelaksanaan shalat fardlu. Dengan demikian ritual Dzikir Jum’at Kliwon dapat memberi motivasi yang positif dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam pelaksanaan shalat fardhu. Rumusan ini memungkinkan semakin masyarakat intens dan bergairah dalam menjalankan ibadah shalat fardlu.
Dengan demikian berdasarkan paparan di atas maka terlihat adanya pengaruh intensitas Dzikir Jum’at Kliwon dengan shalat fardhu. Apabila masyarakat bersungguh-sungguh dan intens dalam mengikuti dzikir maka bagus pula pelaksanaan shalat fardlu mereka tetapi sebaliknya apabila masyarakat kurang intes dan tidak sungguh-sungguh dalam bedzikir maka berakibat pada kurangnya pelaksanaan ghirah dalam melaksanakan shalat fardhu.





RESPONS SISWA TERHADAP PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER PENDIDIKAN AKHLAK HUBUNGANNYA DENGAN PERILAKU SISWA SEHARI-HARI

6 04 2010

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang mempunyai tanogung jawab untuk mendidik siswa. tJntuk itu, sekolah mmyelen`garakan kegiatan pembelajaran sebagai realisasi pendidikan yang telah ditetapkan.
Menurut Mohamad Surya pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhari, sebagai hasil dan pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (2003: 11)
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Standar Kompetensi adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik (siswa) untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. (Depag, 2005: 21)
Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan proses interaksi antara siswa dengan linngkungannya, sehingga terjadi perubahan kearah yang lebih baik yang menjadiakan siswa manusia berguana bagi nusa, bangsa, Negara dan agama serta berakhlak mulia.
1. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama
a) Fungsi Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar untuk:
1) Penanaman nilai dan ajaran Islam scbagai pedoman mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.
2) Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. serta akhlaq mulia siswa yang sebelumnya telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
3) Penyesuaian mental siswa terhadap lingkungan fisik dan sosial.
4) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan siswa dalam keyakinan, pengamalan ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5) Pencegahan siswa dan hal-hal negatif dari lingkungannya atau budaya asing yang dihadapinya sehari-hari.
6) Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan keimanan dan akhlaq, serta sistem dan fungsionainya.
7) Pembekalan bagi siswa untuk mendalami Aqidah dan Akhlaq pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi
b) Tujuan
Mata pelajaran Pendidikan Agama bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam akhlaqnya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukkan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman siswa tentang Aqidah dan Akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dan meningkat kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangasa dan bernegara, karena Akhlaq merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bahkan Islam menegaskan bahwa Akhlaq merupakan misi yang utama. Sebagaimana sabda Kasulullah saw:

“Sesungguhnya saya (Rasulullah) diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. (Nur Uhbiyati, 1997: 148)

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pelajaran Pendidikan agama Islam meliputi a) Aspek Aqidah Aspek ini meliputi: kebenaran Aqidah Islam, hubungan Pendidikan Agama Islam, keesaan Allah Swt, kekuasan Allah Swt, Allah Maha Pemberi Rizki, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Penyantun, Maha benar, Maha Adil, dengan argumen dalil aqli dan naqli. Meyakini bahwa Muhammad saw adalah Rasul terakhir, meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan dalil aqli dan naqli. Meyakini qadla dan qadar, hubungan usaha dan doa, hubungan perilaku menusia dengan terjadinya bencana alam disertai argumen dalil aqli dan naqli.

a) Aspek Akhlaq
Aspek akhlaq meliputi: beradab secara Islam dalam bermusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlak terpuji kepada orang tua, guru, ulil amri, dan waliyullah, untuk memperkokoh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama Rasul dalam membawa perdmaian, terbiasa menghindari akhlaq tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan masyrakat, berbangsa dan bernegara seperti membunnh. merampok, menyehar titnah, dan lain-lain.
b. ) Aspek Kisah Teladan
Aspek kisah teladan meliputi: mengapersepsi dan menteladani sifat dan perilaku sahabat utama Rasulullah saw dengan landasan argumen yang kuat.

3. Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Sekolah Dasar
a) Menyebutkan, menghafal, membaca dan mengartikan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, mulai surat Al-Fatihah sampai surat Al-‘Alaq
b) Mengenal dan meyakini aspek-aspek rukun iman dari iman kepada Allah sampai iman kepada Qadha dan Qadar
c) Berperilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari perilaku tercela
d) Mengenal dan melaksanakan rukun Islam mulai dari bersuci (thaharah) sampai zakat serta mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah haji
e) Menceritakan kisah nabi-nabi serta mengambil teladan dari kisah tersebut dan menceritakan kisah tokoh orang-orang tercela dalam kehidupan nabi

4 Pendekatan Pembelajaran
Suasana pembelajaran yang terpadau dengan melalui pendekatan:
a) Keimanan, yang mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah Swt. sebagai sumber kehidupan.
b) Pengamalan, mengkondisikan peserta didik untuk memperaktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan akhlaq mulia dalam kehidupan sehari-hari.
c) Pembiasaan, melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al¬Qur’an dan Hadits serta dicontohkan oleh para ulama.
d) Rasional, usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pendekatan yang memfungsikan rasio siswa, niali-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran.
e) Emosional, upaya rnPnggugah perasaan (emosi) siswa dalam menghayati aqidah dan akhlaq mulia sehingga lebih terkesan dalam jiwa siswa.
f) Funsional, menyajikan materi Aqidah dan Akhlaq yang memberikan manfaat nyata bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
g) Keteladanan, yaitu pembelajaran yang menempatkan dan memerankan guru serta komponen Sekolah Dasar lainnya sebagai teladan, sebagai cermin dari individu yang memiliki keimanan teguh dan berakhlak mulia.

B. Kepemimpian Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu kemampuan mempengaruhi orang-orang dalam organisasi termasuk lingkungannya agar dapat bekerja dengan tulus dan senang hati, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan tertib dan berhasil, sesuai dengan yang telah ditetapkan. (Ermaya Suradinata, 1996: 51)
Adapun yang di katakan Ngalim Purwanto bahwa kepemimpinan adalah: Sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. (2003: 26)
Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang dalam organisasi agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, per.uh semangat, ada kegembiraan dan tidak terpaksa.

Dengan demikian, yang menjadi pemimpin dalam lingkungan belajar adalah guru. Guru harus mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya, serta memWantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa.
2. Kepemimpinan Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung _jawab untuk
membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupu_n klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah. (Djamarah, 2000: 32; Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya bahwa yang memimpin dalam pembelajaran adalah guru. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Moh. Rifki bahwa:
Dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinan yang dilakukannya itu, ia tidak melakukan intruksi- intruksi dan tidak berdiri di bawah intruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas. (2002: 4)

Dengan demikian, guru sebagai seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik dan harus mampu mencip?akan situasi pembelajaran yang efektif. Adapun kepemimpinan yang harus guru lakukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah:
a) Memberi teladan
Prilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, prilaku guru hendaknya dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pengaruh yang berkesan dan baik.
Mohamad Surya mengatakan: …guru adalah model tingkah laku yang harus dicontoh oleh siswa-siswinya…. (2003: 134)
Menurut Achmady keteladanan adalah alat utama dalam pendidikan. Hal itu dipraktekan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya. (1995: 21) Sehingga pantaslah, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi panutan yang baik bagi umat Islam sepanjang sejarah, menjadi teladan bagi semua umat manusia, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 21:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (Al-Ahzab: 21)
Keteladanan merupakan faktor penentu baik-buruknya siswa, jika seorang guru (pendidik) jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, pemberani, dan tidak berbuat maksiat, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh dengan sifat-sifat mulia. Sebalika:ya, iika guru (pendidik) seorang pendusta, penghianat, berbuat sewenang-wenang, bakhil dan pengecut, maka kemungkinan besar anak (siswa) pun akan tumbuh dengan sifat-sifat tercela. Dengan demikian, jika guru telah memiliki sifat-sifat teladan, maka dalam segala kegiatan pembelajaran akan bertujuan menjadikan para siswa orang-orang yang berakhlak mulia.
b) Memotivasi
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamali, 2003: 1158)
Untuk menciptakan pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang efektif, guru diharapkan bisa membangkitkan motivasi siswa agar siswa mau mempelajari maieri-materi yang diharapkan untuk dipelajarinya. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu agar dapat mPmbangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Dececco & Growford (1995: 175) mengemukakan cara-cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam memelihara dan meningkatkan motivasi siswa.
1) Menggairahkan siswa
Dalam pembelajaran guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Guru harus memberikan pada siswa cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat dan perhatian siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk be~sndah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam pembelajaran. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa, guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup.
2) Memberikan harapan realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realists, dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis siswa pada masa lalu, dengan demikian guru dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimis, atau terlalu optimis. Bila siswa telah mengalami banyak kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan pada siswa.

3) Memberikan Insentif
Bila siswa mengalami kesulitan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan lain sebaginya) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Sehubungan dengan hal ini umpan balik merupakan hal yang sangat berguna untuk meningkatkan usaha siswa.
4) Mengarahkan
Guru harus mengarahkan tingkal: laku siswa, dengan cara menunjukan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta siswa melakukan sebaik¬baiknya.
c) Kemampuan Berkomunikasi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang efektif yaitu guru memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siswa dalam menyampaikan pembelajarannya. Komunikasi yang dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi adalah penyampaian energi dari alat-alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam diri organisasi dan di antara organisasi. (2003: 4)

Untuk kemampuan berkomunikasi, guru sebagai pemimpin harus mampu menunjukan kemahirannya memilih dan menggunakan kata atau kalimat sehingga informasi, ide, atau yang dikomunikasikannya dapat diterima secara mudah oleh siswa. Maka daripada itu, keterampilan berkomunikasi dengan siswa baik melalul bahasa lisan atau bahasa tulisan, akan sangat diperlukan oleh guru. Penggunaan bahasa lisan atau tulisan yang baik dan benar diperlukan agar siswa memahami pembelajaran yang disampaikan dan memahami masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Grafik, bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik, dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan kata-kata yang di tulis atau dibicarakaa
semuanya merupakan cara-cara komunikasi dalam pembelajaran. (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143)
Dengan demikian, komunikasi merupakan penyampaian dan memperoleh fakta, konsen dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, suara visual yang merupakan dasar untuk memecahkan masalah serta mengefektifkan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

d) Birokrat (Demokratis)
Birokrat dalam kepemimpianan yaitu pemimpin berprilaku sebagai pelatih yang teliti dan tidak berat sebelah dalam melaksanakan perintah-perintahnya. (Ngalim Purwanto, 2003: 42)
Demikian juga guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islamharus bersifat adil terhadap siswa, tidak cenderung kepada salah satu golongan di antara siswa, tidak melebihkan seseorang atas orang lain, segala kebijaksanaan dan tindakannya ditempuh dengan jalan yang benar serta dengan memperhatikan setiap siswa sesuai dengan perbuatan dan kemampuannya. Rasulullah SAW sendiri telah diperintahkan supaya bersikap adil, meskipun beliau adalah cotoh teladan bagi para guru.
Firman Allah S WT dalam Surat An-Nahl ayat 125:

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhannmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (An-Nahl: 125)

Dengan demikian, suasana pembelajaran Pendidikan Agama Islamyang bersifat demokratis akan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mewujudkan serta mengembangkan hak dan kewajibannya. Suasana ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran melalui hubungan guru dengan siswa. Dalam suasana demokratis semua siswa memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensinya sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, dan pada gilirannya dapat berinovasi dan bekreasi sesuai .a.engan kemampuan masing-masing dan pembelajaranpun akan menjadi efektif serta menyenangkan.
e) Sumber Belajar
Belajar mengajar merupakan proses kemaknaan, di dalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik (siswa). Niiai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terampil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses belajar mengajar.
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. (Udin Saripudin Winataputra dan Rustana Ardiwinata, 2002: 55)
Mulyasa menyebutkan secara sederhana, sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar. (2003: 48)
Dengan demikian, sumber belajar itu merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal bam bagi siswa. Sebab pada hakikatnya pembelajaran adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan). Beberapa pendapat tentang sumber-sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran:
1) Roestiyah. N.K mengatakan bahwa sumber-sumber belajar adalah: (a) Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat);
(b) Buku/ perpustakaan;
(c) Mass media (majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain-lain);
(d) Dalam lingkungan;
(e) Alat pelajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol, dan lain-lain);
(f) Museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno).

2) Sudirman N, dkk mengemukakan sumber-sumber belajar sebagai berikut:
(a) Manusia (people);
(b) Bahan (materials);
(c) Lingkungan (setting);
(d) Alat dan perlengkapan (tool and equipment);
(e) Aktivitas (activites);

(1) Pengajaran berprogram
(2) Simulasi
(3) Karyawisata
(4) Sistem pengajaran modul

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi:
“I’ujuan khusus yang harus dicapai siswa Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari Aktiviatas yang harus dilakukan siswa unuk mencapai tujuan pengajaran 3
) Udin Sudirman WI nataputra dan Rustana Ardiwinata berpendapat bahwa terdapat sekurang-kurangnya lima macam sumber helajar, yaitu:
(a) Manusia;
(b) Buku/Pepustakaan
(c) Media masa
(d) Alam Lingkungan:
(1) Alam lingkungan terbuka
(2) Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah
(3) Alam lingkungan manusia
(e) Media pendidikan

4) Mulyasa mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima, yaitu:
(a) Manusia
(b) Bahan
(c) Lingkungan
(d)Alat dan peralatan
(e) Aktivitas

Dalam hal ini nampak adanya beraneka ragam sumber belajar yang masing¬ in sama atau bahkan mungkin berbeda dengan sumber belajar lainnya.
Pendayagunaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting, selain melengkapi, memelihara, dan memperkaya khazanah belajar, sumber belajar juga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar, yang sangat menguntungkan bagi guru maupun bagi siswa.
masing memiliki kegunaan tertentu yang kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pemanfaatan sumber belajar seoptimal mungkin sangatlah penting, karena kefektipan pembelajaran Pendidikan Agama Islam ditentukan pula oleh kemampuan guru dalam memilih sumber-sumber belajai-.
Mulyasa menyebutkan dua cara memanfaatkan sumber belajar dalam pembelajaran, yaitu:
1. Membawa sumber belajar ke dalam kelas. Dari aneka ragam macam bentuknya sumber-sumber belajar dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas.
2. Membawa kelas kelapangan di mana sumber belajar berada. Adakalanya terdapat sumber belajar yang penting dan menunjang tujuan belajar tetapi tidak dapat dibawa ke dalam kelas karena mengandung resiko yang cukup tinggi, atau memiliki karakteristik yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam kelas. (2003: 50)

Tidak ada satu sumber belajarpun yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan, maka guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran harus memiliki kesiapan mental dan kemauan untuk menjelajahi aneka ragam sumber belajar yang ada dan mungkin ada guna mencapai tujuan pembelajaran dan mengefektifkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga siswa senang untuk belajar.

C. Efektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Efektivitas Pembelajaran
Menurat kamus besar Bahasa Indonesia bawa efektivitas adalah keadaan berpengaruh yang dapat membawa hasil yang baik (keberhasilan) Dengan demikian, efektivitas pembelajaran adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang sangat berpengaruh dalam merubah prilaku kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran.
Mulyasa mengemukakan: pembelajaran yang efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik secara aktif. Pembelajaran bukan sekedar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diaiarkan. tetapi lebih menekankan pada internalisasi ter.tang apa yang diajaral:an sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. (2003: 149)

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa. Melalui kreativitas guru, pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa menjadi sebuah pembelajaran efektif yang akan memberikan kecakapan hidup (Life Skill) kepada siswa.
2. Kondisi Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islamyang Efektif
Dalam menciptakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif sedikitnya Uzer Usman menyebutkan lima jenis yang dapat menetukan keberhasilan belajar siswa, yaitu:
a) Melibatkan siswa secara aktif,
b) Menarik minat dan perhatian siswa,
c)Meningkatkan motivasi belajar siswa,
d) Prinsip Individualis, dan e) Peragaan dalam pembelajaran. (2001: 21)

a) Melibatkan Siswa Secara Aktif
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan
kreativitas peserta didik (siswa), melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar, demikian yang dikatakan Mulyasa (2003: 105), namun dalam pelaksanaannya masih ada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas siswa. Karena, seringkali proses pembelajaran hanya guru yang aktif sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif.
Berdasarlcan uraian di atas, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar, karena siswalah yang seharusnya aktif, sebab siswa sebagai pelaku yang melaksanakan belajar.

Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal:
1) Aktivitas visual (visual activistis) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan demontrasi.
2) Aktivitaas lisan (oral aktivitis) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi.
3) Aktivitas mendengarkan (listening aktivitis) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan
4) Aktivitas gerak (moto activites) seperti senam, atletik, menari, melukis
5) Aktivitas menulis (Writing activites) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat. (Uzer Usman, 2002: 22)

Setiap jenis aktivitas tersebut di atas memiliki kadar atau bobot yang berbeda bergantung pada segi tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Yang jelas, aktivitas kegiatan murid hendaknya memiliki kadar atau bobot yang lebih tinggi.
Perkembangan pembelajaran dewasa ini lebih banyak diarahkan dan dititik beratkan bagaimana upaya mengaktitkan siswa dalam belajar. Salah satu yang dipakai untuk pendekatan ini adalah mengenalkan dan menerapkan konsep Cara Belajar Siswa Akff (CBSA). CBSA pada hakekatnya adalah suatu konsep dalam mengembangkan proses belajar-mengajar baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Dalam CBSA tampak jelas adanya guru aktif mengajar di satu pihak dan siswa aktif dipihak lain…. (Basyiruddin Usman, 2002: 26) Basyaruddin Usaman (2002: 27) juga mengidentifikasi kadar CBSA dalam pengajaran, yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Adanya keaktifan siswa dalam menyusun dan membuat perencanaan, proses belajar-mengajar dan evaluasi.
Adanya keterlibatan intelektual- emosional siswa, baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat atau pembentukan sikap.
(a) Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk kelangsungan proses belajar-mengajar.
(b) Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar siswa, bukan sebagai pengajar atau instruktur yang mendominasi kegiatan kelas.
2) Biasanya menggunakan bermacam-macam metode atau tekhnik secara bervariasi di samping menggunakan alat dan media secara terencana dan terintegrasi dalam pengajaran.

Dengan demikian, bahwa keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan agar pembelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.
b) Menarik Minat dan Perhatian Siswa
Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya. (A. Tabrani Rusyan, dkk, 2000: 3)
Minat juga merupakan suatu sifat yang relatif menetan pada diri seseorar.b. (Uzer Usman, 2002: 27) Maka, minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa ada minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Apabila bahan pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karer.u tidak ada daya tarik baginya. Akan tetapi, apabila bahan pelajaran menarik minat siswa, maka akan lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan siswa.
William James melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, efektif merupakan faktor yang menentukan keterkaitan siswa secara aktif dalam belajar. (2002: 22)
Dalam bukunya Succes.sful Teaching, Mursell (2002: 27) memberikan suatu klasifikasi yang berguna bagi guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa. la menggunakan 22 macam minat yang diantaranya ialah bahwa anak memiliki minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakikatnya setiap siswa berminat terhadap belajar dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat siswa terhadap belajar, yaitu dengan memanfaatkan minat yang telah ada dan membentuk minat¬minat baru pada diri siswa, dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara satu bahan pelajaran yang akan diberikan dengar. Bahan pelajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang.
Perhatian dapat diartikan sebagai peningkatan aktivitas mental terhadap suatu rangsangan tertentu. Perhatian dapat lebih memusatkan pengamatan individu kepada suatu rangsangan sehingga pengamatannya menjadi lebih efektif…. (Mohamad Surya, 2003: 107)
Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa perhatian lebih bersifat sementara dan ada hubungannya dengan minat. Perbedaannya ialah minat sifatnya menetap sedangkan perhatian sifatnya sementara adakalanya menghilang. (2002)
Dalam kegitan belajar-mengajar ada dua macam perhatian, yaitu:
1) Perhatian terpusat (terkonsentrasi), individu (siswa) yang memiliki kemampuan memberikan perhatian secara khusus kepada hal atau rangsangan tertentu.
2) Perhatian terbagi (tidak terkonsentrasi), yaitu kemampuan memberikan perhatian kepada berbagai hal atau rangsangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. (Uzer Usman, 2002: 28)
Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, guru memegang peranan yang amat penting dalam usaha menimbulkan atau meningkatkan minat dan perhatian siswa. Dengan perhatian yang besar, siswa akan melakukan pengamatan yang lebih baik, sehingga proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islamakan lebih berhasil.
Oleh karena itu, hendaknya guru selalu mengusahakan agar siswa senantiasa membcrikan perhatian yang besar.
Rangsangan-rangsangan yang dapat diberikan oleh guru unuk menarik perhatian antara lain dengan cara menggunakan berbagai metode mengajar, menggunakan alat bantu mengajar, menggunakan suara dan gaya mengajar yang baik, serta menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
c) Membangkitkan Motivasi Siswa
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran.
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabakan kesiapan untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Dan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesepian dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.(Uzer usman, 2001: 28)
Siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Dengan kata lain seorang siswa akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (motivasi). Dalam kegiatan ini guru dituntut memiliki kemanmpuan membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Motivasi dapat timbul dalam din individu dar. dapat pula timbul akibat pengarahan dari luar dirinya. “I’abrani Rusyan, dkk membedakan dua macam motif yaitu ekstrinsik dan intrisik
1) Motivasi Intrisik
Motivasi ini timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena telah ada dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan, dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauannya sediri.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ini timbul karena adanya rangsangan dari luar individu, apakah karena ada ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain, sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu untuk belajar.
Untuk membangkitkan motivasi siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intinsik (Uzer Usman, 2001: 29), yaitu:
1)Kompetensi (rangsangan), guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
2) Pace making (membuat tujuan sementara/ dekat), pada awal kegiatan belajar¬mengajar hendaknya guru terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK (Tujuan Intruksional Khusus) yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
3) Tujuan yang jelas.
4) Kesempurnaan untuk sulaes, guru hendaknya banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5) Minat yang besar.
6) Mengadakan penilaian atau tes, pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataannya bahwa banyak siswa yang tidak belajar kalau tidak ada ulangan. Akan tetapi jika ada ulangan barulah dengan giat siswa belajar dan menghafal agar la mendapat nilai yang baik. Maka, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat untuk siswa.

d) Prinsip Individualis
Salah satu masalah utama dalam proses belajar-mengajar ialah masalah perbedaan individual. Kesulitan ini dikarenakan siswa bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Oemar Hamalik menyebutkan bahwa Individu merupakan suatu kesatuan yang masing-masing memiliki ciri khasnya dan karena itu tidak ada dua individu sama, satu dengan yang lainnya. (2003: 180) Djamarah dan Aswan zain (2001: 1) menyatakan bahwa paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, aspek psikologis dan aspek biologis. Setiap guru memahami bahwa tidak semua murid dapat mempelajari apa-apa yang ingin dicapai oleh guru.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pengefektifan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jangan menyamaratakan semua siswa ketika sedang mengajar secara klasikal.. Pada hakekatnya hal itu kurang sesuai dengan prinsip individualis. Setidaknya guru harus menyadari bahwa setiap individu siswa memiliki perbedaan.
Oleh karena itu, guru her.daknya menyadari dan memakluminya apabila ada siswa yang cepat menerima dan memahami pelajaran yang diberikannya, atau bahkan sebaliknya ada yang lemah atau lambat dalam menerima pelajaran dan tidak cukup dengan sekali dijelaskan.
Pebedaan individual dapat dilihat dari dua segi yaitu segi horizontal dan segi vertikal.perbedaan dari segi horizontal dalam aspek mental seperti: tingUat kecerdasan, abilitas, minat, ingatan, emosional, kemauan, dan sebagainya. Perbedaan dari segi vertikal, tidak ada bentuk yang sama dalam aspek jasmaniah, seperti bentuk, ukuran, kekuatan dan daya tahan tubuh. Perbedaan-perbedaan itu memiliki keuntungan dan kelamahan. Demikian yang dikatakan Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar. (2003: 180)
Masih yang diungkapkan oleh Oemar Hamalik (2003: 181) bahwa perbedaan individual menunjukan banyak variasi dan variabilitas. Beberapa perbedaan serta ciri-cirinya:
1) Kecerdasan (Intelegence)
Siswa yang kurang tingkat kecerdasannya umumnya belajar lebih lemah. Mereka memerlukan banyak latihan yang bermakna, dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk maju dari bentuk belajar yang satu kebentuk balajar
berikutnya. Berbeda dengan siswa yang memiliki IQ in-pi, umumnya mempunyai tingkat perhatian yang lebih baik, belajar cepat, kuran(‘ memerlukan latihan, dan mampu menyelesaikan tugas dalam waktu singkat.
2) Bakat (Aptitude)
Untuk mengetahui bakat siswa diperlukan penggunaan tes bakat. Berdasarkan hasil tes dapat diperkirakan hasil belajarnya. Selain dari itu, bakat seseoarang turut menentukan perbedaan dalam hal: hasil belajar, sikap, minat dan lain-lain.

3) Keadaan jasmaniah (Physical Fitness)
Para siswa berbeda dalam tinggi, berat badan, dan koordinasi organ-organ badan lainnya. Di samping itu siswa kadang-kadang ada yang memiliki handikap, misal: penglihatan kurang jelas, punya penyakit asma, mudah sakit kepala atau gangguan penyakit tertentu lainnya. Hal tersebut akan mempengaruhi efesiensi dan kegairahan belajar, karena badannya mudah lelah sehingga kurang berminat melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian, guru harus bisa membedakan mana siswa yang bermasalah dengan kesehatannya dengan yang tidak demi efektifnya pembelajaran.

4) Penyesuaian sosial dan emosional (social and Emotional Adjastment) Karakteristik dan emosional adalah dua sifat yang erat kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya yang dapat terjadi dikalangan siswa, seperti pendiam, pemalu, pemberang, pemberani, mudah atau sulit beraksi, dan lain-lain. Hal ini berpengaruh terhadap minat, percaya diri dan keyakinan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran.
5) Latar belakang keluarga (Home Background)
Sanyak faktor yang bersumber dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu, seperti ku1_tur dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, hubungan antara kedua orang tua bek;,rja, sikap keluarga terhadap masalah-masalah sosial, realita kehidupan, dan lain-lain. Faktor-faktor ini akan memberikan pengalaman kepada anak-anak dan menimbulkan perbadaan dalam minat, apresiasi, sikap, pemahaman ekonomi, perbendaharaan bahasa, abilitas berkomunikasi dengan orang lain, modus berfikir, kebiasaan berbicara, dan pola hubungan kerjasarna dengan orang lain yang akan sangat berpengaruh dalam tingkah laku dan pembelajaran.
Beberapa teknik untuk menyesuaikan pembelajaran kesanggupan individual, dengan melakukan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Pengajaran individual; siswa diberi tugas yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
2) Tugas tambahan; siswa yang pandai mendapat tugas tambahan selain tugas yang bersifai umum, dengan demikian kondisi pembelajaran akan tetap terpelihara dengan baik.
3) Pengajaran proyek; para siswa dapat mengerjakan sesuatu dengan minat dan bakat mereka.
4) Pengelompokan menurut kesanggupan; pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing. (Basyirudin Usman, 2002:16)
Pengajaran individual bukanlah semata-mata pengajaran yang hanya ditujukan kepada seoraug saja, melainkan dapat saja ditujukan kepada sekelompok siswa atau kelas, namun dengan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan siswa, sehingga pembelajarun Pendidikan Agama Islammemungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.
e) Peragaan dalam Pengajaran
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehinggga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. (Basyiruddin Usman, 2002: 7)
Dengan peragaan, diharapkan pembelajaran Pendidikan Agama Islamterhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya.
Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran dari pada bila siswa belajar tanpa dibantu dengan alat pengajaran.
Fungsi menggunakan alat peraga dalam belajar-mengajar.
1) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar-mengajar mempunyai fungsi sebagai alat untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif.
2) Penggunaan alat peraga tnerupttkan bagian integral dari keseluruhan situasi belajar.
3) Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integrasi dengan tujuan dan is’ pelajaran.
4) Penggunaan alat peraga lebih diutamakan untuk mempererat proses belajar¬mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru. (Nana Sujana, 2002: 31)

Dalam menggunakan alat peraga pengajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Nilai atau manfaat media pendidikan Media pendidikan yang disebut audiovisual aids menurut Encyclopedia Educasional Research memiliki nilai sebagai berikut:
(a) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya).
(b) Memperbesar perhatian siswa.
(c) Membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan.
(d) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa.
(e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
(f) Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
Manfaat selain yang tersebut diatas adalah: (a) Sangat menarik minat siswa dalam belajar (b) Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena tidak ingin dengan banyak perkataan, tetapi dengan memp°rlihatkan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat lain.
2) Pemilihan Alat Peraga
Willian Burton memberikan petunjuk bahwa dalam memilih alat peraga yang akan digunakan hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut:
(a) Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan-perbedan individual dalam kelompok.
(b) Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan. (c) Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu. (d) Penggunaan alat peraga disertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis dan evaluasi.
(e) Sesuai dengan batas kemampuan biaya. 3) Petunjuk penggunaan alat peraga
Kenneth H. Hoover memberikan beberapa prinsip tentang penggunaan alat audiovisual sebagai berikut:
(a) Tidak ada alat yang dianggap lebih baik.
(b) Alat-alat tertentu lebih tepat dari pada yang lain berdasarkan jenis pengertian atau dalam hubungannya dengan tuj
(c) Audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari pengajaran.
(d) Perlu diadakan persiapan yang seksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisu~,l.
(e) Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespon data yang diberikan. (f) Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
(g) Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampuan komunikasi memungkinkan balajar lebih karena adanya hubungan-hubungan.

Demikianlah beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat peraga pengajaran sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islamakan lebih efektif dibandingkan hanya dengan penjelasan lisan.

D. Karateristik Guru Pendidikan Agama
Pada prinsipnya proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara Guru dengan siswa dalam situasi pendidikan. Keberhasilan proses belajar mengajar tergantung pada guru dan siswa sebagai peran utama dalam proses itu. Guru dituntut kesabaran, keuletan, keterbukaan, dan kemampuan menciptakan situasi belajar mengajar yang mendorong siswa untuk belajar. Demikian juga siswa dituntut adanya semangat untuk belajar. Guru harus yakin bahwa siswa merupakan individu yang dapat dididik dan mempunyai potensi untuk berkembang. Guru harus memberi motivasi bagi siswa agar mempunyai minat untuk belajar. Peran guru dalam proses interaksi menentukan keberhasilan proses tersebut. Maka peran dan fungsi Guru sebagai pendamping dalam proses belajar mengajar harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan, yaitu :
1. Membuat perencanaan belajar mengajar
2. Melaksanakan segala kegiatan yang telah direncanakan
3. Mengorganisir siswa belajar
4. Menilai keberhasilan proses belajar mengajar
Selain peran guru yang akan menentukan keberhasilan proses belajar mengajar, juga peran siswa itu sendiri. Proses belajar mengajar akan lebih efektif apabila siswa lebih aktif. Siswa tidak selalu disuapi dan dijejali oleh berbagai materi pelajaran. Tetapi mereka mencari dan menemukan sendiri. Guru hanya sebagai perencana belajar, pengelola, pengarah, pasilitator, nara sumber, dan membimbing belajar. Itulah sebabnya, istilah belajar mengajar sekarang dikenal dengan pembelajaran.
Dalam buku The Learning Revolution karangan Gordon Dryden dan Dr. Jeannete Vos diuraikan beberapa prinsip pokok revolusi pembelajaran, antara lain :
a. Efektivitas belajar erat terkait dengan suasana belajar yang menyenangkan. Prinsip ini ditekankan, karena otak tak bisa memperhatikan semua hal. Pelajaran yang tidak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak diingat.
b. Pembelajaran mandiri adalah kunci utama. Prinsip pokok disini, pembelajaran mandiri sebagai kunci utama dalam belajar. Dengan memberi contoh keberhasilan pendidikan Montesori, penulis buku ini menyatakan, jika kita menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecilpun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.
c. Pentingnya pendidikan pra sekolah dan orang tua sebagai guru pertama. Buku ini menunjukkan 50 persen kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya, 30 persen lainnya dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan. ( HU. Republika 2003 )
1. Syarat-syarat Menjadi Guru
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untukmelakukan kekgiatan atau pekerjaan sebagai guru (M. Uzer Usman: 2001:5). Orang yang pandai berbicara pada bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Oleh sebab itu, untuk melakukan tugas sebagai guru, tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Sebagai guru harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam UU No. 12 tahun 1954 Pasal 15 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran yang berbunyi :
“ Syarat utama menjadi guru, selain ijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3, pasal 4, pasal 5 undang-undang ini.”

Dalam pasal 42 ayat (1) UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan : “Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.
Dari pasal-pasal tersebut, dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat menjadi guru adalah :
a. Berijazah
b. Sehat jasmani dan rohani
c. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
d. Bertanggung Jawab
e. Berjiwa nasional

Secara singkat, syarat-syarat tersebut diuraikan di bawah ini.
a. Berijazah
Yang dimaksud dengan ijazah disini ialah ijazah yang memberi wewenang untuk menjalankan tugas sebagai guru di suatu sekolah tertentu. Ijazah adalah surat bukti yang menunjukkan bahwa seseorang telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan-kesanggupan yang diperlukannya untuk suatu jabatan atau pekerjaan.

b. Sehat Jasmani dan Rohani
Sehat jasmani dan rohani adalah salah satu syarat yang penting bagi tiap-tiap pekerjaan. Orang tidak dapat melakukan tugasnya jika badannya selalu sakit.
Seorang guru yang berpenyakit menular misalnya, akan membahayakan kesehatan anak-anak didik. Seorang guru yang cacat akan menjadi bahan tertawaan, ejekan dan cercaan anak-anak. Hal ini akan berakibat buruk bagi kegiatan belajar mengajar.
c. Taqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pembinaan ketakwaan tidak mungkin dapat diberikan oleh orang yang tidak berketuhanan Yang Maha Esa dan taat menjalankan agamanya. Pembentukan manusia susila yang takwa hanya mungkin diberikan oleh orang-orang yang memiliki dan hidup sesuai dengan norma-norma agama dan masyarakat serta peraturan-peraturan yang berlaku.

d. Bertanggung jawab
Pembentukan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab merupakan tugas yang tidak mudah dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang berjiwa demokratis dan bertanggung jawab pula. Oleh karena itu seorang guru haruslah orang yang bertanggung jawab. Tanggung jawab terhadap tugas sebagai pendidik/pengajar, tanggung jawab terhadap tugas lain dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.
e. Berjiwa Nasional
Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan adat istiadat memerlukan jiwa nasionalisme demi persatuan dan keutuhan bangsa. Untuk menanamkan perasaan kebangsaan itu merupakan tugas guru Pendidikan Agama dan para pendidik umumnya.
Pendidikan nasional tidak dapat diberikan oleh orang yang a-nasional Maka guru harus berjiwa nasional merupakan syarat penting untuk mendidik anak-anak.

2. Sikap dan Sifat Guru Pendidikan Agama
Di atas telah diuraikan syarat-syarat guru secara umum. Di samping itu tentu saja masih banyak syarat-syarat yang harus dimiliki supaya tugas dan pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik, khususnya bagi guru Pendidikan Agama. Syarat-syarat itu antara lain :
a. Bersikap adil
Dalam memperlakukan anak didiknya guru harus bersikap adil. Guru tidak boleh membedakan perlakuan terhadap anak cantik, anak pejabat, saudara sendiri, atau anak kesayangannya. Termasuk dalam memberi nilai atau hukuman.
b. Percaya dan Suka kepada Anak
Setiap anak didik mempunyai kemauan dan kata hati seperti halnya pada orang dewasa. Namun kemauan dan kata hati pada anak masih lemah dibandingkan dengan kata hati orang dewasa. Maka tugas gurulah yang harus membentuk kemauan dan kata hati anak ke arah yang lebih baik. Syaratnya ialah guru harus percaya kepada anak didiknya. Jangan terlalu menaruh curiga terhadap mereka.
Guru harus menyukai anak didik. Mereka masih dalam keadaan bodoh, dangkal dan kurang pengalaman. Oleh karenanya guru harus menghilangkan sifat-sifat tersebut.

c. Penyabar
Hasil pekerjaan guru tidak dapat dilihat seketika. Pekerjaan mendidik tidak dapat disamakan dengan pekerjaan lain seperti membangun gedung, membuat jembatan, mencetak kue dan lain-lain yang hasilnya dapat dilihat pada waktu itu juga. Hasil pendidikan dapat dilihat setelah beberapa tahun bahkan puluhan tahun yang akan datang, atau setelah anak mencapai dewasa dan hidup di masyarakat. Semua itu memerlukan kesabaran dan kerelaan dari seorang guru.
d. Berwibawa
Seorang guru harus mempunyai wibawa terhadap anak didik. Pendidikan tidak mungkin masuk kedalam hati anak tanpa wibawa. Tanpa kewibawaan murid-murid hanya akan menuruti kehendak gurunya karena takut atau karena paksaan, bukan karena berdasarkan dari dalam dirinya.
e. Menguasai bahan pelajaran
Bagaimana mungkin seorang guru akan memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya dengan benar dan berhasil apabila guru itu sendiri kurang atau tidak menguasai pelajaran yang dipegangnya.
Ilmu pengetahuan selalu berkembang sesuai dengan jaman. Oleh karena itu guru tidak cukup hanya menguasai ilmu yang hanya didapatnya waktu dulu. Maka supaya seorang guru menguasai ilmu dan wawasan yang luas harus selalu menuntut dan mencari ilmu dan belajar agar tidak ketinggalan jaman.
f. Menyukai mata pelajaran yang diberikan
Seorang guru yang tidak menyukai mata pelajaran yang diajarkan-nya akan berpengaruh buruk bagi sikap anak terhadap pelajaran itu. Bila motivasi guru tidak ada, maka dapat dipastikan bahwa motivasi anak terhadap pelajaran itu akan lebih jelek dari pada gurunya. Oleh karena itu guru harus menyukai pelajaran yang diberikan kepada anak didiknya. Mengajarkan pelajaran yang disukai akan lebih baik hasilnya dan akan mendatangkan kegembiraan baginya.
g. Luas pengetahuan
Selain mempunyai pengetahuan yang luas dalam mata pelajaran yang menjadi tugasnya, akan lebih baik jika guru mempunyai pengetahuan yang luas tentang segala sesuatu yang penting-penting yang ada hubungannya dengan masyarakat dan perkembangan zaman.

E. Kedisiplinan
1. Pengertian Disiplin
Disiplin siswa dalam suatu sekolah merupakan bagian dari pengelolaan kelas, dan masalah kedisiplinan adalah sesuatu yang memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak sekolah khususnya dari guru Pendidikan Agama untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Tanpa kedisiplinan sukar bagi sekolah memperoleh prestasi yang optimal.
Menurut Lembaga Ketahanan Nasional dalam bukunya Disiplin Nasional pengertian disiplin dijelaskan sebagai berikut :
Koreksi dan sanksi. Arti disiplin dalam kaitannya dengan koreksi atau sanksi terutama diperlukan dalam suatu lembaga yang telah mempunyai tata tertib yang baik. Bagi yang melanggar tata tertib dapat dilakukan dua macam tindakah, yaitu berupa koreksi untuk memperbaiki kesalahan dan berupa sanksi. Keduanya harus dilaksanakan secara konsisten untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan pelanggaran terhadap norma dan kaidah yang telah disepakawti bersama. Hal ini dilakukan mengingat orang cenderung berprilaku sesuka hatinya. ( Lemhanas, 1977 : 11 ).

Sedangkan menurut Webster’s new world dictionary ( Oteng Sutisna, 1993 : 110 ) pengeritan disiplin adalah :
1. Latihan yang mengembangkan pengendalian diri, karakter atau keadaan serba teratur dan efisien.
2. Hasil latihan serupa itu pengendalian diri, prilaku yang tertib.
3. Penerimaan atau ketundukan kepada kekuasaan dan kontrol
4. Prilaku yang menghukum atau memperbaiki.

Dari kedua pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa disiplin terbagai menjadi dua yaitu : disiplin positif dan disiplin negatif. Disiplin positif yaitu keadaan yang teratur yang merupakan hasil pengembangan, karakter, pengenalan diri, keadaan teratur dan efisien dalam disiplin individu atau kelompok patuh pada peraturan atau tata tertib kesadaran atau kemauan sendiri. Prilaku seperti itu bukan takut karena ancaman atau hukuman tetapi karena mereka menghendakinya.
Disiplin negatif adalah orang-orang secara individu atau secara kelompok dalam keadaan disiplin patuh pada peraturan dan tata tertib karena takut pada ancaman atau hukuman. Hukuman diberikan pada pelanggar peraturan untuk menakut-nakuti agar tidak mengulangi perbuatan yang serupa.
Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani memberi pengertian mengenai disiplin sebagai berikut :
Disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditujukan untuk membantu murid agar ia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan dan juga penting tentang dara menyelesaikannya. ( Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, 1999 ).

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pengaruh-pengaruh yang positif bagi siswa baik dari guru maupun lingkungannya maka secara spontan murid akan menyesuaikan diri dengan lingkungan itu. Sebagai contoh : bila seorang guru setiap kali mengajar masuk tepat waktu, maka muridnyapun akan masuk tepat waktu. Mereka akan mencontoh pribadi dan prilaku gurunya. Begitu pula di lingkungan anak. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang kurang disiplin, maka pribadi anak itu tidak akan jauh berbeda dengan lingkungannya. Kedisiplinan dalam lingkungan akan membawa dampak dan pengaruh dalam kedisiplinan pada kegiatan belajar di sekolah.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan
Dalam dunia siswa sebagai remaja perkembangan kesadaran moral dipengaruhi oleh banyak faktor. Perkembangan dapat berjalan lancar apabila ada rangsangan sosial agar ia memiliki kemampuan menentukan suatu perannya dalam pergaulan dan mampu dalam menjalankan peran tersebut. Makin banyak peran yang dimainkan, makin banyak pengalaman yang merangsang perkembangan moral.
Kesadaran moral siswa sebagai remaja terhadap kedisiplinan di sekolah menuntut kebebasan dalam pelaksanaan kewajiban dan kepatuhan siswa serta adanya peraturan.
Dalam dunia pendidikan formal, aparat sekolah terutama guru mempunyai tugas dalam menanamkan kesadaran moral siswa terhadap penegakan disiplin sekolah dengan cara mengajarkan dan menanamkan nilai moral melalui proses pembelajaran yang dilaksanakannya.
Disiplin dalam proses pembelajaran yang kurang mantap dapat merupakan suatu kelemahan dalam menyelenggarakan pembangunan nasional khususnya pembangunan dalam bidang pendidikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin anak antara lain :
a. Nilai budaya bangsa
b. Kebiasaan dalam keluarga
c. Tinggi rendahnya tingkat disiplin pihak sekolah ( lingkungan pendidikan ).
d. Penerapan sanksi bagi pelanggar peraturan / tata tertib.
Pada era reformasi saat ini kita sering mendengar bahkan menyaksikan sendiri bagaimana rendahnya disiplin bangsa mulai dari elit politik sampai kepada rakyat jelata. Para elit politik saling mencaci dan saling menjatuhkan tanpa mengindahkan norma-norma dan kesusilaan. Para penguasa sering bertindak arogan tanpa menghiraukan kritik dan saran dari para politisi, bahkan tidak mau mendengar jerit dan tangis rakyat dan bangsa yang sedang menderita karena krisis multi dimensi. Begitu pula disiplin warga masyarakat kian lama kian merosot. Sering bertindak tanpa didasari oleh suatu pemikiran yang rasional. Penjarahan, penebangan hutan, tawuran antar kampung, main hakim sendiri, bahkan perang dan saling membunuh antarsuku sudah merebak di berbagai daerah di Indonesia. Tak ketinggalan dikalangan pelajar. Tawuran sering terjadi antarsekolah. Para pelajar dan mahasiswa sudah menjadi pelanggan obat-obatan terlarang.
Sejumlah asumsi yang menjadi penyebab lemahnya disiplin nasional menurut Lemhanas ( 1997 : 31 ) adalah :
1. Apakah pelbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia kurang sesuai sehingga kurang efektif, atau penerapan dan sanksinya tidak dilaksanakan secara konsisten.
2. Atau mungkin karena masyarakat sekarang lebih permisi, dimana batas antara baik an buruk, salah dan benar sudah tidak begitu jelas dan kabur.
3. Atau mungkin otoritas para pejabat dan para pemimpin diberbagai lapisan masyarakat bobot pengaruhnya sudah pudar sehingga orang cenderung berbuat semaunya, dan tidak berusah menahan dorongan-dorongan yang impulsif serta tidak mampu mengarahkan prilaku dan keinginannya pada tujuan yang berguna dan dapat diterima oleh masyarakat luas.
4. Masalah disiplin nasional dapat pula dilihat dari sudut sistem pendidikan yang kurang merangsang para anak didik untuk mandiri, kreatif dan bertanggung jawab.

Untuk membentuk sikap hidup bangsa yang mencerminkan kepatuhan dan ketaatan pada konstitusi dan perundang-undangan negara demi tercapainya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tertib, teratur dan dinamis, perlu dicarikan langkah-langkah pembinaan yang tepat. Strategi dan pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia khususnya para penguasa dan penegak hukum.
Dalam tulisan ini tidak akan menguraikan langkah pembinaan secara nasional, tetapi hanya dalam lingkup sekolah.
3. Pembinaan Disiplin Sekolah
Disiplin memegang peranan penting dalam kehidupan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, yaitu manusia yang bertanggung jawab, analitis dan kritis. Tanpa disiplin, siswa tidak mempunyai patokan apa yang dianggap baik dan buruk dalam tindakan hidup bermasyarakat.
Lemhanas mengemukakan mengenai pembinaan disiplin sebagai berikut :
Pembinaan disiplin bukanlah sesuatu yang mudah, karena mendisiplinkan seseorang dan kelompok masyarakat dalam arti luas, berarti menanamkan kesadaran, pemahaman dan penghayatan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tertib dan teratur. Mengajarkan agar menghargai hak dan kewajiban, kekuasaan, kewenangan dan pengaturan berdasarkan tatanan kehidupan yang disepakati bersama, dengan kata lain berarti suatu pembudayaan. Disiplin tidak dapat ditanamkan dalam waktu yang singkat, karena itu pembinaannya harus dimulai sejak masa kanak-kanak. ( 1997 : 35 ).

Mengingat peliknya pembinaan disiplin dalam arti luas, maka perlu kita carikan strategi pembinaan dan peneguhan disiplin khususnya di lingkungan siswa. Untuk itu Depdikbud ( 1998 : 5 ) merumuskan melalui ruang lingkup Gerakan Disiplin Nasional dikalangan siswa di sekolah meliputi peningkatan :
a. Budaya tertib :
1) Tertib antri / baris sebelum memasuki kelas
2) Tertib meninggalkan ruangan kelas
3) Tertib dalam berdoa bersama sebelum / sesudah belajar
4) Tertib meninggalkan gerbang sekolah
5) Tertib antri dalam pelayanan sekolah
6) Tertib dalam mengikuti upacara bendera
b. Budaya bersih :
1) Bersih lingkungan sekolah :
a) Tidak membuang sampah di sembarang tempat
b) Tidak mencoret-coret di tempat yang tidak selayaknya
2) Bersih badan dan pakaian
3) Bersih ruangan kelas
c. Budaya belajar :
1) Belajar secara tertib di kelas, masuk / keluar kelas tepat waktu
2) Memanfaatkan waktu luang untuk belajar menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan.
3) Melaksanakan tugas sekolah secara sungguh-sungguh
4) Memanfaatkan perpustakaan sekolah secara baik dan optimal.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan di sekolah dalam rangka penegakan disiplin di kalangan siswa antara lain :
1. Pemberitahuan
Pemberitahuan disampaikan kepada siswa yang melanggar tetapi ia tidak tahu bahwa perbuatan itu melanggar.
2. Teguran
Teguran diberikan kepada siswa yang melanggar aturan satu atau dua kali.
3. Peringatan
Bila seorang siswa telah beberapa kali melakukan pelanggaran dan mendapat pemberitahuan dan teguran, maka perlu diberi peringatan yang disertai dengan ancaman dan sanksi bila melakukan pelanggaran kembali.

4. Hukuman
Tindakan terakhir yang dilakukan oleh guru terhadap siswa yang melakukan pelanggaran adalah hukuman apabila siswa sudah tidak menghiraukan akan pemberitahuan, teguran dan peringatan.

1. Metode, Media, Sumber dan Evaluasi dalam Pendidikan Agama
a. Metode Mengajar
Dengan metode disini dimaksudkan adalah cara atau teknik melalui bahan pelajaran tertentu yang disajikan kepada siswa. Berhubung teknik penyajian ini sangat berpengaruh terhadap tingkat hasil yang hendak dicapai, perlu sekali dipikirkan secara seksama metode mana yang paling tepat untuk mengajarkan bahan tertentu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Mengingat tidak adanya satu metode yang efektif untuk segala situasi, maka disarankan agar didalam mengajarkan suatu bidang studi dipergunakan kombinasi dari beberapa metode sesuai dengan tujuan-tujuan khusus yang akan dicapai.
Metode mengajar disini dimaksudkan ialah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh guru pada waktu mengajar. Langkah-langkah tersebut banyak sekali ragamnya karena hampir setiap akhli mengemukakan pendapatnya sesuai dengan pandangannya masing-masing. Oleh karena itu dalam tulisan ini penulis akan menyampaikan beberapa pola mengajar untuk dijadikan bahan perbandingan :
1. Pola umum yang biasa dilakukan, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Fase pengenalan murid
- Fase pelaksanaan
- Evaluasi / penilaian
2. Teori formal step yang dikemukakan oleh Herbart :
- Preparation / persiapan
- Presentation / penyajian
- Asosiasi / fase comparation
- Generalisasi
- Aplication
3. Metode proyek yang dikemukakan oleh Morrison :
- Langkah explorasi, biasa dengan bentuk tugas, tes, atau diskusi tentang suatu masalah
- Prestasi / langkah penyajian
- Asimilasi, siswa mengadakan penyelidikan terhadap masalah
- Organisasi, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan secara lisan / tulisan tentang materi yang telah dimilikinya.
- Resitasi, dimana siswa telah memahami masalah sedalam-dalamnya.
4. Pola Decroly, melalui tiga langkah :
- Fase observase aktif
- Fase assosiasi
- Fase expresi / pencurahan
5. Problem solving, dengan melalui lima langkah :
- Ada masalah yang akan dipecahkan
- Mengumpulkan data / keterangan
- Menetapkan praduga-praduga / jawaban sementara
- Menguji praduga
- Menarik kesimpulan

Persoalan pola mana yang akan dipergunakan guru pada waktu pembelajran, hal ini tergantung kepada guru itu sendiri. Satu hal yang perlu diperhatikan pada waktu memproses murid dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar ialah penggunaan metode mengajar.

b. Jenis-jenis metode mengajar :
Jenis metode mengajar ini sebenarnya banyak. Namun dalam hal ini penulis hanya akan menguraikan beberapa macam saja, yang sering digunakan dalam pelajaran-pelajaran lain dan dapat juga digunakan dalam memberikan pelajaran Pendidikan Agama.
Metode-metode berikut ini dapat dipertimbangkan atas dasar sejauh mana dapat memberi kelancaran jalan mencapai tujuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan melalui minat siswa :
1. Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah penerapan dan penuturan secara lisan oleh guru.
Dalam pelaksanaan mengajar dengan metode ini, guru berbicara dan murid mendengarkan atau mencatat masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh guru. Alat utama yang dipergunakan guru untuk menyampaikan bahan-bahan pelajaran ialah dengan berbicara. Akan tetapi walaupun demikian guru dapat pula menggunakan alat-alat bantu seperti : gambar-gambar, skema, peta, data statistik dan lain sebagainya.
Apabila hendak mempergunakan metode ceramah, sebagaimana pula dengan metode-metode lain, guru harus mempersiapkan bahan yang akan disampaikan itu betul-betul menarik. Artinya bahwa bahan yang disampaikan itu telah diolah guru sehingga dapat membangkitkan minat siswa. Untuk mengetahui baik tidaknya ceramah yang kita sampaikan itu dapat dilihat sejauh mana bahan yang kita sampaikan dapat mengikat perhatian siswa.
Selanjutnya guru harus dapat menyesuaikan bahan dengan waktu yang tersedia. Tidak boleh terlalu menyimpang sehingga pembicaraan akan bergeser dari materi yang dipersiapkan, dan tidak kaku sehingga pembicaraan menjadi hambar. Humor dan cerita jenaka dalam batas-batas tertentu sangat diperlukan untuk variasi pembicaraan.
Jadi guru harus dapat menyesuaikan bahan dengan waktu yang tersedia tetapi dengan cara yang menarik, disamping bahan itu sendiri sesuai dengan perkembangan anak.
Kebaikan-kebaikan metode ini sebagai berikut:
a. Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walaupun jumlah siswa cukup banyak.
b. Organisasi kelas lebih sederhana, artinya tidak perlu mengadakan pengelompokan siswa seperti pada metode lain.
c. Materi yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan oleh guru dalam waktu yang singkat.
Kelemahannya adalah :
a. Ada kemungkinan siswa-siswa salah dalam mengambil kesimpulan, berhubung guru yang menyampaikan bahan itu terutama dengan lisan.
b. Guru sulit untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap bahan yang ia berikan.
c. Sulit pula untuk mengetahui siswa-siswa yang kurang berpartisipasi terhadap kegiatan kelas.

2. Metode Tanya Jawab
Dalam pelaksanaan metode ini guru bertanya dan murid menjawab atau sebaliknya. Adapun jenis-jenis pertanyaan yang dikemukakan sebaiknya :
a. Sebagai ulangan pelajaran yang telah diberikan
b. Untuk merangsang siswa agar perhatiannya tercurah kepada masalah yang sedang dibicarakan.
c. Sebagai selingan dalam pembicaraan
d. Untuk mengarahkan proses berfikir siswa.
Metode ini tidak efektif untuk menilai hasil belajar, sebab guru mengajukan pertanyaan yang berbeda-beda kepada setipa anak, yang bobot pertanyaan tersebut mungkin berbeda-beda pula. Sedangkan untuk mengevaluasi hasil belajar anak, pertanyaan-pertanyaan yang sama ditujukan kepada kelas pada waktu yang sama pula.
Dalam metode ini, pertanyaan hendaknya ditujukan kepada seluruh kelas. Maksudnya agar semua siswa turut memikirkan jawabannya. Jawaban harus jelas terdengar oleh semua siswa di kelas itu, agar siswa lain dapat menilainya. Bila ternyata siswa yang telah ditunjuk oleh guru itu salah, guru menunjuka siswa yang lain untuk menjawabnya. Demikian seterusnya.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam metode ini, yaitu guru harus menunjuk siswa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara merata, dan tidak terbatas kepada siswa yang mengangkat tangan saja. Siswa-siswa yang tidakpun harus ditanya.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Kelas akan hidup karena siswa aktif berfikir dan menyampaikan fikirannya dengan melalui berbicara.
b. Baik sekali untuk melatih siswa agar berani mengemukakan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
c. Timbulnya perbedaan pendapat diantara siswa, atau diantara siswa dengan guru, akan membawa kelas kepada situasi diskusi.
Kelemahan-kelemahannya adalah :
a. Apabila terjadi perbedaan pendapat akan memakan banyak waktu untuk menyelesaikannya.
b. Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian anak, terutama apabila terdapat jawaban-jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, tetapi bukan sasaran yang dituju.
Dalam menyusun pertanyaan hendaknya dihindari semacam pertanyaan yang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak” saja.

3. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Dalam menggunakan metode ini lebih banyak memperagakan sesuatu dan penjelasan lisan hanya bila dianggap perlu. Jadi yang menjadi dasar dari metode ini yaitu memperlihatkan suatu proses. Adapun yang memperlihatkan proses itu boleh guru, siswa, atau orang lain. Selanjutnya dengan eksperimen dimaksudkan bahwa guru atau siswa mencoba untuk mengerjakan sesuatu, serta mengamati proses dan hasil percobaan itu.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Perhatian anak akan terpusat kepada semua yang didemontrasikan.
b. Karena pengamatan anak langsung kepada suatu proses, maka akan mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan.
c. Dengan metode ini sekaligus akan dapat menjawab masalah-masalah yang
Kelemahan-kelemahannya diantaranya adalah :
a. Metode ini kurang efektif bila kurang alat, atau alat-alatnya kurang sesuai dengan kebutuhan.
b. Dalam demontrasi dan eksperimen biasanya memerlukan banyak waktu.
c. Metode ini sukar dilaksanakan bila siswa belum matang untuk melaksanakan eksperimen.
d. Banyak alat-alat yang tidak dapat didemontrasikan dalam kelas, karena besarnya atau karena harus dibantu oleh alat-alat yang lain.

4. Metode Karyawisata
Dalam metode ini guru membawa siswa-siswanya untuk belajar di luar kelas. Karyawisata disebut pula darmawisata atau field trip, tetapi berbeda dengan piknik atau tamasya. Sebab piknik atau tamasya itu lebih menitik beratkan pada hiburan.
Metode karyawisata biasanya bertujuan untuk mempelajari satu masalah tertentu. Tetapi walaupun demikian, hasil karyawisata berguna pula untuk segi-segi pendidikan lain.
Apabila kita hendak mengadakan karyawisata harus mengadakan persiapan yang matang, terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan keamanan, kesehatan, fasilitas, alat-alat belajar, rencana evaluasi dan sebagainya.
Kebaikan-kebaikan metode ini :
a. Siswa-siswa dapat mengambil langsung terjadinya suatu proses atau keadaan suatu benda. Dengan demikian pemahaman siswa atau suatu masalah akan lebih objektif.
b. Daslam karyawisata banyak hal yang sekaligus dapat diamati
c. Seluruh pribadi siswa terlibat dalam suatu kegiatan
d. Para siswa berkesempatan mengadakan eksperimen
Kelemahan-kelemahannya :
a. Karyawisata memerlukan persiapan yang matang, mengingat proses belajar terjadi di luar kelas.
b. Karyawisata memerlukan waktu yang banyak, apabila tempat yang akan dikunjungi itu jauh.
c. Organisasi karyawisata lebih rumit, karena siswa di luar kelas merasa lebih bebas.
d. Perhatian siswa mungkin akan beralih dari objek yang sedang dihadapi, terutama apabila ada perangsang yang menarik perhatian mereka.
e. Biasanya memerlukan fasilitas yang banyak.
5. Metode Dramatisasi
Para siswa disuruh berperan dalam suatu rangkaian cerita, sedangkan guru mengarahkan dan membimbing agar siswa dapat melaksanakan peran sesuai dengan tema cerita, dan siswa yang lain mengikuti dengan seksama.

c. Pemilihan suatu metode
Bilamana guru telah melakukan tugas mengajar di dalam kelas, maka ia telah berkomunikasi dengan siswa dalam kelas itu. Dalam rangka pemilihan metode yang sesuai, pertama kali yang perlu ditinjau adalah apa yang ingin dicapai dalam program itu serta isi pendidikan apa yang paling relevan untuk tujuan tersebut. Kedua hal itu akan mempengaruhi jenis metode yang akan dipilih dalam proses pembelajaran.
Kombinasi berbagai metode dalam memberikan pelajaran adalah yang sering digunakan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Metode merupakan jembatan yang dapat menghubungkan komunikator ( guru ) dan komunikan ( siswa ). Dengan kata lain metode adalah alat untuk mencapai tujuan.
Agar metode tersebut dapat bekerja dengan efektif, maka guru sebagai penanggung jawab penggunaan metode perlu memperhatikan beberapa faktor, antara lain :
a. Kondisi anak didik
b. Materi pelajaran yang hendak disajikan
c. Situasi kegiatan belajar
d. Alat-alat yang tersedia
e. Kemampuan guru dalam menggunakan metode
f. Tujuan penggunaan metode

D. Media Pengajaran
Salah satu bagian dari sumber belajar ialah media pengajaran. Jenis media ini dapat dibagi menjadi :
1. Media dengar ( media auditif ) yaitu media yang hanya dapat didengar seperti : radio, tape recordere, piringan audio
2. Media pandang ( Media visual ) yaitu media yang hanya dapat dilihat, seperti : gambar, film, slide, peta.
3. Media pandang dengar, yaitu media yang dapat dipandang dan didengar, seperti : televisi dan video.
Semua media itu ada yang sederhana, ada yang komplek. Artinya : ada media yang bahan dasar dan pembuatannya serta penggunaannya tidak sulit. Ada media yang bahan dasarnya sulit diperoleh, harganya mahal, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang cukup. Tetapi baik yang sederhana maupun yang komplek, semua media itu mempunyai nilai praktis dalam pengajaran. Mahfud Surawinata mengemukakan nilai praktis media pengajaran sebagai berikut :
1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit dari konsep yang abstrak ( menghilangkan vebalisme )
2. Dapat menampilkan obyek-obyek yang besar dan tidak mungkin dapat dibawa ke dalam kelas ( melalui tiruan, foto, film, dll )
3. Membangkitkan motivasi siswa
4. Memungkinkan siswa untuk berinteraksi sebanyak-banyaknya, sehingga kadar aktivitas lebih tinggi.
5. Bahan pengajaran dapat diulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.
6. Dapat menampilkan obyek-obyek yang langka ( gerhana matahari, gerhana bulan, gerhana total, bintang kutub, dsb ).
7. Dapat menampilkan obyek yang suliat diamati oleh mata telanjang ( dapat menggunakan alat mikroskop ).

Melihat besarnya nilai media dalam pengajaran, maka menjadi suatu keharusan bagi setiap guru berupaya menyediakan dan menggunakan media pengajaran.
F. Sumber Belajar
Sumber belajar yang pokok pada kegiatan belajar mengajar ialah bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang telah baku yang biasanya ditampilkan dalam buku paket, video, tape recoredere, bola dunia, peta, film dan lain-lain. Namun di luar itu masih ada sumber-sumber belajar yang lain seperti : manusia, bahan / materi, lingkungan / alam sekitar, alat dan perlengkapan.
Sumber belajar berupa manusia ada yang dipersiapkan secara khusus seperti guru dan tutor, dan ada pula yang tidak dipersiapkan secara khusus tetapi ada kaitannya dengan bahan pengajaran. Begitu pula dalam hal lingkungan. Ada yang dipersiapkan secara khusus seperti gedung sekolah, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, dsb. Ada pula lingkungan / ruangan yang tidak didesign untuk pendidikan seperti kebun binatang, musium, pabrik, dll.
Penggunaan dan pemanfaatan sumber-sumber belajar itu sangat tergantung kepada kreatifitas guru, biaya, dan waktu yang tersedia.

G. Evaluasi
Evaluasi pengajaran adalah salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar yang berfungsi untuk mengetahui hasil aktifitas pembelajaran.
Pada umumnya proses evaluasi berpusat pada siswa. Mengukur hasil belajar siswa dan menentukan peringkat siswa. Padahal evaluasi dalam pengajaran tidaklah hanya berfokus pada siswa tetapi juga “dimaksudkan untuk mengamati peranan guru, strategi pengajaran khusus, materi kurikulum, dan prinsip-prinsip belajar untuk diterapkan pada pengajaran” ( Oemar Hamalik, 2003 : 145 ).
Dalam evaluasi pengajaran dikenal istilah-istilah : evaluasi, pengukuran ( measurement ) dan assessment.
Oemar Hamalik dalam buku Proses Belajar Mengajar ( 2003 : 146 ) memberi pengertian istilah di atas sebagai berikut :
Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem mengajar / belajar sebagai suatu keseluruhan.
Measurment, pengukuran berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif siswa dan / atau tingkah laku siswa, dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma.
Assessment adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar ( achimvement ) siswa sebagai hasil dari suatu program instruksional.

Ketiga istilah itu mempunyai keterkaitan. Dan pada intinya baik evaluasi, assessment maupun measurment tidak hanya berfokus pada siswa, tetapi penilaian terhadap keseluruhan komponen yang terlibat di dalamnya. Guru, siswa, kurikulum, bahan ajar, metode, alat bantu, dll termasuk yang harus dievaluasi.
Dilihat dari fungsinya, Oemar Hamalik menjelaskan enam fungsi pokok dari evaluasi sebagai berikut :
1. Fungsi edukatif : Evaluasi adalah suatu subsistem dalam pendidikan yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan sistem dan / atau salah satu subsistem pendidikan. Bahkan dengan evaluasi dapat diungkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam proses pendidikan.
2. Fungsi institusional : Evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat tentang input dan output pembelajran disamping proses pembelajaran itu sendiri.
3. Fungsi diagnostik : Dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
4. Fungsi administratif : Evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang pada gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi ( tanda kelulusan ) dan untuk melanjutkan studi lebih lanjut dan / atau untuk kenaikan kelas.
5. Fungsi kurikulum : Evaluasi berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan berdaya guna bagi pengembangan kurikulum ( perencanaan, uji coba di lapangan, implementasi, dan revisi ).
6. Fungsi manajemen : Komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam sistem manajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pimpinan untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjang manajemen.
( Oemar Hamalik, 2003 : 147 ).

Untuk mencapai sasaran evaluasi, seperti yang tersebut di atas, maka harus disusun alat evaluasi sesuai dengan tujuan evaluasi itu sendiri. Apakah berupa tes atau non tes. Alat evaluasi berupa tes bisa secara lisan, tulisan, atau tes tindakan / perbuatan. Sedangkan untuk non tes dapat kita gunakan angket, wawancara, studi kasus, observasi, dll.
Dalam merancang alat evaluasi hendaknya mengandung aspek-aspek :
a. Penetapan tujuan
b. Ruang lingkup bahan pelajaran
c. Menetapkan bobot kesukaran
d. Menetapkan ranah tes. Pengetahuan, pemahaman atau aplikasi
e. Banyak dan jenis soal serta waktu yang digunakan.
Seorang guru hendaknya memahami benar seluk beluk masalah evaluasi. Mengetahui fungsi, tujuan, ranah, alat dan lain-lain tentang evaluasi, maka apa yang dikerjakan guru tidaklah akan sia-sia. Banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi.





PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

6 04 2010

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Menginsafi bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Hal itu merupakan jembatan meniti bagi generasi yang akan datang. Keluarga merupakan sistem yang paling khusus dan tersendiri. Karena, di dalam keluarga itulah tempat tinggal pertama bagi anak untuk melakukan interaksi, mengambil asas-asas bahasa, nilai, perilaku, kebiasaan, kecenderungan jiwa dan sosial. Sehingga pantaslah Hasan Langgulung mengemukakan mengenai kedudukan keluarga bahwa :
Keluarga itu adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat, dimana hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besar bersifat hubungan-hubungan langsung. Di situlah berkembang individu dan di situlah terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan (socialization), dan melalui interaksi dengannya, ia memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi dan sikapnya dalam hidup, dan dengan itu ia memperoleh ketentraman dan ketenangan. (1986 : 346).

Dengan demikian keluarga adalah suatu sistem pendidikan yang pertama dan utama. Sebab di dalam keluarga inilah tempat meletakan dasar-dasar kepribadian anak didik. Dalam ajaran Islam dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana sabdanya yang berbunyi :
ﻪﻧﺍﺮﺼﻧﻳﻮﺍ ﻪﻧ ﺍﺪﻭﻬﻳ ﻩﺍﻮﺒﺎﻔ ﺓﺭﻃﻔﻠﺍﻰﻠﻋﺪﻟﻭﻳﻻﺍﺪﻭﻟﻮﻣﻦﻤﺎﻤ
ﻪﻧﺎﺴﺤﻤﻳﻭﺍ
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia lancar lisannya (berbahasa) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia kafir Yahudi atau Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa pendidikan keluarga memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak didik. Moh. Abdai Rathomy menegaskan : kedua orang tua itu mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengajar putra-putrinya. (1973 : 283), karena : pendidikan keluarga sebagai sumber dan dasar lingkungan yang lainnya. (Ag. Soejono, 1980 : 93).
Mengingat sangat pentingnya pendidikan keluarga, maka Islam memandang keluarga itu sebagai lembaga hidup manusia yang menentukan baik buruknya dan celaka ataupun bahagianya di dunia dan di akhirat kelak. Nabi Muhammad sendiri di utus oleh Allah SWT., pertama-tama diperintahkan untuk mengajarkan Islam, lebih dahulu kepada keluarga sebelum masyarakat luas.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Tahrim, ayat 6 berbunyi :
…ﺍﺮﺎﻧ ﻢﻜﻳﻟﻫﺃﻮ ﻡﻛﺴﻔﻧﺃﺃﻭﻗ ﺍﻭﻧﻣﺍﻥﻳﺬﻠﺍﺎﻬﻳﺄﻳ
“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Depag. RI, 1983 : 951)

Jelaslah, bahwa keluarga dalam ajaran Islam memiliki implikasi pendidikan dan pengajaran. Sebagaimana Zakiah Daradjat (1978 : 53), mengatakan bahwa :
Diantara cara pendidikan yang diajarkan Allah dalam Al Qur’an seperti terdapat dalam Surat Al Luqman ayat 13 sampai dengan 19. Keringkasan isi ayat tersebut antara lain yang terpokok adalah : 1. Menanamkan jiwa tauhid, 2. Menghargai dan menghormati orang tua, 3. Memelihara dan memerlakukan orang tua dengan baik, bagaimanapun sifat dan tindakan mereka, 4. Kejujuran bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat disembunyikan kepada Tuhan, walau dalam batu kebun, 5. Supaya mendirikan sembahyang (beribadah), 6. Mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah yang munkar, 6. Supaya bersabar, 8. Melarang keangkuhan dan kesombongan, sederhana dan sikap, berjalan dan berbicara. Demikian pula menurut Aisyah Dachlan, mengupas tentang pendidikan anak dalam keluarga ditinjau dari ajaran Islam bahwa :
1. Supaya mengenal Tuhan dan beriman kepada-Nya serta beramal shaleh, untuk ini harus diajarkan ilmu pengetahuan yang menyangkut dengan iman dan ibadah umpamanya; iman kepada Allah, iman kepada Rasul, sembahyang; puasa dan lain-lain, serta diajarkan juga yang wajib dikerjakan dan tak boleh dikerjakan umpama; berbuat baik kepada sesama manusia, tidak boleh menyakiti, merugikan orang lain apalagi merugikan masyarakat dan lain-lain.
2. Akhlak. Tugas pertama orang tua ialah mendidik anak supaya berakhlak mulia dan berbudi pekerti halus. Pandai hidup bemasyarakat, tolong menolong berlaku adil dalam segala hal, berkasih sayang antara sesama, dapat memelihara diri dari segala perbuatan tercela, mencintai tanah air, bangsa dan beragama.
3. Menjaga kesehatan dan membersihkan dan lain-lain yang menyangkut dengan keindahan dan kerapihan diri pribadi, lingkungan dan tempat tinggal.
4. Dapat berdiri sendiri. Hidup menghendaki banyak membutuhkan, maka orang tua harus mendidik anak supaya kelak dapat berdiri sendiri, memenuhi kebutuhannya dan keluarganya, tidak memberati dan mengganggu orang lain. (1974 : 128).

Berdasarkan pendapat di atas, maka suasana kehidupan dalam keluarga sangat berpengaruh dalam pembinaan jiwa agama anak. Bahwa kalangan ahli ilmu jiwa agama, telah banyak disinggung tentang pembinaan jiwa keagamaan yang antara lain bahwa pendidikan agama dalam keluarga berfungsi menumbuhkan sikap dan keterampilan keagamaan serta menanamkan pengetahuan agama. Karena itu, orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang baik; teguh imannya, berakhlak mulia, terampil, cerdas dan sebagainya. Maka segala keinginan itu tidaklah akan tercapai bila tanpa bimbingan serta pendidikan secara sengaja, karena anak manusia berbeda dengan makhluk lain yang mampu tumbuh dan berkembangan diritanpa dibantu. Khusus berkenaan dengan jiwa keagamaan, mutlak memerlukan bimbingan karena agama selain menyangkut hal-hal yang nyata juga masalah-masalah yang tidak nyata.
Untuk itulah, Islam telah memberikan ajaran tentang pendidikan dalam keluarga, kedudukan orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya, sehingga keluarga sebagai suatu sistem pendidikan, memberikan arah serta metode kepada kedua orang tua muslim agar mampu mendidik dan mengajar anak-anaknya sejak dalam kandungan sampai dewasa.
Sehubungan dengan itu, peranan orang tua dalam pendidikan agama setidak-tidaknya terdapat 4 hal penting yang harus diperhatikan, yakni:
1. Pendidikan Tauhid
Sebagai manusia yang mempunyai fitrah, percaya adanya Tuhan (makhluk religius). Maka orang tua harus memberikan pendidikan Tauhid untuk meluruskan aqidah dan keyakinan anak terhadap Allah SWT., serta membersihkannya dari sifat-sifat musyrik yang akan membawa kesesatan.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Luqman, ayat 13 yang berbunyi:
ﻚﺭﺸﻠﺍﻥﺇ ﷲﺎﺒﻙﺭﺷﺘﻻﻲﻧﺒﻳ ﻪﻅﻌﻳﻭﻫﻭ ﻪﻧﺑﻷﻥﻣﻗﻠ ﻞﺎﻘ ﺬﺇﻭ
ﻢﻴﻅﻋﻢﻟﻆﻠ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Depag RI, 1983 : 654).
Pendidikan keimanan atau aqidah adalah hal yang fundamental dalam ajaran Islam. Aqidah menjadi titik tolak permulaan untuk menjadi muslim. Sedangkan muslim itu sendiri adalah orang yang merealisasikan keimanannya dalam bentuk aktivitas, sebagai perwujudan dari rukun Islam. Maka di dalam keluargalah, mulai dikenalkan rukun iman dan Islam kepada anak-anak.
Oleh sebab itu menurut Aya Sofia, pengajaran atau penjelasan-penejelasan dari orang tua atau orang-orang yang mengerti akan hal itu, dimana pengenalan anak akan Tuhan dimulai dengan melalui bahasa. (1985 : 116).
Pendididikan Tauhid ini akan menjadi landasan hidup fundamental bagi anak, sehingga diharapkan nanti dia menjadi manusia yang tunduk dan taat kepada Allah SWT serta ikhlas mengabdi kepada-Nya.
2. Pendidikan Akhlaq
Akhlaq sangat penting dalam kehidupan manusia, lebih-lebih karena manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini. Salah satu tanda kemuliaan manusia ialah berakhlaq. Menurut H. Zaini Ahmad Syis (1983 : 6) : Dalam agama Islam terdapat sumber pendidikan yang paling luhur bagi manusia, sebagai dasar bagi kehidupan manusia itu akhlaq.
Orang tualah yang berkewajiban untuk mendidik serta membimbing terhadap kehidupan mental atau jiwa anak dengan akhlak yang mulia, sebab dalam bidang inilah terletak hakekat manusia. Hal ini dapat difahami, sabda Rasulullah yang berbunyi :
ﻖﻠﺧﻷﺍﻢﺭﺎﻜﻤﺎﻤﻤﺗﻻﺕﺜﻌﺒﺎﻣﻧﺇ
“Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. (H. Zaini Ahmad Syis, 1983 : 6).

Oleh karena itu anak-anak sejak dini harus mendapat tuntunan, bimbingan dari suri tauladan yang baik dari orang tuanya. Menurut H. Acmad Djazuli : Orang tua adalah pribadi yang pertama dalam kehidupan anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. (1990 : 127).
Dengan demikian orang tua sebagai pendidik akhlaq, merupakan contoh tauladan yang baik bagi anak-anaknya, dalam kehidupan sehari-hari. Hal inipun dicontohkan dalam Al Qur’an, Allah berfirman :
…ﺔﻧﺳﺣ ﺓﻮﺴﺃ ﷲﺍﻞﻭﺳﺭﻰﻓ ﻢﻜﻠﻥﺎﻜ ﺩﻗﻠ…
“Sungguh telah ada teladan yang paling baik bagimu pada diri Rasulullah SAW”. (H. Zaini Ahmad Syis, 1983 : 6).

3. Pendidikan Untuk Selalu Berbuat Kebajikan
Orang tua berkewajiban membimbing untuk selalu berbuat kebajikan terhadap orang lain, dengan menanamkan keyakinan terhadap anak, bahwa setiap amal perbuatan manusia itu bagaimanapun juga kecilnya akan diperlihatkan dan dibalas oleh Allah SWT.
Disini diajarkan kepada anak, tentang kebiasaan berbuat baik dengan cara-cara Islam. Baik terhadap orang tua, saudara, teman-temannya dalam pergaulan. Atau dalam bentuk tatakrama, berbicara, bersikap, serta beramal shaleh.
4. Pendidikan Shalat
Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan shalat sejak kaifiat sampai dengan hikmah-hikmahnya, agar si anak menjadi biasa untuk mengerjakan shalat dari kecil. Karena hanya generasi-generasi penegak shalatlah yang mampu untuk merealisir “Tanha Anil Fahsyaa’iwal Munkar” dalam kehidupan masyarakat.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Thaha, ayat 132 yang berbunyi:
ﻚﻘﺯﺭﻧﻥﺣﻧﺎﻘﺯﺮ ﻚﻠﺋﺴﻧ ﻻﺎﻬﻳﻠﻋﺭﺑﻃﺻﺍﻮ ﺓﻭﻠﺻﻠﺎﺑﻚﻠﻫﺃﺭﻣﺃﻭ
ﻯﻮﻗﺘﻟﻟ ﺔﺒﻘﻌﻟﺍﻮ
“Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”. (Depag RI, 1983 : 492).

Ayat di atas memberi pengertian bagi orang tua muslim agar mendidik dan menanamkan sikap kepada anak-anak supaya gairah dalam menunaikan ibadah shalat. Sehingga orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bahkan dalam Islam diperintahkan untuk mendidik anak beribadah shalat dikala mereka telah berumur tujuh tahun, dan memukulnya jika mereka tidak mau mengerjakan shalat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad Abu Daud Al Hakim dari Amir bin Syu’aib:
ﻭﻘﺭﻔﻭﺭﺴﻌﻟﺎﻬﻳﻠﻋﻡﻫﻭﺑﺮﺿﺍﻮ ﻊﺑﺴﻠ ﺓﻼﺻﻟﺎﺑ ﻢﻛﺪﻻﻭﺍﻮﺮﻮﻣ
ﻊﺟﺎﺿﻤﻟﺍﻰﻔ ﻢﻬﻧﻳﺑ

“Serulah anak-anakmu mengerjakan shalat apabila mereka sudah berumur tujuh tahun dan pukulah mereka karena mereka meninggalkannya, apabila umur mereka sudah sampai sepuluh tahun dan pisahkanlah diantara mereka pada tempat tidur”. (T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, 1985 : 69).
B. Perhatian Orang Tua dalam Pendidikan Anaknya
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah hanyalah pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, demikian menurut Zahara Idris, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga. (1982 : 120).
Sikap anak terhadap sekolah terutama akan dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka. Demikian pula sikap anak terhadap belajar, tidak bisa ditentukan oleh guru akan tetapi banyak dipengaruhi oleh perhatian orang tua terhadap belajar anaknya di rumah. Oleh karena itu perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya sangat berpengaruh terhadap sikap dan mentalitas anak dalam menentukan berhasil tidaknya belajar. Mengingat, orang tua disatu pihak berfungsi sebagai pemelihara, pelindung keluarga, dan di lain pihak sebagai pendidik putra-putrinya.
Ditegaskan oleh Zahara Idris (1982 : 120) : Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai usaha-usahanya. Juga orang tua harus menunjukan kerjasamanya dalam cara anak belajar di rumah, membuat pekerjaan rumahnya, janganlah disita waktunya.
Disinilah fungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan dimana antara orang tua dan anak terjalin komunikasi edukatif, dalam mencapai keberhasilan proses pendidikannya. Sebab peranan orang tua sangat bersifat menentukan. Dan cara praktis lebih mengenal anak, lebih leluasa, lebih dekat yang tanpa formalitas-formalitas, hal itu lebih berperan dalam menentukan kegiatan belajar anaknya.
Sehubungan dengan itu, banyak para ahli pendidikan mengemukakan tentang perhatian orang tua terhadap kegiatan pendidikan anaknya yang diantaranya menyoroti; orang tua sebagai pengawas kegiatan belajar anak, pendorong semangat belajar, membangkitkan minat, memberi fasilitas, menentukan waktu dan disiplin belajar, memberi bantuan belajar, memperhatikan kesehatan dan menciptakan iklim belajar di rumah. Untuk jelasnya penulis uraikan pendapat para ahli sebagai berikut.
Orang tua berperan sebagai pengawas (supervisor) dari pada kegiatan di sekolah yang harus dikerjakan oleh anak di rumah, sebagai pendidik dengan contoh teladan dari perbuatan, sebagai pemberi fasilitas belajar bagi anak. (Anonimous, 1979 : 43).
Orang tua yang berperan sebagai pengawas, hendaknya secara tidak langsung memperhatikan seluruh kegiatan yang dilakukan anak. Harus memperhatikan apakah anak memiliki Pekerjaan Rumah (PR), apakah sudah belajar untuk pelajaran besok, apakah ada kesulitan dalam mata pelajaran tertentu. Kesemua itu merupakan tanggung jawab orang yang secara rutin memperhatikan, mengawasi kegiatan belajar anak di rumah.
Disamping harus mengawasi kegiatan pendidikan anak, juga orang tua harus memperhatikan serta menjaga kesehatan jasmani dan rohani anak. Omar Hamalik (1983 : 3) mengemukakan : Salah satu syarat agar anak dapat belajar dengan baik yaitu harus memperhatikan kesehatan jasmani serta kesehatan rohani. Apabila anak sakit (tidak sehat) tidak akan dapat belajar dengan baik. Dengan demikian, orang tua harus menjaga kesehatan anaknya secara teratur.
Kemudian orang tua berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar anak di rumah, yaitu menyangkut seluruh kebutuhan anak dalam perlengkapan belajar, juga tempat belajar di rumah, serta iklim belajar yang menunjang.
Salah satu cara untuk mengundang agar senang dan mau belajar di rumah, orang tua harus memperhatikan tempat belajar, dorongan belajar (motivasi) dan membangkitkan minat belajar.
Tempat belajar yang memadai; baik ventilasi udara yang cukup, penerangan dan temperatur ruangan yang sesuai, meja belajar dan kursi yang cukup, peralatan lain seperti; buku-buku yang diperlukan dan alat peraga belajar, serta suasana yang tenang.
Berikan semangat belajar, dengan menumbuhkan minat dan motivasi anak, misalnya dengan bantuan belajar, pengarahan, hadiah, dan tidak mengganggu waktu belajar. Dalam hal ini Singgih D. Gunarsa (1976 : 20) mengemukakan : Campur tangan orang tua sangat dibutuhkan dalam membagi waktu, serta pengawasan terhadap terlaksananya pembagian waktu dan jadwal belajar di rumah.
Anak belum dapat membagi waktu antara tugas-tugas sekolah dengan bermain-main, oleh karena itu orang tua harus membantu dalam perencanaan waktu belajar dan disiplin belajar di rumah. Ditambahkan oleh pendapat R.I. Suhartin bahwa :
Dalam menolong anak supaya menjadi anak-anak yang cerdas, orang tua harus menentukan jam dan tempat belajar. Jam dan tempat belajar ini perlu dipastikan. Anak-anak perlu dibiasakan belajar pelajaran di sekolah pada jam-jam yang ditentukan. Anak-anak perlu mendisiplin diri untuk belajar di tempat yang dipastikan. Dengan jalan demikian anak-anak menjadi terbiasa dengan aturan-aturan yang sudah disepakati. (1981 : 103).
Berdasarkan uraian di atas, sudah dapat dipastikan bahwa perhatian orang tua dalam pendidikan anaknya sangat menentukan sekali terhadap keberhasilan belajar anak di sekolahnya. Untuk itulah orang tua perlu memperhatikan dalam hal :
1. Menyediakan fasilitas belajar anak di rumah, atau sarana kebutuhan belajar.
2. Merencanakan waktu belajar di rumah, dan membiasakan untuk disiplin belajar.
3. Memberi bantuan belajar bila anak belum mengerti terhadap suatu materi, atau bimbingan belajar di rumah.
4. Beri motivasi, bangkitkan semangat, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

C. Prestasi Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
1. Pengertian Prestasi Belajar
Setiap akhir dari proses belajar mengajar, selalu ada hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa yang disebut dengan prestasi belajar. Melalui hasil belajar ini dapat diketahui taraf penguasaan anak terhadap materi yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Demikian pula diketahui kemampuan-kemampuan, sikap maupun keterampilan dalam mengikuti proses belajarnya.
Oemar Hamalik (1981 : 5), mengemukakan bahwa : Prestasi belajar itu adalah hal-hal yang telah dicapai setelah ia belajar. Sedangkan Rocman Natawidjaya, menjelaskan bahwa : Prestasi belajar yang dicapai seseorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (internal) maupun luar diri (eksternal) individu. (1978 : 61).
Pendapat lain memberi batasan tentang pengertian prestasi belajar; Engkoswara mengemukakan : penguasaan, penggunaan dan penilaian tentang sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan dasar dalam berbagai bidang ilmu. (1981 : 2). Kemudian Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan :
Hasil belajar merupakan segala prilaku dimiliki siswa sebagai akibat dari proses belajar yang telah ditempuhnya. Batasan tersebut cukup luas meliputi semua akibat dari proses belajar yang berlangsung di sekolah, atau di luar sekolah, belajar bersifat kognitif, afektif, ataupun psikomotor disengaja ataupun tidak. (1985 : 124).

Selanjutnya Mohamad Surya mengemukakan prestasi belajar adalah : Seluruh kecakapan hasil yang dicapai (achievment) yang diperoleh melalui proses belajar berdasarkan test belajar. (1979 : 57).
Dari batasan-batasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar atau hasil belajar adalah suatu keadaan hasil yang dicapai baik berupa kemampuan, keterampilan maupun sikap serta nilai-nilai, setelah adanya usaha belajar dan mengajar.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, sebagaimana dikemukakan para ahli.
Sumadi Suryabrata (2984 : 253), mengklasifikasikan faktor-faktor tersebut menjadi dua bagian besar, yaitu kelompok faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan faktor-faktor yang berasal dari luar diri si pelajar.
Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar bisa berupa kemampuan siswa, kematangan, intelegasi, bakat, minat, ketekunan dan aktivitas siswa. Sedangkan faktor dari luar diri siswa bisa berupa lingkungan; baik lingkungan keluarga, maupun lingkungan sekolah dan masyarakatnya. Hal tersebut menyangkut sarana dan prasarana belajar siswa, misalnya : tempat belajar, alat-alat yang digunakan seperti; alat-alat tulis, buku-buku pelajaran, serta alat peraga pelajaran yang digunakan, dan kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya belajar bagi siswa.
Selanjutnya S. Nasution (1982 : 37), menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu adalah sebagai berikut :
a. Bakat untuk mempelajari sesuatu.
b. Mutu pelajaran.
c. Ketekunan.
d. Waktu yang tersedia untuk belajar.
Mohamad Surya mengemukakan, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar meliputi : karakteristik siswa, karakteristik guru, karakteristik fisik, karakteristik subyek matter, dan lingkungan luar. (1979 : 71).
Sedangkan Oemar Hamalik (1983 : 66) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut adalah :
a. Faktor yang berumber dari diri sendiri.
b. Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah.
c. Faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga.
d. Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat.
Dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, pada kenyataannya faktor-faktor tersebut akan saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak langsung dalam mempengaruhi hasil yang dicapai individu dalam belajar. Oleh karena itu faktor yang dapat mempengaruhi peristiwa belajar mengajar merupakan manifestasi hasil yang dicapai dari program pengajaran. Dan hal tersebut menuntut individu dalam menerima pengaruh, sehingga ada kecenderungan terjadinya perbedaan individual siswa dalam prestasi yang dicapai oleh para pelajar.
Demikian juga, dengan faktor-faktor tersebut dapat dijadikan sebagai faktor penujang keberhasilan belajar siswa apabila mendapat perhatian dari berbagai pihak. Sebaliknya, akan menjadi faktor penghambat jika kurang mendapat perhatian. Disinilah fungsi orang tua sebagai pendidik di lingkungan keluarga, harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anaknya.
Sejalan dengan pendapat di atas, maka Abin Syamsudin Mamun (1983 : 18) juga berpendapat ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu faktor siswa (raw input) dan pelaksanaan proses belajar (PBM).
Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa faktor siswa antara lain; kapasitas dasar, bakat khusus, motivasi, minat, kematangan sikap, dan kebiasaan belajar. Sedangkan proses belajar mengajar sendiri dapat dipengaruhi oleh faktor sarana (instrumen input) dan faktor lingkungan (inveromental input).
Sehubungan dengan masalah di atas, maka dijelaskan kedudukan orang tua dalam keluarga menempati posisi penting dalam kegiatan belajar anak baik di sekolah maupun di luar sekolah, serta keberhasilan yang dicapai belajar.

D. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah
Menurut M.A. Gozali (1985 : 123) mengemukakan bahwa perhatian adalah : Keaktifan jiwa yang dipertinggi. Jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek-objek. Sedangkan Wasty Sumanto mengemukakan tentang perhatian adalah : (1) Pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertentu kepada suatu objek, (2) Pendayagunaan kesadaran untuk menyertai aktivitas. (1989 : 32).
Ditinjau dari segi kepentingan pendidikan, maka perhatian mempunyai andil besar dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar, dam hasil belajar siswa. Baik perhatian dari orang tua terhadap anaknya ataupun perhatian guru terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Sebagaimana diutarakan sebelumnya, bahwa salah satu peran orang tua dalam upaya meningkatkan prestasi anaknya, adalah terjalinnya komunikasi atau interaksi edukatif yang secara disengaja mencurahkan perhatian kepada anaknya untuk mau belajar, bergairah, antusias, dan sungguh-sungguh. Karena perhatian orang tua merupakan tenaga psiskis yang dapat mendorong kegiatan belajar anaknya. Sehingga reaksi senang belajar, minat belajar, rajin dan sungguh-sungguh akan tumbuh pada diri anak yang pada gilirannya berkaitan erat dengan prestasi belajarnya. Sumadi Suryabrata mengemukakan bahwa : Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. (1984 : 18).
Oleh karena itu, perhatian orang tua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan intelektual anak dalam belajar di sekolah. Sehingga menurut Slameto bahwa : Ia membantu mempengaruhi kemampuan intelektual anak agar dapat berfungsi secara optimal dan mencoba melengkapi program pengajaran. (1987 : 133).
Menurut hasil penelitian demikian menurut Zahara Idris, pekerjaan guru (pendidik) di sekolah akan lebih efektif apabila dia mengetahui latar belakang dan pengalaman anak didik di rumah tangganya. (1982 : 120). Lanjutnya; anak didik yang kurang maju dalam pelajaran, berkat kerjasama orang tua anak didik dengan pendidik, banyak kekurangan-kekurangan anak didik yang dapat diatasi. Disadari bahwa pendidikan atau keadaan lingkungan keluarga dapat membantu atau mempengaruhi keberhasilan belajar anak di sekolahnya.
Itulah sebabnya, pengaruh orang tua memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan belajar anaknya, bahkan sebagaimana diungkapkan oleh Oemar Hamalik sebelumnya salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah bersumber dari lingkungan keluarga. Atau pendapat Madjid Noor (1979 : 43) : Peranan orang tua agar anaknya sukses dalam belajar di sekolah sebenarnya sangat besar bahkan bersifat menentukan.





UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH IBADAH

6 04 2010

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PRESTASI SISWA PADA
MATA PELAJARAN FIQIH IBADAH
A. Pengertian Upaya
Upaya adalah usaha; akal; ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan mencari jalan keluar. (KBBI:1990:995)
1. Hakikat Guru Sebagai Pembimbing Belajar Dan Pendidikan
Sebagai mana telah diuraikan pada pendahuluan, bahwa mendidik ialah meminpin anak ke arah kedewasaan, jadi yang kiata tuju dalam pendidikan ialah kedewasaan si anak. Tidak mungkin Seorang pendidik membawa anak kepada dewasanya bukan hanya dengan nasihat-nasihat, perintah-perintah, anjuran-anjuran dan larangan-larangan saja. Melainkan yang utama ialah dengan gambaran kedewasaan yang senan tiasa dapat dibayangkan oleh anak dalam diri pendidiknya didalam pergaulan mereka (antara pendidik dan anak didik).
Seiring berjalannya waktu suatu pendidikan berubah mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sampailah pada saat dewasa ini, guru bukan merupakan satu-satunya kontrol sosaial, melainkan dalam hal ini guru mempunyai posisi sebagai pasilitator setelah menjalankan fungsinya sebagai pelatih, pengajar dan pembimbing.
Manusia sejak lahir sudah di anugrahi fitrah, untuk membina dan mendidik serta melatih anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
Ini digaskan dalam Al- Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30.

Artinya : Maka hendaklah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Depag RI (992: 615).

1. Kode Etik Guru
Kode etik dapat diartikan tatalaksana pelaksana guru dalam Mengembangkan misi pendidikan. Adapun kode etik tersebur :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghendaki hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing.
b. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya.
c. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
d. Guru dengan bersungguh-sungguh mengintensifkan Pendididkan Moral Pancasila bagi anak didiknya.
e. Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun.
f. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing.
b. Guru Hendaknya luas di dalam menerapkan kurukulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
c. Guru memberi pelajaran di dalam menerapkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
a. Komunikasi guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang.
b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluargannya masing-masing.
c. Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
a. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah.
b. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal balik dengan anak didik.
c. Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
a. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
b. Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitarnya,sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
c. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam beraktivitas.
e. Guru mengusahakan terciptanya kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,orang tua murid dan masyarakat.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama Mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan studinya dengan :
1. Membaca buku-buku
2. mengikuti lokakarya,seminar,gerakan kopersi,dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
3. mengikuti penataran
4. mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.
b. Guru selalu bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
a. Guru senantiasa bertukar informasi,,pendapat,saling menasihati dan Bantu membantu satu sama lainnta,baik dalam kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas prfesinya.
b. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun pribadi.
8. Guru secara bersama-sama memelihara,membina,dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b. Guru senantiasa berusaha meningkatkan persatuan diantara sesama pengabdi pendidikan.
c. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-skap,ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerinah dalam bidang pendidikan.
a. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
b. Guru melekukuan tugas profesinya dengan diplin dan rasa pengabdian.
c. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kjepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
d. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerah sebaik-baiknya.
(Dikutip dari buku landasan Organisasi PGRI)
2. Guru sebagai pembimbing, pengajar dan pendidikan
Banyak diantara guru yang merasa bahwa pekerjaan sebagai guru adalah rendah atau hina jika dibandingkan dengan pekerjaan kantor atau bekerja disuatu PT. Hal ini di sebabkan pandangan masyarakat terhadap guru masih sempit dan ficik, suatu pandangan yang umumnya yang bersifat meteriallistik, hanya pada keduniawian belaka.
Dari uraian dimuka telah jelas bahwa pekerjaan guru itu berat, tetapi luhur dan mulia. Tugas guru tidak ada “mengajar”,teapi juga “mendidik”.maka untuk melakukan tugas sebagai guru,tidak sembarangan orang dapat menjalankannya.sebagai guru yang baik harus memiliki syarat-syarat yang di dalam undang-undang No 12 tahun 1945 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia,pada pasal 15 dinyatakan tentang guru sebagai berikut:
“Syarat utama untuk menjadi guru,selain ijazah dan syarat-syarat yang mengenai kesehatan jasmani dan rohani,ialah sifat-sifat yang yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3,pasal 4 dan pasal 5 undang-undang ini”
Di samping persyaratan diatas,tentu masih banyak syarat yang lain yang harus dimiliki guru jika kita menghendaki agar tugas atau pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik.
2. Manajemen Waktu Belajar Siswa
Waktu belajar merupakan masa dimana para siswa mendapatkan pengajaran. Suatu tujuan pendidikan akan senantiasa dapat tercapai dengan baik apabila di tunjang oleh alokasi waktu yang baik,akan tetapi efektivitas waktu bukan satu-satunya factor penunjang keberhasilan pendidikan.lingkungan sebagai bentuk pendidikan informal juga dapat mempengaruhi terwujudnya suatu tujuan pendidikan.
Proses pendidikan senantiasa harus mengacu kepada manajemen atau alokasi waktu yang baik.hal ini berarti waktu sebagai Batasan (kontrol) proses berjalannya suatu pendidikan.

3. Proses belajar mengajar
1. Pengertian belajar
Terdapat berbagai sumber mengenai pengertian belajar,diantaranya sebagai berikut :
a. menurut Reber pengertian belajar di bagi ke dalam dua definisi ,yaitu:
- “Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan”
- “Belajar merupakan suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatip langgeng sebagai hasil latihan,” (Muhibbin Syah:1995:90)
b. Menurut Sardiman (1986:23) bahwa “Belajar adalah proses interaksi natara diri manusia berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori”.
c. Menurut Hoard kinglay (1957:12) bahwa “Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di rubah melalui pratek dan pengalaman”.
2. Kesiapan Belajar
Setiap bahan pelajaran dapat diajarkan pada anak secara epektif bila sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut ada tiga masalah penting berkenaan dengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan anak diantaranya sebagai berikut :
a. Perkembangan intelak
Hasil penelitian berkenaan dengan perkembangan intelek anak menunjukan bahwa tiap tingkat perkembangan mempunyai karakteristik tertentu tentang cara anak melihat lingkungannya dengan cara memberi arti bagi doiri sendiri.
b. Kegiatan belajar
Dalam mempersiapkan bahan pelajaran Biasanya kita susun bahan pelajaran yaitu yang umumnya disebut sebagai satuan pelajaran.
c. Sepiral kurikulum
Kurikulum bukan sesuatu yang setatis tertutup, tetapi merupakan sepiral terbuka. Kurikulum memiliki struktur bahan ajar, yang disusun atau dibentuk disekitar prinsip-prinsip, masalah-masalah dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kurikulum selalu membutuhkan baik anak didik maupun masyarakat sekitarnya.
2. Minat dan motif belajar

Pembangktan motif belajar pada anak, sukar dilaksanakan apabila proses belajar lebih menekankan pada satuan kurikulum,sistem kenaikan kelas,sistem Ujian,serta menekankan kontiunitas dan pendalaman belajar.
Mengenai pemusatan perhatian dan minat belajar terletak dalam sustu kontinum yang bergerak dari sikap apatis atau tidak menaruh minat sampai dengan yang sangat berminat.Minat atau perhatian ini sangat erat kaitannya dengan proses belajar siswa di sekolah.
Pembangkitan minat belajar siswa ada yang bersifat sementara (jangka pendek).dan ada juga yang bersifat menetap (jangka panjang).
Beberapa hal yang dapat diusahakan untuk membangkitkan belajar pada anak yaitu pemilihan bahan pelajaran yang berarti pada anak menciptakan kegiatan belajar yang dapat membangkitkan dorongan untuk menemukan (Discovery),menerjemahkan apa yang dapat diajakan dalam bentuk pikiran yang yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

B. Prestasi Belajar
Prestasi secara umum adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dsb) (Depdikbud, 1989 : 700).
Bila proses belajar mengajar dilaksanakan secara teratur dan baik, akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi bagi para siswa sebagai generasi muda. Untuk mencapai prestasi yang diinginkan, sekolah perlu didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a. Dengan mendirikan dan menambah gedung sekolah
b. Menambah jumlah tenaga guru ang diperlukan
c. Membuka sekolah siang sehingga dapat menampung siswa lebih banyak lagi karena ledakan anak usia sekolah
d. Menyenggarakan penataran untuk menambah kualitas guru yang mengajar.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi adalah “hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu”.
Menurut WJS. Poerwadarminta dalam bukunya, Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan bahwa:
“Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Julius S. dalam bukunya Kamus Baru Bahasa Indonesia berpendapat bahwa: “Prestasi adalah sebagai suatu kemampuan”.
Dari pendapat tersebut dapatlah disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang menggembirakan yang dicapai dari suatu tindakan atau kemampuan untuk melaksanakan tindakan. Untuk berprestasi seseorang haruslah dapat mengerahkan segenap potensi yang ada pada dirinya dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan dan mengatasi segala kesulitan yang timbul.
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru, (Depdikbud, 1989 : 700).
Jadi, istilah prestasi belajar digunakan untuk menggambarkan hasil dari suatu proses belajar. Dengan demikian, prestasi belajar dapat segala aspek dari tujuan proses belajar itu sendiri baik secara kualitatif maupun kuantitatif yang melalui aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Abin Syamsudin Makmun (1985 : 77) mengemukakan bahwa ada tiga hal yang berkaitan dengan prestasi belajar, yakni :
1) Kognitif, yang meliputi pengamatan/perseptual, hapalan/ingatan, analisa sintesa, dan evaluasi.
2) Afektif, yang meliputi penerimaan, sambutan, penghargaan/apersersi, internalisasi/pendalaman, karakterisasi/ penghayatan.
3) Psikomotor, meliputi keterampian bergerak/bertindak, keterampilan ekspresi verbal dan non verbal.

Dengan demikian maka keberhasilan suatu proses belajar dapat dilihat dari akibat yang ditimbulkannya yaitu perubahan tingkah laku yang dididik. Moh. Surya (1985 : 25) mengemukakan bahwa : “Hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek tingkah laku”.
Yang dimaksud prestasi belajar adalah “hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar. Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, suatu diikuti oleh pengukuran dan penilaian, demikian pula halnya didalam proses belajar”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi belajar adalah “pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.
Menurut Dra. S. Hartati Suradijono (psikolog), dalam buku karangan Alex Sobur “Anak Masa Depan”, anak memiliki tingkah laku berprestasi pada umumnya akan menunjukkan empat macam tingkah laku yang dapat membedakan mereka dari anak-anak yang lain:
a. Dalam berbagai macam situasi, mereka akan menunjukkan usaha yang kuat untuk selalu dapat menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya dengan tuntas.
b. Mereka umumnya mempunyai rasa kompetisi terhadap diri sendiri.
c. Mereka juga senantiasa bersaing dengan teman-temannya dalam berprestasi.
d. Mereka berusaha untuk memperlihatkan hasil yang telah dicapainya ada guru dan orang tua.
Dengan mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui kedudukan anak didalam kelas, apakah anak termasuk kelompok anak pandai, sedang atau kurang. Prestasi belajar anak dapat dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun symbol dan tiap periode tertentu, misalnya catur wulan atau semester, hasil prestasi belajar anak dinyatakan dalam buku raport.
a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Slameto mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.
Faktor-faktor intern dari dalam diri peserta didik meliputi:
1. Faktor jasmani
2. Faktor psikologis
3. Faktor kelelahan
Sedangkan faktor ekstern yang berasal dari luar diri peserta didik meliputi:
1. Faktor dari keluarga
2. Faktor dari sekolah
3. Faktor dari masyarakat.
Dengan mengetahui faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal tentunya setiap orang tua mampu memahami kebutuhan anak-anaknya, anak dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dengan anak yang kelelahan, anak dalam keadaan kacau pikirannya akan berlainan belajarnya dengan anak yang tugasnya hanya belajar, sehingga keinginan orang tua dan anak dapat terwujud.
Prestasi belajar merupakan hasil dan akibat dari sebuah proses belajar. Untuk mencapai prestasi belajar, banyak faktor yang mempengaruhinya. Hal ini bisa dimengerti, karena belajar itu sendiri itu merupakan proses dan sistem yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang saling berkaitan dan saling menentukan untuk sampai pada titik akhir yang disebut prestasi belajar. Dengan sendirinya prestasi belajar merupakan umpan balik dari proses dan sistem belajar.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, penulis akan bahas dalam uraian ini.

Moh. Surya (1985 : 62) mengemukakan bahwa ada tujuh faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu :
1) Karakteristik belajar
2) Karakteristik guru
3) Interaksi pelajar dan guru
4) Karakteristik kelompok
5) Fasilitas fisik
6) Subjek matter
7) Faktor lingkungan luar
Abin Syamsudin Makmun (1985 : 62) mengemukakan bahwa hal yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain :
1) Karakteristik siswa (raw input), menunjukkan kepada faktor-faktor yang terdapat pada diri individu.
2) Instumental input (sarana), menunjukkan kepada dan kualifikasi secara kelengkapan sarana yang diperlukan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar.
3) Evironmental input, menunjukan situasi dan keadaan fisik (kampus, sekolah, iklim, letak sekolah, dsb), hubungan antara instansi (human relationships) baik dengan teman maupun dengan guru dan orang lain.

Untuk lebih jelasnya, Abin Syamsudin Makmun (1985 : 76) mengemukakan bahwa komponen di atas dibuat secara skematik sebagai berikut :
W.S. Winkel (Suparjan, 1988 : 29) mengemukakan dua faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa, yaitu :

a. Faktor pada diri siswa baik secara fisik maupun psikis
b. Faktor di luar siswa.
Pendapat tersebut di atas sejalan dengan pendapat Slameto (1988 : 56) yang mengemukakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu :
a. Faktor intern, yaitu meliputi :
1. Faktor jasmaniah, di bagi dua yaitu :
a) kesehatan, tubuh dalam keadaan sehat
b) cacat tubuh, kurang sempurnanya bagian tubuh misalnya buta, tuli.
2. Faktor psikologis, mencakup :
a) intelegensi (kecakapan)
b) perhatian, keaktipan jiwa yang dipertinggi yang tertuju pada objek tertentu.
c) minat, kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.
d) bakat, kemampuan untuk belajar.
e) motif, erat hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai.
f) kematangan, suatu fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuh sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
g) kesiapan, kesediaan untuk memberikan respon.
3. Faktor kelelahan, terjadi apabila tubuh mengalami kekacauan subtansi sisa pembakaran (lelah jasmani), kelesuan dan kebosanan (lelah rohani).
b. Faktor ekstern, meliputi :
4. Faktor keluarga, di bagi enam, yaitu :
a) cara orang tua mendidik, baik buruknya hasil belajar anak tergantung cara mendidik orang tua kepada anaknya.
b) Relasi antara keluarga, hubungan yang harmonis antara anggota keluarga membantu anak untuk berjalan lebih serius.
c) Suasana rumah, tenang atau tidaknya rumah dapat mempengaruhi belajar dan hasil belajar.
d) Keadaan ekonomi keluarga, pemenuhan kebutuhan dan fasilitas belajar.
e) Pengertian orang tua, anak belajar di rumah jangan diganggu dengan tugas lain.
f) Latar belakang kebudayaan, tingkat pendidikan dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar.
5. Faktor sekolah, meliputi :
a) metode-metode mengajar, merupakan jalan yang harus ditempuh dalam mengajar.
b) Kurikulum, merupakan sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa.
c) Relasi guru dengan murid, hubungan timbal balik antara guru dan murid.
d) Relasi siswa dengan siswa, baik hubungan yang kurang baik, maupun yang baik.
e) Disiplin sekolah, mencakup kedisiplinan guru, murid, pegawai, kebersihan, dan lain-lain. Agar siswa lebih maju, maka perlu disiplin belajar di sekolah.
f) Alat pelajaran, pemenuhan kelengkapan sarana.
g) Waktu sekolah, terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, baik pagi hari maupun siang hari.
h) Standar pelajaran di atas ukuran, menurut teori belajar ini tidak boleh, guru dalam menuntut dalam penguasaan kateri harus disesuaikan dengan kemampuan anak.
i) Keadaan gedung, bila siswa membludak jumlahnya sedangkan kapasitas tampung terbatas, maka dalam satu kelas siswa berjajar, bagaimana siswa dapat belajar dengan tenang.
j) Metode belajar, dengan belajar yang efektif, hasil belajar akan lebih baik, perlu bantuan guru untuk mendapatkan cara belajar yang baik.
k) Tugas rumah, jangan terlalu membebani siswa dengan tugas di rumah, karena siswa banyak kegiatan di luar sekolah.
6. Faktor masyarakat, meliputi :
a) kegiatan siswa dalam masyarakat, dapat menguntungkan perkembangan pribadinya, tetapi bila berlebihan akan mengganggu belajarnya.
b) Mass media, memberi pengaruh yang positif maupun yang negatif terhadap belajar siswa.
c) Teman bergaul, siswa perlu memiliki teman untuk bergaul yang baik dan orang tua turut mengawasi.
d) Bentuk kehidupan masyarakat, lingkungan masyarakat dapat mempengaruhi minat belajar anak, bila anak berada dalam lingkungan kehidupan yang terpelajar, ia akan lebih giat belajar, begitu pula sebaliknya.

Dari urian di atas, dapat kita simpulkan bahwa presasi belajar yang dicapai seorang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor intern maupun ekstern yang semuanya itu merupakan kesatuan yang senantiasa berhubungan. Dan dari faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, diharapkan dapat menunjang terbentuknya anak yang terdidik dan berprestasi baik.
Usaha-usaha Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Yang dimaksud dengan usaha meningkatkan prestasi belajar anak adalah usaha untuk mengurangi faktor yang menghambat prestasi belajar. Untuk meningkatakan prestasi belajar yang baik, dapat dilakukan dengan beberapa cara anatara lain dengan memberikan bimbingan belajar, menanamkan disiplin belajar, memberi motivasi, fasilitas dan oerhatian terhadap kebutuhan siswa yang sedang belajar.
Setelah mengetahui faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, maka pada sub ini penulis akan menguraikan sedikit usaha untuk meningkatkan prestasi belajar. Dapat dilakukan dengan cara:
a. Memberi bimbingan belajar siswa
Bimbingan belajar menurut I. Djumhur dan Moh. Surya,adalah:
“Memberikan bantuan kepada individu dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar baik di sekolah maupun di rumah”.
Tujuan bimbingan belajar ialah membantu siswa agar dapat penyesuaian yang baik dalam situasi belajar. Melalui bimbingan belajar diharapkan siswa dapat belajar dengan baik mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Bimbingan tersebut misalnya tentang cara belajar yang baik, menentukan cara mempelajari atau menggunakan buku pekajaran yang cocok dengan minat, bakat, kecakapan dan cita-cita serta kondisi fisik, menentukan pembagian waktu dan perencanaan belajar dan lain-lain.
Kesulitan belajar yang perlu mendapat bimbingan hal ini dikemukakan oleh Y. Singgih D. Gunarsa sebagai berikut:
Bimbingan pengajaran dan belajar dengan tujuan memecahkan persoalan berhubungan dengan masalah belajar anak sekolah dan di luar sekolah dalam hal:
1. Mencarikan cara belajar yang efisien bagi seorang anak dan sekelompok anak.
2. Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran.
3. Memberikan saran dan petunjuk bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
4. Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri untuk ulangan tiba-tiba atau ulangan biasa dan ujian.
5. Menunjukka cara menghadapi kesulitan dalam mata pelajaran tertentu.
6. Menentukan pembagian waktu dan rencana jadwal pelajaran.
7. Memilih pelajaran tambahan, baik yang berhubungan dengan pelajaran sekolah maupun untuk pengembangan bakat anak sendiri.
Jadi dengan memberikan bimbingan belajar dapat meningkatkan prestasi belajar. Siswa yang belajar teratur kemungkinan besar mencapai hasil yang baik, prinsip balajar secara teratur hendaknya benar-benar ditanamkan sehingga dimiliki oleh setiap siswa.
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar, pengajar remedial memegang peranan penting sekali khususnya dalam rangka pencapaian hasil belajar yang optimal. Pengajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan. Tujuan pengajaran remedial adalah agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya.
C. Fiqih Sebagai Pelajarn Fiqih di MI Babakan Loa
Kehidupan dan peradaban manusia diawal milenium ketiga ini mengalami banyak perubahan. Dalam merespon fenomena itu, manusia berpacu mengembangkan pendidikan baik dibidang ilmu- ilmu sosial, ilmu alam, ilmu pasti maupun ilmu – ilmu terapan. Namun bersamaan dengan itu muncul sejumlah krisis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya krisis politik, ekonomi, sosial, hukum, etnis, agama, golongan dan ras. Akibatnya peranan serta efektivitas mata pelajaran fiqih di madrasah sebagai salah satu pemberi nilai spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan asumsi jika fiqih dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakatpun akan lebih baik.
Kenyataanya seolah – olah fiqih dianggap kurang memberikan kontribusi kearah itu. Setelah ditelusuri fiqih menghadapi beberapa kendala antara lain : waktu yang disediakan kurang seimbang dengan muatan materi yang begitu paadatdan memang penting yakni menutut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntutan terhadap mata pelajaran lainnya.
Memang tidak adil menimpakan tanggung jawab atas munculnya kesenjangan antar harapan dan kenyataan itu kepada mata pelajaran fiqih di madrasah, sebab fiqih dimadrasah bukanlah satu – satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik. Apalagi dalam pelaksanaan fiqih tersebut masih terdapat kelemahan – kelemahan yang mendorong dilakukanya penyempurnaan terus menerus. Kelemahan lain, materi fiqih lebih berfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif)dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pengamalan (psikomotorik). Kendala lain adalah kurangnya keikutertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai- nilai fiqih dalam kehidupan sehari- hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua peserta didik.
Dalam kurikulum 1975, 1984, dan 1994, target yang harus dicapai (attaiment target) dicantumkan dalam tujuan pembelajaran umum. Hal ini kurang memberi kejelasan tentang kemampuan yang harus dikembangkan. Atas dasar teori dan prinsip – prinsip pengembangan kurikulum yang dipraktekkan diberbagai negara seperti Singapura, Australia, Inggris dan Amerika; juga didorong oleh visi, misi, dan pradigma baru fqih di Madrasah, maka penyusunan kurikulum fiqih kini perlu dilakukan dengan berbasis kompetensi dasar (Basic competency)
Kurikulum fiqih tahun 1994 juga lebih menekankan materi pokok dan lebih bersifat memaksakan target bahan ajar sehingga tingkat kemampuan peserta didik terabaikan. Hal ini kurang sesuai dengan prinsip pendidikan yang menekankan pengembangan peserta didik lewat fenomena bakat, minat serta dukungan sumber daya lingkungan. Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif. Kurang mengakomodasikan keragaman kebutuhan daerah. Meski secara nasional kebutuhan keberagaman peserta didik MI pada dasarnya tidak berbeda. Dengan pertimbangan ini maka disusun kurikulum nasional Fiqih Madrasah Ibtidaiyah yang berbasis pada kompetensi dasar (basic competency). Standar ini diharapkan dapat dipergunakan dalam mengembangkan kurikulum Fiqih Madrasah Ibtidaiyah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pelajaran fiqih dalam kurikulum madrsah intidaiyah adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya ( Way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.

1. Pengertian Mata Pelajaran Fiqih dan Tujuan Pembelajaran Fiqih
Bidang studi atau mata pelajaran adalah “pengetahuan dan pengalaman masa lalu yang disusun secara sistematis, logis melalui proses dan metode keilmuan”.
a. Fiqih menurut bahasa “tahu atau paham”
Firman Allah SWT.

87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).
Adapun pengertian fiqih menurut istilah ada beberapa pendapat sebagai berikut :
b. Abdul Wahhab Khallaf berpendapat
Fiqh adalah “hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis (amaliah) yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci”.
c. Menurut A. Syafi’i Karim
Fiqih ialah “suatu ilmu yang mempelajari syarat Islam yang bersifat amaliah (perbuatan) yang diperoleh dari dalil-dalil hukum yang terinci dari ilmu tersebut”.

d. Muhammad Khalid Mas’ud mengemukakan
In discussions of the nature of the law and practice what is implied by islamic law is fiqih.
“Pembahasan yang berujud hukum dan bersifat praktek yang dinyatakan secara tidak langsung oleh hukum Islam adalah Fiqih”.
7. Menurut ulama syar’i
الفقه هو العلم بالا حكام الشر عية العملية من ادلتها التفصيلية.11
“Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syari’ah Islam mengenai perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil secara rinci / detail”.

Jadi bidang studi fiqih adalah salah satu bagian dari mata pelajaran yang menerangkan tentang hukum-hukum syari’ah Islam dari dalil-dalil secara terinci.
Sedangkan pembelajaran bidang studi fiqh di Madarasah Diniyyah adalah interaksi pendidik dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik untuk mengetahui ketentuan-ketentuan syari’at Islam. Materi yang sifatnya memberikan bimbingan terhadap warga belajar agar dapat memahami, menghayati dan mengamalkan pelaksanaan syariat Islam tersebut, yang kemudian menjadi dasar pandangan dalam kehidupannya, keluarga dan masyarakat lingkungannya.
Bentuk bimbingan tersebut tidak terbatas pada pemberian pengetahuan, tetapi lebih jauh seorang guru dapat menjadi contoh dan tauladan bagi warga belajar dan masyarakat lingkungannya. Dengan keteladanan guru ini, diharapkan para orang tua dan masyarakat membantu secara aktif pelaksanaan pembelajaran bidang studi fiqih di dalam rumah tangga dan masyarakat lingkungannya.
Tujuan pembelajaran fiqih adalah untuk membekali peserta didik agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar.
Dalam mempelajari fiqih, bukan sekedar teori yang berarti tentang ilmu yang jelas pembelajaran yang bersifat amaliah, harus mengandung unsur teori dan praktek. Belajar fiqih untuk diamalkan, bila berisi suruhan atau perintah, harus dapat dilaksanakan, bila berisi larangan, harus dapat ditinggalkan atau dijauhi. Oleh karena itu, fiqih bukan saja untuk diketahui, akan tetapi diamalkan dan sekaligus menjadi pedoman atau pegangan hidup. Untuk itu, tentu saja materi yang praktis diamalkan sehari –hari didahulukan dalam pelaksanaan pembelajarannya.
Pembelajaran Fiqih harus dimulai sejak anak-anak berada di sekolah dasar, dan salah satu sekolah dasar yang mengajarkan pembelajaran Fiqih adalah Madarasah Ibtidaiyah (MI). MI merupakan satu dari pendidikan dasar yang memiliki ciri khas khusus dalam pengajaran agama Islam. Memiliki kurikulum yang lebih menitikberatkan pada pengajaran agama Islam. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional Bab VI bagian kedua pasal 17 butir ke-2 yang berbunyi: Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
Keberhasilan pendidikan fiqih dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Contohnya, dalam keluarga kecendrungan anak untuk melakukan shalat sendiri secara rutin. Sedangkan dalam sekolah misalnya intensitas anak dalam menjalankan ibadah seperti shalat dan puasa dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kehidupan disekolah. Untuk itu evaluasi pembelajaran fiqh tidak hanya berbentuk ujian tertulis tetapi juga praktek. Banyak peserta didik yang mendapatkan nilai bagus dalam teori ilmu fiqih, Tetapi, dalam kenyataannya banyak peserta didik yang belum mampu melaksanakan teori itu secara praktek seperti shalat dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik tentang fiqih masih kurang. Demonstrasi merupakan salah satu wahana untuk memberikan pengalaman belajar agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, karena demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau peserta didik sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu. Misalnya dalam mengajarkan pelajaran ibadah fiqih (wudhu, sholat, dll) metode demonstrasi akan lebih diterima oleh peserta didik dan peserta didik dapat menirukan apa yang telah diperagakan, sehingga materi pelajaran menjadi di pahami. Dengan demikian pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila seorang guru dapat membimbing anak-anak untuk memasuki situasi yang memberikan pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkan kegiatan belajar peserta didik.
2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mata pelajaran fiqih di Madrasah Ibtidaiyah ini meliputi : Fiqih Ibadah dan Fiqih Muamalah yang menggambarkan bahwa ruang lingkup fiqih mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah Swt, dengan diri sendiri, sesama manusia, makluk lainya maupun lingkunganya (hablum minallah wahablun minannas).
Dengan pertimbangan secara seksama, kami dapat menelaah kurikulum Fiqih kelas I semester I sebagai berikut:
1. Aspek Materi
Banyak beberapa hal yang harus perlu kita perhatikan di dalam isi materi kurikulum Fikih Kelas III antara lain:
a. Isi materi membahas tentang puasa haruslah lebih banyak tentang aturan puasa dan hikmah puasa dimana pengertian puasa menurut syari’at Islam adalah menahan dari hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari dengan syarat dan aturannya sedang manfaat yang di dapat dari berpuasa adalah menjadi orang yang selalu taqarrub kepada Allah dan menghalangi manusia menjadi orang yang bertaqwa dengan menhan haw nafsu negatif.
b. Pada materi puasa asunnah perlu diterangkan jenis puasa yang lain selain yaitu puasa bulan ramadhan dan hari-hari utama untuk berpuasa sunat dengan tujuan agar siswa lebih dekat kepada Allah dan mempunyai sikap toleran
c. Isi materi harus cukup menarik, karena anak tertarik mengikuti pelajaran dan tertnam sikap yang diharapkan dari materi tadi.
d. Pada materi shalat bagi orang sakit seyogyanya dijelaskan secara lebih rinci baik dalam muatan materi maupun praktinya.Demikian juga dengan salat Tarawih tidak hanya dijelaskan bagaimana tata cara salat tarawih dan bilangannya dengan tanpa membingungkan anak didik dengan mengetengahkan masalah khilafiyah namun juga dititikberatkan pada aspek aplikasi agar anak merasa memiliki ibadah salat tarawih bukan sebagai tuntutan tapi kebutuhan
2. Aspek Metode
Kalau berpacu pada orientasi kurikulum sekarang, metode sudah jelas, walaupun belum mencantumkan tentang metode apa yang harus digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi. Ini juga sampai membuat lengah bagi guru yang akan mengajar, karena ini dapat dipahami bahwa tanpa dicantumkan guru harus pandai-pandai menggunakan metode apa saja yang cocok dalam setiap materi.
Tiap guru yang menginginkan sukses harus mengadakan persiapan yang baik termasuk metode apa yang perlu digunakan. Akan tetapi persiapan disini bukanlah menentukan bahan atau kegiatan untuk mengisi waktu dengan mengikuti langkah-langkah yang ditentukan oleh buku pelajaran. Agar pelajaran efektif persiapan guru seharusnya. Merencanakan fokus-fokus yang memberi kebulatan pelajaran mendorong anak memikirkan masalah / pokok-pokok tertentu.

Metode yang baik dalam pandangan penulis adalah metode yang lebih banyak kepada praktek karena dalam pembelajaran untuk siswa dasar adalah bagaimana siswa dapat melakukan dalam materi maka metode demonstrasi, karya wisata, metode pembelajaran kelompok juga tidak menghilangkan metode ceramah untuk menerangkan sub-sub bahasan dalam kurikulum kelas IV.

3. Waktu
Ketentuan program studi bahan antara lain:
 Minggu efektif dalam 1 tahun (2 sistem) adalah 34 minggu dan jam sekolah efektif perminggu minimal 30 jam (18.00 menit)
 Satu jam pelajaran tetap muka dilaksanakan selama 45 menit. Jadi jika Fiqih satu minggu Cuma 1 kali pertemuan, maka hanya 45 menit saja waktu tatap muka. Apakah mungkin seorang guru mengajar dari tujuan pembelajaran fiqih?
4. Media
Media merupakan alat peraga dalam rangka membantu KBM (kegiatan belajar mengajar) yang meliputi hardware dan software (perangkat keras dan perangkat lunak).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai, dan secara garis besar dalam pelajaran fiqih kelas I masih perlu adanya evaluasi kurikulum di dalam metode tersebut. dan tentunya alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu test dan non test. Untuk test bisa menggunakan test habis pelajaran dan tengah semester. Sedang non test bisa dilakukan dengan memberikan tugas untuk melakukan contoh-contoh riel dalam masyarakatnya dan tugas laporan dalam melakukan seperti yang ada dalam materi sehingga menjadi jelas bagi gambaran guru bahwa siswa itu telah melakukan seperti yang ada Didalam materi.





MANAJEMEN BERBASIS MADRSAH (MBM) TUGAS KULIAH

6 04 2010

MANAJEMEN BERBASIS MADRSAH (MBM)
Merupakan pengembangan dari konsep school based management yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelo¬laan madrasah dengan memberikan keleluasaan otonomi kepada kepala madrasah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja madrasah yang mencakup guru, siswa, komite madrasah, orang tua siswa, dan masyarakat.
Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas pengambilan keputusan dan manajemen dari tingkat nasional pada pihak-pihak terkait dengan madrasah di tingkat lokal (local stakeholder) berdasarkan kebijakan nasional.
MBM memberikan keuntungan secara langsung kepada stakeholders, pemanfaatan sumber daya, efektif dalam pembi¬naan siswa, moral guru dan iklim madrasah serta ada perhatian bersama untuk Pengambilan keputusan, pember¬da¬yaan guru, manajemen madrasah, Perencanaan ulang madrasah dan perubahan Perencanaan.
Unsur-unsur yang didesentralisasikan adalah kekuasaan/¬ke¬we¬nangan, ilmu pengetahuan, informasi dan penghargaan. Dengan Demikian fungsi yang didesentralisasikan adalah menganai
• Perencanaan
• Pelaksanaan dan evaluasi program madrasah
• Penetapan visi dan misi madrasah,
• RIPM
• Resntra
• RAPBM
• Pengelolaan kurikulum,
• Pengelolaan pengajaran
• Pengelolaan Ketenagaan
• Pengelolaan peralatan dan Perlengkapan
• Pengelolaan keuangan
• Pelayanan Kesiswaan
• Pengelolaan iklim madrasah
2. Tujuan MBM
• Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dengan inisiatif
• Meningkatkan kepedulian warga madrsah dan masyarakat terhadap mutu sekolah
• Meningkatkan tanggung jawab warga madrasah terhadapmadrsahnya
• Meningkakan kompetisi yang sehat antar madrasah tentang mutu pendidikan
• Meningkatkan prestasi siswa
• Meningkatkan profesionalisme guru
• Penerapan reformasi kurikulum
B. Manajemen Berbasis Madrasah yang di harapkan:
3. Memenuhi standart isi, madrasah yang memnuhi standat isi mencakup ruang lingkup materi dan tingakat kompetensi, meliputi kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, dan kalender pendidikan/ akademik
4. Menyelenggarakan Proses Pembelajaran Yang Tepat; hal ini bisa lakukan dengan cara menyelenggaran pembelajaran secara ineteraktif, inspiratif, menyenangkan, menantang peserta didik untuk berpartsipasi aktif serta memberikan ruang yang ckup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan sesuai dengan perkembangan fisik serta fisologis peserta didik.
5. Memenuhi Standart Kompetensi Lulusan; penilaian mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan
6. Memenuhi standart pendidik dan tenaga kependidikan; pendidik memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani
7. Memiliki Sarana Dan Prasaran Yang Standart
8. Menerapakan standart pengelolaan dengen MBM; kemandirian,kemitraan, partisipasi, keterbukaan, akuntabilitas.
9. Memenuhi Standart Pembiyaan; biaya infestasi, biaya operasional dan biaya yang baik dan benar.
10.Standart Penilaian Pendidikan
C. Alasan-Alasan Penerapan Manajemen Madarasah
1. Alasan Ekonomis; karena yang bersangkutan mempunyai informasi apa yang berlangsung di madrsahnya, apa yang menjadi keuntungan dan kerugian sekolah sehingga madrasah dapat memutuskan apa yang terbaik bagi madrasahnya
2. Alasan profesional; madrasah memilki keahlian dan pengalaman untuk memutuskan hal terbaik bagi sekolah dan siswa, sehingga mereka dapat memberikan konstribusi dalam bidang kurikulum, pedagogi pembelajaran dan proses manajemen, dan apabila terlibat dalam proses tersebut akan lebih termotivasi dan berkomitmen tinggi
3. Alasan politis; meningkatkan demokrasi dan stabilitas politis.
4. Alasan finansial; MBM meruoakan alat untuk menggali income dari orang tua dan masyarakat. Bila mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan, diharapkan mereka akan termotivasi untuk berkomitmen untuk meningkatkan parisipasi dalam pendanaan, menyumbangkan tenaga kerja dan pemikiran dan menggali sumber-sumber lainnya untuk madrasah
5. Alasan prestasi siswa, iklim yang baik akan mendukung prestasi siswa, karena apabila kepala seklah, guru, orang tua mempunyai kewenangan dalam mengambil keputusan maka iklim sekolah akan mendukung usaha peningkatan prestasi siswa
6. Alasan akutabilitas; pelaporan dapat meningkatkan lebih banyak perhatian madrasah tehadap usaha-usaha perbaikan
7. Mencapai Sekolah Efektif, pilar-pilar madarasah efektif dapat dipengaruhi dan dicapai melalui MBM
D. Prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Madrasah (MBM)
1. Madrasah memiliki potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan
2. Peningkatan mutu berkelanjutan
3. Feleksibelitas dalam mencapai tujuan
4. Inisiatif dan pengelolaan mandiri
5. Keberhasilan tim bukan individu
6. Adanya lingkungan yang mendukung
7. Akuntabilitas: administratif, profesioanal dan hasil pendidikan atau kinerja.
E. Tahapan-Tahapan Dalam Manajemen Berbasis Marasah
1. Melakukan sosialisasi tentag MBM
2. Merumuskan visi, misi dan tujuan dan sasaran madrsah
3. Mengidentiikasi fungs-fungsi yang di perlukan untuk mencapai sasaran
4. Melakukan analsis SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan treath)
5. Mengidentifikasi langkah-langkah pemecahan Masalah
6. Menyusun rencana peningkatan mutu
7. Melakukan monitoring dan evaluasi da pelaksanaan
8. Merumuskan sasaran mutu
F. Karakteristik Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) berdasar¬kan Karakteristik input, proses, dan output
1. Input pendidikan yang memiliki:
• Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas
• Sumber daya tersedia dan siap
• Staf yang kompeten dan berdedikasi yang tinggi
• Memiliki harapan prestasim yang tinggi
• Fokus pada pelanggan
• Input manajemen
2. Proses. Madrasah yang efekif pada mumnya memiliki kerakteristik proses sebagai berikut:
• Proses belajar mengajar yang efektifitas tinggi
• Kepeminpinan madrasah yang kuat
• Lingkungan madrasah yang islami, aman dan tertib
• Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
• Madrasah memiliki budaya mutu dan ciri khas sebagai identitasnya
• Madrasah memiliki team work yang kompak, cerdas dan dinamis
• Madrasah memiliki kewenagan/kemandirian
• Partisipasi yang tinggi dari warga madrasah dan masyarakat
• Madarasah memiliki keterbukaan manajemen
• Madarasah memiliki kemauan untuk berubah
• Madrasah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjuan
• Madrasah responsip dan antisipatif terhadap kebutuhan
• Komunikasi yang baik
• Madrasah memliki akuntabilitas
3. Output yang diharapkan. Madrasah harus memiliki out put yang diharapkan yaitu prestasi madrasah yang di hasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di madrsah
• Prestasi akademik: NEM, karya tulis ilmiyah remaja, lomba bahasa inggris, matematika, fisika, cara berfikir kritis, kreatif, nalar, rasional, indktif dan deduktif dan ilmiyah.
• Non akademik: keinginan tahu yang tinggi, harga diri dan kejujuran, kerja sama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi oleh raga, keseninan dan kepramukaan
Lebih sederhana karakateristik/pilar-pilar MBM adalah:
1. Madrasah Mempunyai Visi Dan Misi Yang Jelas
2. Kepala Madrasah yang profesional
3. Guru Profesional
4. Kurikulum yang luas dan seimbang
5. lingkungan madrasah yang kodusif
6. Ramah siswa
7. Manajemen yang kuat
8. Pelaporan dan penilai siswa bermakna
9. Pelibatan masyarakat yang tinggi, ortu dls
G. Penerapan Manajemen Berbasis Madrasah (MBM)
1. Potret diri/school review/assesmen
2. Perumusan visi, misi dan tujuan
3. Perencanaan
4. Pelaksanaan
5. Monitoring
6. Evaluasi
7. Pelaporan
H. Strategi implementasi MBM
1. Kurikulum yang kondusif
2. Proses belajar mengajar yang efektif
3. Lingkungan madrasah yang kondusif dan islami
4. Pemerataan sumber daya
5. Standarisasi dalam hal-hal tetentu, seperti monitoring evaluasi dan tes
6. Memiliki otonom kewenangan, kekuasaan/kewenangan ilmu pengetahuan, informasi dan pengahrgaan
7. Peran serta masyarakat
8. Kepemimpinan yang kuat
9. Pengambilan keputusan yang demokratis
10. Semua pihak harus memahami tugas dan tanggung jawabnya
11. Adanya guideline mencapai efenktifitas dan efisiensi
12. Madrasah memiliki transparansi dalam akntabilitas
13. Pencapaian kinerja madrasah dan prestasi hasil belajar yang tinggi
14. Pelaksanaan MBM diawal dengan sosialisasi kepada semua pihak
I. Faktor pendukung
1. Sosialisasi Peningkatan Kualitas Pendidikan (BOMM, BEP, EMIS)
2. Political will dari pemerintah
3. Potensi Kepala Madrasah
4. Organisasi Formal Dan Non Formal (Kelompok Kerja Pengawas Madrasah (KKPM), Kelompok Kerja Kepala Madrasah (KKM), Musyawarah kepala madrasah (KKM), dewan pendidikan, dan komite madrasah.
5. Organisasi profesi, Kelompok kerja guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
6. Dukungan finansial dari pemerintah dan masyarakat
7. Ketersediaan manusia yang mendukung implementasi MBM
8. budaya madrasah yang mendukung implementasi MBM
9. Madarsah memiliki kepemimpinan efektif
J. Indkator keberhasilan MBM
1. Jumlah siswa yang mendapatkan layanan meningkat
2. Kualitas layanan pendidikan semakain meningkat
3. Jumlah siswa tinggal kelas menrun dan produktifitas madrasah meningkat
4. Program madrasah dibuat bersama dengan warga dan tokoh masyarakat
5. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan
6. Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan
7. Semakin baik iklim dan budaya madrasah sesusai dengan pengembangan ciri kahas yang merupakan identitas madrasah
8. Kesejahteraan guru meningkat
9. Demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.